
Lalu Andin berjalan ke dapur yang letaknya masih sangat terlihat jelas dari tempat Marcel duduk. Setelah membuat kopi, Andin segera menyerahkan kopi itu ke Marcel. Marcel meminum kopi itu dengan tergesa karena gugup lalu "bbuih ... Asshhh ... panas." Marcel menyemburkan kopi itu tiba-tiba karena kepanasan.
"Mas Marcel nggak papa?" ucap Andin sambil mengusap bibir Marcel lembut. Sontak tindakan Andin membuat Marcel menoleh, tatapan mereka pun beradu. Tiba-tiba darah Marcel kembali berdesir hebat, jantungnya berdegup kencang, membuat gairah Marcel seketika bangkit.
Tanpa aba-aba, lalu Marcel meraih tengkuk Andin dan menyapukan bibirnya ke atas bibir Andin. Andin pun berpindah posisi ke pangkuan Marcel, mengikis jarak antara mereka berdua. Marcel melahap bibir Andin atas dan bawah secara bergantian. Begitu pun Andin melakukannya bak seorang yang telah profesional membuat gairah Marcel makin menggebu. Disingkapnya dress Andin hingga terlepas dari tubuhnya sehingga menampilkan kemolekan yang menggugah gairah laki-laki itu Marcel kembali ******* bibir Andin, ia melesatkan lidahnya ke dalam rongga mulut Andin membuat Andin mendesah nikmat. Tangan Marcel kini ikut bermain. Ia meremas puncak gunung kembar Andin yang telah terbebas dari penutupnya. ******* demi ******* pun menggema di ruang tamu Andin.
Drrrttddd ... Ddrrrdttdd ...
Tiba-tiba ponsel Marcel yang ia silent bergetar. Awalnya ia mendiamkan saja, tapi pada getar yang ketiga kalinya, Marcel akhirnya mengangkatnya dengan terpaksa.
"Halo, ada apa Zick?" ucap Marcel berusaha mengontrol emosinya.
"Mas, kapan pulangnya? Meyra demam tinggi. Dari tadi ia manggil-manggil kamu terus, mas."
"Sebentar lagi mas pulang. Kamu bersiap-siap, setelah Mas sampai kita langsung ke rumah sakit."
"Baik, Mas." Lalu Marcel menutup panggilan telfonnya secara sepihak tanpa basa-basi lagi.
"Mas, kamu mau pulang ya?"
"Iya Ndin, anak Mas sakit."
"Tapi Mas, kita kan belum selesai? Malah baru aja mau mulai," rajuk Andin yang merasa kesal karena ia harus ditinggal sebelum selesai menuntaskan hasratnya.
Marcel tersenyum lalu mengusap pipi mulus Andin dengan lembut, "iya Mas tahu, Mas juga sebenarnya masih pingin di sini. Tapi Mas harus pulang sekarang, Mas mau anterin anak mas ke rumah sakit."
"Mas, bentar lagi aja pulangnya. Kita selesaikan dulu. Masa' aku udah kayak gini malah ditinggalin sih!" cebik Andin.
"Hehehe ... Sabar ya sexy, nantias usahain temenin kamu bobok disini biar kita bisa main sepuasnya," goda Marcel yang tak sadar telah masuk jebakan rayuan Andin.
"Janji ya mas! Pokoknya nanti harus tidur disini terus kita main sampai puas. Andin jamin Mas bakal puas sama servis Andin," ucap Andin dengan seringai genitnya.
"Bener ya! Awas kalo kamu nggak mau layanin, Mas! Mas nggak bakal temuin kamu lagi."
__ADS_1
"Siap, Mas. Kiss dulu!" Andim memajukan bibirnya.
"Emmuach ..." Marcel melu mat singkat bibir Andin.
"Mas pergi dulu ya! Selamat malam," ucapnya sebelum melabuhkan lagi satu kecupan ke bibir Andin.
"Selamat malam juga, Mas. Hati-hati di jalan ya!"
Marcel pun segera keluar dari kontrakan Andin kemudian masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan kontrakan itu. Kemudian ia melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah kontrakan Andin menuju ke rumahnya.
"Huh, hampir aja berhasil eh istrinya nelpon! Ganggu aja tu perempuan. Liat aja, lain kali kamu akan benar-benar jadi milikku mas dan aku akan menikmati uangmu tanpa perlu capek-capek kerja lagi. Hahaha ..." tawa Andin bangga.
