Realita Cinta

Realita Cinta
"Sesuatu"


__ADS_3

Dalam adat istiadat di daerahku, setelah pihak keluarga pria melamar, keluarga pihak wanita akan membalas lamarannya seminggu kemudian.


Itupun berlaku di keluargaku.. seminggu setelah lamaran dari keluarga diaz, giliran keluargaku bertamu kerumahnya.


Untuk acara lamaranku ini, aku mengajak malika dan keluarganya, selain aku tidak punya banyak keluarga, kebaikan keluarga malika membuatku ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka.


Aku mengundang keluarga malika, mereka sangat antusias menerima undanganku.. malika yang sedang menempuh kuliah perawatnya pun, berusaha pulang untuk menghadiri acara penting dalam hidupku ini.


"InsyaAllah sabtu depan, aku udah dirumah chy, aku belain pulang loh demi kamu, karena sekarang lagi sibuk2nya jadwal kuliahku" kata malika lewat sambungan telepon.


"makasihhh zheyeeenkkk dah dibelain" jawabku.


Seminggu kemudian.....


"mobilnya udah dateng belom? yang kita sewa kemaren dir?" tanya ibu kepada dirga, adik laki lakiku satu satunya.


"belom bu, paling bentar lagi juga dateng" jawab dirga sambil duduk di teras depan menanti mobil yang kami sewa untuk pergi menuju rumah diaz.


"bu, malika sama keluarganya udah dateng" kataku pada ibu.


Ibu berjalan dengan tergesa menuju ke depan rumah untuk memyambut keluarga malika.


"assalamualaikum" kata umik malika.


"waalaikumsalam, maaf bu haji kalo undangan saya merepotkan" kata ibu sambil menyalami umik malika.


"saya malah tersinggung kalau sampe ga di kabari bu" kata umik malika membalas jabatan tangan ibuku.


"monggo silahkan masuk, mari pak haji, malika, masuk dulu" kata ibuku mempersilahkan.


"apa ga langsung berangkat bu?" tanya pak haji daud, abahnya malika.


" masih nunggu mobil rental pak haji, belom dateng" jawab ibuku sambil menyuguhkan cemilan di atas meja ruang tamu sedangkan aku langsung ke dapur untuk membuatkan mereka minuman.


"kok ndak bilang sama saya, masih ada mobil nganggur dirumah bu" sahut pak haji daud.


"maaf sekali pak haji dan terimakasih banyak sebelumnya, saya ga mau merepotkan pak haji dengan bu haji terus" jawab ibuku.


"ibu jangan ngomong begitu, echy ini sudah saya anggap seperti anak saya sendiri sama dengan malika, kami tidak membedakannya bu" kata umik malika.


"sayangnya echy menolak ketika saya tawari untuk melanjutkan kuliahnya, karena ingin segera bekerja katanya" sambung umik malika lagi.


Memang setelah lulus sekolah, umik menawariku untuk kuliah di tempat yang sama dengan malika, tapi aku menolak dengan halus dengan alasan ingin bekerja saja. aku hanya tak ingin menambah beban umik, karena aku tahu, kuliah jurusan keperawatan, membutuhkan biaya yang besar.


Akhirnya mobil rental yang kami sewa sudah datang lengkap dengan sopirnya dan tak lupa paman dan bibiku turut serta dalam lamaran ini.


Kamipun bergegas berangkat menuju rumah diaz,


Butuh waktu 20 menit untuk sampai ke tujuan, setibanya kami semua di sambut hangat oleh kelurga diaz dan beberapa tetangganya.


"akhirnya sampe juga, ke gubuk sederhana kami ini, ya bu?" kata papa diaz membuka pembicaraan.


"bapak terlalu rendah hati, terima kasih atas sambutannya yang luar biasa bapak ibu diaz" kata ibuku menimpali.


Acarapun berlangsung dengan lancar, aku berfoto dengan diaz, keluarganya, keluargaku dan keluarga malika, aku tak menyewa jasa fotografer, melainkan malika yang mengabadikan semuanya dengan kamera canon miliknya.


