
Maura sudah selesai mandi, dan mau keluar kamarnya. Tiba-tiba saja dia bersin-bersin.
" Hachii..hachiii!! "
Dia keluar kamarnya sambil menggosok hidungnya yang gatal, saat itu dia melihat bi Marni sedang menyiapkan makanan buatnya.
" Kenapa, bersin-bersin? kena flu kamu? makanya kalau mandi jangan lama-lama " kata bi Marni.
" Iya bi, iya.. ini gara-gara air kran nya dingin, jadi gini deh " katanya.
Hidungnya merah, mata berair, dan kepalanya sedikit pusing. Dia merasa akan demam, dia duduk bersandar di kursi makannya.
" Kamu kayaknya demam juga yah? ya udah, hari ini istirahat dulu yah.
Nanti bibi kasih tahu Kevin, kamu hari ini belum bisa ke rumah sakit " kata bi Marni terlihat khawatir.
" Tapi bi, hari ini Maurice sudah boleh pulang. Aku mau sama dia ketika dia pulang ke rumah " kata Maura ngotot mau jemput Maurice juga.
" Maura, nak.. kan nanti juga Maurice pulangnya ke rumah.
O ya, kalian untuk sementara pisah dulu tidurnya. Kamu baru kena flu loh, awas nularin dia. " Kata bi Marni.
" Iya, ih.. bawel deh Ibu " kata Maura gemas dengan bi Marni yang cerewet.
Akhirnya, setelah hampir sebulan Maurice sadar juga dari komanya.
Saat diperiksa lagi kondisi tubuhnya, semuanya dinyatakan sehat dan tak ada indikasi gejala apapun.
Hanya saja, sedikit ingatannya berkurang. Dia lupa akan kecelakaan itu.
Sampai saat ini dia tidak tahu orang tuanya sudah tiada, dia sengaja dibawa ke apartemen Maura untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
*
Saat ini di rumah sakit.
Kevin beserta keluarga berkumpul di sana untuk menjemput Maurice pulang.
Mereka konsisten untuk mengurus dan Maurice sampai sembuh.
Tapi Maurice tidak ingin tinggal di rumah Kevin, dia lebih memilih pulang. Tapi keinginannya ditolak semua orang.
Dengan alasan rumah itu sedang disewakan, orang tuanya melakukan perjalanan panjang di luar negeri.
" Kenapa mereka tak peduli denganku, saat ini aku lagi sakit tapi mereka tak menemaniku apalagi mau menjemputku pulang.
Aku ini anak kandungnya atau bukan sih?! " katanya terisak menangis sedih.
" Sabar ya sayang, mereka pasti ada alasan tersendiri. Mereka sayang padamu, sangat sayang.
Malah mereka menitipkan kamu pada kami, suatu saat nanti kamu pasti akan mengetahui dan mengerti mengapa mereka seperti itu " kata bu Ella bijak.
Maurice lalu menangis di pelukannya, entah mengapa dia merasakan kehangatan seorang Ibu di sana.
Semenjak Maurice di rawat, keluarga Kevin dan Maura selalu setia menemaninya.
Hanya saja saat kepulangannya, Maura tak ada. Angga sudah kembali ke California ditemani Dhania.
" Maura kemana, kenapa dia belum datang? " tanya Maurice.
" Tadi bi Marni telpon, katanya Maura lagi kena flu. Dia takut nularin ke kamu nantinya.
__ADS_1
Makanya dia tunggu kamu di apartemennya " kata Kevin penuh perhatian.
Entah, perasaannya pada Maurice semakin hari semakin dalam perasaan itu.
Rasa sayang itu begitu besar, bahkan takut kehilangannya selalu menjadi mimpi buruknya.
Dia sangat lega saat mengetahui Maurice sudah boleh pulang dan beristirahat di rumah.
**
Maurice sudah sampai di apartemennya Maura, dia ditemani Kevin dan orang tuanya untuk pulang ke sana.
Sebelumnya Kevin sudah diberitahu no pin pintu apartemennya Maura, agar bisa langsung masuk nantinya.
Maura beralasan dia lagi istirahat di kamarnya, sedangkan bi Marni lagi sibuk dengan kerjaannya yang lain.
Saat Kevin membuka pintu apartemen dan mereka semua masuk, ruangan di sana begitu gelap.
Mereka semua mulai khawatir, dan memanggil Maura tetapi tak ada jawaban. Tiba-tiba..
Blarr.. priitt.. priwiitt..!!
Seketika lampu menyala, dan diiringi letusan balon berisi bubuk warna-warni yang menyembur mereka.
Suasana meriah yang menyambut mereka, ruangan itu seperti mengadakan acara pesta saja.
Begitu banyak rangkaian bunga, dan balon warna-warni yang menghiasi ruangan tersebut.
" Selamat datang Maurice, selamat pulang ke rumah! " kata mereka semua.
