
Bi Surti dan Maria saling berhadapan dan berpelukan saling melepas rindu, Maria menangis tersedu dan tak berpikir sama sekali kalau ternyata selama ini bi Surti juga melihat dirinya.
"Kenapa kamu selama ini hanya diam saja? Kenapa tak menyahutiku jika kuajak bicara?!" tanyanya kesal.
"Maaf, Kak. Aku tak bermaksud begitu, aku hanya ingin menerima kenyataan bahwa kau sudah tiada, aku juga berharap kau segera tenang dan pergi dari dunia ini.." sahut bi Surti.
Maura diam dan membiarkan mereka saling melepas rindu, hanya saja agak aneh didengarnya jika melihat Maria berbicara santai dengan bi Surti, sedangkan wanita paruh baya itu memanggilnya dengan sebutan 'kak' padahal usia mereka terpaut sangat jauh, jika dibandingkan bentuk fisik mereka.
"Wujud Maria berhenti di usianya yang ke 21 tahun, sedangkan bi Surti terus bertambah seiringnya tahun berlalu. Yang aku salut padanya, dia masih sangat menghormati tuannya meskipun dia sudah jadi hantu begitu" gumamnya kagum.
"Sebenarnya kenapa aku masih ada di dunia ini, karena masih ada masalah yang belum selesai. Aku belum tenang jika kematianku belum terungkap yang sebenarnya, selama ini mereka mengira aku mati bunuh diri, tapi sebenarnya tidak seperti itu" ujar Maria mulai menjelaskan.
"Apa maksudmu, Kak? Bukankah dokter juga sudah mengatakan jika kakak meninggal karena bunuh diri dan kehilangan banyak darah,? dan polisi juga sudah memberikan keterangan kalau kematianmu itu karena bunuh diri disebabkan rasa malu yang berlebihan!" ucap bi Surti heran.
"Mereka juga tak salah, tapi masih banyak yang ditutupi oleh kasus ini. Para polisi dan dokter waktu itu sengaja menutupi kasus ini atas perintah ibu dari sahabatku yang mengkhianati aku itu!
Dengar, aku memintamu bersama Maura untuk mengungkapkan kasus ini. Jika tidak arwahku tak tenang, dan aku sudah lelah bergentayangan selama puluhan tahun ini. Aku ingin aku dan anakku memiliki rasa keadilan lagi" ucap Maria dengan perasaan menggebu-gebu.
"Tapi, Kak... Kejadian itu telah lama sekali, sudah puluhan tahun. Aku juga sudah sangat tua, apalagi mereka semua itu. Aku yakin mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini, meskipun masih hidup, aku yakin mereka sudah lupa!" ujar bi Surti menjelaskan semuanya.
"Tapi aku, aku tak relaaaa!" teriak Maria murka.
Seketika wajahnya berubah kembali mengerikan, dan tiba-tiba semuanya lampu mati seketika. Angin kencang menerpa mereka dan tidak tahu datang dari mana arahnya.
"Hentikan, Maria!" pinta Maura.
Tapi arwah Maria yang sudah berubah kembali menjadi Kuntilanak itu tidak mendengarkannya, dia begitu marah dan pergi begitu saja. Ketika dia pergi, angin kencang itupun berhenti, dan lampu kembali menyala.
Hanya menyisakan beberapa barang yang berserakan akibat angin kencang tadi, bi Surti hanya terduduk diam, tatapannya kosong menatap Maura.
__ADS_1
"Bi, tenanglah. Tidak akan terjadi apapun nantinya, aku yakin itu" ujar Maura menenangkannya.
"Kau tak mengenalnya, Maura. Dia itu manja, semua keinginannya harus dipenuhi jika tak dikabulkan dia akan mengamuk" ucap bi Surti.
"Tapi itu kan dulu, sekarang tidak! Dia tak bisa berbuat itu lagi, lagian kita tak berkewajiban mengikuti keinginannya itu!" sahut Maura.
"Ta-tapi dia.." bi Surti tak tahu harus berbicara apa lagi.
"Tenanglah, dia itu bukan Maria yang bibi kenal lagi. Dia itu jin menyerupai manusia yang telah mati, dan aku rasa dia adalah jiwa pendendam yang selama ini Maria simpan" ujar Maura.
