
Maura keluar dari tempat itu tanpa ada masalah, karena dia memiliki perisai pelindung yang bisa menutupi keberadaannya dari para musuh. Dan perisai itu dia dapatkan dari sang mama, itu juga dia tak tahu.
Sempat merasa deg-degan takut ketahuan, padahal dia sempat membuat keributan saaf turun dari lantai dua turun dari tali kain buatannya itu, tapi tak ada yang menyadari keberadaannya.
"Untunglah bisa selamat, tapi masalahnya aku pulang bagaimana caranya?! Ini tempat sangat jauh dari kota Lahat, ponsel juga ada didalam tas, mau naik angkutan uang juga gak ada!
Apes banget, ini percuma juga bisa keluar aku tetap gak bisa kemana-mana. Mana sudah malam banget, aku gak tau mau kemana..." gumamnya sendiri.
Dia terus berjalan menyusuri jalanan beraspal itu, dia tidak tahu dimana sekarang saat ini, apa arah jalan sudah benar atau justru sebaliknya? Udara malam begitu dingin menusuk tulang, udara daerah pegunungan yang begitu dingin.
Maura yang sekarang ini hanya memakai celana jeans, sepatu kets dan kaos berlapis kemeja tipis menggigil kedinginan, dia berharap mendapatkan sebuah keajaiban ditengah-tengah kegelisahannya itu.
Tiin.. Tiiin!
Ada sebuah mobil berada tepat dibelakangnya, mobil itu beberapa kali membunyikan klaksonnya, Maura berharap itu adalah orang baik yang mau menolongnya.
Maura membalikkan badannya, dia kesilauan akibat sorot lampu mobil yang sangat terang itu, cukup lama orang didalam mobil itu memperhatikan Maura, dia tak kunjung turun juga, Maura pikir orang itu mungkin hanya memberikan penerangan saja padanya karena di sekitarnya memang sangat gelap.
Maura meninggalkan mobil itu dan terus berjalan, dia juga mendengar suara mesin mobil bergerak mengikutinya. Maura menoleh kebelakang dan benar saja mobil itu mengikutinya.
Dia kembali terus berjalan dan tak menghiraukannya, dia pikir mobil itu juga mau lewat saja. Tapi ketika dia berhenti dan menoleh lagi kebelakang, mobil itu juga berhenti membuatnya curiga dengan mobil itu.
"Ada apa dengannya? Jika ingin lewat, lewat sajalah! Jalan ini sangat luas bahkan buat untuk dua mobil, kenapa dia terus dibelakangku seolah aku ini menghalangi jalannya?!" ujar Maura kesal.
Setelah cukup lama diikuti, akhirnya Maura berbalik dan menghampiri mobil sedan berwarna merah dengan kaca mobil yang gelap. Dia mencoba beberapa kali mengetuk jendela kaca itu, tapi tak ada respon sama sekali.
"Hei, siapa didalam?! Keluar, kenapa kamu mengikuti aku seperti ini?! Keluar kau!" teriak Maura sambil beberapa kali menggedor pintu mobil itu.
Tapi sama tak ada respon, tidak lama kemudian mesin mobil itu mati, tak ada sorot lampu mobil yang begitu terang menyilaukan, dan mesin mobil itu benar-benar mati tidak mengeluarkan suara apapun lagi.
Maura diam memperhatikan mobil itu dan juga berkeliling memperhatikan di sekitarnya, tak ada orang yang mencurigakan di sana yang berniat iseng ataupun jahil, lalu apa maunya pemilik mobil itu.
Maura membelakangi pintu mobil itu sambil memperhatikan area hutan disamping jalan itu, dia tak menyadari jika pintu mobil itu terbuka berlahan.
Ada seorang wanita bergaun merah keluar dari mobil sambil memegangi sebuah pisau tajam, yang diarahkan kepada Maura. Bahaya tepat berada dibelakangnya, tapi gadis masih tak menyadarinya.
__ADS_1
"Maura, awas!" terdengar suara bisikan di telinganya sebagai pertanda ada bahaya disampingnya.
Dia mempertajam telinganya dan mendengar suara deru nafas memburu dari arah belakangnya, dia langsung menoleh dengan cepat kearah belakang dan secepat itu juga pisau ditangan wanita itu mengarah kearah dirinya.
Traaanng!
Pisau ditangan wanita itu terlempar cukup jauh, darah mengucur di lengannya Maura. Karena pisau itu berhasil melukainya, targetnya adalah jantung tapi Maura berhasil mengelak dan malah mengenai lengan tangannya.
Tes.. Tess.. Tess..
Darah segar menetes berlahan dari tangannya itu, aroma tubuhnya yang wangi yang semakin tajam karena aliran darah yang keluar menetes dari tubuhnya, diakibatkan sebuah luka yang dilakukan wanita licik itu.
"Haha, rasakan kau! Aku memang gagal membunuhmu, tapi aku yakin dengan luka kecil itu bisa membangkitkan gairah membunuh para makhluk disekitar hutan ini!
Setidaknya kami tak perlu capek-capek mengejarmu lagi, cukup menontonmu mati berlahan sudah menyenangkan bagi kami! Guys, keluarlah! Sebentar lagi pertunjukan akan dimulai!" teriak Shalimar memanggil kedua sepupunya itu.
Dari dalam mobil itu keluar dua anak muda yang seusia dengan mereka, seorang pemuda dan gadis muda lainnya. Yang Maura pikir mereka juga sepupunya yang lain, Maura sempat mengenali pemuda itu, yah! Anak lelaki itu merupakan partner Shalimar dalam menjalani ritual setubuh darah malam itu.