Di sana, selain ada bi Marni dan Maura ternyata Dhania dan Angga pun juga ada.
Mereka tersenyum sumringah menyambut kedatangan Maurice.
Semua orang memeluknya erat, seketika Maura bersin di sana.
" Haachii.!! " suaranya menggema seluruh ruangan.
Semua orang terpaksa melepaskan pelukannya dengan Maurice, menjauhi Maura yang masih di sana.
" Eh, Maura.. jauh-jauh, kamu bisa nularin flu ke Maurice " kata Kevin serasa menutupi hidung dan mulutnya.
" Iya, virus itu.. wah bahaya ini, kamu harus diisolasi nih? " goda Angga pada adiknya.
Semua orang tertawa menggoda Maura, yang dari tadi bersin-bersin tak berhenti.
" Sudah istirahat aja May, sudah minum obat belum? " kata Maurice penuh perhatian pada Maura.
" Belum, cadangan obat habis " katanya dengan suara mulai mindeng.
Semua orang berpura-pura menjauhinya, Maura tahu mereka hanya menggodanya. Makanya dia hanya tertawa.
" Wah, dasar kakak durhaka yah. Mentang-mentang punya adik baru yang lama ditinggalin " kata Maura berpura-pura merajuk.
Saat itu Angga membantu Maurice yang akan minum obat, mereka semua baru selesai makan bersama.
" Kenapa, mau juga disuapin? " kata Angga sambil tersenyum.
" Ogah, telat! " kata Maura.
" O ya, Maurice sama Maura kami pamit dulu yah. Sehat-sehat terus ya Maurice.. " kata bu Ella pamitan bersama pak Wisnu dan Kevin.
__ADS_1
" Iya tante, terima kasih buat semuanya. Aku janji akan balas semuanya nanti " kata Maurice dengan senyuman tulusnya.
" Gak usah nak, tante dan keluarga ikhlas kok. Kalau mau ganti, boleh saja asal mau jadi mantu Mama " goda bu Ella.
Maurice sedikit terkejut, mukanya bersemu merah. Terlihat senyum malu-malunya.
" Mama, jangan godain Maurice terus. Tenang, nanti juga bakal jadi mantu juga.
Untuk sementara biasain manggilnya Mama sama Papa yah, jangan om tante lagi. " Kata pak Wisnu malah ikut menggodanya.
Semua orang tertawa, sekarang malah Kevin yang malu-malu.
Kevin dan orang tuanya sudah pulang, sedangkan Angga dan Dhania keluar untuk membeli sesuatu diluar.
Bi Marni masih sibuk membersihkan peralatan makan mereka setelah acara makan bersama tadi.
Sedangkan Maurice beristirahat dikamar tamu khusus buatnya.
" Bi, Maura pamit mau ke klinik dibawah yah? ini badanku gak enak semuanya " kata Maura sambil menggerakkan badannya dengan malas.
" Mau bibi temani? " kata bi Marni menawari dirinya untuk menemaninya.
" Gak usah bi, deket ini kok. Lagian kasihan Maurice ditinggal sendirian.
Nanti dia nyariin gimana? " kata Maura sambil tersenyum.
" Iya, kamu benar juga " kata bi Marni.
Maura pergi ke klinik yang ada dikawasan apartemen tersebut.
Dia memilih berobat di sana, karena lebih dekat dan semua orang mengenalnya. Dan yang terpenting, di sana dia aman.
Tapi sayangnya, klinik hari itu tutup karena libur. Terpaksa dia keluar mencari klinik lain.
Dia memesan taksi, memilih ke klinik di samping gedung komersil didepan kawasan apartemennya.
Saat dia lagi duduk menunggu antrian, tiba-tiba saja dia melihat pria misterius yang beberapa hari lalu bersamanya.
Pria itu sekarang penampilannya berbeda, bukan baju olahraga ataupun hodie lagi. Namun sekarang penampakannya agak modis dikit.
Memakai celana jeans dengan jaket denim warna senada, dengan topi dan masker tentunya.
Sepatu kets warna putih dengan tas ransel kecil dipakai kesamping bahunya. Penampilannya jadi terlihat modis sekali.
Entah mengapa, ada perasaan rindu dihatinya. Padahal mereka hanya bertemu dua kali dan itupun tak lama
Dia merasa sudah mengenalnya bertahun-tahun, dia gelisah sendiri.
Maura bangkit dari duduknya hendak pergi mencari angin segar, karena antrian cukup lama dia pikir mau keluar sebentar.
" Auh.. ! " seseorang meringis kesakitan kakinya tak sengaja Maura injak.
" Ma-maaf, aku tak sengaja. Kau tak apa-apa kan? " tanya Maura hati-hati.
Plaak!
Orang itu langsung menampar Maura, semua orang terkejut dengan kelakuannya.
Maura syok, dia kaget kena tampar tiba-tiba oleh orang itu.
......................
__ADS_1
Bersambung