
"Semua itu sudah lama mati bagiku, jangan mengungkit hal yang palsu itu di hadapanku Tian ’er!" Yuan Shi menoleh ke arah Wu Zetian dengan tatapan kecewa sekaligus marah.
"Semua itu adalah ketulusanku, terimalah permintaan maaf ku kakak. Aku sangat mencintaimu, ini semua karena kecemburuanku. Aku terlalu kesal karena kamu terlalu mementingkan Kak Qing 'Er!" Wu Zetian bersimpuh di hadapan Kaisar. Sedangkan Ibu Suri masih mendelik tajam ke arah Yuan Shi.
Yuan Shi sama sekali tidak menunjukan pergerakan atas ucapan Tian ’er. Apakah benar masa-masa yang indah ketika mereka kecil dahulu adalah bentuk ketulusan Wu Zetian?
Yuan Shi mengalihkan pandangannya, ia tidak punya waktu untuk bernostalgia dengan masa lalu. Yang ia mau sekarang adalah semua orang tunduk padanya tak terkecuali. Pria itu berjalan menaiki singgasananya yang megah. Meninggalkan Tian ’er yang masih bersimpuh.
Tidak berselang lama Qing 'Er menerobos masuk ke dalam ruang penobatan yang tidak lain adalah singgasana Sang Kaisar. Pertempuran masih berlangsung di luar, dengan menyerahkannya pada Perdana Menteri, Jenderal Ye serta Pangeran Beiming.
Senyuman terukir di wajah Yuan Shi ketika ratunya itu memasuki ruangan, Qing 'Er memegang pedang yang masih berlumuran darah. Menyeringai bak orang kesetanan yang hilang kendali.
"Aku menunggu titah Kaisar!" serunya pada Sang Suami.
"Kuserahkan mereka padamu, mereka yang sering merusak citra mu, mereka yang selalu menyebarkan rumor tidak baik tentangmu. Apa yang ingin Qing 'Er lakukan?" Yuan Shi mengulurkan tangannya seraya memberi isyarat bahwa Ibu Suri dan Wu Zetian adalah urusan Qing 'Er.
"Kematian yang paling menyakitkan adalah hal yang cocok bagi mereka," kata Qing 'Er.
"Aku tidak akan berakhir seperti ini!" Ibu Suri mengambil sebilah pedang kemudian menyerang Qing 'Er dengan sekonyong-konyong namun Qing 'Er berhasil menahan serangan Ibu Suri yang membabi buta.
"Kalian semua tidak tahu diri!" Ibu Suri tidak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak mengutuk Yuan Shi dan Qing 'Er.
__ADS_1
"Lancang!" geram Yuan Shi yang kini telah berada di belakang Ibu Suri menghujam pedangnya pada tubuh wanita itu.
"Anak durhaka, sampai kapanpun kebahagiaan tidak akan pernah menghampiri kalian berdua. Sumpah ini akan ku bawa sampai ke neraka!" Teriak Ibu Suri sebelum akhirnya terjatuh dan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.
Wu Zetian yang sejak awal memiliki watak arogan dan tidak mau kalah, ternyata sudah menyimpan senjata rahasianya, yaitu senapan yang dibawa dari negeri tetangga. Itu semua dibekali oleh Klan Wu, Tian ’er memang ingin menghabisi Ibu Suri namun melihat Yuan Shi telah turun tangan mengambil alih tujuannya. Dia pun merasa senang dan menyunggingkan senyuman di wajahnya.
Dari arah belakang, Wu Zetian mengarahkan senapan miliknya ke kepala belakang Yuan Shi membuat pria itu tidak dapat berkutik. Qing 'Er yang menatap Wu Zetian di antara tubuh Yuan Shi membelalak tidak percaya.
"Ini salahmu karena tidak menyayangiku lagi, ini salahmu karena mu aku bersekutu dengan Ibu Suri untuk melenyapkan dirimu! Kakak, jika aku tidak bisa memilikimu maka siapapun tidak boleh."Satu kalimat dari Tian ’er yang menyatakan cinta pada Kaisar dengan tidak tahu malu.
Qing 'Er pun menggenggam pedangnya kuat, lalu menghunuskan pedangnya di sela tubuh Yuan Shi dan menancap langsung ke arah perut Wu Zetian. Namun, tangan wanita itu masih dapat menarik pelatuk sehingga tembakan pun tak terelakan.
