
Pak Heru sangat terkejut melihat sosok itu, dia menutup pintunya dengan hati-hati tapi sayangnya aksinya sudah diketahui oleh sosok itu. Bayangan itu memiliki bentuk tubuh seorang nenek tua memakai jubah panjang dan lebar, dia memiliki kuku-kuku panjang dan hanya memiliki sepasang mata merah menyala melihat kearahnya tajam.
"Hh..hh!" dia mengatur nafasnya dengan tersengal-sengal.
Ketika berhasil menutup pintu dan menjauhinya, berdiri dibalik pojok ruangan itu seperti orang ketakutan. Melihat itu kedua saudara-saudaranya heran melihat tingkahnya, dan menghampiri pak Heru.
"Ada apa? Apa yang kau lihat diluar?!" tanya pak Herman penasaran.
"Iya, jangan diam saja! Kau buatku semakin takut saja!" ucap bu Sinta.
"Jika kau takut, itu wajar saja. Dia, dia yang paling kita takuti dan paling kita hindari akhirnya datang juga" ucap pak Heru sambil terus melihat kearah pintu itu.
"Siapa yang kau maksud?!" tanya pak Herman tak mengerti.
"Nenek buyut kita, Nining Setue itam!" ucap pak Heru ketakutan menyebutkan nama itu.
Mendengar itu ketiganya nampak gelisah dan ketakutan, bagaimana tidak sudah bertahun-tahun hidup mereka damai tanpa adanya dunia hitam lagi semenjak kepergian pak Irwan waktu itu, dan sekarang tiba-tiba ada tanda-tanda kemunculan kembalinya nenek buyut mereka.
Salah satu tetua di sekte ilmu hitam yang didirikan oleh para leluhur mereka dulu, mereka hanyalah anak-anak keturunan mereka yang tak tahu apapun, mereka hanya meneruskan adat istiadat yang didirikan oleh leluhurnya, setelah melihat kematian tragis ipar yaitu mamanya Maura barulah mereka tahu tentang semuanya.
Di saat mereka masih kecil, mereka sudah dikenalkan oleh kedua orang tua mereka dunia hitam, mereka hanyalah anak-anak kecil yang tak tahu apa-apa. Sampai mereka dewasa dan berumah tangga, kebiasaan tak bisa ditinggalkan mengikuti cara hidup orang tua mereka.
Dan sekarang bayang-bayang akan dihantui dan di gentayangin oleh leluhur mereka selalu membuat mereka ketakutan, mau gak mau mereka terpaksa mengikuti cara orang tua mereka menghadapi mereka dan membuat mereka kembali tenang.
"Setiap malam Jumat seminggu sekali kalian harus memberikan mereka sesajen, taruh ditengah-tengah kebun bunga itu. Tepat tengah malam, tak boleh lewat ataupun kurang waktunya.
Dan setiap sebulan sekali kalian juga harus bersemedi disalah satu kuburan keramat leluhur kita secara bergantian, agar hidup kalian aman sentosa dan tak ada gangguan dari manapun.
Dan setiap satu tahun sekali, disetiap bulan purnama kalian harus mempersembahkan korban bagi para leluhur kalian, darah manusia yang masih muda. Jika dia perempuan pastikan dia masih perawan.
Ingat itu, tak boleh lewat ataupun dilanggar jika tidak salah satu anggota keluarga kalianlah yang akan mereka ambil" ucap ibu mereka.
Semenjak kematian ayah mereka, ibunya lah yang mengambil alih kepemimpinan dan kekuasaan di wilayah mereka. Hampir setiap penduduk atau warga di sana mengenal mereka dengan baik.
Tentu saja dimata orang-orang mereka adalah orang-orang baik, tanpa tahu kehidupan mereka seperti apa.
//
Satu minggu pun telah berlalu, akhirnya Maura dan teman-temannya sudah berada di kota Pagaralam.
Saat ini mereka masih di bandara dikota Pagaralam menunggu jemputan dari keluarga Maura, sedangkan Ardian, Julian dan Joanna serta diikuti oleh Rosario sudah pergi dijemput oleh orangnya Ardian di kota itu.
__ADS_1
Disaat ketiganya masih menunggu jemputan, tiba-tiba sekilas Maura seperti melihat seseorang yang menatapnya begitu dalam. Seorang wanita yang cukup berumur, dan entah mengapa ia seperti pernah melihatnya tapi tak tahu dimana.
"Maura? Hei, jangan melamun. Lihat sudah ada yang datang" ucap Kevin.
Ketiganya disambut baik oleh salah satu paman Maura, yaitu pak Herman. Dia datang bersama kedua anak kembarnya yaitu Nala dan Nayra. Mereka tersenyum ramah menyapa Maura dan teman-temannya.
Entah apa yang dipikirkan mereka, hanya mereka lah yang tahu apa yang ada didalam pikiran mereka saat ini.
"Maaf ya, Mamang jemputnya terlambat" ucap pak Herman merasa tak enak dengan Maura.
"Tidak apa, Mang. Ini juga tak terlalu lama kok" jawab Maura, bahasa Indonesia nya cukup baik.
"Apa teman-temanmu itu bisa mengerti dan bisa berbahasa Indonesia?" tanya pak Herman, disambut antusias oleh kedua anaknya itu.
"Bisa sedikit-sedikit, Mang. Ini Kevin, ayahnya orang Indonesia juga dan ini Maurice dia sudah belajar banyak semenjak berteman dengan saya" jawab Maura sopan diiringi anggukan Kevin dan Maurice sopan juga.
