
Pemakaman Ji berlangsung dengan lancar, anggota keluarga dan seluruh pejabat menyaksikannya dengan rasa penyesalan sebagian melihatnya sebagai peluang. Satu kekuatan besar telah hilang lagi dari sisi Yuan Shi, Jenderal Ji yang selama ini selalu bersama Yuan Shi melawan berbagai pemberontakan maupun gencatan senjata negara lawan telah pergi. Kini, Klan Wu tersenyum merekah terlebih ketika melihat Ratu Qing yang mereka sadari tidak sepintar rumor yang digemborkan.
Setelah acara pemakaman selesai, Qing 'Er kembali ke paviliun dan menyendiri sembari duduk menatap hamparan taman bunga yang indah. Tidak lama suara langkah kaki terdengar, kemudian seperti biasa Kasim Huo memberitahu permaisuri kedatangan kaisar dengan suara yang lantang. "Kaisar telah datang menemui permaisuri."
Untuk saat ini, suasana ricuh mulai sedikit tenang setelah Yuan Shi mengambil alih masalah pemberontakan Qing 'Er menjadi masalah pribadinya dengan sang istri. Mencoba meyakinkan para pejabat bahwa itu bukanlah ancaman besar, karena Yuan Shi tahu ancaman yang sesungguhnya ialah Ibu Suri dan juga Klan Wu.
Yuan Shi memasuki kamar yang nampak masih kosong karena belum sempat dihias dengan baik, pria itu perlahan mendekat mencoba menghibur Qing 'Er. Namun yang dia lakukan hanyalah duduk di sampingnya dan ikut menatap hamparan bunga dari jendela yang terbuka.
"Sejak kapan kamu menyadarinya?" tanya Qing 'Er.
Yuan Shi menoleh dengan sedikit tercengang, namun dia langsung mengerti maksud pertanyaan Qing 'Er. "Sejak pertama kali melihatnya pagi itu, aku sempat mengira dia adalah penyihir yang mengambil jiwamu."
Qing 'Er tertawa kecil sembari menunduk. "Aku hampir mati, namun entah bagaimana akhirnya aku bisa kembali. Itu semua berkat dirinya, bahkan semua hal ini yang kumiliki. Bukankah dia yang memperjuangkan ini semua?"
Yuan Shi mendengus pelan. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan semua ini nanti? Apa kamu masih ingin pergi dariku? Jika ya, aku akan bersedia melepaskanmu merelakanmu demi kebahagiaan yang kamu inginkan."
"Bukankah cukup terlambat untuk membiarkanku pergi? Ji sudah tiada, rasanya akupun tidak memiliki tujuan apapun lagi. Bagaimana denganmu? Jiwa masa depan itu, selalu mendukungmu, membantumu menyelesaikan segala urusan kekaisaran dan juga terlihat tulus padamu. Kamu pasti sedih karena melihat aku yang kembali dan bukan dirinya." Qing 'Er memalingkan wajahnya.
"Aku merasa sedih namun juga lega, karena sahabat kecilku kembali." Yuan Shi mengelus lembut pucuk rambut Qing 'Er. "Aku membawakan kue mawar kesukaanmu sejak kecil, makanlah untuk memperbaiki suasana hatimu!"
__ADS_1
"Kamu tidak pandai menyembunyikan kekecewaanmu dariku." Qing 'Er meraih sebungkus kue mawar yang kemudian dia buka isinya dan mengambil satu kemudian diberikan ke tangan Yuan Shi.
"Menyalahkanmu selalu juga tidak merubah apapun yang telah terjadi, aku hanya ingin bertemu keluargaku dan membawa mereka kembali ke Yuanqing." lanjutnya.
Yuan Shi mengangguk kemudian menggenggam erat satu kue mawar yang diserahkan oleh Qing 'Er. "Aku berjanji akan menemukan mereka dan membalas kematian Ji pada Ibu Suri!"
"Terimakasih atas bantuan, Yang Mulia Kaisar!" kata Qing 'Er sembari memberi hormat.
Yuan Shi mengangguk kemudian keluar dari paviliun, ia menunggu kabar dari Xiao Yan mengenai tempat yang mencurigakan yang mungkin menjadi tempat disekapnya keluarga Perdana Menteri. Selagi menunggu, Yuan Shi pergi ke ruang membaca kekaisaran dan menyibukan dirinya dengan kuas dan selembar kertas. Ia mulai membuat sketsa dari gambar seseorang yang tertanam dibenaknya, setiap detail wajahnya, warna rambut dan bola matanya serta senyumnya yang tidak pernah ia lupa.
