
"makasih ya chy, udah percaya sama aku, dengan mau nerima aku sebagai pacar kamu, aku janji ga akan pernah kecewain kamu dan bakal terus usaha supaya kamu selalu seneng, bahagia di samping aku" kata diaz sambil mengenggam kedua tanganku.
Aku mulai tersentuh dengan segala ucapan manis diaz, aku hanya bisa mengangguk mendengar semua janji janji manisnya. semoga memang manis hasilnya semanis ucapannya padaku.
"katanya mau berangkat, udah gih berangkat sana, hati2 di jalan ya, kalo udah sampe, langsung kabari aku ya" kataku ketika diaz mengantarkanku pulang kerumah.
"hmmm... aku masi pengen disini sebenernya, sama pacar baru aku.." kata diaz sambil nyengir kuda.
"tapi..... aku harus berangkat supaya sampenya ga kemaleman disana" lanjutnya lagi.
"ya udah, ga usah sedih gitu, aku jadi berat kan di tinggalin kamu.." jawabku dengan wajah di tekuk.
"kamu baik baik ya disini, ga boleh nakal, inget sudah ada aku di hatimu!" kata diaz pura pura galak.
"okeeee tuan buciiin!" kataku menggodanya sambil menjulurkan lidah lalu tertawa melihat ekspresi wajah diaz.
"iyanih, bucin pendatang baru, di dunia echy, sahabat yang berubah jadi pacar, pacar kesayangan" katanya menoel daguku berusaha menggodaku.
"gombal!" jawabku sambil menepuk pelan lengannya, dan wajahku yang sudah pasti bersemu merah mendengar gombalan dari diaz.
1 bulan, 2 bulan, 3 bulan berlalu.....
Begitu hangat hubunganku dengan diaz yang dulunya sahabatku, sekarang berubah status menjadi pacar, tanpa terasa sudah 3 bulan berlalu...
Diaz menepati janjinya, seminggu sekali dia pulang dari kota tempatnya kuliah, hanya untuk bertemu denganku di sela libur kuliahnya.
Yas, itu lah panggilan sayang yang diaz kasih buatku.. katanya yas itu kebalikan dari kata say, karena say sudah lumrah, dia sengaja mengubahnya menjadi yas, spesial untuk memanggilku.
tring....
kuraih hape di saku seragam kerjaku,
sms dari diaz,
"udah pulang kerja yas?"
balasanku,
"ini baru keluar mall, mau langsung pulang"
tak berselang lama, diaz sms lagi,
"kalo jalan noleh noleh napa, masak ga sadar pacarnya ngejemput"
setelah membaca sms terakhir dari diaz, sontak aku langsung menoleh dan menyapukan pandanganku ke seluruh sudut, mencari sosok diaz, sosok bucin yang aku rindukan.
pandanganku berhenti setelah menemukan sosok yang aku cari, diaz dengan manisnya duduk di atas sepeda motornya, lengkap dengan ransel di punggungnya.
aku langsung berlari menghampirinya, senang bukan kepalang.. bukan cuma kali ini diaz pulang tanpa memberi kabar, setiap ada kesempatan dia selalu memberiku kejutan kejutan manis yang membuat aku makin sayaang dan cinta kepadanya...
"kamu kapan dateng?kok ga bilang2 sih yank?"kataku dengan wajah berbinar binar.
"baru sampe, langsung kesini buat jemput kamu yas, ini masih lengkap" jawab diaz sambil menunjuk ransel yang ada di punggungnya.
"ya udah yuk, makan dulu ya, kamu pasti belom makan kan yas?"lanjut diaz menerka nerka
"ayuukkk..." masih dengan wajah berseri seri, senang dengan kehadirannya yang tiba2..
Setelah selesai makan, kita berbagi cerita.. kini kita sudah duduk di depan teras rumahku yang sederhana.
aku dan diaz tak pernah menutupi apapun keadaan kami, kami selalu berusaha menghindari rahasia di antara hubungan kami.
"yas, mamaku mulai suka nanya, kenapa aku rutin pulang seminggu sekali!" kata diaz memulai obrolan.
"trus kamu alasan apa ke mamamu yank?" tanyaku.
"ngapain pake alasan segala yas, ya udah aku jawab jujur aja, kalo aku punya kewajiban pulang buat ketemu sama calon menantunya" jawab diaz enteng sambil mengunyah martabak manis yang kita beli tadi sepulang makan.
