Realita Cinta

Realita Cinta
Aral Melintang


__ADS_3

"assalamualaikum" kata sebuah suara yang semakin lama semakin mendekat.


" walaikumsalam" jawabku dan ibu hampir berbarengan.


"chy, kamu ga bisa nikah sama dia" kata diaz yang tiba tiba datang dan langsung menghampiriku yang sedang duduk santai di depan tv bersama ibu.


"kamu apa apaan sih diaz, tiba tiba datang dan ngomong seperti itu?" kataku.


"kamu ga bisa nikah sama dia, aku masih sayang sama kamu chy!" kata diaz sambil mengguncang guncang bahuku.


"kamu ga sopan diaz!" kataku setengah berteriak dan menepis tangannya dari bahuku.


"kamu ga bisa lakuin ini sama aku chy!"


"kenapa?? kita sudah lama putus dan kamu yang sudah mencampakkan aku diaz!"


Diaz luruh dan jatuh terduduk sambil menangis sesenggukan,


"kamu ga bisa ninggalin aku chy, aku ga bisa lupain kamu" katanya sambil terisak.


Aku berusaha mengontrol emosiku dan berharap tak iba melihat diaz yang sedang menangis di hadapanku.


"maaf diaz, hubungan kita sudah berakhir dan semua sudah jadi masa lalu"


"aku harap kamu bisa menerima semua ini, tolong biarkan aku bahagia" lanjutku.


"kamu bahagia? sedangkan aku???" kata diaz melihat ke arahku.


"kamu juga berhak bahagia diaz tapi bukan denganku!" kataku dengan nada suara yang mulai tenang.


"apa kamu benar benar sudah ngelupain aku? ngelupain semua kenangan kita??" tanya diaz yang sudah mulai berdiri dan ada di hadapanku saat ini.


"semenjak kamu mutusin aku, semenjak itu perasaan dan semua kenangan tentang kamu,aku kubur dalam dalam diaz"


"aku ga mau larut dalam kesedihanku sendiri" lanjutku.


"kamu tau?? aku juga sedih dan terpuruk chy!!!!" kata diaz berteriak.


Aku benar benar tak menyangka diaz akan se brutal ini. aku mulai merasa takut padanya, takut dia berbuat macam macam padaku.


"diaz, ibu mohon jangan buat keributan disini!" kata ibu dengan tegas.


"diaz minta maaf bu, tapi diaz mau memperjuangkan cinta diaz!"

__ADS_1


"cinta yang manaaaa??" tanyaku.


"cinta kita chy" katanya dengan sikap yang mulai tenang.


"cinta?? setelah kamu ninggalin aku gitu aja? setelah aku terpuruk tanpa kamu? selama ini kamu kemana aja?? kamu ga tau seberapa sakit hatiku diaz!!!!" kataku mulai terpancing emosi mengingat diaz yang memutuskanku secara sepihak dulu.


"waktu itu aku terlalu emosi chy, emosi karena kamu berusahan menyembunyikan tentang dean di belakangku! apa salah aku cemburu?"


"kamu cemburu buta diaz! bahkan kamu ga mau mendengar penjelasanku waktu itu!"


"aku mohon maafin aku chy" kata diaz sambil bersimpuh di hadapanku.


"aku sudah maafin kamu diaz, tapi maaf hatiku terlalu sakit untuk kembali lagi sama kamu!" jawabku tegas.


"aku akan beberkan semua yang sudah kita lakuin ke calon suami kamu chy!! supaya dia ga nikahin kamu! maaf cuma ini satu satunya cara buat dapatin kamu lagi!" kata diaz.


"kamu gila diaz!!!" teriakku mulai menangis.


"yaa memang aku gila, gila karena kamu!" jawabnya.


"aku mohon diaz, jangan pernah kamu coba coba buat gagalin pernikahanku dengan bima!" kataku berusaha meredam amarahnya.


"cuma aku yang bisa nikahin kamu chy, kamu lupa dengan apa yang sudah kita lakuin??" katanya sambil tersenyum sinis.


"huh, menyesal katamu? kamu bahkan menikmatinya dan sekarang kamu bilang menyesal??"


