
Keesokan harinya, matahari pagi mulai membangunkan beberapa orang yang masih terlelap. Namun, Suku Huo telah sibuk menyiapkan makanan untuk yang lain. Qing 'Er menatap dengan raut wajah datar dan berharap kali ini semua orang mendapatkan jenis makanan yang sama dengannya. Ia tidak mau, masalah semalam kembali terulang. Terlebih ia masih sangat kesal pada Yuan Shi. Rasanya sungguh menyebalkan baginya.
Di tengah kerumunan orang, Yuan Shi dengan balutan pakaian berwarna emasnya berjalan sembari menyapa tiap jiwa yang sedang sibuk mengurus keperluan perjalanan kali ini. Qing 'Er membuang pandangannya tatkala melihat Yuan Shi berjalan mendekat.
"Permaisuri tidak perlu berpura-pura tidak melihatku," seru Yuan Shi sembari menatap wajah Qing 'Er dengan serius.
"Maaf, jika hamba terlihat seperti itu. Tapi, apakah perjalanan kali ini bisa kita lanjutkan secepatnya? Kita tidak punya waktu lama lagi, aku takut dengan keadaan keluargaku." Masih dengan segan menatap Yuan Shi, Qing 'Er menolehkan kepalanya ke arah Pelayan Chun yang kini mulai berdiri di sampingnya.
"Tentu saja, semuanya, mari kita lanjutkan perjalanan!" seru Yuan Shi kemudian melenggang pergi meninggalkan Qing 'Er. Ia bahkan tidak mempedulikan tentang makanan yang telah disiapkan suku Huo. Namun, satu kalimat yang keluar dari kaisar adalah jurus ampuh untuk memerintahkan semua orang tanpa protes.
Menilik kondisi Su Mian dan Nemo yang masih terjebak di lorong waktu. Rasanya membuat Qing 'Er ikut merasakan bagaimana putus asa dan juga buntunya pikiran mereka. Tiada jalan untuk maju maupun kembali, hanya menunggu waktu dimusnahkan atau keajaiban yang akan menolong mereka.
Selama ini, Su Mian dan Nemo hanya dapat memantau keadaan Yuan Shi dan Qing 'Er dalam layar monitor milik Nemo bak nobar serial kolosal favorite mereka.
"Nemo, aku lelah." Su Mian menelentangkan tubuhnya dan melayang tanpa alas.
"Kenapa mereka belum juga memusnahkan kita? Aku sungguh lelah," keluhan yang sama dilontarkan Nemo.
Su Mian menoleh ke arah Nemo kemudian duduk dengan cepat. "Aku tahu mungkin terdengar mustahil, tapi bukankah tidak ada salahnya jika kita mencoba memuat ulang misi kita kembali?"
Nemo mendengus kasar. "Nona Su, kita sudah sepuluh kali mencoba memuat ulang misi tapi tombolnya tidak berfungsi dan kita tetap ada di sini."
"Aku yakin, pasti ada maksud mengapa kita belum juga dimusnahkan. Aku percaya kita bisa kembali ke masa depan ataupun masa Dinasti Xia!" Su Mian mengepalkan tangannya dengan semangat.
__ADS_1
"Kepercayaan diri yang bagus, andai saja kamu lebih serius sejak awal mengenai misi ini. Mungkin kita akan cepat menyelesaikannya sebelum jiwa pemilik asli tubuh itu bangun." Nemo kemudian mengeluarkan sebuah tombol untuk memuat ulang misi mereka dengan harapan yang sama.
"Seperti perkataanmu, kita akan mencobanya sekali lagi." Ujar Nemo yang kemudian menekan tangannya ke arah tombol tersebut. Bak hal ajaib yang terjadi, tombol memuat ulang misi berhasil di proses. Namun, proses lamban yang teelihat sepertinya cukup memakan waktu yang akan lama.
"Nona Su, kamu benar. Kita berhasil memuat ulang misi!" Seru Nemo dengan ekspresif.
Su Mian menyeringai puas, dia memang tidak pernah salah dalam memercayai instingnya. Akhirnya, cahaya mulai terlihat dan dia bisa kembali ke Dinasti Xia. Namun, satu masalah terlintas dibenak Su Mian. Jika dia kembali, bagaimana dengan Qing 'Er?
Su Mian terdiam sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada layar monitor yang kini menunjukan hasil proses memuat ulang misi.