"ikh kamu yank! bisa2nya jawab gitu!" kataku bersemu malu tapi ada rasa bahagia mendengar kata calon menantu dari diaz.
Sejauh itukah pikiran diaz tentang hubungan kami ini?? ahhhh... aku pasrahkan kepadaMu ya Rabb..
__ADS_1
"besok ikut kerumah ya yas, ketemu sama mama papa" ajaknya tiba tiba.
Dengan susah payah aku menelan salivaku, saking groginya dengan ajakan diaz barusan.
"ketemu mama papamu?besok?" tanyaku dengan perasaan khawatir.
" ga usah berlebihan gitu deh yas, mau besok atau kapanpun, kan memang kamu patutnya ketemu sama mereka..aku serius sama km yas, jadiin kamu yang terakhir dan selamanya di hatiku" kata diaz menenangkanku, karena diaz tau aku khawatir.
"tapi apa harus besok yank? ga kapan2 gitu?" tawarku.
"lebih cepet lebih baik yas!" kata diaz dengan mantapnya.
Hari semakin larut, diaz pamit pulang padaku dan ibuku, yaa... selama kami pacaran, diaz selalu berusaha mendekatkan diri pada ibu, berusaha akrab dan mengambil hatinya dan ku akui,usahanya terbilang sukses, ibuku sangat welcome dengan kehadiran diaz sebagai kekasihku.
Setelah di dalam kamar, aku hendak bercerita kepada ibuku tentang diaz yang mengajakku bertemu dengan kedua orangtuanya besok.
"bu, besok diaz ngajak aku buat ketemu sama orangtuanya, gimana menurut ibu?" tanyaku hati hati.
"ya bagus kan nak, berarti diaz serius sama kamu sampe mau ngenalin kamu ke orang tuanya" jawab ibu
"ya... tapi aku masih ragu bu, ragu apa mereka mau nerima keadaanku yang begini...aku minder, diaz anak kuliahan, sedang aku cuma seorang pramuniaga" lirihku pada ibu, mukaku tertekuk sempurna.
"jangan mikir yang aneh aneh dulu sayang, belom juga ketemu" jawab ibu menenangkanku.
"ya udah, tidur yuk, udah larut ini, besok kamu masuk pagi kan..." ajak ibu
cit cit cuiiiitt.....
terdengar suara kicauan burung, dan seberkas sinar menerpa penglihatanku, ternyata sudah pagi, aku sengaja bangun agak siang, karena beberapa hari ini aku menstruasi, tak bisa menunaikan ibadah sholat shubuh.
"hoaaammm..." aku menguap lebar sambil menggerak gerak kan badanku,
"cepetan mandi chy, diaz sudah nungguin tuh di depan" kata ibu
Kata kata ibu, sukses membuat aku terkejut di pagi hari, diaz? dia sepagi ini sudah dirumahnya?
Aku bergegas ke ruang tamu, mendapati diaz sudah rapi dengan pakaian santainya, celana jeans pendek selutut dan kaos putih nevada yang serasi membuatnya setingkat lebih tampan. diaz duduk santai diruang tamu, sambil menyeruput capucinno kesukaannya.
"yank, kamu ngapain pagi2 udah ada disini?" tanyaku sambil menghampirinya, aku tak malu dengan penampilan bangun tidurku, aku sudah terbiasa tampil apa adanya di depan diaz.
"mau nganter kamu kerja yas" jawabnya santai sambil main game di hapenya.
"udah buruan mandi, kamu dandannya lama, ntar telat lagi" katanya lagi, mengibas ngibaskan tangannya seolah mengusirku untuk segera beranjak ke kamar mandi.
Aku sudah segar dan wangi setelah mandi dan sedikit berdandan... ibu dan adikku pun sudah berangkat ke tempat kerja dan sekolahnya..
Tinggal aku yang belom berangkat, karena jam kerjaku dimulai jam 9 pagi.
setelah selesai, aku duduk di samping diaz yang masih setia dengan hapenya.
