
Terakhir kali menginjakan kaki di pengasingan, tempat itu masih nampak ramai dibuat oleh penduduknya. Namun, kali ini setibanya mereka di Pengasingan Barat hanya ada angin sunyi dan beberapa daun kering yang berterbangan tak karuan kesana kemari.
Qing 'Er turun dari kereta kudanya, menghampiri Yuan Shi dengan raut wajahnya yang kebingungan. Yuan Shi sendiri tidak tahu, apa yang terjadi di sana sebenarnya. Hatinya merasa teriris, dia mengutuk dirinya sendiri dan memaki dirinya sebagai Kaisar bodoh dan tidak berguna.
Qing 'Er tahu apa yang dirasakan Yuan Shi, ia pun mengelus lembut pundak Sang Kaisar mencoba menenangkannya.
"Geledah semua sisi tempat ini!" Jenderal Ye yang memang terbiasa hidup dalam peperangan langsung mengambil tindakan.
Yuan Shi hanya menyetujui segala keputusan jenderalnya sedangkan Qing 'Er menggenggam kepalan tangannya erat. Meraih pedang miliknya sendiri dan ikut berjalan menyusuri sisi tempat itu. Yuan Shi membuka matanya lebar melihat permaisurinya mengambil langkah seribu lebih dulu darinya.
Qing 'Er berusaha mencari keluarganya, berharap satu atau dua dari mereka selamat. Dia berjalan ke tempat di mana Liu Bai mengajar anak-anak di sana. Saat kakinya berhenti, ia menatap seorang anak laki-laki yang lusuh dengan pakaian yang kotor dan tak terurus. Belum sempat bertanya, anak itu lari menjauh dari Qing 'Er.
Ratu Qing hanya bisa menghela napas panjang kemudian menatap tempat terakhir kali ia bertemu dengan Sang Kakak. "Karena mu, aku merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang kakak."
Tidak lama, muncul dari balik bangunan anak kecil sebelumnya dengan pria berambut panjang berwarna hitam serta pakaian biru muda yang ikut berjalan di sampingnya. "Qing 'Er!" seru pria tersebut.
Pandangan Qing 'Er beralih ke arah mereka, senyuman merekah langsung terlukis di wajahnya sembari berlari kecil menuju keduanya. Qing 'Er memeluk pria itu dengan erat dan meneteskan air matanya. "Kak Liu Bai, kukira aku tidak dapat melihatmu lagi."
__ADS_1
"Adik Qing 'Er tidak perlu khawatir, ayah dan ibu juga aman bersamaku." Liu Bai membalas pelukan Qing 'Er dengan erat.
Tidak lama dari itu, Yuan Shi menyusul Qing 'Er dan mendapati wanitanya memeluk kakak iparnya. Senyuman halus juga terpahat di wajah tampan Yuan Shi, ia berjalan mendekat ke arah mereka dan menyapa Liu Bai dengan hangat.
"Syukurlah, kamu selamat." kata Yuan Shi yang membuat Liu Bai membelalak.
"Hormat pada kaisar, " jawab Liu Bai sembari menunduk. "Kemarin malam, ayah dan ibu baru sampai ke sini. Seperti yang kaisar telah titah kan pada hamba, kami penduduk sekitar mencari tempat berlindung sebelum pasukan Ibu Suri datang untuk menghancurkan kota. Hamba sendiri berlindung di ruangan bawah tanah bangunan tua ini." jelas Liu Bai pada kaisar.
"Bawa kami kesana, setelah ini kita tidak punya banyak waktu lagi. Kerahkan semua prajurit ayahmu dan kita akan kembali ke istana sebelum penobatan." Yuan Shi meminta di arahkan langsung ke area yang dimaksud oleh Liu Bai. Pria itupun mengangguk dan menuntun jalan mereka berdua.
