
Hanya sehari itu saja diaz pulang, lalu dia kembali sibuk dengan kuliahnya, terhitung sudah dua minggu berlalu sejak dia memberi kejutan dengan kepulangannya saat itu.
Hanya Dean yang rajin mendatanginya, bahkan hampir setiap malam dean berkunjung kerumah echy, hanya sekedar untuk mengobrol dengan pujaan hatinya tersebut.
Yaap,,,, dean sekarang sudah lulus kuliah, dia lulus istimewa karena hanya menempuh masa kuliah selama 3 tahun saja, echy tak kaget karena mulai duduk di bangku sekolah otaknya memang sudah encer dan dia selalu mendapat juara kelas setiap semesternya.
Setelah kelulusannya, dean belom berpikir untuk bekerja atau melanjutkan studi S2 nya, sepertinya dean masih fokus untuk mendapatkan cinta echy kembali.
Untuk waktu, dean jauh lebih banyak waktu untuk menemani dan bertemu dengan echy dibanding dengan diaz yang mulai menyusun skripsinya yang menyita banyak waktu dan dia harus rela menahan rindu berminggu minggu tak bertemu dengan echy, sang calon istri.
Tapi di sela kesibukannya, diaz tak pernah lupa untuk menanyakan kabar echy entah lewat telepon atau hanya sekedar sms saja.
"sayaaaang..." isi sms diaz
"iyaaaa....sayaang" balas echy singkat, entah echy merasa enggan ber sms ria dengan diaz.
"lagi apa?" isi sms diaz yang berikutnya.
"sama kaya biasanya" balasan echy.
"kamu marah ya yas?" diaz lanjut mengirimkan sms kepada echy.
"ga kok, sorry ya, aku lagi sibuk nih" balas echy lagi.
Lalu terdengar handphone echy berbunyi, sepertinya diaz masih tak puas dengan jawaban echy, hingga akhirnya diaz memutuskan untuk menelpon echy.
Echy yang enggan berbicara dengan diaz, mengabaikan handphonenya yang masih saja berdering.
"mbak echy, hapenya bunyi loh" kata desy, temen sekantorku.
"biarin aja des, aku lagi males ngomong, hehe" jawabku sambil tersenyum masam.
Memang saat ini adalah jam istirahat sehingga para karyawan di ijinkan untuk menggunakan handphone mereka masing masing.
"bunyi terus lho mbak echy, aku jadi gatel pengen ngangkat" kata desy lagi.
__ADS_1
"biarin ajjaaa desss.... ntar juga berhenti sendiri" sahutku cuek sambil membuka kotak makanku.
Lalu aku makan dengan tenang tanpa menghiraukan handphoneku yang entah berapa kali diaz menghubunginya.
Sore ini dean menawarkan diri untuk menjemputku ke kantor, bukan menawarkan sih tapi lebih memohon kayaknya sehingga echy mengiyakan saja tawaran dari dean tersebut.
Pukul 4 sore, karyawan berhamburan keluar untuk segera pulang, ada yang membawa sepeda motor, ada yang bersepeda santai ( ini yang rumahnya deket deket kantor ) bahkan ada yang membawa mobil, tak sedikit yang berjalan kaki menuju halte, karena mereka lebih memilih menggunakan bus untuk berangkat dan pulang kantor.
Sedang aku tetap berdiri di dekat pos jaga satpam menunggu jemputan dari dean, tak butuh waktu lama, dean segera muncul dengan mobilio putihnya.
Dia keluar dari mobilnya dan menghampiriku,
"udah lama nunggunya? " tanya dean padaku yang sedang berdiri bersedekap dada, sambil memainkan heels sepatuku.
"ga, baru aja keluar" jawabku santai lalu berjalan menuju mobil milik dean.
Dean dengan sigap membukakan pintu mobilnya, akupun segera masuk karena masih ada beberapa karyawan yang melihat ke arahku sehingga membuatku merasa sedikit canggung.
Sejenak tak ada obrolan di dalam mobil, akupun melihat ke arah luar jendela, menikmati suasana sore yang padat merayap dengan kepulangan para pekerja yang rata rata hampir sama jam kepulangannya.
"boleh" jawabku singkat.
Dean tersenyum sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.
Tak lama mobilnya berbelok ke warung bakso langganan kami dulu sewaktu masih sekolah.
tempatnya masih sama, tidak banyak yang berubah, hanya karyawannya saja yang terlihat tak sama, mungkin sudah ganti semua, batinku.
"gapapa kan cuma makan bakso??" tanya diaz kemudian, sambil menggeserkan kursi untukku duduki.
"iyaa... kebetulan aku juga pengen makan yang pedes pedes" jawabku sumringah, aku memang sedang ingin bertempur dengan rasa pedas.
"udah lama lho aku ga kesini, sejak kita putus dulu" kata dean membuka obrolan.
"oh ya? aku juga jarang banget kesini" jawabku.
__ADS_1
"kenapa? kata kamu bakso disini enak banget?" tanya dean penasaran.
"males aja, takut keinget kamu" jawab echy seadannya.
"segitunya ya ga mau nginget aku, sampe kesinipun kamu ga sudi" kata dean sambil terkekeh.
"ya harus lah, supaya bisa cepet move on! berat lho di tinggal pas lagi sayang sayangnya" jawabku sambil tersenyum kecut.
" iya iyaa maaf, aku memang bener bener bodoh waktu itu, maaf kalo aku udah egois" kata dean mencoba meraih tanganku yang ada di atas meja.
"aku kan udah bilang, aku udah maafin kamu jadi ga perlu di bahas lagi, oke?" kataku sambil menarik tanganku, menjauh dari tangan diaz yang mencoba menggenggam tanganku.
Akhirnya makanan dan minuman pun datang...kami makan dalam diam, sesekali aku mengipas ngipaskan bibirku yang panas karena sambal dengan tangan.
"pedes banget ya?" tanya dean yang melihatku seakan kebingungan karena pedas.
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
Lalu dean beranjak dari kursinya, menuju lemari pendingin, mengambil sekotak susu cair, dan di berikan kepadaku.
"katanya susu bisa netralin rasa pedas yang luar biasa" kata dean, sambil memberikan susu cair kotak yang telah di beri sedotan kepadaku.
Tanpa menjawabnya, aku langsung mengambil susu cair tersebut dari tangan dean dan segera meminumnya.. dan yaaa... memang benar, rasa pedas di bibir dan lidahku mulai berkurang.
Aku sedikit baper dengan perhatian perhatian kecil dari dean, aku mulai sedikit membuka hati menerima kehadirannya kembali.
"ya udah pulang yuk" ajak dean setelah kami menghabiskan semuanya.
"yukk...." jawabku sambil bangun dari kursiku.
Lagi lagi dean dengan sigap membukakan pintu mobilnya untukku, aku hanya tersenyum melihat sikap manisnya.
Tanpa aku sadari ada sepasang mata yang melihat keakraban kami berdua dengan rasa tidak senangnya.
Mohon vote dan likenya readers....
__ADS_1
saran dan kritik sangat membantu author untuk menjadi lebib baik lagi, terima kasih...