
Sesuai ucapannya kemarin, Marcel datang ke kediaman Zicka. Setelah memarkir mobilnya tepat di depan pagar rumah, namun ada yang aneh pikirnya. Mengapa pagar rumah Zicka tergembok dari luar? Apakah Zicka tidak ada di rumah? Bukannya ini akhir pekan dan seperti biasanya, Zicka tidak bekerja.
"Zick ... Zicka ... Meyra sayang, ini papa Sayang," teriak Marcel namun tak ada tanda-tanda Zicka dan Meyra berada di rumah.
Lalu ia meraih ponsel yang ada di saku celana panjangnya dan menekan nomor Zicka.
'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, mohon hubungi beberapa saat lagi.'
"Nomornya tidak aktif, kamu kemana Zicka? Kamu pergi kemana? Apa segitunya kau ingin menjauhiku?" gumam Marcel frustasi.
Lalu Marcel melihat bu Ida, tetangganya dan menghampirinya.
"Bu Ida, maaf apa saya boleh bertanya?"
"Oh nak Marcel, ibu pikir siapa. Sudah lama banget nggak lihat soalnya. Sok atuh, mau nanya apa?"
"Mmm ... Begini bu, apa ibu tahu ke mana perginya Zicka soalnya pagar rumahnya digembok. Saya udah coba telpon tapi nomornya nggak aktif," tanya Marcel dengan wajah memelas
Bu Ida mengernyitkan dahinya heran, 'kok Marcel sampai nggak tahu kalau istrinya sudah lebih dari seminggu ini pindah? Apa gosip itu benar ya kalau mereka telah bercerai?' batin bu Ida.
"Mmm ... memangnya nak Marcel nggak tahu kalau nak Zicka dan putri kalian telah pindah lebih dari seminggu yang lalu?"
"Apaaaa? Mereka pindah? Saya-saya benar-benar nggak tahu, bu. Apa ibu tahu ke mana mereka pindah? Lalu rumah ini ... apa sudah dijual?" tanya Marcel shock mengetahui Zicka telah pindah bersama putrinya.
"Maaf nak, ibu nggak tahu kemana mereka pindah. Nak Zicka nggak pernah cerita apa-apa . Kalau rumah, iya setahu ibu sih memang sudah dijual. Zicka meminta tolong pak RT menjualkan rumahnya."
Tiba-tiba tubuh Marcel melemas. Ia berjongkok di tanah tempat ia berdiri dan mengusap kasar rambutnya frustasi. Lalu ia mendongakkan kepalanya ke arah bu Ida yang menatapnya sinis.
"Terima kasih bu atas informasinya." Lalu bu Ida meninggalkan Marcel begitu saja tanpa basa-basi.
"Kalau kamu nggak salah mana mungkin wanita sebaik Zicka ninggalin kamu. Pasti kata Jeje, anak Bu Ana itu benar, kalau ia melihat kamu asik jalan sama perempuan seksi. Dasar lelaki ganjen nggak bisa liat cewek seksi, montok, bahenol, main gaet aja, nggak inget anak istri. Sekarang makan tuh cewek seksi. Giliran udah ditinggal baru nyariin. Selama ini kemana aja atuh?" gerutu Bu Ida sambil berjalan meninggalkan Marcel yang masih berjongkok di depan pagar rumah Zicka.
__ADS_1
"Ah, apa aku tanya sama Marvin aja! Tapi kalau aku tanya lewat telfon, pasti dia nggak mau angkat. Aku telfon mama aja dulu, tanyain ada Marvin nggak di rumah."
Marcel pun meraih ponsel yang masih ia genggam dan menelfon mamanya.
"Halo , Ma."
"Ya Cel, ada apa telfon pagi-pagi? Jangan bilang kamu mau minta jagain Mike lagi ya!" ucap mama datar.
"Nggak, Ma, Marcel nelfon mama bukan untuk minta tolong jagain Mike, Marcel cuma mau nanyain Marvin ada di rumah nggak?"
"Hah, tumben kamu nanyain adik kamu! Kenapa nggak telfon secara langsung aja kamu kan punya nomor ponselnya?" tanya mama heran.
"Nomor aku udah diblokir Marvin, Ma!" jawab Marcel miris.
"Apa? Diblokir? Emang ada masalah apa?"
"Nanti aja ma masalah itu dibahas. Jawab dulu Marvin ada di rumah nggak?"
"Marvin ada tuh. Dia sedang mengurung diri di dalam kamar."
