Realita Cinta

Realita Cinta
Keluarga Bima


__ADS_3

Aku mulai membuka hatiku untuk bima, walau aku belom mengatakan ya untuk menerimanya, tapi sikapku padanya sudah seperti sepasang kekasih yang saling memiliki.


Aku dan bima melewati hari hari kami dengan pengenalan kepribadian masing masing, mengingat kita belum terlalu lama saling


mengenal. sedikit demi sedikit kami mulai saling memahami satu sama lain.


"kamu berangkat sama saya aja ya?supaya nanti pulangnya bisa ikut saya langsung kerumah" kata bima yang pagi pagi datang kerumahku.


"kamu kesini ga bilang bilang, aku kan belom mandi" kataku masih dengan piyama tidurku, menutupi setengah wajah polosku dengan handuk karena malu pada bima yang sudah rapi dengan seragamnya, sedangkan aku hendak mandi ketika bima tiba tiba muncul dirumahku.


"ngapain di tutup gitu mukanya??" tanya bima melihatku menutup wajahku seperti ninja.


"malu ikh, muka bantal nih" jawabku masih berusaha menutupi wajah polosku.


"kata orang, kalo mau lihat cantiknya seseorang, lihat wajahnya ketika bangun tidur dan sekarang, meskipun saya lihat wajah kamu cuma setengahnya aja, saya yakin kalo kamu memang benar benar cantik meski tanpa polesan" kata bima memujiku.


"aduh aduh....berat kepalaku,kayanya mulai mengembang kaya balon nih! terbang rasanya dipuji pagi pagi buta" kataku dengan nada bercanda.


"hahahaa... kamu bisa aja" sahut bima sambil tertawa renyah.


"ngapain aku kerumah kamu bim? aku takut!" kataku kemudian dengan nada serius.


" apa yang kamu takutin?? ummi sama abi saya ga galak kok, malah beliau yang nyuruh saya untuk bawa kamu kerumah" kata bima.


"tapi aku belom siap bim" kataku gusar.


" kamu mandi dulu aja supaya ga kesiangan sampe kantor, nanti kita bahas lagi sepulang kamu kerja ya"


Akupun menuruti saran bima, bergegas mandi dan bersiap ke kantor.


"nanti kabari saya kalo sudah pulang, saya langsung jemput" kata bima membukakan pintu mobilnya untukku.


"iyaaa bawelll...." kataku sambil menjulurkan lidah ke arah bima, bima hanya geleng geleng kepala dan tersenyum menatapku.


*************


"haduuuhhhh yang di anter pak polisi" goda desy.


"nanti ku suruh dia nembak kepalamu biar ga usil" kataku membalas godaan desy.


Kamipun sama sama tertawa, lumayan banyolan pagi bisa merefresh otak yang sebentar lagi akan berkutat dengan kertas dan komputer.


Belum juga aku mengiriminya pesan kalau aku sudah pulang kerja dan akan menunggunya di depan kantor, bima sudah lebih dulu berdiri bersedekap dada di depan kap mobilnya menungguku keluar dari gedung kantorku.


"cuci mata dulu ahhh... ada yang seger nih sore sore begini" kata desy yang ada di belakangku.


Aku menoleh dan tertawa jahil padanya,.


"silahkan dinikmati buk, sepuasnyaaa....." kataku dengan tangan seolah mempersilahkan desy menikmati pemandangan indah dihadapanku ini.

__ADS_1


" tapi inget yaa bukkk, hanya boleh di pandang tak boleh di sentuh apalagi di rebut" tambahku sambil tertawa.


Desy pun ikut ikutan tertawa, bahkan dia terbahak membuat bima berpaling melihat ke arah desy.


Siapa yang bisa membantah pandangan indah di depan mataku sekarang ini?? seorang laki laki dengan seragam kebanggannya berdiri tegap dengan postur tubuhnya yang proporsional di tambah wajah tampannya yang mulus, mirip aktor korea.


"eh... kenapa ketawa ketawa gitu?" tanya bima, setelah aku tepat berada di hadapannya. bima merasa aneh karena bukan hanya aku yang tertawa tetapi juga desy.


"ini nih, ada yang mau cuci mata katanya" kataku melirik desy yang pura pura acuh melewatiku dan bima.


Desy mengerjap ngerjapkan matanya, supaya aku tak buka mulut masalah cuci mata tadi.


Aku hanya membalasnya dengan tertawa.


"cuci mata??" kata bima bingung.


"ini mah ngada ngada aja pak polisi" sahut desy berusaha meredam keadaan.


Desy meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, menyuruhku untuk diam. akupun terdiam dan segera masuk ke dalam mobil milik bima.


