
Kedua tatapan saling bertukar, sepi penuh arti yang bahkan tidak bisa mereka ungkapkan. Qing 'Er masih terdiam menahan diri untuk tidak menjawab pertanyaan Yuan Shi, efek pil kejujuran tidak seburuk saat pil itu dimakan utuh. Karena pilnya terbagi dua, Qing 'Er masih sanggup menahan dan bisa dengan kepala dingin memilih untuk menjawabnya atau tidak.
Tapi, sekali dia berbicara dan memutuskan untuk menjawab maka ucapannya akan mengarah pada kejujuran. Dengan berat hati, ia kemudian menenggak arak yang disiapkan Yuan Shi. Namun pria itu terlihat menyeringai puas, semakin takut Qing 'Er dengan pertanyaannya berarti menunjukan banyak hal yang tidak boleh diketahui Yuan Shi.
Kepalanya sudah merasakan pusing, mabuk atau tidak mabuk sudah tiada jalan ke luar baginya. Sebab, tiap kali mabuk dia akan berbicara melantur seperti yang pernah ia lakukan pada Yun Shan waktu itu. Yuan Shi pintar dalam bersiasat, dia sudah memperhitungkannya sejak awal karena malam ini dia memang bertekad untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pada malam itu, di mana Qing 'Er datang menemuinya dan memohon untuk diceraikan. Yuan Shi amat marah, bukan karena ia tidak ingin melepaskan Qing 'Er namun sebagai permaisuri yang diceraikan pastilah menjadi aib bagi Liu Qing dan keluarganya. Yuan Shi tidak ingin Qing 'Er mendapatkan perlakuan lebih buruk dari masyarakat.
"Hamba mohon pada kaisar, kaisar telah mendapatkan takhta yang diinginkan sekarang giliran hamba untuk pergi." Liu Qing bersimpuh di belakang Yuan Shi yang membelakanginya.
"Aku tidak mungkin melepasmu!" kata Yuan Shi tegas.
"Tapi kaisar telah berjanji, hubungan kita hanya sebatas sampai kamu naik takhta. Kaisar tahu betul bahwa aku sangat mencintai Ji dan kami sudah memiliki rencana yang indah di masa depan. Sekalipun harus diusir dari istana, kami bersedia." Qing 'Er terus bersimpuh di belakang Yuan Shi.
"Aku sudah menyeretmu dalam masalah ini, sudah mengangkatmu menjadi permaisuri. Aku tidak bisa mengembalikanmu dan membuat citramu semakin buruk." Yuan Shi menoleh ke arah Qing 'Er yang menangis.
"Ini kali pertamanya hamba menentangmu, impianku hanya satu jauh dari semua hal ini, politik, persaingan antar selir, bahkan tekanan klan. Hamba hanya ingin menua bersama orang yang hamba cintai, kaisar!" Liu Qing menatap tajam ke arah Yuan Shi.
__ADS_1
"Ada banyak mimpi yang tidak perlu dijadikan kenyataan, kuburlah impianmu bersama Ji karena aku tidak akan melepaskanmu! Kini, aku menghukummu dengan berdiam diri di pemandian dan merenungkan kesalahanmu sebagai permaisuri.
Tugasmu seharusnya membantuku, tapi kamu tidak pernah sekalipun ingin tahu masalah kekaisaran. Selagi kamu tidak menginginkannya, baik-baiklah di istana dingin ini. Lupakan semua hal yang kamu inginkan bersama Ji karena itu tidak akan pernah terjadi!" Yuan Shi meninggalkan Qing 'Er malam itu, sedangkan Qing 'Er merasa hatinya tertusuk anak panah yang langsung menembus ke bgaian tulang belakangnya.
Sakit bila ditahan, namun akan lebih sakit jika dicabut paksa. Tiada hal yang bisa ia lakukan selain membiarkan anak panah itu terus menyakitinya secara perlahan dibanding harus tercabut dan melukai dirinya berkali lipat. Sejak saat itu, Qing 'Er berjanji tidak akan menyampaikan keinginannya lagi dan rasanya ia telah mati rasa terhadap semuanya. Malam itu, Qing 'Er berendam sambil sesekali menenggelamkan diri ke dalam kolam pemandian berharap hal itu bisa merenggut nyawanya.
