
Memasuki usia 9 bulan kehamilan, aku semakin susah bergerak aktif, selain perut yang sering kaku ditambah berat badan yang naik drastis, dari angka 48kg, sekarang menjadi 80kg.. sungguh penampilanku sudah pasti menyerupai badut. hidung tomat, perut gendut dan kaki bengkak...
"bim...." panggilku pada bima yang sedang tiduran di sampingku sambil mengelus lembut perut buncitku.
"hemm...." jawab bima dengan mata terpejam merasakan gerakan dari dalam perutku ditangannya.
"aku masih cantik ga? aku masih menarik ga buat kamu?" tanyaku sambil memutar badan menghadap bima.
"kok nanyanya gitu?" kata bima heran sambil membuka kedua kelopak matanya.
"yaa... kamu liat sendiri, aku jadi makin gendut, dan wajah makin ga karuan" jawabku.
"ya Allah sayang, kamu begini kan karena sedang mengandung anakku, jadi ga masalah bagiku, bagaimanapun fisik kamu, aku tetap cinta sama kamu,aku malah sangat berterima kasih kamu sudah dengan susah payah menjaga dan merawat anak kita di dalam sini"kata bima sambil mencium perutku.
tok..tok...
"mas bimaaaa... mbak echy, makanannya udah siap..." teriak bulan dari balik pintu kamar yang terkunci.
"iya bentar lagi kami ke meja makan" sahut bima.
"sayang, kamu makan sama apa?" tanya bima setelah kami sudah duduk di meja makan.
"apa aja.. aku jadi gampang laper sekarang, ini aja udah ketiga kalinya aku makan" jawabku..
Bima menyendokkan nasi dan mengambilkan lauk pauknya lantas memberikan piring yang telah terisi penuh menjulang ke hadapanku.
"sayaang.. ikh banyak banget tau" kataku melihat isi piring yang disodorkan oleh bima.
"biasanya juga segitu abis" jawab bima sambil terkekeh.
"isshhh... malah ngeledek" cibirku.
Kami makan dalam diam.
"alhamdulillah kenyang...." kataku setelah menghabiskan makananku.
"alhamdulillah abis kan...."goda bima.
"tauk ah....godain mulu, yang makan kan bukan cuma aku" jawabku ketus sambil berlalu menuju kamar.
"eh... mau kemana??" tanya bima.
"mau tidur, ngantuk!" jawabku singkat.
"baru aja selesai makan, duduk dulu kek bentar" kata bima lagi.
"kekenyangan nih, susah kalo duduk lama lama" jawabku segera menghilang di balik kamar.
********
Aku terbangun karena kebelet pipis, hamil tua membuatku sering bolak balik kamar mandi, untung saja kamar mandinya ada di dalam kamar.
Selesai mengosongkan kantung kemihku, aku berniat untuk tidur kembali tapi sayup sayup ku dengar suara orang yang sedang mengobrol sambil tertawa cekikikan.
"Suara siapa itu sampe cekikikan?"gumamku.
__ADS_1
Aku keluar dari kamar dan mencari sumber suara tersebut,
"sayang... kamu ngapain disini sama bulan?" tanyaku marah melihat bima dan bulan duduk diruang tamu, bima sedang mengetik di laptopnya sedang bulan sedang duduk dihadapan bima sambil mengupas kacang kulit untuk bima.
"kamu kok udah bangun sayang?" tanya bima santai.
"ditanya malah nanya balik, kamu ngapain disitu?? pake berduaan lagi!" kataku semakin ketus.
"Ya Allah sayang, aku lagi ngerjain kerjaan kantor, tadi kebetulan bulan lewat, jadi dia nawarin cemilan ke aku" jawab bima.
"kamu juga bulan, ngapain pake dikupasin segala" kataku tak kalah ketus menghadap ke bulan yang terlihat biasa saja.
"maaf mbak, tadi saya kasihan aja liat mas bima sibuk sendirian, jadi saya tawarin kacang, karena mas bima sibuk ngetik, saya bantu kupasin" jawab bulan beralasan, diwajahnya tampak raut kemenangan telah memancing emosi echy.
Aku hanya mendengus kesal mendengar semuanya, akhirnya aku kembali ke kamar dengan perasaan marah.
Aku mulai menangis sendiri di ranjang,.
"kamu kenapa sih? kamu cemburu buta sayang!" kata bima yang menyusulku ke kamar.
"cemburu buta? kamu aja yang ga peka bim!" sahutku dengan emosi.
"ga peka gimana? kamu masalah kecil malah dibesar besarin!" kata bima mulai sedikit emosi melihat sikapku yang keras.
"masalah kecil kata kamu?? eh bim, gimana kalo posisinya aku balik, gimana kalo aku yang duduk disana trus ada laki laki yang ngupasin aku kacang dengan penuh perhatian???" sungutku.
"ya buat apa laki laki harus ada di dekat kamu? sedangkan kondisi kamu sedang hamil tua? dasar laki lakinya aja ga tau diri" jawab bima dengan kesal.