"Jika itu benar, maka akan lebih berbahaya lagi. Aku tak ingin nama baiknya akan rusak gara-gara jin itu!" sahut bi Surti lagi.
"Tenanglah, Bibi tidak sendiri. Aku akan membantumu, tapi yang lebih penting adalah kita harus membuatnya tenang, kita memang tidak bisa menghukum mereka yang telah mencuranginya.
Tapi, kita bisa mengungkapkan kebenaran atas kejadian puluhan tahun yang lalu. Mungkin dengan itu kita bisa membuatnya sedikit tenang, jika dia masih memaksa kita melakukan sesuatu, atau dia bertindak menyusahkan, kita paksa dia pergi dari dunia ini segera" sahut Maura lagi.
Setelah keduanya selesai membersihkan tempat itu, dan kembali ke kamar masing-masing, tiba-tiba sosok Kuntilanak tadi kembali muncul di dalam rumah itu, dan duduk diatas bangku meja makan itu.
"Kalian ingin melawanku rupanya, tidak akan pernah. Aku dan anakku akan terus disini sampai semua anak cucu keturunan lelaki dan wanita bajingan itu semuanya mati, mereka semuanya harus merasakan penderitaanku juga" gumam si Kunti sambil menimang bayinya.
Setelah itu dia langsung pergi menebus dinding rumah itu menuju pohon mangga rumah itu, dan kembali bersenandung rindu untuk anaknya itu.
Sementara dikamar itu, Maura masih berpikir bagaimana caranya agar membuat si Kunti tidak mengganggu dirinya dan para penghuni rumah ini.
"Dia benar-benar merepotkan, kalau sudah begini mau gak mau aku harus bergerak cepat agar tak terjadi sesuatu mengerikan lagi. Hem, aku merindukan kalian teman-teman.." gumamnya.
//
Pagi pun sudah tiba, semuanya berjalan kembali normal hanya saja mereka lebih terlihat buru-buru dan tidak ingin berlama-lama di rumah itu.
__ADS_1
Berita begitu cepat menyebar, kabar mengenai Ranti dan para hansip yang diganggu oleh makhluk rumah itu langsung menyebar di seluruh wilayah perumahan itu.
Sampai bu nela pun juga tahu, entah siapa yang menyebarkan berita itu yang jelas mereka mulai terusik karena ada beberapa tetangga yang bergosip tentang rumah, dan ada juga kabar mengenai anak kost yang pindah mendadak itu.
"Ada apa ini? Kalau dibiarkan begitu saja, bisa-bisanya rumah kostnya sepi dan menurunkan harga rumah!" ujar bu Nela kesal.
Jarak rumahnya dengan rumah kost itu lumayan jauh, dia harus mengendarai mobilnya memutar agar bisa sampai kesana, setelah sampai dia sudah disambut oleh beberapa tetangga yang menyapanya.
"Mau lihat rumahnya ya, Bu? Hati-hati Bu, katanya rumahnya ada setannya!" ujar ibu-ibu rumpi didepan rumahnya itu.
"Hati-hati, Bu kalau bicara! Mana ada setan di rumah kost ini!" bantah bu Nela tak terima.
"Ya sudah kalau tak percaya, liat aja sendiri! Anak-anak yang tinggal disana pada ketakutan tadi keluar rumah buru-buru!" timbal tetangganya lagi.
"Iya, Bu. Semalam ada hansip yang berkeliling melihat ada tuyul diatas pohon mangga!" sahut yang lain juga.
"Hufft, terima kasih infonya, tapi lebih baik kalian jangan menyebarkan informasi yang tidak-tidak tentang rumah ini kepada orang lain yah!" pintanya sedikit kesal.
Bu Nela langsung pergi meninggalkan mereka dan masuk kedalam rumahnya, ibu-ibu rumpi tadi pun pergi sambil ngedumel kesal.
"Masih bagus punya tetangga yang perhatian, jika kita gak ngomong situ pasti bakalan gak tau!" sahut mereka kesal.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari rumah kost itu, membuat bu Nela dan bi Surti berlari ketakutan meninggalkan rumah itu, membuat para ibu-ibu rumpi itu tambah penasaran.
Dan seketika ekspresi wajah mereka menjadi tegang, pucat seketika. Ada sesuatu yang menempel di kaca jendela lantai atas rumah itu menyeringai menatap mereka.
......................
Bersambung
__ADS_1