
Dekapan Yuan Shi malam itu, menghangatkan Qing 'Er dan begitupun sebaliknya. Mereka menghabiskan malam bersama sampai fajar menyongsong. Semuanya kembali bersiap, peperangan ini mungkin juga akan menjadi penentu apakah kemenangan yang akan didapat atau kekalahan.
Sejak pagi tadi, mata Qing 'Er terlihat berbinar terang dan suasana hatinya juga sedang begitu baik. Ia bahkan semakin ramah sampai menyapa semua orang yang ia temui di jalanan. Yuan Shi yang sedang berbincang dengan Pangeran Beiming mendapati gelagat lucu yang dilakukan permaisurinya. Ia pun tidak mampu menahan gelak tawa kecil yang nyaring terdengar sampai pendengaran Qing 'Er.
Ratu Qing yang mendengar tawa kecil Sang Kaisar langsung mengerutkan alisnya kemudian segera berjalan menemui mereka berdua. "Apa kalian sedang menertawakan ku?"
Pangeran Beiming nampak salah tingkah ia kemudian menggeleng dan mengarahkan pandangannya pada Kaisar. "Bukan hamba Yang Mulia, itu adalah Kaisar!"
Spontan Yuan Shi langsung menatap tajam ke arah Yun Shan yang berani membocorkan kelakuannya pada Sang Ratu. Qing 'Er menyilangkan kedua tangannya di dada lalu menatap Yuan Shi dengan serius.
"Kamu terlalu menggemaskan, sungguh berbeda dengan Qing 'Er yang ganas semalam." Yuan Shi tersenyum tipis kemudian mencubit kecil hidung Qing 'Er.
"Sepertinya Kaisar sudah memiliki hobi baru saat ini, yaitu membicarakan hal tidak pantas di depan umum. Apa kamu melakukan itu juga dengan para selirmu? Cih!" Qing 'Er mengerucutkan bibirnya mencibir.
"Apa ratuku masih marah?" Yuan Shi meraih kedua tangan Qing 'Er yang lembut.
Qing 'Er menggeleng pelan. "Bagaimana aku bisa marah?"
"Aku khawatir kamu masih kesal padaku," Yuan Shi mengelus lembut pucuk rambut Qing 'Er kemudian mendekap permaisuri dengan romantis.
Qing 'Er tersenyum di balik dada bidang Yuan Shi, wanita itu kemudian membalas pelukan Kaisar dan menikmati waktu sebelum melanjutkan perjalanannya ke Yuanqing. Setelah cukup lama bermesraan, mereka pun akhirnya bersiap kembali dengan pakaian keagungannya. Yuan Shi memasang semua peralatan perangnya lengkap begitupun Qing 'Er.
Perjalanan ke Yuanqing tinggal beberapa kilo lagi, paling tidak mereka akan sampai di sana tengah malam sebelum acara penobatan Wu Zetian pagi nanti tiba. Qing 'Er berjalan dan menunggangi kudanya, sedangkan para pelayan berada di kereta kuda khusus untuk menjamu semua orang yang ikut serta dalam peperangan. Bahkan pelayan pribadinya pun ia berikan untuk membantu kelangsungan peperangan nanti.
Qing 'Er dengan aura yang kuat menunggangi kudanya dengan diikuti pasukan pemanah wanita yang telah siap. Yuan Shi dan yang lain memimpin di depan. Suara ketukan kaki kuda menggetarkan tanah sekitar, enam ribu orang dikerahkan langsung untuk turun ke medan perang.
__ADS_1
Tidak ada keceriaan ataupun senyuman lagi dari wajah semua orang.
Keadaan di Istana Yuanqing, semakin tidak karuan. Semua berusaha berebut kekuasaan yang kini di ambil alih Wu Zetian. Bahkan, Ibu Suri terlihat cekcok dengan wanita pilihannya tersebut sebab Ibu Suri meminta kekuasaan khusus untuknya agar ia bisa selalu terlibat dalam urusan Kekaisaran. Namun, Tian ’er menolak. Menurutnya Ibu Suri sudah terlalu tua untuk ikut campur soal Kekaisaran.
Suasana tegang akibat perseteruan itu membuat istana semakin suram, Ibu Suri memperketat penjagaan untuk berjaga-jaga jika Yuan Shi dan Qing 'Er berhasil selamat dan kembali ke Yuanqing. Bahkan ia menaruh beberapa pembunuh bayaran di area sana.