Tembakan itu mengenai punggung Yuan Shi dan menembus dadanya, membuat pria itu langsung berdiri tidak seimbang lalu jatuh ke pelukan Qing 'Er. Sedangkan, Wu Zetian sembari memegang pedang yang menancap di perutnya terkapar tak berdaya menunggu kematian menghampirinya.
"Kaisar!" Qing 'Er sekuat tenaga menahan berat tubuh Yuan Shi yang kian melemah. Air matanya tidak dapat ia bendung, seharusnya hari ini menjadi kemenangan dan kebahagiaan bagi mereka.
Qing 'Er yang biasanya kuat, tegar dan keras kepala kini tidak sanggup untuk tidak menangis melihat Kaisar kian melemah. Bagaimana mungkin dia melewati sesuatu yang amat menyakitkan seperti ini?
"Kaisar, kumohon bertahanlah! Aku selalu mengerti mu, berada di sisimu, kali ini giliranmu yang harus mengerti diriku! Kamu harus kuat sampai bantuan datang!" Qing 'Er menangis sejadinya, tangan Yuan Shi menyentuh lembut pipi Qing 'Er dan menghapus air matanya yang terjatuh.
__ADS_1
"Qing 'Er jangan menangis, ini tidak seperti dirimu." Ucap Yuan Shi dengan lirih.
Di sisi lain, Jenderal Ye berhasil membekukan seluruh pejabat yang ikut serta dalam pemberontakan Klan Wu. Mereka semua di seret dengan rantai menyambung dari satu ke yang lain dan di bawa ke penjara bawah tanah untuk nanti di eksekusi.
Nemo yang baru saja muncul di hadapan Qing 'Er ikut panik melihat Kaisar Yuan Shi terluka. "Nona Su, sepertinya peluru itu sudah dilumuri racun!"
Qing 'Er menatap Nemo dengan mata yang memicing, baru kali ini ia tidak dapat berpikir jernih. "Keluarkan semua barang milikmu yang dapat menolong Kaisar!"
Nemo mengeluarkan semua barang yang ia miliki di pasar poin namun ia hanya menemukan pil penawar racun. Dia pun segera memberikannya pada Qing 'Er yang kini masih memeluk Kaisar.
Qing 'Er dengan tangan gemetar langsung menarik dagu Yuan Shi ke bawah agar mulutnya terbuka sedikit. Qing 'Er memasukan pil penawar racun berharap Yuan Shi bisa tersadar. Tidak lama Yuan Shi pun dipindahkan ke kamar Kaisar, namun sudah seperempat shichen Yuan Shi masih belum sadarkan diri.
Tangan Qing 'Er mulai berkeringat dingin, ia tidak bisa menunggu begitu saja. Yuan Shi sedang diobati oleh Yun Shan di dalam kamar, setelah selesai Yun Shan keluar dan menemui Qing 'Er yang masih berwajah pucat serta berjalan mondar-mandir tak karuan.
"Kaisar terbebas dari racun karena mu, terima kasih karena sekali lagi kamu telah menyelamatkan Kaisar Dinasti yang sangat kami hormati. Rakyat Dinasti berhutang budi pada Nona Su Mian." Yun Shan memberikan hormatnya pada Qing 'Er.
Qing 'Er bernapas lega, ia tersenyum kemudian meminta izin untuk menemui Sang Suami. "Apa dia sudah sadar? Bolehkah aku menemuinya?"
"Tentu, tapi hamba belum tahu kapan Kaisar akan tersadar dari tidurnya." Yun Shan memberi penghormatan lagi pada Qing 'Er kemudian beralih meninggalkan ruangan.
Qing 'Er langsung membuka pintu kamar Kaisar yang berwarna merah terang, juga pembakar dupa yang berada di sudut ruangan. Ratu Qing kemudian menatap Yuan Shi yang terbaring dj tempat tidur, dia dibalut kain obat di sekujur tubuhnya. Wajah pria itu masih nampak pucat.
__ADS_1
Permaisuri berjalan mendekat ke arah Kaisar Yuan Shi, ia kemudian menghela napasnya panjang. Tidak tega melihat orang tercintanya begitu lemah tidak berdaya. Selagi Kaisar terbaring tak sadarkan diri, Qing 'Er akan mengurus pengadilan, membuat rencana, memberi nasihat juga menstabilkan negara.