"Mama males cerita lewat telfon."
"Ya udah, aku kesana ya, Ma! Kalau Marvin mau keluar, tolong halangi. Ada yang mau aku tanyakan pada Marvin," ucap Marcel.
Lalu Marcel segera menutup telfon itu tanpa menunggu jawaban dari mamanya dan melajukan mobilnya menuju ke kediaman mamanya.
Mobil Marcel telah terparkir di depan rumah mamanya. Ia segera turun dan menemui sang mama untuk menanyakan sebenarnya Marvin sedang ada masalah apa.
"Ma," panggil Marcel lalu ia mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan mamanya.
"Ma, sebenarnya Marvin kenapa? Apa dia sedang ada masalah?"
__ADS_1
Mama Marcel pun duduk di sofa lalu mulai menceritakan kronologis Marvin yang meminta izin menikahi Zicka lalu sang mama yang menentang hingga kedatangan Zicka yang tak terduga bahkan tanpa sengaja ternyata Zicka mendengar semua pembicaraan Marvin dan mamanya tersebut. Setelah mendengar cerita sang mama, Marcel menggeram kesal dan emosi. Ia segera beranjak dari tempat duduknya lalu menggedor pintu kamar Marvin.
"Marvin, keluar kau! Marvin, cepat keluar sekarang juga," teriak Marcel.
"Ada apa sih kak datang-datang marah-marah? Emang aku salah apa hah?" Marvin berteriak balik setelah membuka pintu kamar.
Bugh ...
Marcel memukul Marvin secara tiba-tiba membuat Marvin terhuyung ke belakang. Marvin meraba bibirnya yang terasa cukup sakit, ternyata mengeluarkan darah segar. Karena Marvin memang sedang frustasi dan butuh tempat menyalurkan emosinya, ia pun langsung mendekati Marcel dan bugh ... Marvin memukul balik Marcel. Akhirnya terjadilah perkelahian antara dua kakak adik itu. Mereka saling pukul dan tendang seakan dengan begitu mereka bisa meluapkan segala kegelisahan di dalam hati.
"Sudah ... sudah ... hentikan, Cel! Hentikan, Vin! Kalian itu bersaudara, kenapa malah bertengkar dan saling pukul kayak gini?" teriak mama frustasi.
Tapi kedua lelaki itu mengacuhkan teriakan sang mama, mereka justru kembali saling pukul dan menerjang. Tak ada yang mau mengalah hingga wajah mereka berdua memar dan berdarah di hidung dan bibir hingga pelipis mereka.
"Apa karena Zicka telah menceraikanku jadi memberimu kesempatan untuk mendapatkannya, hah? Kau tahu dia itu mantan istriku dan aku kakakmu, harusnya kau sadar itu!" teriak Marcel sambil mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Marvin.
"Iya aku tahu itu, bahkan sangat tahu. Tapi kau sekarang bukan siapa-siapa lagi bagi Zicka kak. Kalian telah resmi bercerai. Jadi aku memiliki hak untuk mendekati Zicka bahkan menikahinya. Tak ada larangan mantan adik ipar menikahi mantan kakak ipar bukan? Istilahnya turun ranjang. Dan harus kau tahu, aku sangat, sangat, dan sangat mencintai Zicka, bahkan jauh sebelum kau mengenalnya kau tahu!" teriak Marvin balik dengan emosi yang meletup-letup.
"Dasar adik kurang ajar! Bugh ..." Marcel kembali melayangkan bogem mentahnya ke wajah Marvin.
"Marcellll ... Hentikan, kau bisa membunuh adikmu sendiri!" teriak sang mama panik.
Brukkkk ...
Tiba-tiba sang mama pingsan membuat Marvin dan Marcel sontak berhenti baku hantam dan segera berlari mendekati sang mama yang sudah jatuh pingsan.
"Ma ... mama ... mama bangun, Ma! Marvin mohon bangun, Ma!" Marvin segera meraih kepala sang mama dan meletakkannya di atas pangkuannya sambil menggoyang-goyangkan pundaknya berharap sang mama segera bangun.
"Ma ... bangun, Ma! Maafkan kami, Ma, Marcel mohon bangunlah!" ujar Marcel seraya menggenggam telapak tangan sang ibu.
Karena sang mama yang tak kunjung bangun juga, lalu mereka membopong tubuh sang mama ke kamarnya. Marvin segera menelfon dokter, teman sang mama agar datang dan memeriksa kondisi mamanya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...