Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
11. Sebuah Keputusan


__ADS_3

"Mas Marcel ..." Smseru Zicka terbata sekaligus terkejut melihat sosok yang berbulan-bulan menghilang, tiba-tiba kembali lagi.


"Ya, ini aku. Kenapa?" sinis Marcel sambil mengosok-gosok bagian tubuhnya yang sakit karena dipukuli oleh Zicka.


"Maaf, aku kira tadi maling," ucap Zicka acuh tak acuh lalu melanjutkan kegiatan menontonnya kembali tanpa mempedulikan Marcel yang masih kesakitan.


"Maling? Apa kau tak bisa mengenali kalau yang pulang itu aku!" Marcel menggeram kesal. Apalagi melihat sikap istrinya yang tiba-tiba berubah setelah sekian bulan tidak berjumpa.


"Nggak bisa, maklum udah lama nggak liat jadi udah lupa," jawab Zicka masih dengan nada acuh tak acuhnya. Bahkan Zicka tak mengalihkan pandangannya sedikit pun pada laki-laki yang masih bergelar suaminya tersebut.


"Kita itu sudah bersama selama 4 tahun lebih, mana mungkin kamu lupa hanya karena aku tidak pulang selama 3 bulan, Zicka," teriak Marcel kesal mendengar kata-kata perempuan yang masih menyandang status sebagai istrinya tersebut.


"Oh sudah 4 tahun lebih ya? Kalau sudah 4 tahun lebih bersama, bagaimana kamu bisa lupa pulang, Mas, hah? Bahkan kau tak mengabari ku satu kali pun. Dihubungi pun, kau tak merespon sama sekali." Zicka balik berteriak. Bahkan kini pandangan matanya sudah lurus menghujam mata Marcel.


"Kamu anggap kami ini apa? Rumah persinggahan? Sedangkan waktumu kau habiskan untuk bersenang-senang dengan wanita lain. Bagaimana kau bisa lupa pada kami setelah menemukan yang baru, hah!" teriak Zicka dengan emosi yang meledak-ledak. Dadanya bergemuruh. Hatinya kembali sakit saat mengingat suaminya sedang bergandengan mesra dengan perempuan lain di sebuah mall.


Deg ...


"Wanita mana? Siapa bilang? Tak usah menuduhku yang tidak-tidak." Marcel mencoba berkelit. Tak mungkin ia mengakui kecurangannya di belakang Zicka.


"Oh, kau menganggap ku menuduh mu yang tidak-tidak? Begitu?" Zicka menyunggingkan senyum sinis. Lalu Zicka beranjak ke kamarnya sebentar dan kembali lagi ke hadapan Marcel.


"Ini ... apa itu yang kau anggap aku menuduh mu yang tidak-tidak?" Zicka melemparkan foto-foto Marcel dengan seorang wanita hamil saat di mall tepat di wajah Marcel.


Marcel pun segera memunguti foto-foto yang berserakan tersebut. Matanya terbelalak sempurna saat melihat foto-foto tersebut. Ia sampai menelan ludahnya kasar, bagaimana Zicka bisa mendapatkan foto-foto ini pikirnya?


"Kau ... kau dapat dari mana foto ini? Ini rekayasa. Pasti ada yang mencoba memfitnahku." Marcel berkilah. Tentu ia tak mau mengakui perbuatannya.


Zicka mengusap kasar wajahnya kemudian tersenyum sinis.


"Itu bukan rekayasa, Mas. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Dan ... foto-foto itu diambil menggunakan ponselku sendiri," ucap Zicka dengan satu sudut bibir terangkat ke atas. Tak habis pikir, sudah ketahuan masih ingin berkilah.


Marcel mengerjapkan matanya.

__ADS_1


"Zick, itu tidak seperti yang kau bayangkan. Kami ... kami hanya berteman. Tak lebih." Marcel terus berkelit dan mencoba meyakinkan Zicka.


"Aku tidak sebodoh itu Mas untuk dibohongi. Aku masih waras. Akal sehatku masih berjalan sebagaimana mestinya. Aku masih dapat membedakan antara teman atau bukan. Sudahlah, Mas. Aku sudah tahu semuanya. Perubahanmu hampir 2 tahun ini karena kehadiran wanita itu, bukan? Bahkan kau tak pulang-pulang pun karena ingin menemani istri siri mu itu bukan. Aku sudah tahu, jadi jangan kau berbohong lagi," tutur Zicka lirih sambil menahan tangisnya. Sekuat tenaga ia menahan sesak di dadanya. Ia tak ingin terlihat lemah sedikitpun di hadapan Marcel.


"Zick ..."


"Aku sudah buat keputusan, Mas. Aku ingin kita pisah," tegas Zicka sambil menatap tajam Marcel.


