Realita Cinta

Realita Cinta
Best CoupLe


__ADS_3

Hari ini, tepat 2 tahun aku bekerja di Mall XX, itu artinya 2 tahun pula lamanya hubunganku dengan diaz.. semua berjalan dengan lancar termasuk hubunganku dengan diaz dan orangtuanya tapi tidak dengan kondisi kesehatanku.


Karena pekerjaanku yang banyak menuntut kerja keras fisik, sebulan terakhir ini, aku mulai sering sakit sakitan, diaz jadi lebih sering pulang dari tempat kuliahnya karena khawatir dengan keadaanku. Diaz menyuruhku untuk berhenti bekerja, sebagai gantinya dia rela memberikan separuh uang saku kuliahnya untuk peganganku di kala tidak bekerja, awalnya aku menolak, tapi keadaanku yang sakit memaksaku untuk menerimanya, upah ibuku tak bisa menutupi biaya berobat untukku.


Betapa luar biasa pengorbanan seorang diaz, itulah yang terpatri di batinku. beberapa bulan menghemat jatah belanja selama kuliah di luar kota, membuat diaz menjadi jauh lebih kurus dari biasanya.


Hal ini mengundang tanya pada kedua orangtua diaz,


"diaz, semenjak kamu rutin pulang, kamu jadi kurusan, kamu sakit nak?" tanya mama diaz, khawatir dengan keadaan diaz.


"ga kok mah, diaz ga sakit.. mungkin sedikit kecapean aja" jawab diaz.


"kalo capek, jangan di paksain pulang, bisa bisa badan kamu drop lagi" nasehat mama diaz.


"iya mah, aku ga maksain pulang kok, memang ga da kegiatan kuliah aja, bosen di kost trus jadi mendingan pulang, bisa makan masakan mamah" jawab diaz beralasan.


"lagian echy lagi sakit mah, dia butuh aku saat ini" lanjut diaz lagi.


"butuh gimana maksud kamu? belom juga jadi suami" kata mama diaz.


"hitung hitung belajar jadi suami siaga mah" jawab diaz sambil tersenyum.


Mama diaz hanya geleng geleng kepala, terlihat jelas dari raut wajah anaknya, kalo dia serius dengan apa yang baru saja di ucapkannya. anaknya ini ternyata benar benar menyukai echy bahkan berharap bisa menikah dengannya.


"gini aja diaz, kamu bawa echy nginep disini ya, mamah ada temen orang kesehatan, setidaknya kalo dia disini, bisa rutin berobatnya! ga mungkin kan mamah kesana tiap hari, ga enak sama pandangan tetangganya" kata mama diaz menyarankan.


"nanti aku omongin lagi mah sama echy, mudah mudahan dia mau" jawab diaz.


" ya harus mau, biar cepet sembuh, kamu harus bisa meyakinkan dia" kata mama diaz.


Di rumah Echy...


"yas, mamah nawarin supaya kamu sementara istirahat dirumahku, mamah ada temen orang kesehatan jadi bisa kontrol kamu tiap hari" ucap diaz.


"aku ga enak kalo disana yank, aku kan sakit ga bisa ngapa ngapain, ntar malah tambah ngerepotin mamah kamu lagi" jawabku dengan suara lemah.


"ini ide mamah yas, mamah juga maksain aku buat yakinin kamu supaya mau tinggal sementara dirumah aku" terang diaz.


"iya gapapa chy, kalo kamu mau disana, mungkin bisa mempercepat kesembuhan kamu" sahut ibuku yang baru datang bekerja.


"lagian kalo mamanya diaz yang datang kesini tiap hari, ga enak sama omongan tetangga nak" kata ibu melanjutkan pemikirannya.


"pikiran ibu sama dengan mamah, mamah juga mikirnya kesitu bu" kata diaz menimpali.


"jadi gimana yas?? mau ya?? kamu ga mau kan terus terusan di kasur ini??" kata diaz berusaha meyakinkanku.


Akhirnya dengan segala pertimbangan, aku menuruti keinginan diaz dan mamanya.


Dirumah diaz....


" diaz, bawa echy ke kamar kamu ya, biar dia istirahat disana, lagian kamar kamu kan ga di tempati" kata mama diaz, setelah melihat kedatangan kami.

