
"gapapa sayang, cemburu tandanya cinta..." kata bima yang senang melihatku marah.
Tiga hari mendapat perawatan dirumah sakit, membuatku merasa lebih baik, aku sudah bisa berjalan walau masih tertatih, membawa bayiku berjemur di taman rumah sakit.
"kalo kondisinya stabil, besok sudah boleh pulang" kata dokter setelah memeriksaku.
"alhamdulillah... apa kamu sudah bener bener baikan sayang??" tanya bima padaku.
"heemmm..." aku hanya menjawabnya singkat.
"ya udah, kalo gitu aku suruh bi tatik beres2 rumah" kata bima sambil mengecup keningku.
"siapa bi tatik?" tanyaku kepo.
"asisten rumah tangga kita yang baru" sahut bima sambil beberes barang barangku yang tak terpakai, rencana akan dibawanya pulang duluan.
" masih muda? kaya bulan lagi?" tanyaku penasaran.
" masa iya kalo masih muda, aku manggilnya bibi sih sayang" jawab bima yang masih saja sibuk beberes.
Bulan Pov
"berani sekali bima mecat aku? pasti istrinya manjanya itu yang nyuruh!" gumam bulan pada dirinya sendiri ketika sedang mengemasi barang batangnya dirumah bima.
"awas saja, aku bakal buat perhitungan! aku harus dapetin bima" ucap bulan lagi, berbicara pada dirinya sendiri dan tampak dia sedang memegang selembar foto,
End Pov
Tiga bulan sudah usia chyma, bayi ini sedang lucu lucunya dengan segala celotehannya. bayi perempuan yang cenderung mewarisi wajah papanya.
"daritadi nempel terus sama susu ya, belom kenyang ya sayang" kataku mengajak chyma yang sedang menyusu dipangkuanku berbicara.
Chyma hanya hanya mengerjapkan matanya dan tangannya berusaha menggapai hidungku.
"pagi sayaang... pagi anak papa...." sapa bima ketika dia baru datang dari lari pagi, kebiasaan bima setiap hari libur kerjanya, maklumlah seorang polisi harus tetap menjaga kondisi dan bentuk tubuhnya agar tetap prima.
" pagiiiiii papa.... " kataku sambil menirukan suara anak kecil serta melambaikan tangan chyma ke arah papanya, tapi chyma tak bergeming, tetap asik menyusu padaku.
"duh seriusnya anak papa mik cucunya, sampe ga noleh papanya dateng" kata bima sambil mencium chyma.
"ikh... bauk keringet, mandi dulu sana" usirku.
"baau begini juga kamu tetep cinta..." goda bima sambil menoel daguku.
" apaan sih...." kataku menepis tangan bima.
"assalamualaikum........" suara dari luar memberi salam.
"waalaikumsalam...." jawabku dan bima berbarengan.
"bukain gih sayang, aku lagi nyusuin chyma nih" kataku.
"iya...." jawab bima sambil melangkah kearah pintu.
__ADS_1
Lama tak ada suara,
"siapa yang datang sayang?" tanyaku penasaran.
"saya mbak..." kata bulan yang tiba tiba muncul.
"bulan?? ngapain kamu kesini?" tanyaku dengan ekspresi kaget..
"saya kesini mau meminta hak saya" jawab bulan datar.
"hak? hak apa?" tanyaku bingung karena setahuku bima sudah mentransfer gaji terakhir bulan, berikut dengan bonusnya meski dia hanya sebentar bekerja pada kami.
"hak atas anak yang aku kandung sekarang!" lanjut bulan masih dengan ekspresinya yang datar.
"anak? kamu hamil?trus hubungannya sama kita apa?" tanyaku mulai curiga apalagi bima hanya diam terpaku ditempatnya.
"tanya aja sama suami kamu mbak" kata bulan lagi.
"sayang, apa maksudnya ini?" tanyaku mengalihkan pandangan pada bima yang diam terpaku.
Bima hanya diam, tak mampu berkata kata...
"kenapa mas bima diam?? kalo mas bima ga bisa jelaskan, biar saya yang jelaskan!" ucap bulan.
" apa yang harus dijelaskan bulan? cepet katakan, ga usah bertele tele!" kataku makin penasaran.
Aku berdiri dan membawa chyma ke kamar, meletakkannya di box bayi karena chyma sudah tertidur setelah kenyang minum ASI.
"aku sedang mengandung anaknya mas bima mbak" kata bulan.
"apaa???" kataku benar benar terkejut dengan apa yang bulan katakan barusan.
