
Walau bima pernah berkata, akan menerimaku dengan segala kekurangan dan masa laluku, tapi ceritaku cukup membuatnya syok... dia pulang tanpa berkata apapun padaku, aku tak mencegahnya, aku tak berusaha menahannya, karena aku tau, yang dia butuhnya hanya waktu sendiri, untuk memikirkan dan meresapi semuanya sebelum melangkah ke pelaminan.
yaaaaap... minggu depan adalah hari pernikahanku dengan bima, entah akan terjadi atau tidak, hanya bima dan Allah yang tau.
Aku hanya bisa menangis dalam doa, berharap yang terbaik dari Allah.
Sikap diaz kemaren benar benar diluar prediksiku, aku tak menyangka dia bisa menggunakan cara yang kotor untuk membuatku kembali padanya, dan bahkan sekarang aku membencinya, padahal awalnya aku hanya sakit hati tanpa membencinya.
"ya Allah cobaan apalagi ini???"gumamku sendiri di dalam kamar.
"pertama dean, lalu diaz, apakah bima juga akan meninggalkanku???" lirihku dalam kamar yang temaram.
Sudah 2 hari bima tak menghubungiku, aku mulai mencoba mengikhlaskannya.. memasrahkannya kepada Allah.. mungkin memang belom takdirku untuk menikah. batinku.
"duh calon manten, kok murung gitu sih mukanya??" goda tama saat di kantor.
"entah aku jadi nikah ato ga tam" jawabku sambil menerawang ke langit langit kantor.
"kok kamu ngomongnya gitu chy?? ada apa?" tanya tama heran.
"ada sedikit masalah tam, sudah dua hari ini aku ga berhubungan dengan bima" ceritaku pada tama.
"meskipun aku ga tau masalahnya, tapi aku doain semoga semua masalah di antara kalian segera selesai dengan baik chy, dan apapun yang terjadi kedepannya, semoga menjadi yang terbaik buat kalian" kata tama mendoakan.
"tapi biasanya memang ada aja masalah di setiap niat baik chy, percayalah semuanya akan baik baik saja" lanjut tama berusaha menenangkan hatiku .
"makasih tam, kamu selalu bisa menenangkan hatiku, makasih sudah jadi penasehatku" kataku sambil menepuk nepuk bahunya.
"sama sama, tapi ga pake nepuk keras keras juga kaliiii, sakiiiiit tau!" sahut tama tersenyum kecut merasakan sakit di bahunya.
Aku tertawa melihatnya, aku sedikit terhibur dengan kelakuan tama, yang belum lama ini menjadi sahabat baikku.
"nanti pulang kantor, makan yuk, itung itung menghibur diri" ajak tama.
"okee... aku lagi pengen makan bakso setan" jawabku menerima ajakan tama.
"haduh ampun deh chy kalo bakso setan, aku yang biasa aja... aku ga tahan pedas" tolak tama.
"ah.... cemen" kataku sambil memberinya acungan jempol kebawah.
"biarin, daripada aku sok berani trus ujung ujungnya jadi penunggu wc" jawab tama mengacuhkan ejekanku.
********
"pak, bakso setan satu, bakso biasa satu sama jeruk hangat dua ya" kata tama memesan bakso stasiun favorit kami.
"yaelah beneran takut kamu tam?" ejekku.
"yeaaaaahhhh" jawab tama singkat.
__ADS_1
Aku hanya terkekeh mendengar jawabannya.
"tambah bakso biasanya satu lagi pak"seru seseorang dari belakangku.
Aku dan tama menoleh ke arah suara, ternyata itu suara bima dan mulai mengambil posisi duduk di sebelahku.
Aku dan tama hanya diam dan saling memandang, benar benar tak menyangka dengan kehadiran bima.
"hai brooo... kok tau kita lagi disini?" kata tama memecah keheningan di antara kami.
"tadi niatnya jemput calon bini, trus lihat kalian pulang bareng, ya udah saya ikutin, ehh ternyata mampir kesini" jawab bima dengan santainya.
apa katanya? calon bini?? ga salah denger aku??apa dia sudah ga marah? tanyaku dalam batin.
"hahaha... nih bro, ada yang galau, katanya ga dihubungi pujaan hati selama dua hari, jadinya agak stres stres gimana gitu, ya udah aku ajakin aja kesini" terang tama.
Aku menyikut tama yang ember,
"ishhhhh mulai deh emberrrr..." kataku memberengut kesal pada tama.