"Mamang suka dengan kalian, begitu sopan dan baik. Dan kalian, Nala dan Nayra harus belajar dengan mereka. Lihat mereka begitu sopan, tidak seperti kalian bisanya ribuut terus" ucap pak Herman menasehati anak-anaknya.
Mendengar itu keduanya hanya tersenyum kecut, Maura dan lainnya merasa tak enak dengan ucapan pak Herman barusan, secara tak sengaja dia sudah menyakiti anak-anaknya karena membandingkan mereka yang baru saja bertemu dengannya.
"Baik sikapnya belum tentu baik hatinya" jawab Nayra sinis.
"Betul, kita lihat saja nanti sifatnya seperti apa" dijawab pula sama Nala.
"Sudah kalian, diamlah! Nah kita sudah sampai.. Ayo, Maura ajak teman-temanmu masuk kedalam!" seru pak Herman.
Mereka memasuki pekarangan rumah yang cukup luas, disekitar rumah terhampar perkebunan teh dan jarak antara rumah itu dengan rumah beberapa tetangga cukup jauh letaknya.
Mereka bisa merasakan sejuknya angin pegunungan menerpa mereka, sejenak pikiran mereka menjadi fresh kembali.
"Sepertinya rumah nenekmu ini satu-satunya yang terlihat besar dan mewah, Maura" ujar Kevin.
"Tentu saja, kata ayah ada tiga keluarga yang tinggal disini termasuk nenekku juga" jawab Maura.
"Sepertinya kau takkan mudah tinggal disini" ucap Maurice lagi, karena sesekali dia melihat sorot pandang kedua sepupu Maura yang kurang bersahabat.
"Tidak apa, karena tujuan utamaku kesini bukan untuk dekat dengan mereka atau berencana tinggal lama disini" ucap Maura.
Mereka masuk kedalam rumah itu, dan sudah banyak orang yang menunggu mereka di sana. Ada banyak tatapan hangat menyambut mereka, dan banyak juga beberapa mata dingin memperhatikan kedatangan mereka.
"Mauraaa! Ya ampun kamu sudah besar sekali, cantik lagi! Bibi sampai pangling ngenali kamu" ucap bu Sinta sambil memeluk Maurice.
__ADS_1
Tentu saja tingkahnya membuat bingung sebagian orang, terutama Maura dan Maurice yang merasa mereka tertukar.
"Maaf, Bu. Saya Maurice temannya Maura, dan di samping saya adalah Maura" ucap Maurice merasa tak enak.
Spontan saja ucapan Maurice itu membuat wajah bu Sinta memerah karena malu, dan tingkahnya ditertawakan oleh sebagian orang di sana.
"Diam kalian! Maaf ya Maura, Bibi gak tahu" ucapnya sambil beralih ke pelukan Maura.
Hanya saja sikapnya yang tiba-tiba berubah terhadap Maurice, mungkin dia malu atau apa. Tapi ketika dia mendorong tubuh Maurice dan beralih ke Maura, membuat Kevin tak suka.
"Sudah, tak apa" bisik Maurice menenangkannya.
"Bi, ini kedua teman saya namanya Maurice dan Kevin. Mereka juga akan berkuliah bersama saya" ucap Maura mengenalkan kedua sahabatnya.
"Apakah mereka akan tinggal disini?" tanyanya sinis menatap Kevin dan Maurice.
"Tidak, mereka akan tinggal di asrama kampus sementara waktu sebelum menemukan tempat" jawab Maura.
"Ingat, ini Indonesia dan berada di daerah yang adatnya masih sangat kental. Hargailah budaya disini, jangan kumpul kebo! Ini bukan Amerika!" ucap neneknya yang sedari tadi diam saja memperhatikan mereka.
"Eh, nenek! Maaf, Nek. Tadi Maura tak sempat memperhatikan nenek ada disini" ucap Maura sopan sambil mencium punggung tangan neneknya itu, diiringi oleh Kevin dan Maurice.
"Kau tidak boleh sombong seperti ayahmu itu, bersikaplah yang baik didepan orang tua dan hormati saudara-saudaramu itu!" ujar sang nenek sambil menepis tangannya saat hendak dicium oleh Kevin dan Maurice.
"Nenek tua ini sangat kasar dan sombong sekali" gumam Kevin dalam hati.
Tiba-tiba sang nenek menatap tajam kearahnya, Kevin sangat terkejut dengan tatapan mata itu, dia tak tahu apa si nenek bisa mendengar isi hatinya juga atau tidak.
"Sudah, sudah... Mereka sepertinya masih capek, dari perjalanan jauh! Ayo Maura istirahat dulu, Nala! Nayra ayo bawa Maura ke kamarnya" ucap pak Herman.
Mereka menuju lantai atas, Maura dan Maurice beristirahat di kamar yang sudah disiapkan oleh mereka khusus untuknya. Sedangkan Kevin beristirahat di kamar Nala.
"Baru saja datang, sambutannya sudah tak baik" gumam Maura.
"Sepertinya aku harus cepat-cepat mencari tahu tentang sekte perkumpulan sesat mereka sebelum ketahuan, dan cepat-cepat pergi dari sini!" gumamnya lagi dalam hati.
Karena kelelahan mereka pun akhirnya tertidur lelap, mereka tak menyadari ada sesuatu yang mengintip mereka dari balik dinding kamar itu.
......................
Bersambung
__ADS_1