
Selang beberapa hari kemudian, acara pertunangan Angga dan Dhania dilangsungkan di salah satu gedung milik pak Irwan di New York Hall Center.
Acara dilangsungkan secara sederhana saja, dihadiri oleh keluarga, para sahabat dan beberapa kolega saja.
Karena saat ini mereka masih disibukkan oleh pekerjaan yang tak pernah selesai, apalagi akhir-akhir ini mereka disibukan oleh dunia pergaiban hingga tak fokus bekerja.
"Alhamdulillah, acaranya berjalan lancar. Selamat ya buat kalian berdua, dan kau Maura jangan sungkan dan malu-malu lagi sama kita, sebentar lagi kita kan saudaraan" goda Om Wisnu.
Maura memang dekat dengan keluarga Kevin sejak kecil, hanya saja dia agak sungkan dengan papa Kevin itu. Pada saat itu pak Wisnu masih berduka atas kehilangan sahabatnya, yaitu mamanya Maura dan sempat menyalahkan Maura juga kala itu.
"Iya, Om. Makasih" ujar Maura tersenyum manis.
Semua orang nampak bahagia menghadiri acara spesial Angga dan Dhania, acara sudah selesai semua, para tamu sudah pulang dan ruangan di gedung itupun sudah dirapikan.
Ada sosok berdiri dibalik tirai didalam ruangan itu, sosok itu seperti sedang menanti kehadiran seseorang. Tubuhnya tinggi menjulang hampir mengenai atap plafon ruangan itu, dengan pakaian serba putih kotor dan lusuh, rambut panjang menutupi seluruh wajahnya, hanya menyisakan bola matanya yang merah menyala.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, terlihat ada beberapa orang masuk ke ruangan itu sambil mengangkat beberapa kardus yang ditumpuk, jadi mereka tak melihat ada sosok yang mengawasi mereka.
"Untuk sementara taruh aja disini, besok pagi kita bereskan. Ayo kita pulang, ini sudah tengah malam" ujar salah satu para pegawai itu.
"Baiklah, aku sudah lelah sekali" sahut temannya.
"Tunggu dulu, apakah kau tidak mencium bau yang sangat busuk sekali?! Huekk, bau sekali!" ujar salah seorang di sana.
"Aku tak mencium bau apapun" sahut yang lain.
"Sudahlah, tidak usah dihiraukan. Mari kita pergi, entah mengapa aku merasa tidak nyaman disini" ujar lelaki bertubuh lebih kecil itu.
Mereka sepakat untuk tidak memperdulikan bau-bau yang sempat tercium oleh salah satu mereka itu, tiba-tiba salah satu teman mereka bertubuh tambun terjatuh.
"Kau kenapa? Perhatikan langkahmu!" kata temannya.
"Disini penerangan kurang, hati-hati banyak barang yang belum dibereskan" kata temannya lagi.
Lelaki bertubuh besar tadi memperhatikan apa yang membuatnya terjatuh, dia melihat kain panjang berwarna putih lusuh memanjang menghalangi jalan.
"Ternyata ini yang membuatku terjatuh" gumamnya, dia menarik kain itu dan ternyata lumayan panjang juga.
"Ini dimana ujungnya?" dia merasa heran menarik kain itu tak pernah putus.
Hingga dia berdiri didepan dinding kaca yang memiliki gorden yang panjang, warna gordennya juga sama dengan kain yang dia pegang.
"Panjang sekali, sampai menjuntai jatuh kebawah hingga jauh" gumam lelaki itu tadi.
Dia hendak menaruh kain itu tadi, tapi dia memperhatikan gorden itu nampak sedikit aneh, bagian atasnya ada yang berwarna gelap dan menjuntai mirip...
"Rambut?" gumamnya heran.
Dan, tiba-tiba dia melihat ada bola mata merah menatap tajam kearahnya dibalik rambut itu.
"Oh ****, setaaann!" teriaknya sambil keluar dari ruangan aula cukup besar itu.
Teman-temannya merasa heran dengan tingkahnya tadi, yang berlari sangat kencang keluar mendahului mereka.
"Apa yang-" temannya yang bertubuh kecil tadi ingin tahu apa yang ditakutkannya tadi mencoba menoleh kebelakang, betapa terkejutnya dia melihat sosok jubah putih melayang tinggi sampai kainnya itu menjuntai sampai kebawah.
__ADS_1
"Aakh!" diapun ikut berlari ketakutan.
Tapi anehnya ada beberapa temannya malah menertawakannya, mereka pikir itu lelucon salah satu teman mereka.
"Haha! Hei, begitu saja sudah takut! Lihatlah, kainnya menjuntai sampai kelantai pasti ada kakinya itu" sahut yang lain.
"Iya benar, pasti dia pakai trik aneh buat ngerjain kita" sahut juga temannya juga.
Ketika salah satu dari mereka mencoba menggapai kain itu tapi tembus dari jangkauannya, dia mencoba lagi dan lagi tak tak bisa.
"Te-teman-teman, sepertinya ini beneran" dia terbata-bata karena gugup.
Tapi tak ada sahutan apapun dari mereka semuanya, dia menoleh kearah teman-temannya tadi tapi tak ada satupun orang yang ada di sana.
"****, aku ditinggal!" dia buru-buru ingin keluar dari aula itu.
Tapi tiba-tiba pintu aula itu tertutup rapat secara paksa, seperti didorong oleh seseorang dengan sangat kuat.
Blamm!
Pintu itu menutup dan tak bisa dibuka kembali, terdengar suara gedoran dari dalam ruangan itu dan suara teriakan minta tolong.