__ADS_1


Diaz membopongku ke kamarnya.


"chy, kamu jangan sungkan sungkan disini, mamah udah anggap kamu anak mamah sendiri" kata mamah setelah kami berada di kamar diaz.


"tu yas, dengerin, ini idenya mamah lho" kata diaz menimpali ucapan mamanya.


"iya bu, terimakasih dan maaf kalo saya selalu merepotkan bapak ibu dan diaz" lirihku.


"ga ngerepotin kok yas, mamah malah seneng ada kamu disini, jadi mamah ada temennya, mamah kan sendirian, kak echa kerja, aku kuliah" kata diaz.


Echa, kakak perempuan diaz yang sudah bekerja di instansi pemerintahan kabupaten.


Beberapa hari berlalu....


Setelah membawaku kerumahnya beberapa hari yang lalu, sorenya diaz langsung pamit untuk kembali ke kota tempatnya mengeyam pendidikan. diaz merasa jauh lebih tenang kembali kesana karena echy ada di rumahnya bersama kedua orangtuanya. diaz yakin kedua orangtuanya akan merawat echy dengan baik.


Di pagi hari, mama diaz selalu rutin merendam kedua kakiku dengan air hangat yang telah di campur dengan garam, supaya racun dalam tubuh ternetralisir katanya. awalnya aku sedikit canggung dengan perlakuan mama diaz, tapi beberapa hari tinggal di rumahnya, membuat aku lebih bisa mengenal kepribadian mama diaz yang memang irit bicara tapi sangat baik dan perhatian.


Seminggu kemudian, aku merasa lebih baik dan lebih sehat. aku merasa pulih kembali seperti sedia kala.


Dan rencananya hari ini diaz akan pulang, aku lebih sumringah lagi, karena jujur saja aku sangat merindukannya, tidur di kamarnya membuat aku selalu memikirkannya.


Bangun dari tidur siang, aku di kejutkan dengan tangan yang melingkar sempurna di pinggangku, aku tidur membelakangi sang pemilik tangan. aku menoleh ke belakang dan aku melihat diaz yang tertidur pulas sambil memelukku dari belakang.


akupun sontak bangun dan terduduk di tempatku tidur sambil membelalakkan mata,


"kamu kok tidur disini diaz?" tanyaku sambil mengguncang guncang tubuh diaz. aku khawatir ada mama atau papa diaz masuk ke kamar dan melihat posisi kami yang begini, aku takut mereka salah paham dan berpikir yang bukan bukan tentangku.


Aku berusaha mendorong kepala diaz, tapi dia tidak bergeming.


"diaz jangan gini donk, ga enak diliat mama atau papa nanti" kataku cemas.


Perlahan diaz membuka matanya dan mendongak ke arahku sambil tersenyum,


"mama sama papa ga da dirumah, tadi mereka ijin keluar dan nitipin kamu ke aku" katanya sambil tersenyum smirk.


Senyuman diaz terlihat aneh bagiku, senyuman menggoda dan sedikit mesum menurutku.


Tiba tiba, diaz langsung bangun dan duduk di hadapanku, tanpa aba aba, diaz langsung mencium bibirku, aku yang tak siappun, sontak kaget dan tubuhku roboh, kembali dalam posisi tidur seperti semula.


Bukannya berhenti, diaz mulai ******* bibirku, dengan posisi tubuhnya yang berada di atasku, tangannya menggenggam tanganku karena tanganku mendorong tubuhnya untuk berhenti. beberapa detik aku menolak, selanjutnya aku mulai terbuai dengan perlakuan diaz, aku pun mulai memejamkan mata dan mengikuti permainan diaz, aku membalas ciuman hangatnya.


beberapa menit berciuman, aku melepas paksa tautan bibir kami, aku menghirup udara sebanyak banyaknya, nafas diaz semakin memburu, kabut gairah menyelimuti pandangannya.


" yas, aku kangen...." katanya dengan suara parau.


Diaz pun kembali ******* bibirku, setelah itu pindah ke area leherku, dia mencium dan menjilatnya..perlahan tapi pasti, diaz mulai membuka kancing bajuku, awalnya aku menolak dengan memegang kancing bajuku dan menggeleng keras kepalaku, aku takut mama dan papa diaz tiba tiba datang dan memergoki kami.


