Realita Cinta

Realita Cinta
Konflik


__ADS_3

Memang salahku, sedari awal tak menceritakan tentang kehadiran dean kembali. Diaz mendiamiku, sampai dia kembali ke kota Y pun diaz tetap mendiamiku bahkan tak berpamitan kepadaku, memberi kabarpun tidak.baru kali ini diaz bersikap begitu padaku,selama hampir 4 tahun menjalin hubungan, tak pernah sekalipun diaz marah atau mendiamiku seperti sekarang, aku benar benar takut dan tersiksa.


Aku sudah berusaha menghubunginya dan meminta maaf padanya, ternyata dia belom memaafkanku, tak semudah seperti yang aku bayangkan.


Jadi begini rasanya di marahi orang yang tak pernah marah sama sekali, gumamku.


Satupun smsku tak digubrisnya... aku benar benar kehilangan kehadiran diaz yang selalu ada di setiap saat aku membutuhkannya.


Dua minggu berlalu begitu saja, keadaan tak berubah sedikitpun, bahkan aku merasa hubungan kami menjadi renggang. aku tak patah semangat, aku akan berusaha mendapat maaf dari diaz.


Aku melihat postingan mbak Nana di akun sosmednya, mbak nana sedang makan dengan diaz dirumahnya, ternyata diaz pulang kerumahnya tanpa memberi tahuku, hatiku benar benar sakit, se fatal itukah kesalahanku???


Sepulang kerja, aku tak langsung pulang kerumah, aku berniat kerumah diaz.


Aku menuju rumah diaz dengan menggunakan bus, sesampai di gang rumah diaz, aku sengaja menghubungi diaz supaya menjemputku, ternyata diaz lagi lagi tak menjawab teleponku.


Aku berjalan kaki menuju rumahnya, aku berjalan cepat agar lekas sampai, karena hari semakin sore. kakiku sampai lecet karena berjalan cepat dengan menggunakan sepatu berhak tinggi.


"Assalamualaikum" kataku sambil mengetuk pintu rumah diaz.


"waalaikum.... salam" sahut diaz dari dalam, dia bergegas keluar dan membuka pintu tapi setelah melihat aku yang datang, diaz segera putar balik dan masuk ke kamarnya.


Hatiku benar benar hancur dengan sikap diaz, aku ingin pulang sebenarnya setelah melihat diaz barusan, tapi mama diaz keburu keluar dan menemuiku.


"hallo sayang, lama ga kesini... mama sampe kangen...." kata mama diaz sambil mencium pipi kanan dan kiriku. akupun mencium punggung tangannya.


"iya ma... belakangan ini sedikit sibuk, menjelang musim tanam petani, banyak pencairan di kantor ma" jawabku.


Tak lama kemudian, papa diaz pun bergabung dengan kami, kami mengobrol cukup lama, aku celingukan melirik kamar diaz, tapi si empunya kamar tak kunjung keluar dari kamarnya.


"kalian kenapa?" tanya mama diaz kemudian.


"gapapa ma, cuma masalah kecil aja" jawabku sambil menunduk, sebenarnya aku ingin menangis tapi aku tahan.


"selesaikan nak, jangan saling diam diaman begini" kata papa diaz.


"echy dah coba pa, tapi kayaknya diaz masih marah sama echy" jawabku mulai menangis.


"tetap usaha nak, jangan biarkan masalah berlarut larut, papa tahu diaz sangat sayang padamu" kata papa diaz berusaha menenangkanku.


Aku terus menangis, mama merengkuhku untuk memberikan ketenangan.


Aku menangis sesenggukan, diaz tetap tak bergeming dari kamarnya, akupun mulai menyerah menghadapi sifatnya yang keras.


"maa, paaa, kalo gitu echy pamit pulang dulu ya" kataku setelah puas menangis.


"kamu yakin mau pulang tanpa bicara sama diaz?" tanya mama diaz.


Aku hanya menganggukkan kepala sambil membersihkan wajahku yang berantakan karena menangis dengan tissue yang diberikan mama diaz.


"papa anter chy" kata papa diaz.

__ADS_1


"ga usah pa, echy naik taksi aja" jawabku cepat, aku tak mau merepotkan papa diaz.


"bahaya pulang sendirian, ini udah malem" kata mama diaz.


"insyaAllah aman maa, kalo gitu echy pulang dulu ya" pamitku pada kedua orangtua diaz.


"yasudah.... kalo gitu kamu hati hati ya, telepon mama atau papa kalo ada apa apa di jalan" kata mama lagi.


"iyaa maaa, assalamualaikum" jawabku sambil mencium tangan papa dan mama diaz secara bergantian.


Aku pulang dengan pikiran kacau, hatiku benar benar sakit karena diaz tetap cuek padaku meski aku datang kerumahnya,dia tak menemuiku sama sekali.


Aku menangis di dalam taksi....rasanya aku ingin menyerah saja, membiarkan keadaan membaik dengan sendirinya. toh aku sudah berusaha memperbaiki semuanya...


Aku mulai terbiasa tanpa diaz, dean pun sudah aku larang untuk menemuiku lagi, aku hanya tidak ingin memperkeruh masalah antara aku dan diaz, dean mengerti akan keputusanku, dia menuruti kemauanku untuk tidak menemuiku sampai masalah benar benar clear.


Hari hariku terasa hampa tanpa diaz tapi aku berusaha melewati semuanya..mungkin sekarang diaz fokus untuk skripsinya,jadi aku memakluminya.


