Realita Cinta

Realita Cinta
Di Lema


__ADS_3

Kehadiran dean yang secara tiba tiba saja sudah membuat aku terkejut dan bingung, di tambah lagi dengan pernyataannya kemaren yang ingin menjalin hubungan kembali denganku. aku masih tidak mengerti kondisi saat ini, kenapa diaz bisa berubah setelah sekian lama menghilang, membuat pertanyaan tanpa jawaban berkecamuk di dalam hatiku.


"chy, jujur selama ini aku berusaha ngelupain kamu, tapi semakin aku usaha,semakin susah aku membuang semua kenangan manis tentang kamu" kata dean.


"kamu terlalu sempurna untuk aku hapus dari ingatanku" lanjut dean lagi, kali ini dia bersimpuh di hadapanku yang sedang duduk di teras depan rumahku.


"eh kamu jangan kayak gini donk, ga enak diliat orang" kataku sambil menarik dean untuk duduk kembali di kursinya.


"aku serius chy..." kata dean lagi.


"hmmmm...." kataku, aku bingung harus berkata apa.


Hening.......


"diaz, kapan pulang? aku perhatiin, diaz jarang pulang ya?" kata dean memecah keheningan di antara kami.


Memang di akhir semester kuliahnya, diaz sedang sibuk sibuknya KKN dan menyusun skripsi, udah hampir sebulan ini diaz tak pulang.


Meskipun sangat sibuk, diaz tak pernah lupa untuk menghubungiku setiap harinya, sekedar bertegur sapa dan saling menceritakan kegiatan masing masing.


Tak jarang diaz menyuruhku untuk menyambanginya ke kota Y tempatnya kuliah, tapi dengan alasan sibuk, aku selalu menolaknya... aku hanya tak ingin mengganggu diaz, kedatanganku hanya akan memporak porandakan pikirannya, saat ini yang dia butuhkan hanya fokus agar semuanya selesai sesuai dengan harapan.


"iya udah hampir sebulan ini diaz ga pulang, ini semester akhirnya" jawabku.


"pantesan, sudah 2 minggu aku kesini, aku ga pernah ketemu dia sekalipun" kata dean.


"aku harap kamu ga ketemu diaz dirumahku" kataku.


"kenapa? kamu takut?" tanya dean padaku.


"ya jelas takut lah, aku takut diaz salah paham akan kita secara kamu adalah mantan aku" jawabku sedikit ketus.


"maafin aku chy, aku yang salah, aku yang bikin kamu jadi mantan aku, seandainya aku ga sebodoh dulu, mungkin kita masih sama sama sampe sekarang" jelasnya dengan suara yang sedikit bergetar.


"aku udah maafin kamu kok dean, bukan salah siapa siapa, mungkin Allah tak mentakdirkan kita bersama" jawabku dengan suara normal kembali.


"apa aku sudah benar benar kehilangan kesempatan untuk balik sama kamu lagi chy?" tanyanya penuh harap.


"kali ini aku yang minta maaf dean, maaf aku ga bisa, aku sudah terikat janji dengan diaz dan aku sangat mencintai diaz" jawabku sambil menatapnya.


Di saat menatap wajah dean, kulihat bulir bening mulai membasahi ujung matanya, dean menangis, batinku.

__ADS_1


"dean, kamu kenapa? kok nangis?" kataku lagi sambil menghampiri dean di kursinya. jujur aku sedikit panik melihatnya meneteskan airmata.


Dean menyeka airmatanya dan menatapku dalam,


"ini airmata penyesalan chy, seumur hidup, ini lah penyesalan terbesarku, melepas orang yang sangat aku cintai" jawab dean sambil terus menyeka kasar airmata di wajahnya.


Aku mengusap lembut punggung tangannya yang satu lagi berusaha menenangkannya.


"jangan sesali yang sudah terjadi dean, setidaknya bisa jadi pelajaran buat kita untuk lebih baik ke depannya" kataku berusaha menenangkan dean.


"iya...." jawabnya singkat dengan suara khas orang habis menangis.


Malam ini, pikiranku melayang layang mengingat sikap dean, bahkan dean menangis di hadapanku, apa sebegitu menyesalnya dia sampai sampai dia harus meneteskan airmata di depanku?


tululut..... tululut.....