Di rumah
Mobil Marcel telah memasuki halaman rumahnya. Marcel pun bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
"Zick, gimana keadaan Meyra?"
"Masih sama, Mas, panasnya tinggi banget sampai hampir 39°C. Aku udah kompres sama kasi obat penurun panas yang biasa, tapi panasnya masih aja belum turun," tutur Zicka panik.
Lalu Marcel menggendong Meyra dan menidurkannya di pangkuan Zicka yang sudah terlebih dahulu masuk mobil. Setelah mengunci pintu rumah, Marcel segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Di rumah sakit
"Dok, gimana keadaan anak saya?" tanya Zicka panik.
"Anak ibu terkena gejala typus jadi harus diopname. Kami sudah memasangkan infus dan memberinya obat melalui cairan infus jadi ibu tak perlu khawatir. Mudah-mudahan sebentar lagi panasnya segera menurun," tutur dokter yang baru saja memeriksa keadaan Meyra.
"Apa kami boleh masuk ke dalam, dok?" tanya Marcel yang juga mencemaskan keadaan Meyra.
"Oh, silahkan, Pak." Dokter mempersilakan Zicka dan Marcel masuk ke ruang rawat Meyra.
"Mas, kamu kemana aja sih kok pulangnya malem banget nggak kayak biasanya?" tanya Zicka heran karena ini pertama kalinya Marcel pulang larut tanpa kabar.
__ADS_1
"Tadi ada masalah di hotel jadi harus Mas selesaikan dulu," jawabnya bohong.
"Oh, Mas sudah makan?"
"Sudah tadi. Tadi mas titip beli makanan sama OB."
"Oh baguslah kalau begitu," jawab Zicka yang percaya begitu saja dengan kebohongan Marcel.
Sudah satu minggu Meyra di rawat di rumah sakit dan hari ini Meyra sudah diizinkan pulang ke rumah oleh dokter dengan syarat tidak boleh lupa meminum obat. Meyra yang memang anti takut makan obat, mengiyakan perkataan dokter dengan penuh semangat.
"Mah, papa adi tan emput tita?" tanya Meyra.
"Iya, Sayang, bentar lagi papa juga sampai. Nah itu papa. Baru aja diomongin." tunjuk Zicka ke arah Marcel yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"Halo anak papa yang cantik, kamu udah siap pulang?" Sambil merengkuh tubuh mungil Meyra yang belum genap berusia 2 tahun itu ke dalam pelukannya.
"Udah papa, eyla udah tiap dali adi."
"Ya udah, yuk kita pulang."
Marcel pun menjalankan mobilnya mengantarkan Zicka dan Meyra pulang. Setelah sampai, Marcel bergegas mandi dan berganti pakaian yang rapi membuat Zicka heran karena tak biasanya Marcel keluar lagi setelan pulang ke rumah.
"Mas,as mau pergi lagi ?" tanya Zicka heran.
"Hmmm ..." Marcel hanya bergumam sebagai jawaban.
"Mau ke mana? Tumben pergi lagi, ini udah hampir malam lho mas."
"Mas ada kerjaan di hotel. Berapa hari ini banyak timbul masalah karena mas pulangnya cepat-cepat mulu nemenin Meyra di rumah sakit. Jadi kemungkinan Mas nggak pulang malam ini. Mas bawa baju ganti aja," ucap Marcel yang sepenuhnya berdusta.
"Oh ya udah, hati-hati di jalan ya, Mas! Jangan lupa makan malam ya, Mas!" ucap Zicka sambil mengantarkan suaminya masuk ke dalam mobil.
Marcel pun melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya. Zicka yang memang tipe wanita positif thinking, tidak pernah meragukan setiap ucapan Marcel karena ia sangat mempercayai Marcel. Dia makin yakin karena mereka menikah sebab saling mencintai jadi ia tak pernah ragu sedikit pun atas kesetiaan Marcel. Tanpa ia sadari, bahwa kini rumah tangganya sedang terancam. Bayangan orang ketiga yang tak pernah mampir di pikiran Zicka kini sedang berusaha meluluhkan hati Marcel agar dapat ia miliki seutuhnya. Bayangan yang perlahan akan mendominasi kehidupan Marcel dan menyingkirkan posisi Zicka secara perlahan dari sisi Marcel.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...