Beberapa jam telah berlalu, saatnya kami berpamitan,


"terima kasih atas sambutannya, jamuannya luar biasa enaaak" kata ibuku.


"kami juga berterima kasih atas kehadirannya, semoga menjadi penyambung tali silaturahmi ya" sahut papa diaz.


"aamiin, semoga acaranya berlanjut ke jenjang berikutnya" kata umik malika.


Kami semua tertawa bahagia.


Sesampainya dirumah..

__ADS_1


"auwww,,, sakit chy" pekik malika setelah ku lempar dengan buah pinang.


"sakit demi kebaikan" kataku sambil nyengir.


Aku sengaja melempar malika dengan buah pinang dalam seserahan lamaranku.


Kata orang dulu, melempar dengan buah pinang dari seserahan lamaran, membuat orang yang terkena lemparan segera menyusul dilamar seseorang.


"semoga cepet nyusul yaa zheyeenkkk" kataku sambil memeluk malika.


"ish nyusul apaan, pacar aja ga punya" sahut malika.


"ya orang ngelamar, ga harus pacaran kan" jawabku.


Para keluarga hanya tersenyum melihat tingkah kami berdua.


Resmi sudah statusku sebagai tunangan dari seorang Diaz Jaya Gunawan, seorang mahasiswa tekhnik sipil.


Akupun kembali pada rutinitas sehari hariku... bekerja bekerja dan bekerja... sedang Diaz sudah kembali ke kota Y, kegiatan kuliahnya benar benar menyita waktu, sehingga diaz hanya bisa pulang 2 minggu sekali, itupun hanya pulang sehari saja.


Akupun tak berniat menyusulnya ke kota Y, bukannya aku tak ingin, tapi aku hanya tak mau mengganggu diaz dengan kehadiranku, diaz tak akan membiarkanku pulang sendiri dari kota Y dengan menggunakan bus.


Sehingga aku mencari alasan untuk menolak ajakan diaz, untuk mengunjunginya di kota Y.


"yasss...kangeeeen....kamu ga pengen main kesini?" rengeknya seperti anak kecil.


Kami berbincang melalui handphone.


"aku ada outbond yank minggu ini, maaf ya" jawabku, kali ini aku tidak beralasan, karena memang benar kantorku mengadakan outbond di kota sebelah.


"ishhh.... kamu ga kangen sama aku ya? malah lebih milih ikut outbond" kata diaz lagi, masih dengan nada suara yang manja.


"ga da yang lebih penting selain kamu sayang, tapi ini tuntutan pekerjaanku, mau ga mau aku harus ikut peraturan yang ada" jawabku dengan nada yang halus.


"ckkkk...." diaz berdecak tanpa berbicara.


"janji ya setelah ini, kamu kesini, puas puasin kangen kangenan" jawab diaz kemudian.


"aku janji sayang..." jawabku sambil tersenyum, meski diaz tak bisa melihatnya.


"ya udah sayang, aku tutup dulu teleponnya ya?? udah malem, cepetan istirahat, aku juga besok harus berangkat pagi" lanjutku untuk segera


mengakhiri sambungan telepon kami.


"iya iyaaa calon istri kesayangan" jawabnya lalu mematikan handphonenya.


Suatu malam, bibi yana menghubungiku, ini pasti sesuatu yang penting, karena jarang jarang bibi menghubungiku lewat telepon, kalau kangen biasanya bibi yana datang kerumah.


"hallo assalamualaikum bi" kataku menjawab panggilan telepon dari bibi yana.


"waalaikusalam chy, kamu sibuk ga?? bibi mau bicara" sahut bibi yana dari seberang sana.


"ga kok bi, ini cuma rebahan aja di kasur, memangnya ada apa bi? kayaknya penting banget sampe nelepon segala" jawabku mulai penasaran.


"gini, kemaren ada dean datang kerumah bibi dan dia nanyain kamu, bibi ceritain aja semuanya, bibi bilang kalo kamu sudah tunangan sama diaz" jelas bibi panjang lebar.


Deg.....


Perkataan bibi barusan berhasil membuat jantungku berpacu dengan cepat, mendengar nama dean, cukup membuat mukaku panas, mengenang kisah cinta kami dahulu.