Pajak yang semakin menggila membuat rakyat menjadi sengsara, apalagi pelayan di dalam yang sudah tidak lagi ada harga dirinya. Para pejabat perlahan mulai digantikan dengan orang dalam dari Klan Wu sendiri. Istana Yuanqing kini tidak jauh berbeda dari sebuah neraka yang berisikan orang serakah juga tamak.
Wu Zetian mengenakan pakaian milik Ratu Qing, ia bahkan mulai menggantikan barang di kamar Qing 'Er dengan miliknya. Sejatinya, dia masih berharap Yuan Shi hidup dan bisa menjadi pendampingnya. Namun, jika itu terjadi pastilah Yuan Shi tidak akan sedikit pun meliriknya.
"Kak Yuan memang lebih baik mati, jika tidak bisa mendapatkanmu maka semua orang pun tidak boleh!" gumam Wu Zetian yang duduk santai di atas singgasananya.
"Wu Zetian! Apa kamu sudah memikirkan apa yang kuminta?" Dengan lantang Ibu Suri memasuki ruangan Wu Zetian yang sedang bersantai ria.
"Dasar kamu wanita ular! Sejak awal kita sudah sepakat soal ini, aku telah membantumu naik takhta. Lalu kamu ingin ingkar janji? Coba saja, aku bisa langsung membunuhmu sekarang juga di tempat ini!" Kecam Ibu Suri.
"Penjaga! Bawa nenek tua ini ke kamarnya dan jaga dia dua puluh empat jam, jangan biarkan ia keluar sampai acara penobatan ku selesai!" Pinta Wu Zetian pada penjaga istana.
"Baik, Yang Mulia."
"Dasar iblis, ular berbisa kamu akan menyesal!" Ibu Suri berteriak ketika ia harus diseret oleh para penjaga untuk kembali ke paviliunnya.
"Ini akibat dari menyakiti orang yang kucintai, namun jika aku harus memilih antara Yuan Shi dan kekuasaan ini. Aku lebih baik memilih semua ini ketimbang pria yang tidak mencintaiku." Wu Zetian tersenyum tipis mengagumi dirinya sendiri.
Hari sudah terlihat terik, matahari mulai sedikit membakar kulit para pasukan Yuan Shi. Qing 'Er yang masih bersemangat seratus persen merasakan sedikit keanehan di perutnya, seperti sesuatu getaran dan gerakan kecil yang masih samar terasa.
__ADS_1
Qing 'Er pun menghentikan laju kudanya, ia menyentuh perutnya untuk memastikan. Yuan Shi yang menoleh ke belakang melihat Qing 'Er terdiam, pria itupun langsung memutar balikan arah kendali kudanya dan melaju dengan cepat.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Yuan Shi dengan wajah pucat. "Sudah ku bilang lebih baik kamu menaiki kereta kuda saja!" lanjut Yuan Shi.
"Aku--" ucapan Qing 'Er terhenti.
"Ada apa? Apa kamu kesakitan?" Yuan Shi memicingkan matanya menunggu jawaban Qing 'Er.
"Aku merasakan sebuah tendangan halus dari dalam perutku," Qing 'Er tersenyum tipis. Napas lega keluar dari mulut Yuan Shi, ia hampir terkena serangan jantung akibat pikirannya yang mulai kacau.
"Syukurlah, apa ini sakit?" Yuan Shi mengarahkan tangannya ke area perut Qing 'Er.
"Tidak!" Qing 'Er menggeleng kemudian menoleh ke arah Yuan Shi yang mulai mengusap lembut perutnya.
"Sepertinya dia ingin memakan buah berry hutan," kata Qing 'Er sembari menyeringai.
"Tidak bisa, makanan di hutan tidak bisa dijamin keamanannya. Bagaimana jika itu beracun?" Yuan Shi menggeleng kemudian mendengus kesal.
"Yasudah kalau tidak boleh," Qing 'Er menunduk kemudian kembali melajukan kudanya yang terhenti. Ia pun meminta maaf pada semuanya.
"Maaf, karenaku perjalanan menjadi terhenti." Qing 'Er terus mendahului yang lain.
Sedangkan Yuan Shi masih menatapnya dari kejauhan, tiba-tiba Jenderal Ye pun ikut menghampiri Kaisar. "Ratu Qing sedang mengandung, itu hal biasa. Saat istriku hamil, ia meminta dibawakan bunga yang berada di atas gunung."
Yuan Shi tidak dapat menyembunyikan tawanya mendengar cerita yang lebih aneh dari seorang ibu yang mengandung. Ia pun terdiam dan sedikit menggigit bibir bawahnya. Yuan Shi berpikir mungkin ia sudah terlalu keras pada Qing 'Er.
__ADS_1