"Tolonggg!!"
Suara itu menggema dan menghilang begitu saja, lelaki itu tadi menghilang secara misterius dan tak pernah kembali.
"Hh..hh.. Apa tidak apa kita tinggalkan dia sendirian di sana? Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadanya?" tanya salah satu dari mereka yang telah melarikan diri terlebih dahulu.
"Tidak akan terjadi apapun, kita lihat tadi bahwa makhluk tadi tembus tak bisa tersentuh. Dan aku yakin diapun takkan bisa menyentuh manusia juga.
"Temanmu itu tidak akan kembali jika tak ditemukan sekarang" tiba-tiba ada suara lelaki asing dari arah belakang mereka.
"Siapa kamu?" tanya mereka.
"Bukan siapa-siapa, kebetulan hanya lewat" ujar lelaki itu sambil melewati mereka menuju aula tadi.
Ternyata dia tak sendirian, ada beberapa temannya mengikutinya santai tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Apa kau tau apa yang kami bicarakan?" tanya para lelaki itu tadi.
Lelaki tampan yang lewat tadi hanya tersenyum dan menuju ruang aula tadi diikuti teman-temannya, karena penasaran mereka pun ikut mengikuti mereka.
Ardian membuka pintu aula itu, tecium udara lembab dan sangat pengap sekali. Mereka mencari tombol saklar lampu dan menyalakannya.
Tidak ada apapun di sana kecuali ada beberapa barang yang belum dibereskan, Ardian dan kawanannya memeriksa ruangan itu tak ada yang mencurigakan.
"Ventilasi udara bagus, pencahayaan juga bagus, tak ada yang cacat kecuali tempat ini sangat berantakan. Kalian semua petugas bagian kebersihan disini kan?" tanya Julian.
"I-iya, kami berencana ingin membersihkan ruangan ini besok pagi. Kami sudah kelelahan karena sejak pagi pekerjaan tiada henti-hentinya datang" ujar salah satu dari mereka menjawab.
"Kalau begitu, kalian bisa minta bantuan sama yang lain. Kalau tidak silakan ajukan kepada atasan kalian tentang keluhan kalian, ini tak bisa dibiarkan begitu lama.
Nanti bisa jadi sarang setan, lihat baru ditinggal beberapa jam saja udah jadi sarang setan!" jawab Julian.
"Sudah, tapi mereka tak menanggapi" sahut mereka.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Maura penasaran, bagaimanapun juga gedung ini milik perusahaan ayahnya.
"Salah satu housekeeping supervisor disini tidak mau mendengarkan apapun dari kami" jawab mereka.
"Baiklah, nanti kami akan coba bantu kalian" ucap Maura.
"Tapi, bagaimana dengan teman kami? Apakah dia benar-benar telah dibawa oleh setan itu tadi?" tanya mereka khawatir.
"Dia masih ada disini, diumpetin sama tuh setan" jawab Julian lagi.
"Dimana?"
"Dibalik lemari kayu besar itu" sahut Ardian.
"Kami tak bisa melihat apapun" jawab mereka lagi.
Dan Maurice langsung mematikan saklar lampu membuat seisi ruangan itu gelap hanya ada sedikit sinar lampu dari koridor luar yang masuk, itu juga karena pintu dibiarkan terbuka.
terlihatlah makhluk tinggi besar dengan daster kebesaran putih lusuh dengan rambut panjang menjuntai kusut, dengan wajah rusak penuh luka mengerikan.
"Aakh!" mereka pun kembali berlari keluar ketakutan.
Blamm!
Pintu pun tertutup paksa dari dalam, adegan yang sama yang dialami oleh Barry tadi. Mereka semua terduduk lemas tak berdaya, ketakutan melihat apa yang didepan mereka.
Sedangkan Ardian dan teman-temannya terlihat santai, karena mereka sudah bisa mengendalikan diri jika melihat penampakan seperti itu, bahkan yang lebih mengerikan dan lebih jahat pun banyak.
"Sepertinya ini misi kita yang pertama menangkap para jin atau iblis yang mencoba mencelakai manusia" ucap Kevin sudah mulai berani.
"Iya, yang pertama dan terakhir" jawab Maura.
Semua orang menatapnya heran, Maura mengetahui kesalahan dalam pengucapannya buru-buru memperbaikinya.
"Maksudku yang pertama dan terakhir disini, kan beberapa hari lagi kita akan pergi ke Indonesia..." ucapnya meralat ucapannya tadi.
'Hei, setan busuk! Lepaskan anak itu, kasihan dikekep kayak gitu" ujar Julian.
"Ka-kalian lagi?" sahut si setan ketakutan.
"Tentu saja, kau pikir kami takkan bisa mengenalimu! Kau ini sungguh tak solidaritas sama sekali, teman-temanmu sudah kami tangkap dan kurung.
Kau malah main-main disini, lepaskan dan ikut kami menghadap yang mulia raja Balaputradewa. Kalau tidak kau tahu konsekuensinya" ujar Ardian.
Mendengar itu si jin yang menyamar hantu mengerikan tadi langsung kabur dan melempar tawanannya tadi untuk mengalihkan perhatian mereka semua.
"Biarkan saja ia, dia hanya jin kecil dan lemah. Suatu hari nanti kita pasti akan menemukannya kembali.
Sebaiknya kita bawa anak ini dan mereka semua, lihat udah pada pingsan semua" ujar Ardian lagi.
Mereka melihat para pegawai tadi sudah pingsan dilantai setelah melihat jin berubah wujud mengerikan tadi.
......................
Bersambung
__ADS_1