Ratu Buangan Jadi Kesayangan

Ratu Buangan Jadi Kesayangan
Bab 55 - H-4 Penobatan


__ADS_3

Dini hari, semuanya telah bersiap untuk pergi bersama dengan Kaisar dan juga Ratu Qing 'Er menuju Pengasingan Barat untuk menyusul keberadaan keluarga Perdana Menteri. Dari sana, mereka semua akan langsung pergi ke Istana Yuanqing untuk menghentikan proses penobatan Selir Wu menjadi Kaisar baru.


Dengan memakai baju zirahnya Jenderal Ye sudah lebih dulu memimpin perjalanan, di dalam kereta kuda terdapat Qing 'Er dan juga Pelayan Chun yang semalam baru saja dijemput oleh anak buah Jenderal Ye setelah tertinggal di penginapan kemarin.


Yuan Shi pergi menunggangi kuda dengan yang lainnya, dari kediaman Jenderal Ye perjalanan ke Pengasingan Barat tidak terlalu jauh dan Jenderal Ye akan membuat perjalanan lebih cepat sebab ia tahu jalan pintas yang sunyi dan aman untuk mereka semua lewati.


"Ibu Suri bertindak terang-terangan, Selir Wu juga bertindak kejam pada semua pelayan yang tidak ingin melayaninya." Jenderal Ye menggeleng mengeluhkan kelakuan dua sejoli tersebut.


Yuan Shi menyeringai halus merasa bahwa ia sudah tahu bagaimana sifat keduanya yang memang seperti itu, bertahun-tahun mengalah kali ini ia tidak akan berbalik arah dan berpura-pura buta serta tuli lagi. Siapapun yang nantinya menghalangi jalannya akan ia musnahkan sekalipun itu adalah Ibu Suri.


Dugaan Jenderal Ye benar, jalan yang ia pilih rupanya memang memakan waktu yang lebih cepat dari biasanya. Matahari mulai menerangi perjalanan mereka. Qing 'Er yang baru saja terbangun di dalam kereta kuda langsung meregangkan tubuhnya dengan kuat seraya membuka tirai kereta yang menghalangi pemandangannya untuk melihat sekitar.


"Tidak lama lagi akan sampai," gumamnya sembari mengelus Nemo yang kini berubah jadi peliharaannya.


"Huaam--" Nemo pun terbangun dan mendapati dirinya sedang dielus-elus oleh Qing 'Er. Ternyata menjadi hewan peliharaan juga tidak buruk, ia bisa bermalas-malasan dan menyantap banyak makanan kesukaannya secara leluasa.


"Yang Mulia, silahkan seka wajahmu dengan kain basah ini!" pinta Pelayan Chun yang terlihat murung sejak kembalinya ia ke samping Qing 'Er.


"Ada apa Pelayan Chun?" Qing 'Er yang sudah mulai mengenal pelayannya ini tentu saja tahu apabila ada sikap yang berubah darinya. Sehingga hal itu bisa menjadi kecurigaan besar baginya.


"Tidak ada, Yang Mulia!" jawab Pelayan Chun.


Qing 'Er menghembuskan napas perlahan, kemudian mulai menyeka wajahnya. Saat kain itu membasuh wajahnya yang lembut, rasa panas mulai terasa di bagian wajah dan matanya yang kini terasa perih. "Brengsek, Pelayan Chun apa yang kamu berikan di kain ini?" Qing 'Er melempar kain yang bertabur bubuk lada hitam itu jauh darinya.

__ADS_1


Namun jelas, mata dan wajahnya kini sudah mulai bereaksi. Saat ia tak mampu membuka matanya Pelayan Chun dengan cepat mengambil kesempatan untuk mulai menyerang Qing 'Er dengan pisau tajam yang ia bawa sebelumnya. Beruntungnya, Qing 'Er yang memiliki intuisi tajam tentu saja mampu merasakan penyerangan mendadak sekalipun matanya tertutup.


"Pelayan Chun, apa yang kamu lakukan?" Dengan kuat Qing 'Er memelintir tangan Pelayan Chun sampai wanita paruh baya itu meringis kesakitan.


Pisau pun terjatuh dari tangannya, kini Pelayan Chun mulai meringis dan memohon ampun setelah Qing 'Er tidak melepaskan tangannya dari pergelangan wanita tersebut.


"Yang Mulia maafkan hamba!" serunya sembari menangis kesakitan.


Yuan Shi yang mendengar keributan dari kereta kuda milik permaisuri langsung beralih dan menemui wanitanya. Membuka pintu kereta kemudian melihat Qing 'Er yang sedang menyerang Pelayan Chun dengan mata tertutup.


