
Aku hanya tertidur tiga jam saja, ketika bangun, sudah hampir masuk waktu shalat subuh.. aku yang sedang menjalankan ritual pernikahan, tidak diperbolehkan mandi, jadi aku hanya menbasuh muka lalu lanjut berwudhu, berniat shalat tahajud dan shalat hajat memohon kelancaran untuk acara hari ini.
Sambil menunggu adzan subuh, aku berdzikir dan khusyu' memanjatkan doa...
Tok... tok...
Setelah selesai shalat subuh, aku keluar kamar karena mendengar suara ketukan pintu, ternyata para perias sudah datang untuk meriasku dan anggota keluargaku.
Para perias datang di pagi pagi buta, meskipun acara akad akan dilaksanakan jam 9 pagi, mengingat banyaknya anggota keluarga yang akan di rias.
Sanak keluarga terdekat mulai berdatangan, keluarga malikapun sudah tiba dirumahku, suasana rumah menjadi ramai membuatku semakin bersemangat.
Tiga jam berhias dan berpakaian, akhirnya Aku keluar dari kamar pengantinku, dengan balutan kebaya putih lengkap dengan hijabnya, yaaa... hari ini aku memutuskan untuk berhijab, aku sengaja tak memberitahukan hal ini pada siapapun agar menjadi kejutan. dengan polesan make up bertema bold natural membuat wajahku terlihat berbeda, dan sangaaat cantik menurutku sendiri hehe...
Semua orang melihatku dengan takjub, bahkan malika berseru dengan lantangnya...
"subahanallah.... echy...." katanya dengan lantang, lalu menghambur ke pelukanku.
"ya Allah, kamu cantik banget, dan kamu.... berhijab??" tanya malika sambil menangis haru menatapku.
"iyaaa... aku mohon bimbingannya yaa... secara kamu kan sudah mulai kecil berhijab" kataku berusaha tak menangis, karena takut make upku berantakan lagi.
"iya.. iya... pasti chy" kata malika senang sambil memelukku lagi.
ibuku, bibi dan yang lainnya pun tak kuasa menahan tangis haru, mereka menangis bahagia melihatku berhijab dan akan segera menikah.
"semoga kamu selalu bahagia nak" kata ibu mendoakanku, lalu memelukku dengan erat,
Aku tak kuat lagi sekarang dan aku mulai benar benar menangis kali ini, dengan cepat malika menghapus airmata dari sudut mataku, agar tak merusak dandananku.
"sudah sudah... mending kita berangkat sekarang ya, takut jalanan macet" kata malika memecah keharuan yang terjadi.
Semua keluarga berangkat dengan mobil secara beriringan... sesampainya digedung, aku duduk di dalam kamar khusus, kata ibu aku ga perlu keluar sebelum acara akad nikah selesai.. tak seperti akad nikah yang ada di tipi tipi, aku tak duduk berdampingan dengan bima ketika ijab qabul di ucapkan... ini merupakan rangkaian acara pingitan katanya. jadi aku boleh keluar kamar dan menemui bima, setelah bima sah menjadi suamiku.
Aku menunggu dengan cemas di dalam kamar, sedang diluar, ijab qabul sedang di ucapkan dengan lantang dan lancar oleh bima.
"saya terima nikah dan kawinnya, Nicky Marini Eka Dewantara binti Arga Dewantara dengan emas kawin seperangkat alat sholat serta emas 50 gram dibayar tunai" ucap bima dalam sekali tarikan nafasnya.
"gimana para saksi? sah?" tanya penghulu
"sah...."
" sah..."
__ADS_1
terdengar isak tangis haru dari ibu, malika, bibi, umminya malika dan anggota keluarga lainnya.
Alhamdulillah seru mereka hampir bersamaan, mereka lalu berdoa, dan akupun ikut menangis sambil memanjatkan doa, aku mendengar dengan jelas dari dalam kamar, kejadian diluar karena jarak kamar memang dekat dengan tempat ijab qabul berlangsung.
Setelah rangkaian acara akad nikah selesai, aku di persilahkan keluar kamar dan menemui bima yang sudah resmi menjadi suamiku, aku keluar dengan hati hati, masih dengan hati yang dag dig dug derrr....hehe..
Bima berdiri ketika melihatku keluar dan berjalan kearahnya, terlihat ekpresi wajahnya yang kaget tapi tetap memancarkan kebahagiaan.
Bima menyambutku dengan uluran tangannya dan mempersilahkanku duduk di sampingnya, bima yang masih terpana dengan penampilanku yang sangat berbeda dari biasanya, hanya menatapku dengan takjub hingga seorang saksi menyadarkannya,
"nak bima, sematkan cincin di jari manis istrimu" bimapun tampak gelagapan dan segera menyematkan cincin emas bertahta berlian yang sangaat indah di jari manisku.