[5% on process]
Di sisi lain, semua pasukan Yuan Shi mulai melanjutkan perjalanan mereka. Jaraknya tidak begitu jauh lagi sampai menuju penjara usang. Namun, Xiao tak kunjung kembali dan melaporkan keadaan di tempatnya. Yuan Shi mulai merasakan kekhawatiran pada pria yang telah menjadi kepercayaannya selama bertahun-tahun tersebut. Yun Shan yang menyadari perasaan pria itu dari raut wajahnya mulai memberanikan diri membuka obrolan sembari menunggang kuda.
"Banyak hal, aku merasa tidak tenang sejak meninggalkan istana. Bahkan, Xiao belum juga kembali dan membawa kabar berita. Terlebih Qing 'Er yang dengan keras kepala ikut dalam pencarian." Yuan Shi menatap jalanan dengan raut wajah yang datar, tali kuda yang tergenggam mulai melonggar seraya ia melambatkan perjalanannya.
"Hamba mengerti, menurut Yang Mulia apabila Su Mian yang berada di sana. Akankah dia ikut dalam pencarian?" tanya Yun Shan yang kini membuat Yuan Shi tersenyum menggelitik dan mengingat kepribadian wanita itu.
"Tentu saja, dia akan lebih keras kepala dari Qing 'Er. Tapi dia tidak akan membuat keputusan tanpa persiapan, aku bahkan sering merasa tidak seimbang dengan kecerdikannya dalam menyelesaikan masalah." Yuan Shi tersenyum halus sembari mengingat masa-masanya bersama Su Mian.
Yun Shan tidak berani lagi mengganggu angan Sang Kaisar yang kini seperti terbuai oleh kenangan indah. Perjalanan berjalan lancar sampai ke penjara usang yang dipenuhi dengan rerumputan tinggi. Sungguh penjara bawah tanah yang menyeramkan, ketika Qing 'Er menyibakan gorden kereta ia pun menyembulkan kepalanya keluar kemudian melihat betapa menyeramkannya tempat itu.
Apakah benar ayah dan ibu ada di sana?
__ADS_1
Qing 'Er melihat Yuan Shi yang kini menoleh ke arahnya, pria itupun terlihat tidak yakin sampai saat terdengar dentuman keras seperti menghantam area belakang mereka. Mata Yuan Shi dan Qing 'Er sama membelalak ketika mereka melihat pasukan di belakang telah hangus terbakar.
Yuan Shi langsung membalikan arah kudanya ke area belakang namun Yun Shan dengan sigap menahan kaisarnya. "Kaisar jangan gegabah, aku mencium bau bubuk mesiu. Kurasa kita terjebak, kita harus segera melarikan diri!" Seru pria itu.
"Bagaimana dengan yang lain? Aku tidak akan meninggalkan orang yang sudah membantuku. Suku Huo terancam, mereka bisa terluka parah akibat serangan itu." Yuan Shi mengeratkan pegangannya pada tali kuda sebab amarah yang kini mulai ia rasakan.
"Sebaiknya kita mengamankan ratu dan pewaris takhta!" seru Yun Shan kembali.
Yuan Shi mendengus pelan kemudian mengangguk. "Tolong jaga dan bawa Qing 'Er ke tempat yang aman!"
"Apa maksud kaisar?" Yun Shan memastikan pernyataan Yuan Shi.
"Jaga Qing 'Er, aku akan menghalangi para pembunuh bersama Suku Huo." Yuan Shi mengeluarkan pedanganya dan menggenggam pedang itu erat.
"Baik, hamba mengerti!" jawab Yun Shan.
Sebelum akhirnya Yuan Shi memacu kudanya ke area belakang dan menatap Qing 'Er dengan senyuman tipis sebelum akhirnya melewati wanita itu.
Qing 'Er mengerutkan alisnya tidak mengerti, lalu Yun Shan menemuinya kemudian mengajak wanita itu turun dari kereta kuda. Qing 'Er tetap mematung menatap Yun Shan.
"Kemana Yuan Shi pergi?" tanya Qing 'Er dengan panik.
"Kaisar akan bertarung bersama Suku Huo melawan para pembunuh bayaran!" jelaa Yun Shan.
__ADS_1
Qing 'Er menggeleng tidak setuju. "Dia tidak boleh melakukannya! Kita harus membantunya, aku akan membantunya!"