"Permaisuri, kamu baik-baik saja?" tanya Yuan Shi yang terlihat cemas.


Qing 'Er mendengus kasar kemudian melepaskan tangan Pelayan Chun dengan cepat. "Dia berusaha menyerang ku dengan bubuk lada hitam, kini mataku terasa perih dan sulit terbuka."


Qing 'Er menggeleng kuat. "Dia pasti punya alasan, " jelasnya.


"Apapun alasannya tidak akan berguna bagiku jika ia telah berani menyakitimu!" geram Yuan Shi yang mulai menggebu.


"Kaisar lebih baik membantuku membasuh wajah dan mata yang masih terasa perih ini!" Qing 'Er yang masih menutup matanya di gendongan Yuan Shi merasa terganggu sebab pedih yang ia rasakan akibat bubuk lada hitam sebelumnya


"Baiklah." Yuan Shi menurunkan Qing 'Er dari pelukannya, kemudian meraih sebotol minum yang ia sangkut kan pada kudanya.


Membiarkan air itu mengalir ke wajah Qing 'Er sampai habis. Jenderal Ye yang sudah menangkap Pelayan Chun, mulai menginterogasinya dengan tegas.

__ADS_1


Setelah merasa lebih baik, Qing 'Er dan Yuan Shi kembali untuk menemui Pelayan Chun yang masih bersimpuh serta menangis di depan Jenderal Ye untuk mengampuninya.


"Yang Mulai Ratu, hamba mohon maafkan hamba. Hamba melakukannya secara terpaksa," ucapnya sembari terus menangis.


"Siapa yang memaksamu?" tanya Qing 'Er dengan tajam dan melangkah mendekat ke arah pelayannya.


"Saat hamba berada di penginapan, mereka mengancam hamba akan membunuh keluarga hamba yang masih berada di Yuanqing jika tidak bertindak pada Yang Mulia Ratu. Hamba menyesal, kesetiaan hamba selama ini telah ternodai. Hamba mohon ampun Yang Mulia!" tangis Pelayan Chun semakin pecah, ia semakin murung dan bersedih.


Yuan Shi hanya mampu menghela napasnya, mengetahui bahwa Ibu Suri lah yang pasti telah melakukan tindakan ancaman tersebut. Qing 'Er berlutut di depan Pelayan Chun kemudian memeluknya erat. "Aku merasa khawatir sebab kamu adalah pelayan yang sangat setia padaku. Jangan menangis, siapapun tidak boleh menyakiti orang yang berharga bagiku. Aku berjanji akan menolong semua keluargamu."


Qing 'Er mengelus lembut pundak Pelayan Chun kemudian ikut merasakan sedih yang wanita itu rasa. Sedangkan jenderal hanya menoleh ke arah Yuan Shi seolah bertanya bagaimana hukuman pelayan itu selanjutnya. Yuan Shi menggeleng, menyerahkan itu semua pada Qing 'Er yang jelas telah memaafkan pelayannya.


"Kita bisa melanjutkan perjalanan!" Titah Yuan Shi pada Jenderal Ye.


"Baik, Yang Mulia!" Jenderal Ye kembali untuk memimpin perjalanan, meminta semua pasukan ikut bersiap selagi Qing 'Er menenangkan Pelayan Chun.


Setelah mulai tenang, Qing 'Er dan Pelayan Chun kembali ke kereta kuda. Dengan raut wajah yang tidak nyaman, Pelayan Chun masih terus meminta maaf atas perbuatannya pada Qing 'Er. Sang Ratu hanya tersenyum dan masih terus menenangkan pelayannya.


Nemo yang kemudian kembali ke pelukan Qing 'Er menatap wanita itu dengan alis terangkat. "Bukankah sudah kubilang ada bubuk lada hitam di kain itu? Mengapa kamu masih memakainya dan menyakiti dirimu sendiril?" geram Nemo dengan bahasa binatang yang Pelayan Chun dengar.


Qing 'Er menyeringai tipis sembari menatap Nemo ia melakukan kontak batin untuk menjawab ocehan Sang Sistem. "Jika tidak begitu, dia tidak akan berkata jujur. Atau bahkan bisa saja melakukannya diwaktu aku lengah. Lebih baik mengetahuinya sejak awal ’kan?"


"Ya, ya, ya kamu memang pintar Su Mian!" jawab Nemo sembari memutar bola matanya kesal.

__ADS_1


__ADS_2