Realita Cinta

Realita Cinta
Try Again


__ADS_3

Rasa minderku mulai berkurang setelah bertemu dengan ummi dan abinya bima, mereka baik sekali padaku, tak banyak bertanya tentang latar belakangku karena mereka hanya mau tau tentang aku yang sekarang saja.


" saya boleh kan antar jemput kamu kerja setiap hari?" tanya bima, kali ini bima mengajakku kencan di malam minggu karena semenjak kenal dengannya, aku tak pernah sekalipun menikmati malam minggu bersamanya.


" he em" jawabku sambil menganggukkan kepala.


" irit banget jawabnya, lagi diet bicara ya?" candanya.


"biariiiin.... wekkkk" kataku sambil mencibirnya.


kamipun kembali tertawa bersama.


"kita mau kemana bim?" tanyaku ketika mobilnya sudah melaju meninggalkan halaman rumahku


"muter muter aja, kamu maunya kemana?" jawab bima malah balik bertanya.


"ga tau.. terserah kamu aja deh" kataku.


"ya udah kita muter muter dulu sambil mikir tujuan selanjutnya" katanya menyarankan.


"ashiaapppp komandan" kataku sambil memberinya hormat, sama seperti yang dilakukan rekan rekannya jika bertemu dengan bima yang notabene sebagai atasan mereka.


" kayaknya sudah siap nih jadi ibu bayangkhari" godanya.


"hahaha...." aku hanya tertawa lepas.


"kenapa ketawa?" tanya bima heran.


" ya gapapa, apa aku harus nangis supaya kamu ga heran???" jawabku sambil meliriknya.


"ya jangan... saya ada, hanya untuk buat kamu bahagia bukan nangis" katanya lagi, sungguh kata kata sederhana tapi cukup membuatku blushing.....😊😊😊😊


Sekian lama berputar putar, bima menghentikan mobilnya di sebuah cafe.


"ayo turun, kita makan, saya lapar"ajaknya seraya keluar dari mobilnya.


Dengan tergesa, bima membukakan pintu mobilnya untukku.


"ga usah dibukain bim, aku bisa sendiri"kataku melihatnya sedikit ngos ngosan, takut terlambat membukakan pintu untukku, sungguh manis si bima ini.


"gapapa kok, saya mulai terbiasa melakukan ini untuk kamu" katanya sambil tersenyum.


"terbiasa?? berarti sudah banyak donk yang pernah kamu bukain pintu??" kataku berniat menggodanya.


"bukan begitu, saya mulai akan membiasakan diri maksudnya" jawabnya menjelaskan, takut aku salah paham dengan bahasanya.


"ohhhhh kirain....." jawabku menggantung kata kataku sendiri.


" kirain apa? jujur aja, kamu perempuan pertama yang naik ke mobil saya selain ummi" katanya.


Aku merasa tersanjung jadi yang pertama ada di dalam mobil ini, bersamanya, polisi gagah nan tampan.


Kamipun memilih duduk di meja pojokan untuk menghindari keramaian, karena malam minggu begini, biasanya cafe ini sangat ramai pengunjung.


Ketika sedang asyik menunggu pesanan kami datang, tiba tiba saja pandanganku terpaku pada objek di depanku, ada diaz dan keluarganya sedang makan malam bersama, aku mulai salah tingkah, aku harus menyapa dulu atau pura pura tak melihat mereka, bimbangku dalam hati.


"kamu kenapa? kok tiba tiba pucet gitu wajahnya?? kamu sakit?" tanya bima khawatir

__ADS_1


" eng.... gakk kok bim, aku gapapa" kataku dengan terbata sedang tubuhku mulai tak bisa diam karena panik melihat diaz dan keluarganya ada di cafe yang sama denganku. entah apa yang membuatku panik.


Bima menatapku aneh, melihatku dengan sikap yang berbeda dari yang tadi.


Bima mulai menyelidik, mengikuti arah pandangku yang tak lepas memandang diaz dan keluarganya.


"kamu kenal sama mereka?" tanya bima kemudian.


"haaaahhh?? kenapa bim?" jawabku sambil menoleh kearahnya sebentar lalu tertunduk.


"coba kamu lihat saya sebentar, saya tanya, kamu kenal sama mereka?" tanya ulang bima.


Aku tertunduk lagi tanpa melihat bima, aku takut, aku hanya mencebik cebik ujung taplak meja di depanku, lalu dengan sekuat tenaga berusaha menjawab pertanyaan bima,


"iyaaa....." jawabku dengan lesu.


"kalo saya boleh tau, mereka siapa? kenapa kamu berubah panik begini setelah melihat mereka??" tanya bima mulai penasaran.


"tapi kamu janji ya, jangan marah" kataku sambil menatap bima dengan puppy eyes ku.


"iyaa saya janji, buat apa saya marah? kan saya sudah janji buat nerima kamu dengan segala masa lalu kamu" jawabnya menenangkanku.


" makasih ya bim.... sebenarnya mereka itu mantan calon mertuaku dan laki laki yang disana itu, mantan tunanganku" kataku sambil menunjuk kearah diaz.


"jadi?? kamu mau menyapa mereka??" tanya bima hati hati.


"aku ga tau bim.. aku ga punya masalah dengan keluarganya, aku hanya malas bertemu dengan diaz" jawabku.


"kenapa kamu malas? apa kamu masih menyimpan perasaan sama dia?" tanyanya lagi.