"tadi kenapa sih??" tanya bima setelah kami sudah dijalan, sepertinya bima masih penasaran dengan kejadian tadi.


" oh tadi desy godain aku, setelah lihat kamu di depan kantor, dia bilang kamu pemandangan yang bisa dibuat cuci mata sore sore" kataku menjelaskan.


Bima mulai terkekeh,


"lhah kamu memang pemandangan yang luar biasa menurutku" celetukku.


"apaa??? jadi secara ga langsung ,kamu bilang kalo saya tampan, dan sedap di pandang gitu?" kata bima balik menggodaku.


"yeeee..... PD amat sihhhhhh pak" sahutku.


Bima kembali terkekeh mendengar jawabanku.


"kita mampir di pondok jus dulu kalo kamu ga mau langsung kerumah saya" kata bima kemudian.


Wajahku berubah sedikit pucat mendengar bima mengatakan "kerumah saya".


"rileks donk" kata bima setelah melihat ekspresi wajahku berubah.


"Saya ga akan maksa kalo kamu memang belom siap" lanjutnya berusaha membuatku tidak panik.


"ga usah ke pondok jus, langsung kerumah kamu aja" jawabku dengan mantap.


Bima terkejut dengan keputusanku barusan,


"kamu serius?? alhamdulillah, ya sudah kita langsung kerumah saya aja, ummi sama abi pasti sudah nunggu kamu datang" jawabnya dengan nada senang.


Aku berusaha menenangkan diri, meski dalam hati kecilku cemas luar biasa.

__ADS_1


"assalamualaikum, ummi......" kata bima memberi salam sekaligus memanggil umminya.


"waalaikumsalam" sahut sebuah suara lembut khas keibuan, kemudian muncullah seorang perempuan paruh baya dengan gamis dan hijab syar'i nya, meski sudah berumur, masih terlihat sangat cantik.


"assalamualaikum..." kataku memberi salam pada umminya bima sambil mencium punggung tangannya.


"waalaikumsalam anak cantik" balas ummi mengulurkan tangannya padaku lalu spontan memelukku sejenak. aku membalas pelukannya dengan kaku karena terkejut.


"oh jadi ini yang namanya echy, yang di ceritain bima setiap saat tanpa bosan ke ummi setiap harinya" kata ummi sambil merangkul bahuku dan mempersilahkan aku duduk di sebelahnya.


Akupun duduk dengan canggung.


"lebih cantik aslinya daripada di foto" sambung ummi.


Aku melotot kearah bima, sedang bima hanya tersenyum mengisyaratkan aku untuk tetap rileks.


"terima kasih ummi, ummi juga masih cantik banget, pasti dulu waktu masih muda cantiknya luar biasa" kataku sambil tersenyum kikuk.


"heheeee kamu bisa aja bikin ummi seneng...." kata ummi senang dengan pujianku.


"santai saja nak, anggap dirumah sendiri dan anggap ummi ini orangtua kamu sendiri yaaa" tambah ummi lagi.


Bima beranjak ke kamarnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, dan sekarang bima sudah duduk kembali di antara kami dengan kaos putih pas body dan celana denim selututnya.


"jadi kapan ummi sama abi bisa main kerumah mu nak??" tanya abinya bima to the point, abinya baru selesai shalat sepertinya.


Tubuhku menegang saking kagetnya. aku berusaha untuk tenang dan berdiri lalu menyalami abinya bima.


" apa anak ummi masih belum bisa menghilangkan keraguanmu dengan ketulusan cintanya?" kata ummi lagi.


"bukan ummi, bukan itu maksud saya" buru buru aku menyanggahnya.


"malah saya yang merasa kurang pantas untuk menerima bima, bima terlalu sempurna untuk saya ummi" lanjutku dengan takut takut.


Bima hanya mendengarkan percakapan kami tanpa menyanggahnya, benar benar adab yang sopan sekali, batinku.


"nak, pasangan itu bersatu untuk saling melengkapi kekurangan masing masing, kamu bilang bima sempurna, tapi menurut ummi dia masih jauh dari kata sempurna" jelas ummi.


"masih minus malah" tambah abinya bima sambil melirik ke arah bima.


"ummi harap kamu bisa mempertimbangkannya dengan segera nak, karena sesuatu yang baik, tidak boleh ditunda terlalu lama" kata ummi lagi.


Aku hanya menganggukkan kepalaku dan kembali memeluk umminya bima.


"terimakasih ummi dan abi, sudah menerima saya dengan baik" kataku.


"ummi dan abi senang sekali bisa bertemu langsung denganmu dan berharap kamu bisa secepatnya jadi menantu ummi dan abi" kata ummi sambil mengelus rambutku dengan lembut.


***vote vote vote dan likeeee yaaaa readers....

__ADS_1


__ADS_2