**********


Malam minggu......


Sepertinya aku butuh sedikit penyegaran otak, batinku.


Aku mengajak dirga jalan jalan ke mall sekedar cuci mata dan makan, dirgapun mengiyakan ajakanku.


Sesampainya di mall, dirga mengajakku ke sebuah tempat permainan, sejam kami habiskan untuk bermain, aku sedikit terhibur... karena lelah aku mengajak dirga istirahat di cafe.


"kak, liat deh yang di meja pojokan, kaya kak diaz ya" kata dirga sambil menunjuk ke arah pojokan.


Seketika airmataku luruh melihat diaz tertawa senang dengan perempuan lain.


Tak kuasa dengan semua yang aku lihat, aku menghampiri diaz di mejanya,


"diaz..." panggilku ketika sudah dekat dengan mejanya, aku tak peduli dengan wajahku yang kusut karena menangis.


Diaz menoleh ke arahku, dia tampak kaget sejenak, lalu kembali dengan wajah datarnya.


"apa?" jawabnya dengan suara datar.


Lalu seperti tak senang dengan kehadiranku, diaz melanjutkan obrolannya dengan perempuan di hadapannya tersebut.


"siapa dia diaz? temen kamu?" kata perempuan yang bersama diaz sambil menoleh ke arahku.


"iya, temenku" jawab diaz singkat tetap dengan wajah dan suaranya yang datar.


Hatiku seperti di sayat sayat mendengar jawaban diaz, yang mengatakan aku hanya "TEMAN" baginya.


"ouh, kalo gitu sini duduk, kita gabung aja" kata perempuan itu lagi.


"ga perlu win, lagian kayaknya dia mau pulang" sanggah diaz sambil melihatku sekilas.

__ADS_1


"ouh iya, makasih sebelumnya, tapi memang aku sudah mau pulang kok" jawabku tersenyum kecut seraya meninggalkan mereka berdua.


Aku kembali menangis sepanjang perjalanan pulang sedangkan dirga hanya terdiam melihatku, dirga tak berani bertanya.


Sesampainya dirumah, aku langsung masuk kamar dan menguncinya, aku menangis sepuasnya meluapkan segala sakit hatiku.


Selang beberapa hari, keadaan hatiku mulai membaik, aku bertekad bangkit dari keterpurukan, kalo begini terus, lama lama aku bisa gila, batinku.


**********


Minggu ini, kantorku mengadakan outbond di kota Y, dan lokasinya tepat di kampus tempat diaz kuliah. kenapa harus disana sih, batinku.


Kalau saja tak bersifat wajib, aku tak akan mau mengikuti outbond ini, aku malas jika harus bertemu dengan diaz, aku sudah terlanjur sakit hati dengannya. walau aku masih tunangannya secara resmi tapi sikapnya selama sebulan ini dan kejadian terakhir ketika aku melihatnya bersama perempuan lain di mall membuatku merasa sudah bukan apa apa lagi baginya.


"akhirnyaaa... sampe jugaaa.... memang kampus yang luar biasaaa ya mbak echy" kata desy teman sekantorku.


"iyaaa..." jawabku sambil turun dari bus pariwisata kami.


"eh iya, bukannya mas diaz kuliah disini ya mbak chy?" tanya desy lagi.


"iyaa..." lagi lagi aku menjawab singkat pertanyaan desy, membuat desy heran dengan sikapku.


"mbak echy kenapa sih, kaya ga semangat gitu?" tanya desy heran.


"aku sedikit pusing des, di bus tadi ga bisa tidur gara gara anak anak pada karaokean" jawabku beralasan.


"oh kirain kenapa" kata desy lagi.


"oiya mbak, kata bu GM nanti juga ada acara pengenalan Bank TNT kepada mahasiswa, kita di minta ambil bagian untuk menyampaikan salam perkenalan" lanjut desy.


"aihh... aku ga mau ah, malu ngomong di depan mahasiswa" jawabku.


" siapa yang malu?" kata suara dari belakangku.


Aku kaget ketika berbalik, aku melihat bu GM bersedekap dada menatapku.


"eh anu itu bu..." kataku terbata saking kagetnya dengan kehadiran bu GM yang tiba tiba.


"semua sudah dapat tugas masing masing untuk sesi perkenalan" kata bu GM dengan tegas.


Aku dan desy hanya mengangguk.


Aku melihat daftar pembagian tugas setelah acara outbond berakhir, aku kebagian tugas dengan Tama, teman dari kantor cabang, untuk melakukan sesi perkenalan ke kelas mahasiswa tingkat akhir.


Tama yang katanya mirip siwon, sang aktor korea bintang iklan mie instan, aku cukup mengenalnya karena memang tama cukup terkenal di kalangan karyawati bank TNT.


"yukk chy, kita ke lokasi.. biar cepet kelar" ajak Tama.


"ayoook... aku juga pengen cepet kelar nih, seragamnya gerah" jawabku.


Memang sesuai perintah bu GM, di sesi ini, kami di suruh berganti pakaian menggunakan seragam kerja kami, biar lebih formal katanya.

__ADS_1


Sesampainya diruangan mahasiswa tingkat akhir, mataku tertuju pada meja pojok belakang...sejenak aku terpaku melihat orang yang duduk disana.......


*jangan lupa like dan vote yaaa reader, mohon di bantu supaya author lebih semangat update....😊😊😊


__ADS_2