Ratu Buangan Jadi Kesayangan

Ratu Buangan Jadi Kesayangan
Bab 54 - Lukisan


__ADS_3

Qing 'Er melangkahkan kakinya lebih dulu ketika ruangan tempat Jenderal Ye berada di buka oleh penjaga, wanita itu berjalan dengan tegap sembari menoleh ke kanan kiri. Yuan Shi melangkah tepat beberapa jarak dari Qing 'Er di belakang, saat keduanya memasuki ruangan, pintu pun ditutup.


Mereka dipersilahkan untuk duduk sembari menunggu Jenderal Ye datang menemui mereka, tak berselang lama pria paruh baya dengan janggut lebat serta pakaian jenderal nan menawan memasuki tempat Yuan Shi dan Qing 'Er berada.


Matanya membulat kemudian langsung menjatuhkan diri bersimpuh di depan Yuan Shi. "Oh kaisar, syukurlah kamu selamat!" Jenderal Ye nampak mengelus dadanya sendiri sedangkan Yuan Shi mengulurkan tangannya memerintahkan Jenderal Ye untuk berdiri.


"Bagaimana keadaan istana?" Yuan Shi mengepalkan tangannya yang bertumpu pada lengan kursi.


"Ibu Suri telah bertindak terlalu jauh, mereka mengumumkan kematianmu secara tiba-tiba dan akan menghukum siapapun yang tidak percaya mengenai kabar yang mereka sampaikan. Ibu suri juga meminta hamba untuk kembali bertugas di dalam istana." Jelas Jenderal Ye yang masih bersimpuh di depan Yuan Shi dan juga Qing 'Er.


"Kami harus melanjutkan perjalanan ke Pengasingan Barat, setelahnya aku dan permaisuri akan kembali bersama Perdana Menteri dan pasukannya." Yuan Shi menenggak minuman yang telah disediakan oleh para pelayan Jenderal Ye.


"Izinkan hamba ikut bersama kaisar, pasukan hamba siap untuk membantu dan menjaga kaisar sampai kembali ke istana. Empat hari lagi adalah hari penobatan Selir Wu Zetian sebagai penguasa baru, jika bersama kami, perjalanan kaisar akan lebih cepat dan mudah." Jenderal Ye menunduk dan mengepalkan tangannya di dahi seraya menunggu jawaban kaisar.


Yuan Shi menoleh ke arah Qing 'Er yang masih sibuk melihat kuku jemarinya yang menawan. "Permaisuri, bagaimana menurutmu?" tanya pria itu pada Sang Ratu.


Qing 'Er menurunkan tangannya kemudian tersenyum tipis ke arah Yuan Shi. "Aku menyetujui usul Jenderal Ye, perjalanan kita akan lebih mudah dan keamanan kita pun akan terjamin."


"Terimakasih atas perhatian Yang Mulia Ratu, hamba akan semaksimal mungkin melindungi kalian bahkan dengan nyawaku sendiri!" Jenderal Ye kemudian beranjak dan membungkuk memberi hormat pada ratu dan kaisarnya. "Sekarang, waktunya kalian makan malam. Pelayanku, telah menyiapkan banyak makanan untuk kaisar dan ratu mohon untuk tidak menolak," lanjut pria itu.

__ADS_1


Yuan Shi berdiri kemudian mengulurkan tangannya pada Qing 'Er, mereka semua beralih ke ruangan lain untuk menyantap hidangan yang telah disediakan oleh Jenderal Ye. Aroma makanan yang begitu lezat, membuat mata Qing 'Er sedikit terbuka lebar, ayam panggang yang masih mengepul asapnya, juga beberapa tumisan dan buah-buahan segar.


Jenderal Ye mempersilahkan keduanya untuk duduk, jamuan yang lengkap dikondisi mendadak menunjukan betapa Jenderal Ye sangat menghargai kaisar.


"Qing 'Er sepertinya lapar, makanlah dua porsi untuk bayi di dalam perutmu." kata Yuan Shi sembari menyunggingkan senyuman tipis.


"Tenang saja, aku tidak akan menyia-nyiakan makanan lezat yang telah disiapkan susah payah oleh jenderal." Qing 'Er tertawa kecil, kemudian disambut tawa yang lain dari Jenderal Ye.


"Setelah sekian lama tidak bertemu Yang Mulia Ratu, kini terlihat sangat ceria dan lebih bersemangat." Jenderal Ye menyantap lebih dulu makanannya sembari tersenyum hangat pada Qing 'Er.


