Ratu Buangan Jadi Kesayangan

Ratu Buangan Jadi Kesayangan
Bab 37 - Perpisahan


__ADS_3

Di tengah kekacauan yang melanda Istana Qianqing, Su Mian yang masih terjebak dalam dimensi ruang dan waktu pun merasa semakin tidak tenang. Saat ia mencoba meneguhkan diri untuk membuat keputusan terberat dan menyetujui kepulangannya bersama Nemo ke masa depan. Sinyal merah menyala di layar monitor yang Nemo tunjukan padanya.


Su Mian menatap heran ke arah Nemo, pastinya ini menunjukan tanda yang tidak baik. "Nona, sistem menentukan hasil misi telah gagal!"


Su Mian membelalak, terperangkap di dimensi ruang dan waktu tidak bisa kembali ke masa depan maupun kembali ke tubuh Qing 'Er membuat dia kehabisan akal. Jika sistem telah menentukan hasil dan pada akhirmya misi terbilang gagal maka jiwa Su Mian tidak lagi dapat berinkarnasi kembali ke masa depan. Nemo dan Su Mian bagai hilang harapan, hanya tinggal menunggu waktu pemusnahan jiwa dan tidak dapat melakukan apapun di dimensi itu. "Bagaimana mungkin?" tanya Su Mian.


Dalam kondisi lainnya, Qing 'Er yang baru saja sampai di kediaman perdana menteri menatap setiap penjuru rumah dengan mata yang membulat sempurna. Rupanya kediaman perdana menteri telah porak poranda bahkan sudah tak berbentuk sama sekali, ia mencari seluruh anggota keluarganya namun tiada satupun yang ditemukan. Bahkan stempel yang ia cari pun turut menghilang, Qing 'Er bersimpuh dan mengeratkan kepalannya di lantai, tak lama Ji pun datang untuk menenangkannya.


"Aku yakin ini ulah Yuan Shi," geram Qing 'Er.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ji sembari mengelus tangan Qing 'Er.


"Kembali ke istana dan aku sendiri yang akan membunuhnya!" tegas Qing 'Er sembari berdiri dan mengumpulkan tekadnya.


Ji merasa keberatan dengan keputusan Qing 'Er, karena mereka telah berhasil diam-diam ke luar dari istana untuk menjauh dari Yuan Shi. Apabila mereka kembali, sudah pasti tidak akan ada ampunan lagi bagi mereka nantinya. Namun, Qing 'Er tetap teguh dengan keinginannya yang terbilang ceroboh tersebut. Akhirnya, dengan berat hati Ji tetap mengabulkan keinginan Qing 'Er untuk kembali ke istana.


Di aula pertemuan, Yuan Shi sudah duduk di singgasana keagungan miliknya. Dengan raut wajah yang serius dan nampak dingin itu dia dengan sabar menunggu para pejabat memrotes mengenai hal yang dilakukan Qing 'Er.


"Kaisar telah salah menilai orang, kami sungguh terhina karena dikhianati ratu sendiri." kata salah seorang pejabat.


"Ratu Qing harus segera ditangkap dan di hukum!" kata yang lainnya.

__ADS_1


"Tentu saja, ini adalah penghinaan bagi Dinasti Xia!"


"Tidak bisakah kalian diam sebentar?" Yuan Shi berdiri kemudian menatap kericuhan yang dibuat-buat oleh para pejabat dari Klan Wu.


"Demi terhindar dari penghinaan, alangkah baiknya Yang Mulia Kaisar segera mencopot gelar permaisuri dari wanita tidak tahu diri itu dan berikan pada selir kesayangan kaisar, Wu Zetian!" seru penasihat kerajaan.


"Tidak semudah itu, walaupun dia telah melukaiku aku tidak pernah benar tahu apa alasan dibaliknya." kata Yuan Shi masih melindungi Qing 'Er.


"Kaisar telah dibutakan cinta, tidak akan mungkin mendengar nasihat para pejabat maupun tetua!" Ibu Suri melenggang masuk dengan sembrono kemudian menaiki singgasana kaisar dan berdiri di samping Yuan Shi.


"Raja bodoh yang termakan oleh cinta tidak patut kita ikuti, penilaian kaisar sangat buruk bahkan tidak adil untuk rakyat," lanjut Ibu suri. "Jika kaisar masih ingin mendapat kepercayaan kami, maka ikutilah keinginan kami, ini semua demi situasi darurat yang sedang kita alami."


