
"Pii ... Pii ... Pii ..." teriak Deenan.
"Ada apa anak papi yang cakep??" sahut Keenan sambil mengulurkan tangan mengangkat tubuh mungil Deenan, putra kesayangannya.
"Papi ... Dii mau kek okat, Pii," rengek Deenan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Anak papi mau cake coklat? Hmmm ... nanti sore aja yah, Sayang, papi sedang terburu-buru mau kerja."
"No ... no ... no ..., Dii mau na cekalang pii ... pokok na cekalang," rajuk Deenan dengan mimik muka lucu.
"Sayang, tapi papi bener-bener sibuk, papi harus segera berangkat. Emmm ... gini aja, papi minta tolong mbak Sum aja ya beliin Dee cake coklat, nggak papa kan, Sayang? Nanti kalo papi udah nggak sibuk, papi janji ajak Dee beli cake coklat yang banyak! Oke," bujuk Keenan.
"Tapi anji ya pii no bo'ong. Alau papi bo'ong Dii malah cama papi."
"Okey Dee ... Papi janji deh," sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Deenan. Deenan pun tersenyum girang setelahnya.
"Mbak Sum, tolong beliin Deenan cake coklat ya!"
"Beli dimana tuan, kan di sekitar sini nggak ada toko kue?" tanya mbak Sum bingung tidak tahu harus beli cake coklat dimana.
"Mbak Sum, kemarin saya lihat tidak jauh dari sini ada toko cake and bakery yang bakal baru buka hari ini. Letaknya nggak jauh dari minimarket. Coba mbak Sum beli disitu, siapa tahu enak, " ucap mama Keenan.
"Oh baik, Nya. Saya pergi beli dulu kalau begitu."
2 jam kemudian
"Mbak Sum, kok lama banget beli cake coklatnya? Kan tokonya nggak jauh dari sini?" tanya mama Keenan pada mbak Sum yang baru saja pulang dari membeli kue coklat untuk Deenan.
"Iya Nya, emang nggak jauh tapi antriannya yang jauh, Nya, udah kayak lintasan kereta api saking panjang dan ramenya. Setelah dapat giliran pun masih harus nunggu, soalnya yang beli pada borong setelah cicipin sampel kuenya," ucap mbak Sum sambil ngos-ngosan karena menahan haus selama antri. Bahkan peluh di dahinya pun belum mengering karena memang setelah berhasil mendapatkan kue tersebut, mbak Sum gegas pulang dengan terburu sebab ia tahu tuan mudanya sudah tak sabar ingin memakan kue tersebut.
__ADS_1
"Apa seenak itu kuenya?" tanya mama Keenan penasaran.
"Bener, Nya, tadi saya juga cicip, eh malah ketagihan sampai makan habis 5 potong. Hahaha ..." Mbak Sum tertawa bangga membuat ibu Keenan geleng-geleng kepala.
"Itu namanya bukan nyicip, tapi doyan," cibir ibu Keenan.
"Mumpung gratis, Nya. Mana enak pake banget."
"Bak Cum Bak Cum, mana kek okat Dii?" Potong Deenan yang sudah tak sabar ingin memakan kuenya.
"Ini Dii cake coklatnya." Mbak Sum menyerahkan paper bag berisi cake coklat kepada Deenan.
"Dee, Oma boleh cicip nggak?"
"Ental duyu ya Oma, Dii icip duyu kek na ayau enak Oma ndak boleh icip, ayau ndak enak Oma bayu boyeh icip."
"Ikh cucu Oma kok gitu, masa' kalau nggak enak baru boleh cicip. Kalau nggak enak, Oma juga nggak mau cicipnya," gerutu mama Keenan gemas mendengar celoteh cucunya.
"No Oma ... no ... Oma ndak oyeh ambiy kek okat Dii. Oma kayau mau, beyi aja cendiyi. Ini punya Dii cemua." Tiba-tiba Deenan mengambil lagi cake coklat yang sudah hampir masuk ke dalam mulut omanya membuat sang nenek membulatkan matanya.
"Ampun deh cucu Oma satu ini, cucu udah cuma satu, tapi pelitnya minta ampun. Awas ya kalau Oma beli, dilarang minta! Pokoknya no ... no ... no ..." ucap mama Keenan pura-pura merajuk.
"Biyayin, entay Dii bica beyi cama papi tok. Weekkkk ..."
"Huahahahh ... ampun dah cucu oma gemesin banget sih! Pingin uwel uwel rasanya. Ukh ... ya udah, habisin sana cakenya. Nanti oma minta mbak Sum beliin lagi. Mbak Sum, beliin cakenya lagi donk! Cucu Oma pelit, nggak mau kasi cicip Oma soalnya."