Tidak ada jawaban lain selain senyuman tipis dari Qing 'Er yang kini telah fokus pada santapannya. Yuan Shi juga begitu, ia melahap beberapa makanan utama sebelum akhirnya menyelesaikannya dengan cepat karena masih banyak hal yang ingin ia bicarakan bersama sang jenderal.


Setelah jamuan makan malam selesai, Qing 'Er diantar ke kamar untuk beristirahat. Dengan didampingi Nemo, wanita itu cukup merasa bosan karena Yuan Shi sedang berbincang secara pribadi dengan Jenderal Ye. "Bisakah kamu membuat dirimu terlihat? Setidaknya aku tidak harus berbicara sendiri seperti orang gila jika dilihat orang lain," keluh Qing 'Er.


"Setidaknya kamu akan kujaga seperti binatang peliharaanku, bagaimana?" mata Qing 'Er berbinar berharap Nemo menyetujui permintaannya.


Dengan berat hati dan hembusan napas kasar, Nemo menyetujui permintaan Qing 'Er. "Baiklah, hanya kamu yang nantinya bisa mengerti bahasaku. Sedangkan yang lain hanya mendengarnya sebagai ocehan binatang biasa."


Qing 'Er berdiri kemudian menggendong Nemo dengan perasaan senang, ia pun memutar tubuhnya dan menari riang. "Terimakasih, aku menyayangimu Nemo."

__ADS_1


Pintu pun terbuka, di sana berdiri Yuan Shi yang baru saja selesai berbincang dengan jenderal menatap Qing 'Er dengan senyuman halus di wajahnya. "Darimana binatang itu berasal?" tanya oria itu penasaran.


"Tadi, si kecil ini memanjat ke jendela dan masuk ke dalam kamar. Bolehkah aku merawatnya, Yang Mulia?" Qing 'Er masih menggendong Nemo di pelukannya sedangkan Yuan Shi langsung berjalan perlahan mendekat ke arah sang ratu.


Kaisar pun mengelus pipi Qing 'Er dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. "Tentu saja, apapun yang membuatmu bahagia. Aku akan mengizinkannya, kecuali meninggalkanku." Tatapan pria itu menjadi sangat serius dan mengancam yang kemudian diganti dengan pelukan hangat yang mengjimpit Nemo di antara dada Yuan Shi dan juga Qing 'Er.


"Bisakah kalian membiarkanku pergi dulu sebelum bermesraan?" geram Nemo.


Mendengar celotehan Nemo yang ia anggap sebagai bahasa binatang biasa, Yuan Shi tertawa kemudian melepas pelukannya dari Qing 'Er dan beralih mengelus bulu lembut milik Nemo. "Dilihat dari raut wajahnya, sepertinya dia protes keras!"


"Kaisar benar, binatang ini memang kadang bersikap keras. Lebih baik kita meninggalkannya di luar kamar dulu." Qing 'Er berjalan sembari membawa Nemo ke luar kamar dan meninggalkannya di sana.


"Nona Su, kamu keterlaluan!" Nemo memggeleng kemudian dibalas tawa mengejek dari Qing 'Er sebelum akhirnya dia kembali ke dalam kamar menemui Yuan Shi.


Yuan Shi berdiri di depan jendela, menatap ke arah langit malam yang dipenuhi bintang. Qing 'Er yang berjalan menuju padanya, langsung merangkulkan tangannya ke tubuh kaisar dari belakang. Yuan Shi sontak langsung berbalik dan membalas pelukan Qing 'Er, menatapnya dengan lekat.


"Aku ingin memberimu sesuatu," ujar kaisar seraya mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam pakaiannya.


Qing 'Er tersenyum tanpa kata, kemudian membuka gulungan itu secara perlahan. Matanya membelalak ketika melihat sebuah potret lukisan yang ada di dalam selembar kertas tersebut. "Tidak mungkin," gumamnya.

__ADS_1


"Aku telah lama melihatmu sebagai Su Mian," Yuan Shi menyentuh dagu Qing 'Er dan menengadahkan wajah wanita itu. Secara perlahan, ia mendekatkan diri pada Qing 'Er lalu mengecup bibirnya dengan lembut.


Qing 'Er menerimanya dengan sukarela kemudian merangkulkan tangannya di leher kaisar sembari mengenggam lukisan sebelumnya. Kecupan demi kecupan terus mereka berikan untuk menghangatkan hati mereka yang hampir membeku.


__ADS_2