"halo, chy... tidur kamu?" kata bibi yana lagi karena tak mendengar jawaban dariku.


"eh enggak bi, echy cuma kaget aja, ngapain dean nyari aku ya bi?" tanyaku pada bibi yana.


"mana bibi tau, dia minta no hape dan alamat rumahmu, udah bibi kasih kan, maaf ga ijin kamu dulu karena dean sedikit maksa mintanya" jawab bibi yana.


" gapapa kok bi" jawabku sekenanya.

__ADS_1


"ya udah, bibi cuma mau bicara itu aja, bibi tutup teleponnya ya, salam sama ibumu" kata bibi yana mengakhiri panggilan teleponnya.


Di suatu malam...


tring... tring...


Suara hapeku berbunyi, ada sms masuk dari nomor tak bernama, begini isi smsnya,


"assalamualaikum chy, apa kabar? ini aku dean"


Aku terbelalak setelah membaca isi sms tersebut, ternyata nomor tak bernama itu adalah nomor hape milik dean.


Aku berusaha tenang dan segera membalasnya,


"waalaikumsalam, alhamdulillah kabarku baik dean, kamu sendiri gimana kabarnya?"


Kami terus ber sms ria sampe larut.


Dean berniat untuk bertemu denganku, entah apa tujuannya datang lagi ke kehidupanku.


Dean datang kerumahku, setelah aku mengijinkannya untuk datang, dean datang dengan mengendarai mobilio putih.


Awalnya aku tak tahu, siapa yang datang kerumah dengan membawa mobil mobilio putih, setelah yang mengendarainya keluar, baru aku tahu jika itu mobil milik dean.


Dean keluar dari mobilio putihnya, wajahnya tak banyak berubah, hanya penampilannya yang menjadi lebih modis membuatnya jadi lebih tampan,mungkin karena sudah jadi anak kuliahan.pikirku.


Aku sempat terkesima dibuatnya, namun segera kutepis pikiran itu, aku mengingat wajah diaz, lelaki kesayanganku.


Kami mulai berbincang ringan, saling bertukar kabar setelah sekian lama tak berjumpa.


"kamu lebih cantik dan feminim sekarang chy" kata dean.


" kamu juga tambah ganteng" jawabku sambil tertawa garing.


" kata bibi yana, kamu kerja di bank TNT ya?" tanya dean.


"iya, tapi sebelumnya aku kerja di Mall XX" jawabku singkat.


"aku boleh sering sering main kesini ga?" tanya dean kemudian.


"loh bukannya kamu masih kuliah ya dean?di luar pulau kan?" tanyaku heran.


"iya aku masih kuliah, tapi kalo aku lagi disini, aku boleh main kesini?" tanyanya lagi.


"hmmm bukannya ga boleh sih, tapi aku harus ijin dulu sama diaz" jawabku.


"kamu tau kan tentang aku sama diaz?" lanjutku bertanya.


"iya tau chy, tau dari bibi yana..." jawabnya lesu.


"aku ga enak hati nemuin kamu tanpa diaz, karena sekarang aku sudah terikat dengan diaz" kataku pada dean.


Hening sejenak....


"apa aku masih punya kesempatan buat balikan sama kamu chy?" kata dean tiba tiba.


" maksud kamu apa dean?" tanyaku bingung.


"aku masih sayang sama kamu chy" katanya lagi.


"hah..." kataku terperangah dengan pengakuan dean.


"kamu sakit ya? sudah jelas kamu tau, aku sama diaz sudah tunangan, kamu malah nanya kesempatan sama aku, mana ada kesempatan lagi dean" kataku


"lagian kenapa kamu baru muncul sekarang, dulu dulunya kemana? dan dulu juga kamu yang mutusin aku, sekarang tiba tiba minta balik lagi??" lanjutku dengan nada suara sedikit tinggi, sepertinya emosiku mulai terpancing.


*sekali lagi, minta likenya reader, vote juga yaa.. koment dan share... koment membangun sangat membantu author, menjadi lebih baik lagi...

__ADS_1


__ADS_2