Bima terkekeh melihatku,
"jadi maksudnya,ada yang kangen tapi gengsi mau hubungin duluan?"goda bima, melirik ke arahku.
Aku jadi tambah salah tingkah dengan godaan bima, aku hanya celingukan pura pura memandang keadaan sekitar.
"baksonya dateng.... mariiiikkk makan" kata tama.
"eeeee ..... gak gak... aku ga kuat makan bakso setan, balikin" jawab tama, sambil merebut kembali mangkok miliknya.
"biar saya aja yang makan, kamu makan bakso saya" kata bima sambil memberikan mangkok baksonya padaku sedang tama tampak sudah melahap bakso di mangkoknya.
"ga usah, kamu kan ga kuat pedes" kataku menolak mangkok bakso milik bima.
"gapapa, demi kamu.... daripada kamu ga mood makannya" kata bima melembut.
"oh gooodd.... so suweeeeeekkk bangeeet yaaaaa, betapa malangnya aku berada di antara dua orang yang lagi jatuh cinta, ngeness" kata tama.
Aku dan bima hanya terkekeh mendengar banyolan tama.
Aku makan dengan tenang, sedangkan bima yang tak kuat pedas, makan dengan perlahan, tanpa sadar minumnya lebih banyak daripada makannya.
"uhukkk...uhukkk" bima terbatuk, sepertinya dia kepedesan.
"pedes banget ya?"kataku sambil menepuk pelan tengkuknya.
"sedikit" jawabnya singkat, keringat mulai bercucuran membasahi wajah dan seragamnya.
Aku merasa bersalah melihatnya, akupun beranjak dari kursiku menuju lemari pendingin dan aku mengambil sekotak susu putih.
__ADS_1
"nih minum, pedesnya bakal cepet ilang" kataku sambil memberikan bima susu kotak yang ku ambil tadi.
Tanpa lama, bima langsung menyeruput susu kotaknya, wajahnya lebih rileks, kayaknya rasa pedasnya berangsur menghilang setelah minum susu.
"alhamdulillah...." lirihnya.
Aku hanya tersenyum melihatnya, tersenyum bahagia dengan perhatiannya dan lebih bahagia lagi karena dia sudah kembali setelah dua hari menghilang tanpa jejak.
"alhmdulillah kenyang..." kata tama setelah menghabiskan baksonya.
"chy, aku pulang duluan ya, berhubung sudah ada bima, kamu pulang sama bima aja ya" pamit tama.
"eh tapi....." kataku.
"biarin dia pulang, kamu biar saya yang antar" kata bima memutus perkataanku untuk tama.
Sepeninggal tama, tinggallah kami berdua yang terdiam karena rasa canggung, dua hari tanpa saling memberi kabar ternyata bisa merubah suasana menjadi secanggung ini dan kini hanya terdengar suara dentingan sendok garpu dari pengunjung lainnya.
"maafin saya ya, ga ngasih kamu kabar selama dua hari ini" kata bima kemudian.
"iya gapapa" jawabku malu malu.
" baru dua hari, kamu sudah berubah jadi pemalu" godanya.
Aku mencubit pinggangnya sambil mengerucutkan bibirku.
"selama dua hari ini saya tersiksa tanpa kabar dari kamu, saya sudah ga bisa jauh dari kamu walau hanya sedetik" lanjut bima.
"gombal...." jawabku.
" saya ga gombal, selama dua hari ini saya berpikir, ternyata perasaan saya lebih besar daripada rasa kecewa saya akan masa lalu kamu"
"saya sangat mencintai kamu chy" kata bima.
Aku menoleh dan menatapnya lama, melihat keseriusan di matanya,
"aku juga sangat mencintai kamu bim" ucapku sambil menangis.
"jangan pernah berpikir kalau saya akan ninggalin kamu ya, saya ga bisa hidup tanpa kamu"
"hiksss.... jujur dua hari ini aku bener bener tersiksa karena kamu menghilang bim" kataku masih tersedu.
"maafin saya, bukan maksud saya menjauhi kamu, saya hanya butuh waktu untuk memantapkan hati" ujarnya.
"will you marry me??" ucap bima tiba tiba, sambil memberikan kotak beludru berwarna biru ke hadapanku.
"kamu ngelamar aku disini bim? di warung bakso?" kataku sambil menyeka airmataku.
"kenapa? kamu ga suka?? bukannya bakso stasiun ini tempat favorit kamu dari dulu?" tanyanya.
__ADS_1
*dibantu ya readersss.... vote dan likenya...