Terlihat jelas, kesungguhan di mata Zicka. Memang ia telah meyakinkan diri untuk berpisah. Tak ada lagi yang bisa ia pertahankan dari hubungan ini. Sebab ia yakin, bila ia bertahan, hanya akan ada kesakitan yang setia menemaninya ke depannya dan Zicka tak mau itu. Lebih baik ia berpisah daripada tersiksa dan merana.


"Zick, jangan gegabah!" sergah Marcel. "Pikirkan nasib Meyra bila kita berpisah!" bujuk Marcel yang tak ingin melepaskan Zicka.


Zicka terkekeh sinis, "justru aku buat keputusan ini bukan hanya demi diriku sendiri, Mas, tapi juga demi Meyra. Aku tak mau mentalnya terluka karena tau kelakuan bejat ayahnya. Walau sebenarnya ia sudah tahu karena Meyra lah yang lebih dahulu melihat kelakuanmu di belakang kami," tutur Zicka yang mampu membuat Marcel terkejut.


Mata Marcel melotot tak percaya. Lalu ia mendekati Zicka dan mencoba meraih tangannya.


"Lepaskan aku, Mas! Aku sudah tak sudi disentuh tanganmu yang kotor dan menjijikkan itu." Zicka menepis tangan Marcel dengan kasar. Ia sudah tak sudi disentuh Marcel, meskipun status laki-laki itu masih suaminya.


"Zick, aku mohon jangan gegabah!" melas Marcel.


"Aku tidak gegabah, Mas. Aku bahkan sudah memikirkannya matang-matang selama 3 bulan ini. Untuk apa aku bertahan dalam biduk rumah tangga yang telah karam ini. Dasar dari pernikahan adalah kejujuran dan kesetiaan, namun semua itu telah kau nodai. Akhirnya inilah keputusan final ku," ucap Zicka tanpa keraguan sedikitpun.


Lalu Zicka beranjak meninggalkan Marcel yang mematung sendirian di ruang tengah.


Sesampainya di kamar, Zicka menutup pintu. Tubuhnya merosot ke lantai. Ia menumpahkan tangisnya yang telah ia tahan sejak tadi karena ia tidak ingin dipandang lemah oleh Marcel.


Marcel pov


Ah sial! Bagaimana ia bisa tahu kalau aku telah menikah lagi tanpa sepengetahuannya? Semua jadi kacau.


Tunggu! Apa katanya tadi, 3 bulan ini dia tak menuntut ku untuk menafkahi mereka? Tapi walaupun aku tidak pulang, aku selalu mengirimi mereka uang melalui Andin. Apa mungkin Andin tidak mengirimkan uang yang aku berikan itu pada mereka. Arghhh ... !!! Sial! Sial! Sial!


Lebih baik aku pergi dulu supaya pikiran Zicka lebih tenang. Nanti aku akan membujuknya lagi.

__ADS_1


Lalu Marcel pergi dari rumah Zicka dengan pikiran yang kacau.


Di rumah Marcel dan Andin


"Andin ... Andiiinnn ..." teriak Marcel setibanya di dalam rumah mereka.


"Ada apa, Mas? Kok pulang-pulang teriak-teriak kayak gitu? Nggak kayak biasanya," protes Andin heran.


"Aku harap kau jujur padaku, apa uang yang aku titipkan padamu untuk dikirimkan kepada Zicka tidak pernah kau kirimkan padanya, hah?" tanya Marcel penuh selidik dengan nada meninggi.


"A-aku kirim kok, Mas. Aku kirim via transfer ke nomor rekening Zicka yang Mas kasih ke aku tempo hari!" jawab Andin terbata.


"Kalau memang kau kirimkan, berikan bukti transfernya padaku?"


"Oh itu, udah nggak ada, Mas. Udah aku buang," dusta Andin.


"Kemarikan ponselmu!" pinta Marcel.


"Ponsel? Untuk apa, Mas?" tanya Andin was-was.


"Aku ingin memeriksa mutasi rekeningmu, apa benar uang itu kau kirimkan pada mereka atau tidak."


"Mas, kau tidak mempercayaiku? Aku tidak berbohong, Mas. Memang uangnya sudah aku kirimkan tepat setelah kau perintahkan." Andin kekeh berkilah.


"Tak perlu kau bohong padaku, Andin! Aku sudah tau semuanya. Selama beberapa bulan ini kau tak pernah mengirimkan uang yang aku berikan untuk mereka, bukan! " teriak Marcel murka. "Brengsekkk!" umpatnya.


Lalu Marcel masuk ke kamar sambil membanting pintu dengan keras meninggalkan Andin yang berdiri ketakutan.


"Apa Mas Marcel tadi ke tempat wanita itu?" Gumam Andin dengan perasaan tak menentu.


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2