Ratu Buangan Jadi Kesayangan

Ratu Buangan Jadi Kesayangan
Bab 32 - Paviliun baru


__ADS_3

Kaisar mengambil langkah tepat di samping Qing 'Er. Kemudian mempersilahkan seorang ibu dan anak maju ke hadapannya lalu menoleh ke arah provokator bayaran Ibu Suri. "Anak dan istrimu sudah aman, kamu tidak perlu takut lagi untuk mengatakan yang sebenarnya."


"Kaisar jelas melihat Ratu Qing menggunakan ilmu sihir dengan terang-terangan tapi masih tidak menghukumnya!" Wu Zhao menatap tajam Yuan Shi yang kini terlihat acuh tak acuh padanya.


"Ibu Suri sepertinya sudah harus beristirahat, masalah ini sampai menjadi besar hanya karena Ibu Suri tidak menyukai Ratu Qing dan menganggapnya sebagai saingan terbesarmu di kekaisaran saat ini. Dengan ini aku memberikan titah untuk menempatkan Ibu Suri ke Paviliun Zhao di luaran Istana Qianqing!"


"Yuan Shi!" geram Ibu Suri.


"Apa Ibu Suri berani menentang ucapan kaisar?" tanya Yuan Shi dengan tajam. "Ucapan kaisar adalah mutlak, lagipula ini demi kebaikan Ibu Suri yang sudah semakin tua dan pastinya sangat berat jika harus selalu ikut campur urusan kekaisaran!"


"Kaisar berani memperlakukan ibunya sendiri seperti ini, para tetua kekaisaran pasti tidak akan tinggal diam!" gertak Ibu Suri.


"Kasim Huo, tolong segera perintahkan semua prajurit membawa Ibu Suri ke Paviliun Zhao dengan aman!" pinta Yuan Shi.


"Baik, Yang Mulia." jawab Kasim Huo.


"Wu Zetian, kamu adalah Selir Kesayangan Kaisar cepat beritahu Yuan Shi bahwa jika ia mengusir ibunya seperti ini dia akan menjadi anak durhaka!" Ibu Suri menahan diri dari para dayang dan prajurit yang kini tengah mengerumuninya untuk dibawa ke Paviliun Zhao.


"Ibu Suri maaf hamba tidak bisa, apapun yang diputuskan kaisar hamba hanya bisa patuh!" Ucap Selir Wu Zetian sembari memasang mimik wajah yang sedih dan tak berdaya.


"Kalian semua sungguh keterlaluan, Yuan Shi aku pasti akan kembali ke Istana Utama!" seru Ibu Suri yang kini telah dibawa pergi ke luar Qianqing.


Semua orang masih bersimpuh dan memohon ampun atas kesalahpahaman hari ini, tiada yang berani menanyakan keberadaan Yun Shan lagi pada ratu maupun kaisar. Mereka telah menganggap masalah ini selesai terlebih kaisar terlihat sangat marah pada semuanya.


"Mulai sekarang siapapun yang berani memfitnah, menghina ataupun membangkang ucapan Ratu Qing akan segera dihukum dengan berat. Juga ejekan dan julukan Ratu Buangan yang sudah umum di masyarakat sangatlah tidak pantas terdengar olehku.


Dengan ini sepenuhnya Ratu Kekaisaran Dinasti Xia, Liu Qing sudah bukan lagi Ratu Buangan dan tidak akan lagi tinggal di Istana Dingin." ucapan kaisar membuat semua orang membelalak, sebagian orang merasa senang sebagian lagi merasa marah dan kesal.


Qing 'Er menatap Yuan Shi dengan penuh kekaguman, tanpa disangka pria itu membantunya keluar dari masalah yang rumit ini. Setelah semua masalah selesai, para pelayan yang melayani Qing 'Er kembali dan mulai memindahkan beberapa barang milik Liu Qing dari istana dingin ke paviliun.


Sembari menunggu semuanya tersusun rapih di kediaman barunya, Qing 'Er menikmati sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga di halaman istana utama kekaisaran bersama Pelayan Chun. Sedangkan Yuan Shi dan Kasim Huo muncul sekonyong-konyong dari belakang Qing 'Er lalu berdiri sejajar dengan wanita yang masih tidak terdistraksi olehnya itu.

__ADS_1


"Semoga Qing 'Er menyukai paviliun ini." kata Yuan Shi sembari menoleh ke arah Qing 'Er.


"Aku pasti akan menyukainya," dari nada bicaranya Qing 'Er terdengar lirih dan seperti sedang menahan sesuatu. Entah mengapa hati kecil Su Mian merasa sedih, mengetahui misinya tidak lama lagi akan berakhir.


"Apa yang sedang Qing 'Er pikirkan?" tanya Yuan Shi.


"Tidak ada, maukah kaisar malam ini menemani aku di paviliun baru?" Qing 'Er menatap Yuan Shi dan menunggu jawabannya.


Mata Yuan Shi melebar dan berbinar. "Tentu saja, dengan senang hati. Aku juga akan membawa beberapa botol arak yang hari sebelumnya kita beli," ucap Yuan Shi dengan sumringah.