Sejak awal, Yuan Shi menyadari perbedaan yang dibawa oleh Qing 'Er yang ada di hadapannya saat ini dan yang dulu. Bahkan gambaran samar seseorang dari dalam bola mata Liu Qing bisa terlihat jelas di matanya, entah kebetulan atau memang sebuah petunjuk yang harus dia tahu. Yuan Shi masih bersandar sembari menatap Qing 'Er yang mulai mabuk, setelah lamunannya tentang kejadian malam itu memudar ia kembali fokus pada sosok wanita asing di depannya.
Sosok yang sungguh seratus delapan puluh derajat berbeda dari Qing 'Er yang dia kenal, sosok jiwa yang awalnya ia kira adalah penyihir. Namun, semakin kesini ia semakin melihat bahwa dia tidak merasakan ada hal yang berbahaya dari seseorang di hadapannya itu. "Aku tidak ingin kamu mabuk," ujar Yuan Shi sembari menjauhkan botol arak dan gelasnya.
"Kamu ingin beristirahat?" tanya Yuan Shi.
"Nona, tamatlah riwayatmu!" seru Nemo yang langsung menghilang pergi.
"Kapan Qing 'Er datang ke dunia ini?" tanya Yuan Shi menunggu jawaban wanita itu.
"Hm ini sudah bulan purnama ke dua sejak aku melintasi waktu syuhhh- seperti itu." Qing 'Er menggerakkan tangannya sebagai kereta cepat.
__ADS_1
"Apa Qing 'Er sedih?" tanya Yuan Shi lagi.
Qing 'Er menggeleng pelan. "Walau berat tapi ini satu-satunya cara agar aku bisa pergi, padahal sayang sekali meninggalkan pria setampan dan sekaya dirimu. Tapi, aku tidak akan sudi jika harus tinggal di sini lebih lama lagi, terlebih istana penuh dengan polemik juga nenek sihir."
"Nenek sihir?" Yuan Shi menaikan sudut alisnya.
"Wu Zhao, Wu Zetian mereka terlihat seperti nenek sihir sungguhan. Sungguh membuatku bergidik!" Qing 'Er kemudian mengistirahatkan kepalanya di meja dan menatap Yuan Shi dengan mata yang setengah terbuka, kelopak matanya bergerak perlahan seperti irang yang mengantuk.
"Qing 'Er sudah mabuk berat, aku akan memindahkan Qing 'Er ke tempat tidur." Yuan Shi tersenyum halus kemudian melangkah menuju Qing 'Er dan menggendongnya memindahkan wanita itu ke ranjang.
Qing 'Er tersenyum kemudian mengeratkan tangannya melingkar di leher Yuan Shi. "Andai kamu bisa ikut ke duniaku pasti aku akan sangat senang. Misi ini akan segera berakhir, aku tidak ingin menyia-nyiakan dirimu!" Qing 'Er bersandar pada Yuan Shi yang masih menggendongnya, pria itu kemudian menurunkan Qing 'Er yang masih merangkulkan tangannya ke leher Sang Kaisar.
"Qing 'Er tidak boleh pergi kemanapun, aku tidak mengizinkannya!" kata Yuan Shi yang masih menatap lekat kedua bola mata Sang Istri.
"Aku sangat menyukai raja posesif di depanku ini." Qing 'Er tertawa kecil sembari menyentuh lembut hidung Yuan Shi.
Pria itu tertegun kemudian memalingkan wajahnya mencoba untuk menahan diri, namun saat bola mata itu berubah kemerahan dan menarik lehernya ia tidak dapat menolak sentuhan lembut bibir Qing 'Er. Keduanya hilang kendali seperti biasa setiap kali raga mereka bersentuhan.
__ADS_1
"Apa kamu senang menggunakan tubuhku untuk bercinta dengan pria yang bahkan aku benci setengah mati?" suara berdengung keras terdengar di telinganya. Qing 'Er langsung membulatkan matanya dengan penuh, kemudian mendorong Yuan Shi dengan cepat dan tidak lama ia tersadar dari efek alkohol yang telah ia minum sebelumnya.
"Kamu tidah tahu malu!" seru suara asing tersebut.