Di sisi lain, Jenderal Ye sedang mengevakuasi beberapa penduduk yang ketakutan karena ulah Ibu Suri akhir-akhir ini. Mereka diberi makanan dan tempat istirahat yang nyaman untuk memulihkan diri dari rasa trauma mereka. Kota itu sudah terlihat porak poranda dan sisa bangunan yang terbakar menjadi bukti betapa brutalnya tindakan Ibu Suri.
Dengan mengumpulkan pasukan Perdana Menteri, Kerajaan Beiming juga Jenderal Ye akan sangat mudah baginya untuk lebih dari sekedar bertempur dengan Klan Wu. Apalagi, ada gadis jenius dari masa depan yang setia dan berjanji akan membantunya sampai akhir dengan segala alat ajaib yang ia bawa. Seribu persen, Yuan Shi yakin akan hasil kemenangan akhir nanti.
Setelah dibawa ke dalam ruang bawah tanah, akhirnya mereka semua bertemu kembali. Su Mian yang kini telah sepenuhnya menjadi Qing 'Er merasa amat bahagia setelah bertemu dengan kedua orang tua Qing 'Er yang sudah ia anggap sebagai miliknya. Kondisi ibundanya pun terlihat membaik, tidak seperti saat terakhir ia lihat di Penjara Usang waktu itu.
"Putriku, kalian selamat!" Perdana Menteri memeluk Qing 'Er dengan erat dan beralih pada Yuan Shi.
__ADS_1
Ini kali pertama, Yuan Shi mendapat pelukan hangat dari orang lain selain Qing 'Er dan ibunya. Rasa canggung terlihat dari matanya, Perdana Menteri yang sadar telah memeluk kaisar langsung melepaskan dekapannya dan meminta maaf.
"Maafkan hamba Yang Mulia, rasa bahagia ini menutupi rasa hormat hamba padamu!" ucap Perdana Menteri Liu sembari menunduk.
"Ayah tidak perlu merasa sungkan, aku juga anakmu jadi bersikaplah sewajarnya di depan keluarga!" perkataan Yuan Shi membuat semua orang membelalak kecuali Qing 'Er, ia hanya tersenyum lembut pada Sang Suami yang kini mulai bersikap manusiawi.
"Ah, baiklah jika itu keinginan kaisar. Keinginan kaisar adalah titah bagi hamba." Perdana Menteri kembali memberi hormat, membuat Yuan Shi menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum canggung.
Setelah beristirahat di tempat aman itu, mereka semua langsung bergegas bersiap melanjutkan perjalanan yang melelahkan untuk kembali ke Yuanqing sebelum penobatan Wu Zetian digelar.
Qing 'Er menatap ke arah Yuan Shi dengan gembira, matanya berbinar kemudian meraih tangan kaisar dan menggenggamnya. "Kamu sudah tidak terlihat kaku lagi di depan ayah dan ibu."
"Aku adalah orang yang mudah berbaur, hanya saja tuntutan sebagai kaisar membuatku menjadi kaku dan tidak bebas." Yuan Shi mengalihkan pandangannya dari Qing 'Er, untuk menutupi kebohongannya sebagai pria luwes dan mudah berbaur.
"Kamu membual, sejak pertama kali aku melihatmu kamu adalah orang yang paling menyebalkan yang pernah aku temui sepanjang hidupku!" ejek Qing 'Er sembari menaikan sudut alis kirinya.
Yuan Shi menoleh dengan kerutan alis di wajahnya. "Aku orang yang menyebalkan? Apa kamu tidak berkaca diri? Sejak kamu memasuki tubuh Qing 'Er, wanita penurut dan patuh berubah menjadi wanita ganas layak harimau kertas sepertimu! Aku sangat menyayangkan, karena wanita yang menjadi permaisuri ku ini telah berubah cukup jauh."
__ADS_1
"Yuan Shi! Aku pastikan akan menendang bokongmu saat tidak ada orang lain yang melihat!" geram Qing 'Er yang kini melepaskan tangan Yuan Shi dengan kasar dan berjalan lebih dulu.
Yuan Shi hanya tertawa kecil, sampai akhirnya mereka semua melanjutkan perjalanannya menuju Istana Yuanqing.