"ya enggak lah... aku sekarang kan sukanya sama kamu" jawabku spontan.


Aku yang merasa keceplosan, langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku sendiri.


"apaaaa?? saya mau denger sekali lagi, boleh kamu ulang kata katamu yang barusan?" kata bima senang.


"ikhhh... kamu ya... aku malu tauk..." jawabku kesal.


"ngapain juga harus malu?? saya kan calon suami kamu!plis, sekali aja, kamu ulang lagi kata kata yang tadi biar hati saya tenang" kata bima memohon.


"gakk...." jawabku mencebikkan bibirku.


hatiku semakin dag dig dug tak karuan kala mendengar kata " calon suami" dari mulut bima.


" ya sudah, saya ga mau maksa.." kata bima menyerah.


Aku iba melihatnya kecewa, tapi dia berusaha menampilkan wajah yang biasa saja meskipun jauh di lubuk hatinya kecewa dengan sikapku, agar aku tetap merasa nyaman.


"aku.... suka, sayang dan cinta sama kamu, bima sena atmadja" kataku spontan lalu menutup wajahku dengan kedua tangan karena malu.


Bima berbinar mendengar ucapanku barusan.


"makasih yaaa... kamu mau nerima perasaan saya" katanya masih dengan wajahnya yang berseri seri.


Aku membuka wajahku yang tertutup tangan, dan tersenyum manis kepadanya.


"jadi sekarang saya sudah resmi memiliki kamu ya??"lanjutnya.

__ADS_1


"resmi memiliki? emangnya aku barang??? "jawabku.


"maaf kalo saya salah kata, saya benar benar ga tau caranya bicara romantis" katanya malu malu.


Di tengah gemuruh perasaan yang sedang menggebu, sebuah suara memanggil namaku.


"echy...." aku berusaha mencari arah sumber suara tersebut.


Ternyata mama diaz yang memanggil, mama melihatku yang duduk di pojokan, tapi mama tak melihat keberadaan bima, karena terhalang pilar penyangga atap cafe.


Aku menghampiri keluarga tersebut, setelah ijin kepada bima terlebih dahulu tentunya.


"assalamualaikum ma, pa, mbak nana dan diaz" sapaku sambil menyalami papa dan mama diaz secara bergantian.


"waalaikumsalam sayang, mama kangen, lama ga ketemu" jawab mama sambil mencium kedua pipiku.


"sini duduk dekat mama, mama kangen sekali sama kamu" kata mama lagi sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. akupun menurutinya.


Diaz tampak senang melihatku, entah apa yang ada dalam pikirannya.


"kamu sama siapa kesini?" tanya diaz membuka suara.


"sama bima" jawabku tanpa menjelaskan siapa bima sebenarnya.


"siapa bima? temen kantor? atau gebetan baru?" tanya diaz lagi, sepertinya dia mulai penasaran, terbukti matanya mulai mencari cari sosok bima, ditempatku tadi sedang duduk.


Aku mengacuhkan pertanyaan diaz, dengan mengobrol kembali dengan mama diaz, aku merasa tak perlu menjawab petanyaannya karena itu memang bukan urusannya.


"ya udah kalo gitu ma, kapan kapan kita lanjut lagi ngobrolnya, echy ga enak ninggalin bima lama lama sendirian" pamitku pada mama.


"sebenernya mama masih kangen, tapi ya sudah, lain kali janji ya kamu main kerumah" sahut mama diaz.


"insyaAllah ma" jawabku sambil mencium punggung tangan kedua orangtua diaz.


" maaf ya bim lama, tadi masih ngobrol sama mama sebentar" kataku dengan takut takut, khawatir bima marah karena kelamaan menunggu.


" gapapa kok, saya ngerti" jawabnya sambil tetap tersenyum menunjukkan bahwa dirinya tak masalah di tinggal sendirian barusan.


**********


" alhamdulillah akhirnya sampe juga, makasih yaa kencan malam minggunya" kata bima setelah sampai di depan rumahku.


" iya sama sama, aku juga seneng banget malem mingguan sama kamu" jawabku dengan antusias masih di dalam mobilnya.


Bima menatapku dengan intens, dia menatapku dalam, aku mulai menghentikan senyumku, heran dengan tatapan bima kali ini.


Semakin lama, wajah bima semakin mendekat ke wajahku, aku hanya diam dengan ekspresi yang bingung, kami saling menatap sejenak.. lalu.... cuph.... bima mengecup bibirku sekilas.


Aku terhenyak dibuatnya dan hanya bisa diam mematung diposisiku sekarang.


Bima terlihat salah tingkah, dia menyisir rambutnya dengan kasar,


"maafin saya, saya khilaf, saya ga bisa kontrol perasaan bahagia saya setelah kamu mau nerima perasaan saya" katanya padaku dengan nada khawatir.


Sedang aku yang masih terpaku, hanya menganggukkan kepala pelan.


"sekali lagi maaf ya, saya ga bemaksud melecehkan kamu" lanjutnya lagi.

__ADS_1


" gapapa, aku ga merasa dilecehkan dan aku suka...." jawabku lalu langsung keluar dari mobilnya dengan setengah berlari masuk ke dalam rumah, aku malu dengan perkataanku barusan.. entah apa tanggapan bima tentangku sekarang dan bagaimana ekspresi wajahnya mendengar kata kataku barusan, memalukan, batinku.


*vote dan likenya donk readerrsss.....


__ADS_2