
Dengan kejadian kejadian panas yang telah terjadi, membuat hubunganku dengan diaz menjadi lebih erat, diaz semakin posesif padaku, membuatku makin mencintainya.
Beberapa minggu kemudian....
Hari ini diaz pulang dari Kota Y, untuk menghabiskan liburan semesternya yang kurang lebih satu bulan lamanya.
Diaz bilang, dia akan langsung menjemputku setelah sampai, akupun senang bukan main dengan kedatangannya, entah kenapa semakin lama, perasaanku semakin dalam padanya.
Sikapnya yang lembut, sabar dan selalu mengayomiku, membuat sosoknya benar benar sempurna di mataku.
"cieee yang lagi nunggu pujaan hati" goda desy, teman sekantorku.
"hahaaha... ikh, berasa kaya anak SMA lagi aku, dgojlokin begini" sahutku pada desy.
"ya udah klo gitu, aku duluan ya chy.... selamat menunggu" kata desy yang pulang dengan sepeda motor maticnya.
Tak berselang lama, diazpun datang, aku langsung berlari menghampirinya..
"ga usah lari lari yas, entar jatoh, heels sepatu kamu tinggi lho" ucap diaz mengingatkan.
Aku seakan lupa segalanya dengan melihatnya saja.
"aku kangen yaank, lagian ga mungkin jatuh, aku dah biasa pake sepatu ini" kataku sambil terus memandanginya.
"ayok naik, kita cari makan dulu ya, aku laper banget" kata diaz.
"oke cintaaahh.." sahutku mengiyakan.
Aku naik ke sepedanya dan langsung memeluk erat tubuh kekasih hati yang sangat kurindukan setiap waktu ini.
Diaz tersenyum senang melihat tingkahku.
"mau maem apa sayang?" tanyanya padaku.
"katanya kamu laper, cari makanan berat lah biar kenyang" jawabku.
"batu kan berat" jawabnya sambil tertawa dibalik helm teropongnya.
"ya udah kalo kamu maunya makan batu, kamu yang makan, aku yang nemenin" balasku sambil tertawa lepas.
"tega, calon suaminya di kasih maem batu" katanya.
"lahhh, kamu sendiri yang bilang mau makan batu yankk..." sahutku lagi, masih dengan tawa lepasku.
"serius serius, kamu pengen maem apa yas?" tanya diaz lagi.
" yang laper kan kamu yank, kok malah nanya aku mau maem apa, aku ikut kamu aja deh" jawabku.
"takutnya kamu lagi pengen makan apa gitu yas, jadi aku ngikut kamu, gituuuu maksudkuuu cintaaahh" jelas diaz.
"aku sih ga terlalu lapeer yank, kamu aja deh yang nentuin" kataku menyerah.
"ya udah, makan tahu telor enak kali ya, tapi ada ga yang jam segini buka ga ya?" tanyanya lagi.
"tahu telor bukanya abis maghrib sayang, kalo batagor mau?" tawarku memberinya opsi lain.
"oke lah, dimana?" jawab diaz.
"depan mall XX" kataku.
__ADS_1
Selesai makan, diaz langsung mengantarku pulang, sesampai dirumah, aku menyuruhnya membersihkan diri sebelum pulang kerumahnya.
Karena sudah maghrib, sekalian aku menyuruhnya sholat dirumah dulu.
Diaz jadi imam shalat, aku dan ibu menjadi makmumnya.
Teduh hatiku melihatnya menjadi imam dalam shalat kami... ahhhh betapa sempurnanya diaz untukku, batinku.
Setelah selesai, Diaz berpamitan untuk pulang kerumahnya,
" bu, diaz pamit pulang dulu ya" pamit diaz kepada ibuku sambil menyalami tangannya.
"iya nak, pelan pelan aja ya, hati hati di jalan, salam sama orangtua kamu dirumah" kata ibuku pada diaz.
Akupun mulai terbiasa menyalami tangan diaz, mencium punggung tangannya.
hitung hitung belajar jadi istri ( kahayalanku _😍 ).
Selama Diaz liburan, dia rutin menjemputku sepulang kerja, begitu terus setiap harinya.
Malam ini, malam minggu, diaz meminta izin pada ibuku, untuk membawaku menginap dirumahnya, dengan alasan mama diaz kangen denganku..
Akupun tak tau jelas kenapa diaz mengajakku menginap dirumahnya dan herannya ibu mengiyakan dengan begitu mudahnya. entah apa yang diberikan Diaz pada ibuku, sehingga ibu dengan mudahnya mengijinkanku menginap dirumahnya.
Setelah puas bermalam minggu, layaknya muda mudi pada umumnya, kamipun pulang menuju rumah diaz.
Sesampainya dirumah diaz, keadaan sudah sepi, didalam rumahpun gelap gulita.
"kok sepi banget yank? papa mama ada di rumah kan?" tanyaku pada diaz yang sedang memasukkan sepeda motornya ke garasi.
"kalo ga da orang, aku ga berani ngajak kamu nginep yas, takut di gerebek warga" jawabnya.
Aku baru sadar, kalau sekarang sudah hampir jam setengah sebelas malam. tanpa aku sadari, waktu terasa begitu cepat jika ada Diaz di sampingku.
Diazpun menyuruhku untuk istirahat di kamarnya, sedangkan dia, tiduran diruang tv,
karena sangat kelelahan, aku berpamitan untuk tidur duluan, sedang diaz masih menonton acara di tv.
"yank, aku bobo duluan ya, ngantuk nih" kataku setelah mengganti bajuku dengan piyama tidur yang dibelikan diaz untukku.