"main apa sih yank, kayaknya seru banget" kataku sambil melirik hapenya sekilas.
melihatku duduk disampingnya, diaz langsung meletakkan hapenya di meja.
daaan cup....cup...
tiba tiba diaz mencium kedua pipiku, aku hanya melongo kaget dengan perlakuan diaz.
diaz berhasil membuat wajahku makin merona sepagi ini..
aku tertunduk malu sambil mengusap pipi bekas ciuman diaz.
"morning kiss yas" katanya sambil tersenyum manis.
"curang" jawabku sambil menepuk lengannya.
diaz hanya terkekeh melihatku salah tingkah.
"masih jam 8 nih, masih ada setengah jam lagi buat santai, mau sarapan?" tawar diaz kemudian.
"gak, aku sudah minum susu tadi, lumayan kenyang" jawabku
__ADS_1
" ya udah santai aja dulu disini kalo gitu" kata diaz lagi.
Berduaan dengannya masih saja berhasil membuat detak jatungku berdetak lebih kencang meskipun sudah beberapa bulan pacaran.
"yas..." panggil diaz, dengan suara yang agak berbeda.
"hmmm..." sahutku sambil mengutak atik hapeku sendiri untuk mengalihkan rasa grogiku.
"maaf lancang, aku boleh cium kamu?" katanya hati hati, dengan suara yang masih terdengar aneh di telingaku.
pertanyaannya sukses membuatku terbelalak kaget,
"barusan kan udah" jawabaku berusaha santai.
"bukan cium pipi yas..." suara diaz mulai serak dan parau
"terus?? " tanyaku lagi pura pura tenang.
"cium bibir, boleh?" lirihnya lagi
Aku langsung menegakkan dudukku, kaget dengan permintaan diaz.
tanpa menunggu jawabanku, diaz mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan aku hanya bisa diam dan mulai memejamkan mata...
kyaaaa,, kenapa pake merem segala sih nih mata, otomatis banget...
Diaz mulai ******* bibirku dengan lembut, bibir diaz yang sedikit tebal, terasa begitu kenyal dibibirku, tangan diaz mulai menyentuh tengkukku memperdalam ciumannya, tanpa sadar akupun mulai mengalungkan tanganku di lehernya..
beberapa saat berciuman, membuatku serasa sesak karena kehabisan stok udara, aku melepas paksa ciuman diaz dan menghirup oksigen dengan rakus setelah tautan bibir kami terlepas...
Ini ciuman bibir pertamaku dalam hidup, ciuman pertama di hubungan kami yang sudah berjalan 3 bulan lebih.
Diaz menatapku sambil tersenyum, dia mengusap bibirku yang basah oleh salivanya.
"makasih yas,,,, love you" katanya
aku cuma bisa mengangguk pelan dalam tundukan kepalaku, speechless dengan apa yang terjadi barusan.
senang bercampur malu jadi satu yang aku rasakan saat ini.
"udah setengah 9, yuk berangkat yas, takutnya dijalan macet" ajak diaz dengan santainya seolah tak terjadi apa apa barusan.
"oooohh iya" jawabku yang hanya bisa ber oh ria.
"bentar, aku ambil tas dulu ya yank" lanjutku sambil berlalu menuju kamarku.
Di kamar, aku berusaha meredakan debaran jantungku yang serasa mau copot, ku elus dadaku pelan untuk menenangkan, setelah lebih tenang, aku keluar kamar dan siap berangkat.
"ayuk yank berangkat" ajakku
Diaz menoleh ke arahku dan beranjak dari kursinya dan cup....
Lagi lagi diaz mengecup sekilas bibirku tanpa melumatnya.
"Ya udah yuk berangkat" katanya.
Aku masih terpaku sendiri dalam lamunanku setelah diaz mengecup ringan bibirku barusan.
"ayok yas, entar telat loh" ulangnya lagi.
Akupun bergegas mengikuti langkah diaz, keluar rumah dan menguncinya.
15 menit kemudian aku sudah sampai di mall tempatku bekerja,
" yas, jaku jemput ntar pulangnya ya, sekalian kerumahku, ketemu papa mama" kata diaz mengingatkan.
" iya yank" jawabku singkat, aku sedikit khawatir dengan pertemuan nanti malam dengan kedua orangtua diaz.
" santai aja yas, mereka baik kok" kata diaz lagi setelah melihat kekhawatiran di wajahku.
Aku mengangguk pelan dan berjalan masuk menuju loker kerjaku.
__ADS_1