Akupun mencium punggung tangannya dan dia mengecup keningku lama, setelah itu dia berbisik di telingaku sekilas,
"kejutan yang luar biasa sayang, sungguh kamu terlihat lebih cantik dalam balutan hijabmu sayang" katanya sambil tersenyum dan terus menggenggam erat kedua tanganku.
"sudaaah... acaranya masih panjang, mesra mesraannya nanti aja" kata malika menggodaku.
Aku dan bima pun hanya tersenyum malu malu, kami segera menyelesaikan administrasi pernikahan dengan menanda tangani surat surat dari kantor urusan agama ( KUA ).
Resepsi yang sangat mewah menurutku ditambah lagi dengan acara dari kepolisian.. membuatku takjub karena tak terbayang sedikitpun dalam anganku bisa menggelar acara semegah ini.
🍉🍉🍉🍉🍉
Bima yang melihatku tak nyaman, menyuruhku duduk setelah tamu mulai berkurang, dia memijat mijat tanganku dengan lembut, membuat aku rileks dan tersipu malu secara bersamaan.
"makasih suami" kataku kemudian dengan senyum yang terus mengembang.
"sama sama istriku" jawab bima dengan ekspresi wajah yang sama bahagianya denganku.
Aku sangaaaaaat bahagiaaa......itulah isi hatiku saat ini, seandainya aku boleh berteriak, aku akan berteriak meluapkan semua rasa bahagia ini.
"selamat ya nakkkk" kata mama diaz tiba tiba sudah ada di hadapan kami berdua.
"semoga kamu selalu bahagia" lanjut mama diaz sambil menitikkan airmata dan memelukku dengan erat.
"aamiin, makasih maa... sudah mau hadir ke pernikahanku" jawabku yang ikut menangis.
"iya nak... sampai kapanpun, mama dan papa akan tetap anggap kamu sebagai anak mama sendiri walau kamu ga berjodoh dengan diaz" ujar mama di sela tangisannya.
"makasih maaa... oya ma, apa diaz benar benar ga datang??" tanyaku sambil menyeka airmata mama diaz.
"diaz sudah pergi nak... diaz berniat melanjutkkan S2 nya di luar negeri dan dia berangkat hari ini" jawab mama yang kembali menangis menceritakan tentang diaz.
__ADS_1
Akupun terkejut mendengar cerita mama tentang diaz yang memutuskan untuk keluar negeri, karena semalam diaz tak mengucapkan apapun tentang kepergiannya.
"semoga bahagia selalu nak" sambung papa diaz dan turut memelukku.
"aamiin, makasih pa" jawabku membalas pelukan papa diaz.
Mereka juga merangkul dan memberikan selamat pada bima, suamiku.
🍆🍆🍆🍆🍆
Akhirnya acara selesai juga dan alhamdulillah berjalan sesuai dengan ekspetasi kami, kakiku seperti mati rasa karena kelamaan berdiri, badan pegal pegal, berasa remuk, dengan tamu undangan yang luar biasa.
Ditambah lagi berganti gaun berkali kali dengan bobot yang lumayan berat, membuatku benar benar kelelahan.
Aku berjalan gontai setelah melepas gaun terakhirku dan menggantinya dengan gamis santai, hadiah dari malika.
Melihatku yang berjalan dengan malas, bima menyusulku dan tiba tiba menggendongku menuju mobil.
"duh... turunin bim, malu diliat keluarga" kataku menepuk nepuk lengan bima yang kekar.
"ngapain malu? kita sudah sah jadi suami istri sekarang" jawabnya santai.
"ya tapi ga pake acara gendong gendongan segala, malu tuh dliatin" kataku menenggelamkan wajahku didada bima yang bidang karena malu dengan tatapan beberapa anggota keluarga, tercium aroma tubuh maskulin bima yang menyegarkan. hemm... membuatku terlena sejenak.
Tanpa sadar bima sudah menurunkanku dan mendudukkanku di mobilnya.
Bimapun berpamitan pulang lebih dulu kepada semua anggota keluarga yang juga sedang bersiap untuk pulang.
"bu, ummi, abi, bima anterin echy pulang duluan ya? kayaknya echy kelelahan" pamit bima.
"iya nak, hati hati, kami juga sebentar lagi pulang" jawab ibu.
Sepanjang perjalanan, bima tak henti hentinya tersenyum sambil sesekali menatapku, dia terus menggenggam erat tanganku dengan sebelah tangannya dan tangan satunya lagi fokus memegang setir mobil.
"makasih yaaa sayang, sudah menerima saya jadi suami kamu" ucapnya.
"seharusnya aku yang berterimakasih sama kamu sayang, sudah memberikan aku kebahagiaan yang luar biasa hari ini" jawabku.
Kamipun menyusuri jalanan yang mulai sepi dan lengang karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam..
*******
*dibantu authornya yaaa readers, dengan like dan vote sebanyak banyaknya.... terima kasih.
__ADS_1