Pada malam harinya Qing 'Er sudah menunggu Yuan Shi di dalam kamar yang telah tersedia meja dan kursi di dalamnya. Qing 'Er menatap ke luar jendela di sana langsung menampakkan hamparan bunga yang indah. Tidak lama Kasim Huo pun memberitahu kedatangan kaisar, terlihat Yuan Shi begitu tampan dengan pakaian kaisarnya berwarna hitam dengan motif emas berjalan melangkah masuk ke dalam kamar, lalu beberapa pelayan juga tidak lupa menaruh botol arak di atas meja sesuai pesanan Yuan Shi.


Qing 'Er tersenyum kemudian berdiri dan memberi hormat pada Yuan Shi disaat yang lainnya seraya pergi meninggalkan keduanya di sana.


"Hormat pada Yang Mulia Kaisar," sapa Qing 'Er.


"Kamu sangat cantik," jawab Yuan Shi sembari memperhatikan Qing 'Er dengan seksama.


"Tidak perlu sungkan, sudah kewajibanku melindungimu. Tapi, jika aku boleh tahu kemana Yun Shan pergi?" tanya Yuan Shi dengan raut kebingungan.


"Kemungkinan dia sudah kembali ke Beiming," jawab Liu Qing singkat, padat dan jelas.


"Alat apa yang ratuku gunakan untuk membuat petir semenggelegar itu?" Yuan Shi masih terlihat penasaran mengenai kejadian tadi pagi karena dia adalah orang yang paling skeptis terhadap sesuatu jadi tak mudah baginya memercayai kutukan langit yang ia lihat sebelumnya.


"Kaisar terlalu buru-buru, malam masih panjang kalau begitu aku akan menuangkan segelas arak dulu untuk kaisar." Qing 'Er secara perlahan memasukan pil kejujuran ke dalam cangkir arak milik Yuan Shi kemudian menyerahkannya pada pria itu.


Yuan Shi menatap cangkir tersebut dan tidak berani meminumnya lebih dulu karena merasa curiga. "Bisakah ratuku membawakanku kue persik?"


"Kue persik?" tanya Qing 'Er dengan kerutan alis di wajahnya.


"Aku ingin sekali memakan itu sebelum meminum arak ini," jawab Yuan Shi.

__ADS_1


"Tentu saja, aku bisa mengambilnya untuk kaisar." Qing 'Er beranjak dari sana dan meninggalkan Yuan Shi seorang diri.


Selang beberapa lama Qing 'Er ke luar ia pun tak lama kembali ke paviliun, Yuan Shi tengah duduk santai kemudian menyambut Qing 'Er dengan meraih sepiring kue persik yang sama sekali sedang tidak ia inginkan.


Setelah mencicipinya sedikit dan berterimakasih pada Qing 'Er, akhirnya Yuan Shi meminum arak yang telah ia tukar sebelumnya. Anehnya, rasa arak itu lebih dominan pahit membuat Yuan Shi mengernyitkan alisnya kebingungan. Sedangkan Qing 'Er yang sedang meminum araknya pun menyeringai di balik cangkir yang ia pegang. "Aku tahu kamu tidak akan tanpa sebab memintaku ke luar."


"Qing 'Er apa kamu meracuniku?" tanya kaisar.


"Tentu saja tidak, aku hany--" ucapan Qing 'Er terhenti saat ia pun merasakan pusing tidak kepalang di bagian belakang kepalanya.


"Aku mencampurkan kedua minuman kita dan membaginya masing-masing satu cangkir." Yuan Shi tersenyum getir.


"Sialan," umpat Qing 'Er merasa tertipu.


"Racun apa yang sebenarnya kamu masukan ke dalam minuman? Jika aku harus mati maka aku harus membawamu juga, Qing 'Er!" kata Yuan Shi sembari mendelik ke arah wanita di hadapannya.


"Itu hanya pil kejujuran bodoh, mana mungkin aku meracunimu!" kata Qing 'Er sembari menekan kepalanya kuat.


Yuan Shi tersenyum. "Jadi kamu memasukan pil kejujuran ke dalam minuman kita berdua?"


"Tidak ke minuman kita berdua, tapi minumanmu kemudian kamu malah mencampurnya." jawab Qing 'Er sembari mendengus kasar.


"Bagus, karena aku memang punya pertanyaan untukmu!" Yuan Shi menuangkan segelas arak kemudian mengarahkan cangkirnya pada Qing 'Er. "Siapapun yang tidak bisa menjawab pertanyaan harus minum satu cangkir arak," lanjutnya.


"Baik, aku tidak takut!" jawab Qing 'Er tanpa memedulikan kemampuan meminum tubuhnya. "Aku yang akan memulai," lanjut Qing 'Er.


"Apa yang sebenarnya kamu ketahui tentangku?" tanya Qing 'Er sembari gelisah menunggu jawaban Yuan Shi.


Yuan Shi bersandar pada bahu kursi kemudian menyeringai halus. "Semuanya," jawab Yuan Shi dengan santai.


"Sekarang giliranku, siapa kamu sebenarnya?" Yuan Shi menatap Qing 'Er dengan lekat dan memegang punggung tangan wanita itu sembari menunggu jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2