"iya mbak, aku sedang mengandung anaknya mas bima dan aku mau mas bima bertanggung jawab atas perbuatannya" kata bulan lagi sukses membuat airmataku luruh.
Aku berjalan kearah bima melewati bulan yang sedang memegang perutnya yang mulai membuncit.
"bim, apa bener yang bulan bilang??" tanyaku pada bima sambil mengguncang guncang bahunya.
Bima tak bergeming, dia hanya menunduk,
"bim, kamu liat aku, kamu jujur bim...." kataku mulai menangis dengan keras.
"maafin aku sayang, aku juga ga tau apa yang terjadi"
" apanya yang ga tau??"
Bima lalu menyodorkan sebuah foto kepadaku, terlihat bima sedang tidur di samping bulan, mereka sedang berpelukan tanpa busana dan hanya tertutup selimut tebal.
Aku langsung ambruk di depan bima,
"kenapa bisa begini bim?? kenapa bim??" teriakku.
"malam itu setelah mbak liat aku sama mas bima diruang tamu, aku berniat memberi selimut untuk mas bima di kamarnya dan setelah itu entahlah semuanya terjadi begitu cepat" kata bulan menjelaskan.
__ADS_1
"berarti itu 3 bulan yang lalu?? kenapa kamu diam selama ini bim??" kataku menatap tajam kearah bima.
"memang pagi sebelum aku menemukan kamu kesakitan saat itu, aku sempet bertengkar dengan bulan karena ketika aku bangun, bulan tidur di sampingku, tapi aku yakin tidak terjadi apa apa di antara kita, jadi aku memilih tidak menceritakannya padamu" bima bercerita sambil menangis.
"lalu sekarang apa bim??" tanyaku.
"kamu bilang ga terjadi apa apa, tapi kenapa sekarang dia hamil??"
"cukupppp........." tiba tiba ummi berteriak, sepertinya ummi sudah datang daritadi sehingga tau masalah yang sedang kami bicarakan.
"ummi...." kataku hampir berbarengan dengan bima dan langsung menoleh ke arah ummi.
"ummi percaya sama bima.. ummi tau bima bagaimana... dan kamu chy, kamu harus percaya sama suami kamu, dia ga akan berbuat sehina itu" kata ummi.
Aku hanya diam dan menangis,
"dan kamu bulan, jangan seenaknya menuduh bima sehina itu, jangan harap kamu bisa menyamakan kejadian seperti ini dengan novel novel fiksi!" bentak ummi.
Bulan tak bergeming, wajahnya nampak pucat,
"mak... maksud ummi apa?" tanya bulan tergagap.
"kamu jangan pura pura bodoh bulan, kamu sengaja kan mau menghancurkan rumah tangga bima dan echy, jangan harap kamu bisa berhasil!" gertak ummi.
Sungguh pemandangan yang langka, ummi yang biasanya lemah lembut, ternyata bisa marah dan menyudutkan oranglain juga. aku hanya melongo tak percaya dengan apa yang aku lihat,
"kalo memang benar itu anak bima, saya mau kamu melakukan tes DNA sekarang juga untuk membuktikannya" tantang ummi pada bulan.
Bulan nampak terkejut dan syok mendengar ucapan umminya bima,
"apa kamu berani untuk tes DNA bulan??" tanya ummi lagi sambil memicingkan matanya kearah bulan yang nampak khawatir.
"arghhhhh...... !!!???" teriak bulan tiba tiba.
"yaaaa... memang benar ini bukan anak bima, tapi aku mencintai bima!" kata bulan frustasi.
Plakkk.....
Aku bangun dan menampar bulan, sakit hati karena kelakuannya yang hampir saja merenggut kebahagiaan rumah tanggaku.
"bisa bisanya kamu mencintai suami orang, kalo kamu memang perempuan baik baik, kamu ga akan pernah merebut suami oranglain!" sungutku.
"aku sangat mencintai bima mbak, aku mohon relakan aku menjadi istri bima, walau hanya jadi istri kedua"
"apa kamu sudah gila?? aku ga akan rela berbagi dengan perempuan manapun apalagi kamu!" kataku semakin emosi, hampir saja aku menjambak rambut bulan jika saja bima tak menghalangiku.
"kamu pergi dari sini bulan, sebelum saya laporkan kamu ke polisi karena berusaha menipu kami!" kata ummi tegas.
" aku ga akan menyerah untuk mendapatkan kamu bima" kata bulan lalu bergegas pergi.
Aku menghambur ke pelukan ummi, mencari ketenangan, ummi mengelus puncak kepalaku dengan penuh kasih sayang membuatku makin terisak.
Sedang bima hanya duduk termangu,
__ADS_1