Ternyata ibu diam diam menghubungi bima, setelah meninggalkan aku dan diaz yang sedang bertengkar.


Aku menangis terduduk sambil memeluk kedua lututku, aku benar benar tak menyangka diaz akan berbuat selicik ini.


Bima datang dan masuk dengan tergesa gesa, dia yang melihatku menangis sambil memeluk lutut, langsung menghampiriku, akupun langsung memeluknya dengan erat seolah meminta perlindungan.


" kamu tenang yaa... jangan nangis" kata bima dengan lembut.


"heh kamu,,,,, kamu tau apa yang sudah dilakukan sama calon istri kamu ini selama bertunangan denganku??" kata diaz mengalihkan perhatian bima.


"apapun yang sudah kamu lakukan dengannya, itu sudah menjadi bagian dari masa lalunya saja dan saya tidak peduli dengan masa lalu echy!" jawab bima menatap diaz dengan rahang yang mengeras.


"saya menerimanya dengan segala kekurangannya!" lanjut bima dengan tegas.


"huh, kamu yakin?? dia ga sesuci yang kamu kira!!!" kata bima dengan nada yang meremehkan.


"kalo kamu mau menjelek jelekkan echy di depan saya, supaya saya tidak jadi menikahinya, kamu salah besar diaz!" ucap bima dengan lantang.

__ADS_1


Bima membantuku berdiri dan membawaku ke kamar agar bisa menenangkan diri.


"Bahkan kamar itu, jadi saksi bisu perbuatan kita berdua" sahut diaz dengan senyum smirknya.


"tolong jangan pancing emosi saya dengan omong kosongmu diaz dan saya mohon kamu pergi dari sini" kata bima berusaha tenang dan mengontrol emosinya.


" ahhh banyak bacot!" kata diaz yang langsung melayangkan tinjunya ke wajah bima, bugh... bugh...


pukulan yang cukup keras, membuat sudut bibir bima berdarah karena sobek.


Bima mengusap bibirnya dan melihat darah di ibu jarinya, emosinya mulai tersulut dan bugh.. bugh... bima membalas pukulan diaz. diazpun jatuh tersungkur,,


"sudah cukup, hentikaaaaan.....!!!" teriakku, keluar dari kamar karena mendengar suara gaduh dari luar.


"diaz, kamu pergi dari sini!" usirku.


Diaz bangun dan berjalan sempoyongan, dia pergi dari rumah echy tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Sedang bima, terduduk di lantai sambil mengatur nafasnya yang ngos ngosan setelah baku hantam dengan diaz.


"maaf bim, gara gara aku, kamu jadi begini" kataku membopong bima ke kursi dan mengambil air untuk membersihkan lukanya.


"ini sudah jadi tugas saya sebagai calon suami kamu" kata bima padaku yang sedang mengelap bibirnya yang terluka.


Bima meraih tanganku yang sedang membersihkan lukanya dan berkata,


"apa ada yang mau kamu ceritakan sama saya chy?" tanyanya menyelidik.


Aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan duduk di samping bima,


" kamu tanya saja, apa yang ingin kamu ketahui bim, insyaAllah aku akan menjawab semuanya dengan jujur" kataku sambil tertunduk lesu.


"apa semua yang dikatakan diaz itu benar??" tanya bima padaku.


"iyaa...." jawabku langsung, karena aku memang berniat jujur kepadanya, apapun hasil akhirnya aku akan tetap jujur pada bima.


Aku.menceritakan segalanya pada bima, meskipun ini aib, bima perlu tau semua tentang diriku.


"sekarang setelah mendengar semuanya, aku pasrahkan semuanya sama kamu bim, aku akui aku khilaf" kataku mengakhiri ceritaku.


"apapun keputusan kamu, aku akan terima bim" kataku mulai menangis dalam tundukan kepalaku.


Bima terdiam, tampaknya dia sedang menetralkan perasaannya setelah mendengar semua cerita tentang masa laluku.

__ADS_1


***hayooo readerss.. jangan lupa bantu author yaaa.. dengan vote dan like sebanyak banyaknya....


__ADS_2