
...(Sumber Gambar: Pinterest)...
Semenjak ia meninggalkan istana, tentu dia tahu bahwa akan ada kekacauan besar yang akan melanda. Bahkan mungkin, sekalipun istananya diterpa oleh angin, hujan, petir yang menggelegar tetap tidak akan mampu diredakan apabila ia masih jauh berada dari Yuanqing.
Yuan Shi harus mengambil keputusan berat, menyerang tanpa ampun dan melukai banyak orang tak bersalah atau dengan cara halus tapi tepat sasaran. Pria itu masih menunggangi kudanya dengan gagah berani, wajahnya tak sepucat hari-hari sebelumnya. Perjalanan yang telah menguras banyak tenaga itu akhirnya mencapai di penghujung asa.
Dia telah tiba di Gerbang Timur Istana Yuanqing, segera setelahnya Yuan Shi memberi titah agar para pasukan militer bisa beristirahat dengan membangun tenda. Selain itu, dia akan berusaha menggunakan cara halus untuk bernegosiasi dengan Ibu Suri terlebih dahulu.
Jika itu tidak berhasil, maka tanda bahaya akan segera diluncurkan. Mau tidak mau peperangan tetap akan dilakukan nantinya. Wajahnya nampak tak berekspresi ketika turun dari kuda dan meraih tangan Sang Permaisuri untuk ikut bersamanya. Bagai sumur yang telah lama kering, begitulah raut wajah Yuan Shi saat berdiri di depan prajurit miliknya sendiri.
“Kaisar!” Setengah mata pria itu hampir meloncat ke luar melihat Yuan Shi yang masih berdiri kokoh tanpa luka sedikitpun di tubuhnya. Jauh berbeda dari rumor yang disebarkan.
Permaisuri menatap prajurit dengan tatapan sedikit sayu namun tajam. "Seharusnya kalian langsung menyambut kami dengan perasaan bahagia!"
Yuan Shi terpaksa harus menggenggam pergelangan tangan Ratu lebih erat, mengetahui sikap dan sifat ratunya yang kurang sabaran membuat ia khawatir jika Qing 'Er mengambil tindakan yang impulsif.
"Hamba memohon ampun, ini titah dari Ibu Suri bahwa tidak ada yang boleh mengganggu sampai acara penobatan besok dilakukan." rasa gemetar menjalar ke seluruh tubuh prajuritnya.
Tanpa basa-basi, seperti biasa Ratu Qing mengeluarkan sebilah pedangnya kemudian meletakkan benda tajam itu di leher prajurit untuk mengancam. "Jika kamu lebih suka ditindas dengan cara keji, aku bisa lebih baik dalam melakukannya!"
__ADS_1
Yuan Shi menatap para prajurit itu dengan aura membunuh. "Aku masihlah Kaisar kalian, tidakkah kalian takut aku menghukum gantung semua keluargamu?"
"Maafkan kami Kaisar, tapi Ibu Suri telah mengancam dengan hal yang sama. Kami tidak punya pilihan lain!" para prajurit bersimpuh dan memohon ampun.
Dedaunan yang tumbuh subur pada musim panas, kini mulai layu setelah memasuki waktunya musim gugur. Klan Wu cukup agresif dan percaya diri untuk mengkudeta takhta Kaisar sebab mereka memiliki aliansi dari berbagai kerajaan yang tidak dimiliki oleh Yuan Shi.
Peperangan bukanlah sesuatu yang ingin dilakukan Yuan Shi, sebab bagaimanapun peperangan tentu saja akan menghasilkan banyak korban. Takutnya, ia malah semakin membuat rakyatnya menderita. Qing 'Er masih berada di sampingnya mengawasi, apabila para prajurit tidak membiarkan mereka masuk terpaksa mereka akan menerobos.
"Ck, jika kami tidak diizinkan masuk bagaimana kami akan menolong kalian?" Qing 'Er melingkarkan tangannya di dada sambil memicing tajam.
Setelah perdebatan panjang akhirnya mereka membiarkan penguasa sesungguhnya masuk ke dalam istana yang telah lama ditinggali. Yuan Shi tak ingin melepaskan genggamannya dari Qing 'Er, begitupun sebaliknya. Ada rasa takut yang menghantui jiwa Yuan Shi, mengenai perasaan takut ditinggalkan secara tiba-tiba oleh Sang Permaisuri, mengingat bahwa ratunya memiliki kelemahan besar yang hanya diketahui dirinya.
