
Benar saja, sepulang kerja, diaz sudah standby menungguku di depan mall tempat aku bekerja, rajin bener ini anak orang, pikirku sambil tersenyum.
"eh kenapa senyum senyum sendiri? seneng ya mau ketemu calon mertua?" goda diaz.
Jleeebb .....
seketika tubuhku terpaku, teringat setelah ini akan bertemu dengan orangtua diaz, yang bahkan aku ga tau bagaimana respon mereka, setelah tau keadaan dan jati diriku.
"kok malah bengong?? gih naik yas!"ucap diaz lagi sambil menarik tanganku agar naik ke atas sepeda motornya.
Akupun menurutinya, dengan langkah gontai aku naik ke sepeda diaz, lalu dengan sengaja ku peluk diaz dari belakang, tentu saja diaz senang karena jarang jarang aku begitu. bukan tanpa alasan aku memeluknya, setidaknya aku merasa lebih tenang dengan memeluknya.
"kangen ya?? tumben meluk tanpa disuruh" kata diaz sambil mengelus punggung tanganku yang ada di perutnya, sedang kepalaku bersandar nyaman di bahunya yang lebar. sungguh menenangkan, batinku.
"iya lah kangen, emangnya km gak?" jawabku sambil mendongakkan kepala menatap wajahnya dari samping.
Sungguh diaz sangat manis, dan tampan. bibir merah dengan mata besar yang berpadu sempurna, sungguh beruntung aku menjadi kekasihnya.
"kalo ga kangen, ga capek capek aku pulang yas, tempat kuliahku jauh lho dari sini, butuh waktu 3 jam berkendara untuk bisa sampe kesana" katanya menjelaskan.
"eh yas, kapan kapan kamu ke kota tempatku kuliah ya?? nginep di kost ku, gimana?" ajak diaz dengan semangat.
Tiba tiba saja muncul ide di otaknya untuk mengajak echy kesana.
"nginep? mana bisa yank, ibu ga mungkin ijinin!" jawabku masih dengan posisi yang sama bersandar cantik di bahu diaz. aroma maskulin tubuh diaz, bikin geli menggelitik perut bagian bawahku. benar benar aroma yang memabukkan, batinku lagi.
"nanti aku yang ijinin ke ibu ya, mudah mudahan boleh" jawabnya sambil tersenyum senang, tangannya masih setia menggenggam tanganku.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku langsung berpamitan pada ibu, untuk bertemu kedua orangtua diaz.
Perasaanku makin tak karuan, kala sepeda motor diaz sudah berhenti di depan sebuah rumah minimalis nan elegan.
"yuk yas masuk" ajak diaz sambil menggandeng tanganku yang dingin karena gugup.
aku cuma bisa mengikutinya dengan pasrah tanpa bisa bersuara sepatah kata pun saking gugupnya.
"Assaalammualaikum, maah pah, diaz dateng nih!" teriak diaz sambil menyuruhku duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
"kamu duduk sini dulu ya yas, aku ke dalem dulu, mungkin papa mama masih di musholla" katanya seraya meninggalkan aku sendiri di ruang tamu.
Sebelum aku sempat menjawab, diaz sudah masuk ke dalam. aku pun hanya melenguh pasrah, dengan perasaan harap harap cemas, ku remas remas jariku untuk mengurangi rasa canggung menunggu diaz datang.
Tak berselang lama, diaz keluar di ikuti oleh kedua orangtuanya, sontak aku langsung berdiri, dan memberi salam, serta langsung menyalami kedua orangtua tersebut.
"Assalamualaikum, bapak ibu" kataku sambil sedikit membungkuk mencium punggung tangan mereka secara bergantian.
"walaikumsalam nak, duh cantiknya, namanya siapa?" jawab papa diaz sambil menyambut hangat tanganku.
sedangkan mama diaz, hanya tersenyum sambil balas menyalamiku.
"nama saya, echy pak..." jawabku dengan suara sedikit bergetar karena malu bukan kepalang.
__ADS_1
papa diaz terlihat lebih welcome kepadaku daripada mamanya yang lebih banyak diam. aku jadi sedikit kikuk dengan keadaan ini, diaz mencairkan suasana dengan guyonan guyonan lucunya.
Tiba tiba mama diaz membuka suara,
"kuliah dimana?" tanyanya dengan suara khas ibu ibunya.
Deg... Deg...
Pertanyaan ini lah yang aku takutkan, seketika rasa minderku menguasai seluruh perasaan di hatiku.
Sunyi seketika, aku melihat kearah diaz dengan pandangan kesal, bisa bisanya dia tak menceritakan keadaanku kepada kedua orangtuanya sebelum bertemu.
ekhmmm... dehaman diaz memecah kesunyian singkat di antara kami.
"mah, kan udah diaz ceritain kalo echy, ga kuliah, dia langsung kerja" kata diaz memandang mamanya.
"kerja dimana?" tanya mama diaz lagi.
Dengan terpaksa aku menjawab meski perasaanku sedikit dongkol.
"saya kerja di Mall XX buk, sebagai pramuniaga" jawabku sambil menunduk, tak berani menatap raut wajah mama diaz sekarang.
Entah mengapa harga diriku serasa tercabik cabik dengan pertanyaan yang di ajukan oleh mama diaz kepadaku.
"ayok langsung keruang makan aja, papa udah laper nih" ajak papa diaz, memecah keadaan yang menurutku sedikit mencekam.
Kamipun beranjak ke ruang makan dan makan dengan tenang tanpa ada yang berbicara.
"ga usah di cuci, tumpuk aja disana, besok sudah ada yang beresin kok" kata mama diaz dengan nada suara yang biasa, tapi cukup membuat aku menegang.