Waktu sudah terlalu larut, namun Xiao Yan masih belum menemui kaisar yang terus mengisi waktunya membuat lukisan. Sudah terdapat sepuluh lukisan dengan berbagai pose yang ia buat, lukisan yang terakhir adalah yang paling membuat ia tertawa yang mana ketika wanita itu berjalan di atas tembok istana dingin hanya untuk melihat persiapan acara kekaisaran.
"Dugaan sementara ada pada penjara bawah tanah usang yang tidak lagi terpakai, Yang Mulia." jelas Xiao Yan.
"Baiklah, esok pagi kita akan berangkat kesana untuk memastikan secara langsung. Dekrit kekaisaran sudah siap dan malam ini kemungkinan Selir Wu Zetian akan datang ke kamarku." ucap Yuan Shi.
"Semua telah dipersiapkan, Yang Mulia." jawab Xiao tegas.
"Bagus, kalau begitu aku akan kembali." Yuan Shi melenggang pergi tak lupa ia menepuk bahu Xiao sesaat melewatinya.
__ADS_1
Yuan Shi berjalan menuju istana utama, di sana terlihat beberapa pelayan Selir Wu Zetian yang menunggu di luaran kamar. Yuan Shi dengan dampingan Kasim Huo kemudian memasuki kamarnya, berpura-pura tidak tahu pergerakan wanita ular itu. Saat melihat Wu Zetian sedang duduk di kursi miliknya di dalam kamar, Yuan Shi menoleh ke arah Kasim Huo untuk meninggalkan keduanya.
Wu Zetian dengan wajah sumringah mendekat ke arah Yuan Shi kemudian mengelus dada kaisar, bersandar di dada bidang pria itu seraya bermanja-manja pada Yuan Shi. "Kakak darimana saja? Aku sudah menunggu sejak lama."
"Tian 'Er, kenapa harus mendatangiku di tengah malam seperti ini?" tanya Yuan Shi.
"Tentu saja untuk menghibur Kak Yuan, Kakak pasti bersedih atas kepergian Jenderal Ji. Maka dari itu, izinkan Tian untuk menemani Kakak Yuan malam ini." kata Wu Zetian sembari menengadahkan wajahnya ke arah Yuan Shi.
"Baiklah, kamu boleh menemaniku. Tian 'Er besok pagi aku harus pergi dari sini mencari keluarga permaisuri yang menghilang tanpa jejak, aku berencana memberikan dekrit kekaisaran pada Tian 'Er." Yuan Shi berjalan melewati Wu Zetian kemudian membuka jubah kekaisarannya.
Wu Zetian langsung mencuri kesempatan dengan memeluk Yuan Shi dari belakang. "Aku tahu, kakak masih menyayangiku sama seperti dulu. Aku pasti akan menjaga takhtamu dengan baik, kamu harus berhasil menemukan keluarga Kak Qing 'Er karena jika tidak dia pasti akan merasa sangat sedih terlebih dia juga telah kehilangan cinta sejatinya."
Yaun Shi tersenyum halus kemudian berbalik dan mengelus lembut rambut Wu Zetian. "Tian 'Er memang lembut dan penuh kasih sayang, kamu sangat mengerti keadaan Qing 'Er."
Wu Zetian menyentuh lembut pipi Yuan Shi kemudian menaikan sedikit kakinya untuk meraih bibir pink menawan milik Yuan Shi. "Izinkan Tian 'Er melayani kaisar malam ini," ucap Wu Zetian sembari mendekatkan wajahnya ke arah Yuan Shi yang masih terdiam tidak berkutik.
"Ada hal penting yang harus kuberikan pada Tian 'Er," kata Yuan Shi mengalihkan.
Yuan Shi berjalan ke arah tempat tidurnya kemudian meraih sebuah stempel yang ada pada sebuah kotak yang ia rahasiakan. Yuan Shi kembali berjalan ke arah Wu Zetian dan membuka kotak secara perlahan.
__ADS_1
Mata Wu Zetian langsung berbinar tidak percaya, stempel penting yang kini akan diserahkan padanya bahkan takhta milik Yuan Shi akan segera ia dapatkan. Membuat ia besar kepala dan merasa di atas angin. "Ini adalah stempel Perdana Menteri."