"iya sana gih bobo duluan, aku masih mau liat tv, ada sule nih, seru kayaknya" jawabnya.
aku tak terlalu menanggapi ucapan diaz, saking ngantuknya.
Tak lama akupun terlelap ke alam mimpi......
Sayup sayup ku dengar, bisikan bisikan suara, entah suara apa, aku masih tak sadar ini mimpi atau nyata, saking ngantuknya aku tak bisa membuka mata dan berusaha tak menghiraukannya.
Semakin lama suara makin jelas, malah bahuku terasa diguncang guncang, mulai mengusik tidurku.
kubuka mataku perlahan, kulihat ada seberkas sinar seperti lilin, aku mengucek mataku untuk memperjelas pandangan di depanku..
"selamat ulang tahun sayang,,," kata suara, yang aku yakin itu suara diaz.
Kesadaranku sudah kembali, aku membuka mataku lebar lebar, aku melihat diaz, kakak perempuan diaz dan kedua orangtuanya berdiri di depan ranjang tidurku, mereka secara bersamaan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku.
Selamat ulang tahun kami ucapkan...
Selamat sejahtera, kita kan doakan...
__ADS_1
Selamat ulang tahun, sehat sentosa....
Selamat panjang umur dan bahagia...
Aku benar benar tak menyangka dengan kejutan ini, mereka dengan pedulinya, membawa kue ulang tahun dan bernyanyi lagu ulang tahun di tengah malam begini hanya untukku.
Airmataku sudah tak bisa terbendung lagi, aku menangis menghambur dalam pelukan mama diaz, mama membalas pelukanku dengan hangat. bahkan mama mencium keningku, tangisku semakin pecah dibuatnya.
"selamat ulang tahun ya nak, semoga sehat selalu dan sukses dunia akhirat" kata papa diaz.
"aamiin, makasih pa" jawabku, masih dalam pelukan mama diaz.
Entah sejak kapan, aku mulai memanggil kedua orangtua diaz dengan sebutan mama dan papa.
"ayo tiup dulu lilinnya yas" kata diaz dengan tangannya yang membawa kue ulang tahun lengkap dengan lilin lilin kecil di atasnya.
"make a wish dulu dek" kata kakak diaz menambahkan.
Akupun beranjak dari pelukan mama, berdiri di depan kue yang dibawa diaz, lalu mulai memejamkan mata, berdoa dan menyampaikan harapanku pada Allah. setelah selesai, aku meniup lilin lilin tersebut.....
Ku potong kuenya, potongan pertama aku berikan pada mama, lalu lanjut ku berikan pada papa, kakak dan terakhir pada diaz..
"selamat ulang tahun yaa sayang" kata mama diaz.
Tiba tiba diaz mencium keningku di depan keluarganya, aku terkejut dan malu sekaligus dibuatnya..
Aku memukul pelan dada diaz, tanda tak suka dengan apa yang dilakukannya barusan.
Yang lebih mengejutkan, mereka malah bertepuk tangan melihat kami.
Lalu diaz, mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah maroon, dengan berlutut, diaz memberikan kotak tersebut dan berkata...
"yas, aku memang belum punya apa apa, masa depanpun masih belum jelas, tapi InsyaAllah aku akan selalu berusaha buat kamu bahagia, apa kamu mau jadi tunanganku??" kata diaz bersungguh sungguh sambil membuka kotak beludru tersebut, di dalamnya ada 2 cincin emas polos yang satu ukurannya lebih besar dari yang lainnya.
Kejutan bertubi tubi, gumamku dalam hati.
Apalagi ini? diaz berhasil membuat jantungku serasa mau copot... aku benar benar speechless, hanya bisa menangis mendengar apa yang barusan diaz ucapkan...
"jawab donk sayang, kita semua nunggu jawaban kamu" kata diaz lagi...
Dengan mantap, aku mengangguk mengiyakan ucapan diaz, semua orang tersenyum senang melihatku. dan diaz mengambil cincin yang berukuran lebih kecil dan memasangkannya di jari manisku, sedang yang lebih besar ukurannya, diaz berikan padaku, menyuruhku memakaikannya dijari manis diaz.
"kalo sudah sama sama iya, tinggal mama sama papa yang minta kamu ke ibu kamu nak" kata mama diaz.
Aku masih setia membisu, masih tidak percaya, ini nyata atau mimpi....
Setelah selesai, mama papa dan kakak kembali ke kamar mereka masing masing dan terlelap kembali, karena sekarang masih tengah malam.
Sedang aku dan diaz masih di ruang tv, selain lamaran manis dari diaz lengkap dengan cincin cantik dijari manisku ini, diaz masih memberiku kado lain, sebuah boneka kodok besar impianku, besarnya hampir sama denganku,, diaz memang paling mengerti apa yang aku sukai.. ( author suka banget sama boneka kodok ).
Setelah melihat keadaan yang sepi, aku memberanikan diri mencium pipi diaz, diaz mengerucutkan bibirnya,
"cuma pipi doank nih yang di cium?" katanya dengan bibir yang di monyong monyongkan, benar benar menggemaskan, batinku.
Akupun langsung menyambar bibirnya, menciumnya dengan lembut, diaz membalasnya dengan penuh nafsu, kami saling ******* cukup lama dan setelah merasakan sesak, aku melepas ciuman kami, dan menghirup udara dengan rakus.
Diaz menyuruhku kembali ke kamar dan segera tidur, karena besok diaz akan mengajakku jalan jalan.
*mohon koment, vote, like dan sharenya..😍😍😍
__ADS_1
author menerima saran dan kiritik yang membangun.