Akupun cuma bisa mengangguk menurutinya. setelah mencuci tangan, aku kembali ke ruang tamu dan duduk di sebelah diaz.
sesekali bertukar cerita dengan papa diaz, yang ternyata suka mengobrol. haripun semakin larut, aku menyenggol diaz memberi kode untuk pamit pulang, diazpun langsung paham.
Diaz beranjak dari sofa menuju ke kamarnya, mengambil kunci motor dan jaket, setelah keluar dia berkata,
"mah pah, diaz anter echy pulang dulu ya" pamitnya pada orangtuanya sambil menyalami tangan mereka, akupun mengikuti diaz di belakangnya dan bergantian menyalami tangan kedua orangtua diaz.
"saya pamit pulang dulu, bapak ibu, maaf merepotkan dan terimakasih atas makan malamnya" kataku basa basi
"sama sama nak, sering sering main kesini ya" kata papa diaz tersenyum tulus kepadaku.
"abis nganter, langsung pulang ya diaz, udah malem, bahaya berkendara sendiri" akhirnya mama diaz membuka suara lagi, menurutku mama diaz ini hemat bicara di bandingkan dengan papa diaz.
"ya mah, kalo gitu aku berangkat, assalamualaikum" kata diaz lagi.
" oya mah, ga usah nungguin diaz, diaz bawa kunci cadangan kok" kata diaz lagi, diaz tau mamanya ga akan tidur sebelum dia datang.
Aku keluar dari rumah diaz dengan perasan lega, seperti abis interview saja.
Sesampainya di rumah, ibu masih belom tidur, ternyata menungguku pulang.
__ADS_1
"loh buk, kok belom tidur?" tanyaku heran
"gapapa kok, sengaja nungguin kamu dateng, ya udah karena kamu udh dateng, ibuk tidur duluan ya" kata ibu sambil berjalan menuju kamarnya.
Sebelum ibu masuk, diaz sempat bersalaman dengannya.
"udah gih, buruan pulang, ntar mama kamu khawatir lagi" kataku pada diaz yang malah duduk di ruang tamu rumahku.
"ikh malah di usir, dbuatin kopi kek, apa kek" kata diaz mencebikkan bibirnya.
"udah malem sayang, ntar mama kamu marah lagi, di kiranya aku yang nahan kamu supaya ga pulang cepet, lagian ga enak di liat tetangga" jawabku beralasan supaya diaz tidak ngambek.
"cuma bentar juga, sini duduk deket aku, aku masih kangen sama kamu" kata diaz sambil menepuk2 kursi kosong di sebelahnya.
"janji ya bentar aja" kataku lagi sambil menghampiri dan duduk di sebelahnya.
Tanpa basa basi, diaz langsung menarik tengkukku, mencium bibirku dengan cepat, melumatnya dengan lembut lalu perlahan menggigit bibir bawahku sehingga otomatis mulutku terbuka lebar, dia mulai berani memainkan lidahnya di dalam mulutku, akupun membalas ciuman hangatnya, badan kami terasa panas karena nafsu yang menggebu, tangan diazpun mulai tak bisa diam, dia meraba leher, pundak, lalu menuju ke dada, tangannya berhenti tepat di depan gundukan sintalku, diaz melepas sebentar ciumannya dan menatapku seolah meminta ijin untuk melakukan lebih, tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku, entah karena nafsu atau apapun itu dengan mudahnya aku mengijinkannya melakukan hal yang terlarang tersebut.
Mendapat lampu hijau dariku, diaz dengan cepat meraup bibirku kembali, dan tangannya mulai meremas remas sebelah payudaraku, aku merasakan getaran hebat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, dia meremas dengan lembut membuatku menggelinjang nikmat, akupun semakin mengeratkan pelukanku di lehernya, memajukan dadaku seakan meminta lebih.
"akh....." lenguhku dikala tangan diaz semakin intens meremas payudaraku.
Dengan sigap, tangan diaz menutup mulutku dengan tangannya,
"jangan keras keras yas, ntar kedengeran ibu sm dirga lho" kata diaz setengah berbisik.
Aku hanya menunduk malu, menyadari apa yang aku lakukan barusan.
Lagi lagi diaz meraih daguku dan mulai ******* bibirku lagi, tangannya mulai membuka kancing atas bajuku, dan memasukkan tangannya kedalam braku, meremas langsung payudaraku tanpa penghalang, aku makin menikmatinya,
diaz mulai memainkan putingku, yang membuat aku makin basah di bagian bawah.
"akh.... ohhh...." desahku pelan tertahan.
Diaz melanjutkan kegiatannya, setelah setengah terbuka, dia menyibak braku sedikit, sehingga muncullah putingku yang mulai menegang.
tanpa berlama lama, diaz langsung meraup putingku, mnghisapnya dengan kuat, membuat aku semakin terbuai, tanpa sadar tanganku meremas rambut hitamnya, menekan kepalanya untuk semakin memperdalam cumbuannya di payudaraku. diaz memberikan kissmark di payudaraku.
Lalu setelah puas, diaz menautkan kembali kancing2 bajuku yang terlepas dan merapikannya, kita berduapun terdiam sejenak, mengatur nafas masing masing yang masih memburu.
"yas, maafin aku ya?" katanya sambil menatapku.
"maaf aku lepas kontrol" lanjutnya.
"gapapa yank, aku juga kelewatan" jawabku sambil tersenyum.
"makasih sayangku" kata diaz, sambil mengecup bibirku sekilas.
Tak lama kemudian diaz berpamitan pulang.
Akupun langsung masuk kamarku setelah diaz pulang dan tak lupa mengunci pintu rumahku.
__ADS_1