"yaitu kamu tau, kenapa kamu masih bilang kalo aku cemburu buta hah??" sahutku makin emosi.
"okeee... kalo kamu ngomongnya gitu, terserah kamu bim!!!"
"kayaknya kamu butuh sendiri buat nenangin diri, aku tidur di kamar sebelah, kalo ada apa apa, kamu bisa panggil aku di kamar sebelah!" kata bima sambil berlalu pergi.
Seperginya bima, aku luruh di ranjang dan menangis sejadi jadinya.
sepertinya aku terlalu lama menangis sampai ketiduran.
Pagi pagi sekali aku sudah bersiap untuk pulang kerumahku, aku masih kesal dengan kejadian semalam, inilah pertama kalinya setelah menikah aku berusaha kabur dari masalah rumah tanggaku.
Aku mengendap endap berharap bima masih tidur, jadi dia tak perlu tanya ini dan itu padaku.
"mau kemana sayang?" tanya sebuah suara, yang jelas adalah suara bima.
"bukan urusan kamu!"jawabku sambil menormalkan langkahku yang tadinya berjinjit jinjit supaya tak menimbulkan suara.
"kamu masih marah?? semua yang berkaitan dengan kamu, sudah menjadi urusanku, aku suami kamu!" kata bima dengan penuh penekanan.
Aku mengabaikan bima, aku tetap berjalan keluar, lalu dengan sigap bima menghentikan langkahku dan menutup pintu serta menguncinya.
"kamu apa apaan?? tolong buka pintunya dan biarin aku pergi!" kataku marah.
"biarin kamu pergi sendiri? dalam keadaan hamil tua begini??? ga akan!" jawab bima dengan kesal dan berlalu ke kamarnya sambil membawa kunci pintu tersebut.
"bimaaa......!!!" teriakku sangat marah.
__ADS_1
Bima tak mengindahkan teriakanku, dia tetap berlalu ke kamarnya.
Setelah berteriak, aku merasakan perutku sakit dan mulas luar biasa, aku terduduk dilantai menahan rasa sakit yang luar biasa menyerang.
"akh........ya Allah, sakit" lirihku sambil mengelus perutku.
"akh...." aku masih tetap dengan posisi yang sama.
Tak lama bima yang sudah rapi dan wangi keluar dari kamar yang ditempatinya semalam,
"ya Allah sayang... kamu kenapa?" kata bima ketika melihatku terduduk dilantai dengan peluh bercucuran.
"perutku sakit!!" jawabku dengan ketus.
"kita kerumah sakit sekarang ya" kata bima, tanpa menunggu persetujuanku bima langsung menggendongku kemobilnya.
"bulan, kamu jaga rumah ya" kata bima berteriak dari garasi.
Tanpa menunggu jawaban dari bulan, bima langsung tancap gas menuju rumah sakit.
"kamu tenang ya sayang, tatik nafas pelan pelan.." kata bima panik, tangannya yang sebelah memegang erat tanganku.
Aku meremas remas tangan bima dengan kuat berusaha mengalihkan rasa sakit yang aku rasakan.
"akh....... sakit" keluh lagi.
"sabar ya sayang... bentar lagi sampe" kata bima mulai terisak.
"dokter... dokter... tolong istri saya" kata bima setelah sampai di rumah sakit, bima menggendongku masuk ke ruang instalasi gawat darurat.
" baik pak... bapak tenang dulu biar kita tangani istri bapak ya" kata suster di ruangan tersebut.
Dokter memeriksa keadaan echy yang tak henti hentinya mengeluhkan sakit sambil memegangi perutnya.
"begini pak, akibat terlalu stress, ada masalah dengan kehamilannya, kami harus segera melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan keduanya" jelas dokter tersebut.
"lakukan yang terbaik dok, untuk keselamatan istri dan anak saya" jawab bima dengan penuh kekhawatiran.
" baiklah kalo begitu, bapak segera ke bagian administrasi dan selesaikan beberapa dokumen yang harus di tanda tangani" lanjut sang dokter.
"baik dok" bima bergegas ke bagian administrasi.
Saking bingungnya bima sampai tak kepikiran untuk menghubungi keluarga mereka. selama operasi berlangsung bima ikut serta ke dalam ruang operasi atas persetujuan dokter dan menyaksikan proses operasi sesar sang istri.
Tak sampai sepuluh menit pembedahan, terdengarlah suara tangisan bayi yang sangat keras, bima luruh ditempatnya berdiri, bima menangis sambil bersujud syukur,
"Alhamdulillah ya Allah...." ucap bima bersyukur dalam tangisnya.
Tampak seorang perawat menghampiri bima dengan membawa bayinya,
"bapak bisa mengadzaninya sekarang" kata suster tersebut sambil menyerahkan bayinya yang hanya terbungkus selimut rumah sakit.
Bima menangis haru, untuk pertama kalinya melihat wajah bayi perempuannya yang sangat cantik, karena waktunya tak lama, bima segera mengadzani putrinya.
*******
__ADS_1