Maura menatap jijik kepada mereka, bagaimana bisa mereka melakukan itu semua? Belum sempat dia menanyakan sesuatu, tiba-tiba dia mendengar suara geraman dan suara desisan dari kedua arah hutan kanan dan kiri jalan itu.
Maura kebingungan, sekarang apa lagi? Melihat ekspresi Maura seperti itu, ketiga orang itu tertawa kencang seperti pemandangan yang indah bagi mereka melihatnya begitu.
Maura masih menunggu apa yang akan datang kali ini, sedangkan Shalimar dan kedua saudara sepupunya itu duduk diatas kap mesin mobil didepan memperhatikan Maura yang sudah agak menjauh dari mereka.
Gadis itu berlahan menjauhi mereka, dia berjalan mundur sambil tetap waspada memperlihatkan disekelilingnya. Dan benar saja, dari arah hutan sebelah kanan, ada beruang hitam yang begitu besar keluar dari sana dengan mata merah dan air liur yang menetes, dia menggeram menatap tajam kearah Maura, seperti menatap tumbukan daging segar saja.
Tidak lama kemudian dari arah hutan sebelah kiri, muncul juga seekor gorila besar dan memiliki mata merah juga, dia menatap Maura dengan sorot mata tajam dan begitu marah.
"Darimana arah datangnya mereka ini? Aku pikir di hutan Sumatera tidak ada kagi Gorila, dan sorot matanya.. Aku yakin mereka kena sihir dan dirasuki oleh makhluk jahat lainnya,, sebaiknya aku mundur dulu.." gumam Maura.
Dia mundur berlahan dan menghindari para binatang itu yang mulai berlahan mendekatinya, sedangkan Shalimar dan lainnya sedang tertawa terbahak-bahak menertawakan Maura yang mereka pikir gadis itu sedang ketakutan.
Maura mulai merasakan adanya emosi yang tidak stabil pada kedua binatang itu, dia berbalik arah dan berlari menjauhi mereka, melihat Maura berlari kedua binatang itu mengejarnya bagaikan mengejar mangsa yang besar.
"Hahaha.." terdengar suara tawa menggelegar dari ketiga orang tak punya perasaan itu, menertawakan Maura berlari menjauhi mereka dan binatang yang kena rasuk itu.
__ADS_1
Dan alangkah terkejutnya Maura ketika melihat ada seekor ular raksasa sedang menghadangnya dari arah depan, posisinya saat ini sedang terpojok dia tak bisa bergerak maju maupun mundur, sedangkan dari arah hutan juga mulai terdengar suara-suara geraman dan suara mendesis menuju kearahnya.
"Maura, kesini!" terdengar lagi suara bisikan yang menuntutnya keluar dari situasi itu.
"Kemana?" tanya Maura, dia bingung mau kemana karena saat ini dirinya dalam keadaan terpojok dari segala penjuru.
"Keluar dari tempat terbuka, karena saat ini kau adalah target mereka dan gampang terlihat. Setidaknya sembunyilah!" ujar suara bisikan itu.
"Iya, tapi kemana?!" teriak Maura kesal, karena hampir semua makhluk di hutan itu keluar dan mendekati dirinya.
"Percaya saja pada pikiran, intuisi, dan hatimu.. Jika kau percaya apa yang kau lihat sekarang ini, maka itulah yang terjadi. Tapi jika kau percaya mereka itu tidak ada, maka itu tak pernah ada.." terdengar lagi suara itu.
Maura diam sebentar berpikir sejenak, dia mencoba berkonsentrasi dan menatap disekelilingnya dan benar saja ada campur tangan sihir didalamnya.
Dia tersenyum, dia melihat ada beberapa binatang buatan sihir untuk menakutinya, ada juga beberapa binatang yang kena sihir juga melihat Maura bagaikan melihat makanan lezat, dan ada juga yang benar-benar kena rasuk.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan.." senyum Maura menatap semua binatang itu.
Dia berlari menuju kearah mereka dengan tatapan tajam, seperti ada lampu neon yang berpijar dari arah matanya semua binatang itu berlari ketakutan masuk kedalam hutan.
Karena ada beberapa binatang yang takut cahaya, dan ada juga kekuatan besar dari tatapan mata Maura itu yang mampu menghalau sihir yang melekat pada binatang-binatang yang tak bersalah itu.
Membuat para bintang itu kebingungan ketika sadar, dan kembali masuk kedalam hutan. Dan sekarang ini tugasnya adalah terpaksa melumpuhkan beberapa binatang yang kena rasuk itu, dan mau gak mau harus menghadapi para sepupunya itu.
Wusss!!
Maura berlari masuk kedalam hutan, dan diikuti oleh para makhluk itu, dia berlari sekuat tenaga menghindari para makhluk itu. Dia bersembunyi dari balik pepohonan besar didalam hutan itu, dan para makhluk itu nampak waspada mencari kebenaran Maura.
"Ini malam hari, dari beberapa binatang itu penglihatannya kurang pada malam hari. Aku harap meskipun mereka kena sihir dan dikuasai oleh para makhluk itu, penglihatannya tetap tak setajam pada siang hari.." gumam Maura penuh harap.
Sedangkan Shalimar melihat Maura berlari masuk kedalam hutan, dia pun ingin masuk hutan dan penasaran apa yang akan terjadi pada anak itu nanti.
"Ayo kita masuk juga, setidaknya kita punya laporan dan bukti dihadapan nenek dan para tetua, jika gadis itu sudah mati sekarang ini!" ujar Shalimar kepada para sahabatnya itu.
Mereka masuk kedalam hutan juga, dan menyampingkan segala resiko yang ada dan masih menganggap Maura adalah lawan yang lemah.
__ADS_1
......................
Bersambung