Handphoneku berbunyi, diaz meneleponku, ku angkat dengan sedikit malas, pikiranku sedang tak menentu.


"hallo sayangku......" suara diaz dari seberang sana.


"hallo sayang" jawabku datar.


"kamu kemana aja?? ga da sms apalgi nelpon?" tanya dean.


"hmmm..sampe lupa sama calon suaminya" kata diaz merajuk.


"kamu juga sibuk kan?? kamu juga lupa, biasanya suka sms duluan" jawabku.


"maaf yas, tadi aku di jalan dan handphoneku lowbat, aku ga sempet charge baterainya" kata diaz.


"kamu lagi apa yas? kok suara kamu kedengeran lesu gitu? ada masalah?" lanjutnya.


Inilah diaz, selalu mengerti tentang kondisi hatiku meski hanya dengan mendengar suaraku saja,


"gapapa yank, mungkin cuma ngantuk aja" jawabku berharap bisa menghindari pertanyaan diaz.


"kamu udah ngantuk? yah....padahal aku masih kangen pengen ngobrol sama kamu" katanya terdengar lesu.


"ya udah deh, kamu tidur gih kalo udah ngantuk, besok aku telepon lagi, love you, miss you calon istri" lanjut diaz lagi.


"ya sayang, love you" jawabku lalu mengakhiri panggilan teleponnya.

__ADS_1


Setelah mengakhiri sambungan telepon dari diaz, aku jadi merasa bersalah pada diaz, aku telah menyakitinya dengan sikap cuekku.


Lalu aku mencoba menghubungi diaz lagi,


"sayaaaang...." kataku setelah diaz menerima panggilan telepon dariku.


"apa sayang?? kenapa telepon lagi? katanya ngantuk?" tanya diaz heran.


"gapapa yank, aku masih kangen sama kamu, maafin aku tadi ya?" kataku mulai terisak, entah kenapa aku ingin menangis.


"maaf buat apa sayang, kamu ga salah kok, aku tau kamu pasti capek setelah kerja seharian" jawab diaz.


Sungguh, diaz terlalu baik dan pengertian, dia tak pernah sekalipun tersinggung ataupun marah dengan sikapku yang suka berubah ubah karena mood.


"maaf tadi udah cuekin kamu, padahal aku kangen banget sama kamu" jawabku dengan suara bergetar, yap aku mulai menangis.


"kamu nangis yas?? jangan nangis sayang, aku kepikiran jadinya" sahutnya dengan nada khawatir.


"nangis bentar kok yank, aku cuma terlalu kangen sama kamu jadi mewek begini" kataku.


"maaf ya yas, aku belom bisa pulang tapi aku janji bakal pulang secepatnya" kata diaz lagi.


"iya sayang, maaf ya kalo aku terlalu banyak nuntut kamu" kataku.


"ga kok yas, ya udah kamu tidur ya, udah malem banget ini, besok kesiangan loh" kata diaz setengah becanda.


Akupun mulai tersenyum mendengar suara candaannya, diaz memang selalu bisa menenangkan hatiku.


"ya udah, sweet dream sayang..." kataku sambil mengakhiri sambungan telepon.


"bonne nuit yaa calon istri, jangan lupa mimpiin calon suami ya, emmmmuach" kata diaz sebelum sambungan telepon benar benar terputus.


Aku tersenyum mendengar ucapannya yang terakhir dan hatiku jauh lebih tenang setelah meneleponnya kembali.


Penat ini, berkutat seharian di tempat kerja, dan letih pikiran ini, karena kehadiran dean kembali.. seakan membuat tubuhku dua kali lebih ringkih, sehingga malam ini aku terlelap lebih cepat dari biasanya menuju alam mimpi..mimpi yang indah....


*Pendek yaaa chapter yang ini?? hehe, maaf.. tadinya author udah buat yang panjang, lupa ga ke save akhirnya hilang di telan bumi... 😊😊😊


mohon saran dan kritiknya readers....jangan lupa like dan vote ya... terimakasihhh...


salam sayang auhor...

__ADS_1


Lovely Gek😘


__ADS_2