Diaz yang sudah tertutup kabut gairah, tak mengindahkan penolakanku. dia terus saja membuka kancing bajuku, menyingkap bra hitam penutup payudaraku, sehingga putingku yang sudah mengeras menyembul keluar, dengan semangat diaz meraup putingku, menghisap dan menjilat jilatnya, membuatku menggelinjang merasakan kenikmatan yang diaz berikan.


"akhhh... hmmmpp..." desahku.

__ADS_1


Mendengar desahanku, membuat diaz semakin gencar memainkan putingku, kini bukan hanya satu bagian, dia memainkan kedua payudaraku dengan leluasa, sesekali meremasnya membuatku semakin basah di area bawahku.


Di saat tengah asyik dengan kegiatannya, tangan diaz mulai menjulur ke bawah, meraba raba area sensitifku yang lain, dia melebarkan pahaku, dan mulai mengelus **** * ku yang masih lengkap terbungkus celana tidur dan dalaman.


Aku melenguh sambil memajukan dadaku ketika diaz meraba tepat di bagian klitorisku, lenguhanku makin keras ketika dengan lihainya tangan diaz telah masuk ke dalam celanaku, dia mulai meraba **** * ku tanpa penghalang.


Diaz mencubit cubit klitorisku, dan mengelusnya dengan sedikit kasar membuatku tidak tahan, seakan banyak kupu kupu beterbangan di bawah sana, ada sesuatu yang memaksa ingin keluar, akupun mencengkeram kuat lengan diaz dan akhhhh....... aku merasakan kenikmatan yang membuatku lemas seketika.


Diaz mengeluarkan tangannya dari celanaku, setelah merasakan **** * ku yang basah dan berkedut. diaz pun tersenyum melihat ekspresiku mencapai kepuasan karenanya,


"enak yas?" tanya diaz sambil mengusap peluh di keningku.


aku menutup wajahku dengan tangan diaz yang berusaha menyeka peluh di keningku,aku benar benar malu di buatnya.


"kenapa ditutupin mukanya yas?" kata diaz lagi.


Aku tetap terdiam, benar benar speechless dengan yang barusan terjadi.


melihat sikapku yang malu malu, diaz meraih tanganku tiba tiba dan mengarahkannya pada bagian bawah milik diaz.


Aku tersentak kala merasakan sesuatu yang keras di balik celana jeans milk diaz, aku merasakan junior diaz menegang karena kegiatan panas kami.


"elus yas..." bisik diaz di telingaku dengan suara seraknya.


Tanganku otomatis bergerak mengelus batang keperkasaan milik diaz dari balik celana jeansnya, posisi kami sekarang tiduran bersisian dengan kepalaku menyandar pada bahu milik diaz.


Melihat diaz memejamkan mata menikmati sentuhanku di bawah sana, membuatku semakin terpacu untuk membuatnya lebih menikmati permainanku, dengan berani aku membuka resleting celana diaz, menyibaknya dan mulai memasukkan tanganku ke balik celana dalamnya.


Aku bisa merasakan kerasnya junior diaz, aku mengelusnya, menggerakkan tanganku naik turun,


"akh.... enak yas" desah diaz.


akupun semakin intens menyentuhnya, diaz menggelinjang meremas remas lenganku dengan matanya yang tetap terpejam,


"akh... akh..." desahnya dengan nafas memburu.


" akh... cepetin yas" katanya lagi.


Akupun mulai mempercepat gerakan tanganku naik turun pada juniornya, dan akhirnya akh...... lenguhan keras diaz, berbarengan dengan tanganku yang basah terkena sesuatu yang lengket dan berlendir dibawah sana.


Aku mengeluarkan tanganku dan melihat cairan di tanganku tersebut, melihat tingkahku, dengan sigap diaz meraih tanganku dan mengusapnya di bajunya, muka diaz memerah menahan malu.


"kamu kenapa yank? malu?" tanyaku.


"kamu sih pake di liatin begitu" jawab diaz mencebik.


"aku kan cuma pengen tau yank" kataku sambil mengulum senyum.


Setelah membersihkan tanganku, diaz merapikan celananya dan berdiri,


"aku ambilin minum ya" katanya sambil berlalu.

__ADS_1


Maaf yaa, rada joroook, author lagi seweng😁✌🏻


__ADS_2