Yuan Shi membelalak, ia tidak berharap Qing 'Er kembali sebab ini bisa berbahaya untuknya. Namun, ia melihat Ji dengan gagah berani setia di belakang Qing 'Er menemani.


"Beraninya kamu ratu pengkhianat menginjakan kaki di istana!" geram ibu suri. "Prajurit! Seret mereka ke penjara bawah tanah!" lanjutnya.


"Aku akan membunuhmu Yuan Shi, katakan dimana ayah dan ibuku serta kakakku sekarang!" Qing 'Er mengangkat pedangnya ke arah Yuan Shi yang masih berdiri di atas singgasananya.


"Aku tidak mengerti maksudmu," kata Yuan Shi dengan kerutan alis bingung.


"Cukup omong kosongmu! Aku tahu kamu mengancamku dengan keluargaku, kamu sengaja melakukannya untuk menangkapku!" Qing 'Er dengan amarah yang meluap menatap tajam ke arah Yuan Shi.

__ADS_1


Tidak lama, Xiao Yan datang ke samping kaisar dan memberikan sebuah pesan mengenai perdana menteri. Pria itu dengan seksama mendengarkan berita yang dibisikkan oleh Xiao. Ternyata, kediaman perdana menteri telah diserang setelah kabar pemberontakan Qing 'Er terjadi. Dugaan utama Yuan Shi adalah ibu suri demi merenggut stempel yang dipegang perdana menteri pastinya Ibu Suri akan melakukan hal itu. Makanya, dia secara terang-terangan mengancam takhta Kaisar Yuan Shi.


"Qing 'Er, ini salah paham. Dengarkan aku terlebih dahulu!" kata Yuan Shi.


"Lihatlah! Kaisar telah dibutakan cinta, bahkan saat melihat pemberontak ini di hadapannya ia tetap tidak menjatuhkan hukuman apapun!" geram Ibu Suri.


"Ibu Suri harap tidak ikut campur!" tegas Yuan Shi.


"Jika kamu tidak ingin menghukumnya maka aku sendiri yang akan menghukum wanita iblis ini!" kata Ibu Suri sembari memberikan isyarat pada pemanah dari kejauhan.


Jenderal Ji yang melihat beberapa orang mengepung Qing 'Er langsung memeluk wanita itu dan melindunginya dari serangan anak panah. Yuan Shi hanya membelalak ketika lima anak panah menancap di bagian punggung Ji yang melndungi Qing 'Er. Tidak lama kemudian ia mengerahkan pasukannya yang dipimpin oleh Xiao Yan untuk menghalau prajurit Ibu Suri.


Qing 'Er merasakan bobot tubuh Ji memberat di tubuhnya, ia kemudian menoleh ke belakang dan mendapati pria itu bermata sayu dengan senyuman manis di wajahnya. "Ji, maafkan aku!"


Qing 'Er bersimpuh seraya tidak mampu menahan berat tubuh Ji yang kian melemah. "Jenderal Ji, kumohon bertahanlah! Kamu tidak seharusnya melindungiku seperti ini, kamu tidak bisa mengorbankan dirimu sendiri!"


Air mata tidak dapat ditahan lagi dari mata Qing 'Er sedangkan beberapa pejabat hanya menyaksikan apa yang sedang terjadi tanpa empati sedikitpun. Xiao Yan langsung menuntun Ibu Suri ke luar sesuai perintah kaisar, sedangkan Yuan Shi menatap pilu kedua insan yang selalu ia halangi cintanya itu. Ia bahkan tidak mampu untuk melangkah dan menatap wajah sahabatnya Ji yang sedang dalam kondisi kritis. "Tabib, panggil tabib istana!" pinta Yuan Shi.


"Ji, jika akan berakhir seperti ini aku lebih baik mengubur mimpi itu! Melihatmu hidup sehat di sampingku jauh lebih baik daripada melihatmu pergi karena kecerobohanku. Kumohon, bertahanlah!" Qing 'Er menangis tersedu.


Sedangkan kondisi Ji mulai melemah, pandangannya bahkan mulai kabur namun ia tetap menampilkan senyuman terbaiknya pada Qing 'Er. "Melihatmu tetap menyimpan cintamu untukku lebih indah dan itu sudah cukup bagiku, aku mencintaimu Qing 'Er."

__ADS_1


__ADS_2