"Beli lagi, Nya?" Mbak Sum membulatkan matanya karena harus kembali lagi ke toko kue.
"Iya, beliin lagi, yang banyak biar semua bisa cicip," ujarnya sambil menyerahkan uang ratusan ribu berlembar-lembar.
__ADS_1
'Oalah Nya, Nya, beli satu aja antriannya udah kayak rel kereta api, apalagi ini, uang sebanyak gini bisa dapat lebih dari 10 cake, bisa-bisa mbak Sum pulangnya entar malam.'
Hati mbak Sum mencelos membayangkan harus antri kembali, kemudian menunggu berjam-jam demi cake coklat yang lagi booming. Tapi apalah daya, sebagai asisten rumah tangga, ia hanya bisa menuruti permintaan sang majikan. Apalagi majikannya ini baik dan royal, tentu ia takkan bisa menolaknya.
*
*
*
"Andin, Mas mau bicara sama kamu."
"Mau bicara apa sih, Mas?"
"Ndin, please, kamu kurangin deh belanja yang nggak penting kamu itu. Kamu mikir nggak sih, tagihan credit card kamu sampai segini, bisa-bisa semua gaji Mas habis buat belanja nggak penting kamu aja!"
"Belanja nggak penting gimana maksud, Mas? Ini semua penting lho! Aku beli perhiasan untuk invest sekalian kalau pergi bareng kamu, aku jadi pusat perhatian kan kamu sendiri yang bangga. Terus hobi aku beli lingerie, kan kamu juga yang doyan liat aku pakai lingerie yang sexy, terus tas dan sepatu branded, kan buat kamu juga, kalau aku pergi terus orang yang kenal kamu liat aku, pasti mereka bilang wah hebat ya istri Pak Marcel, penampilannya oke banget. Sepertinya pak Marcel sangat mencintai istrinya. Ujung-ujungnya juga kamu mas yang dipuji, bukan hanya aku," sanggah Andin sambil menjelaskan faedah hobi belanjanya.
"Tapi nggak segitunya, Ndin. Kalau gaji aku habis cuma karena gaya hidup kamu, gimana? Apa kamu mau hidup susah makan seadanya? Ingat Ndin, aku juga karyawan di hotel itu, bukan pemilik jadi gaji aku itu ada batasnya," desah Marcel mencoba sabar.
"Kamu usaha kek gimana caranya biar dapat duit yang lebih gede. Apalagi kamu kan orang kepercayaan sekarang, bukan hal susah memanipulasi keuangan. Udah ah, aku capek, mau istirahat." Andin telah membalik badan menuju kamarnya. Namun, tiba-tiba kembali berhenti setelah mendengar ucapan Marcel.
"Ndin, satu lagi, tolong jangan kamu minta mama jagain Mike terus dong, mama udah tua, saatnya istirahat. Aku kasian sama mama kalau harus bolak-balik ke sini karena kamu minta jagain Mike. Eh kamunya malah asik jalan-jalan, entar aku dicap anak durhaka, tahu nggak! Kalau emang kamu harus pergi, apa salahnya ajak Mike. Dia itu anak kamu, tanggung jawab kamu jagain Mike selagi aku kerja."
"Oh pasti itu mama yang ngadu ya, Mas? Mas, aku minta tolong mama itu nggak pernah gratis lho! Mas tahu, setiap aku beli perhiasan, mama selalu dapat 1 set yang sama, jadi apa salahnya mama bantu aku jaga Mike, toh dia juga untung kok. Apalagi Mike itu cucunya sendiri, masa' jaga cucu sendiri aja nggak mau," ucap Andin sebelum benar-benar berlalu menuju kamarnya.
"Ya Allah Ndin, apa ini karmaku karena telah menelantarkan anak dan istriku dulu? Zicka saja tak pernah sekali pun merepotkan mama. Bahkan ia juga tak pernah mau merepotkan aku. Selagi ia mampu, ia akan selesaikan sendiri segala urusannya. Aku memulai semua dari 0 bersama Zicka dan ia tak pernah menuntut ini itu bahkan ia tidak pernah sekali pun membeli perhiasan karena ia tak mau menghamburkan uang hasil kerja kerasku. Mengapa baru di saat-saat begini aku menyadari bahwa engkau memang seorang istri yang sempurna, Zick! Adakah kesempatan untukku memperbaiki semuanya lagi? Ah, aku akan menemui mu besok. Aku akan memohon agar kau mau rujuk denganku. Bila ia minta aku menceraikan Andin pun aku bersedia. Aku akan membesarkan Meyra dan Mike bersama Zicka. Semoga aku masih bisa membuka hatinya karena aku tahu Zicka pasti masih sangat mencintaiku," gumam Marcel penuh keyakinan.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...