Tidak berselang lama saat langkah kaki mereka memasuki istana, serangan tiba-tiba langsung menyambar ke arah keduanya. Qing 'Er menarik pedang dari pinggangnya kemudian menahan setiap ayunan pedang yang hampir mengenai dirinya dan Yuan Shi.
Pertanda buruk, mereka bahkan berani secara terang-terangan menyerang di dalam istana, Qing 'Er meraih sebuah bom tangan yang dapat diluncurkan ke langit untuk memberi isyarat pada Jenderal Ye dan pasukannya bersiap. Tidak berselang lama bantuan datang, semua prajurit di luaran istana berhasil dibekukan dan berganti pasukan militer Jenderal Ye.
Beberapa prajurit yang dipaksa melawan kaisarnya sendiri datang berjumlah ratusan, Yuan Shi memejamkan matanya, mengeratkan pedangnya dan bertekad untuk terus maju.
"Kita tidak punya waktu melawan mereka! Kaisar pergilah ke ruang penobatan, aku memiliki firasat buruk!" Qing 'Er menoleh ke arah Yuan Shi sembari sesekali menebaskan pedangnya kepada para prajurit pemberontak.
"Qing 'Er ikutlah bersamaku!" ucap Yuan Shi.
__ADS_1
"Tidak ada waktu, mereka mendapatkan persenjataan dari negeri tetangga. Bahkan senjata yang di dalam peti itu adalah senjata tiruan yang pernah kupakai sebelumnya!" Qing 'Er mengetahui semua hal yang ia lihat di depan dari bantuan Nemo yang lebih dulu mencari informasi.
Yuan Shi menahan pandangannya pada Qing 'Er, kemudian menoleh ke arah Pangeran Beiming selaku orang kepercayaannya saat ini untuk melindungi Sang Permaisuri. Sebelum akhirnya ia pergi ke tempat penobatan dengan cepat.
Hal yang tidak diinginkan benar terjadi, di luar dugaan penobatan Wu Zetian sedang dalam proses di sana juga terdapat beberapa petinggi yang bersekutu dengan Klan Wu demi mendapat jabatan permanen di pengadilan. Mata Yuan Shi memancarkan amarah yang membara, ia menerobos masuk dengan pakaian emas keagungan Kaisar dengan sebilah pedang yang ia genggam erat.
"Wu Zetian!" Pekiknya dengan lantang.
"Kiasar, kamu masih hidup?" tatapan ketakutan Wu Zetian ketika melihat amarah Yuan Shi menjadikan dirinya tidak berdaya. Wu Zetian turun dari singgasana kemudian berlari menemui Yuan Shi dengan segala sandiwara yang biasa ia lakukan.
"Ini semua keinginan Ibu Suri, aku sudah menolaknya dan mengatakan bahwa aku tidak bisa mengkhianati orang yang kucintai." Wu Zetian memeluk kaisar dengan erat. "Kaisar jangan membenciku, ingatlah betapa indahnya masa kecil kita berdua! Dahulu kamu selalu memanjakanku." Lanjut Wu Zetian.
"Yuan Shi!" Geram Ibu Suri. "Kamu kembali setelah menjadi pengkhianat dinasti, sungguh memalukan!" Ibu Suri memicing tajam ke arah Yuan Shi.
Tawa ringan keluar dari mulut Yuan Shi. "Benar yang Qing 'Er katakan, dua nenek sihir seperti kalian sungguh licik. Selalu memutar balikan fakta dan bersandiwara. Aku masihlah kaisar! Jika tidak ingin aku bertindak kejam maka jangan mencoba-coba mengambil alih takhtaku!"
Untuk kali pertama, Yuan Shi melayangkan pedangnya tepat ke leher Ibu tirinya, ibu yang memanfaatkannya hanya untuk kekuasaan. Mereka berdua telah bertarung di dalam istana selama sepuluh tahun sejak Yuan Shi menaiki takhtanya.
"Aku akan memberi Ibu Suri mayat yang utuh, tapi itu tergantung bagaimana Qing 'Er bertindak. Semuanya akan kuserahkan padanya!" ucap Yuan Shi dengan seringai tipis.
Sedangkan mata Wu Zetian membulat mendengar betapa mengerikannya perkataan itu, ia pun langsung bersimpuh dan memohon ampunan Yuan Shi. "Kaisar, ku mohon maafkanlah aku yang tidak tahu apa-apa soal ini. Ingatlah betapa indahnya masa kita dahulu!"
__ADS_1