Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
49


__ADS_3

Hari ini merupakan hari kebahagiaan Marvin dan Jenny sebab tepat hari ini pasangan itu telah resmi menjadi pasangan suami istri. Pesta pernikahan itu digelar di sebuah gedung serba guna yang tak jauh dari kediaman orang tua Jenny.


Satu persatu para tamu mulai dari keluarga, kerabat, rekan kerja, karyawan, kenalan, teman dan para sahabat, tak lupa para tetangga masing-masing pasangan naik ke atas panggung untuk bersalaman sembari mengucapkan selamat dan doa-doa semoga pasangan tersebut menjadi pasangan yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Serta doa-doa agar pasangan tersebut segera dikarunia anak-anak yang shaleh dan shalehah.


Saat para tamu sedang menikmati hidangan demi hidangan, para anggota keluarga pun mulai melakukan sesi foto.  Pesta tersebut tidak terlalu mewah namun lebih tampak sakral, harmonis, dan kekeluargaan. Semua tampak menikmati apa saja yang disuguhkan di pesta tersebut.


Pesta pernikahan ini dilangsungkan beberapa bulan setelah lamaran yang dilakukan Marvin. Bukan tanpa alasan mereka melangsungkan pernikahan itu dalam rentang waktu yang cukup lama setelah lamaran sebab beberapa Minggu setelahnya Jenny harus mengikuti kuliah PPG selama 6 bulan untuk mengukuhkan profesinya sebagai seorang guru. Marvin yang bijak pun tidak mempermasalahkan dan justru mensupport agar Jenny bisa fokus dalam belajar.


Akhirnya tepat satu bulan setelah Jenny menyelesaikan kuliah PPG-nya, mereka pun segera menggelar pernikahan mereka. Mereka tak mau menunda-nunda lagi. Bukankah sesuatu yang baik harus disegerakan.


"Kak Marcel, ayo ajak Mike, kita foto bareng!" Ajak Marvin pada sang kakak yang sejak tadi hanya tampak duduk diam di kursinya sambil memangku Mike yang bola matanya tampak asik mengamati sekitar.  Banyaknya lampu-lampu dan aneka dekorasi berwarna cerah menarik perhatian bocah kecil itu. Sesekali ia menepuk-nepuk tangannya sambil tertawa memamerkan deretan giginya yang belum tumbuh semuanya.


Marcel pun mengangguk lalu naik ke atas panggung dan berdiri di samping sang mama sambil menggendong Mike di depan dadanya. Seakan sadar kamera, Mike tertawa sumringah membuat ia terlihat tampan dan lucu.


Marcel yang melihat Meyra sedang bercengkrama dengan Deenan lalu menghampirinya. Ia sangat merindukan Putri yang sempat diabaikannya itu. Setiap melihat wajah Meyra, tergambar penyesalan yang begitu luar biasa karena tidak bisa menjadi ayah yang baik bagi putrinya tersebut.


"Meyra mau foto sama papa?" Marcel berjongkok di depan Meyra. Meyra yang terdiam lantas menoleh ke arah Zicka yang duduk berdampingan dengan Keenan. Perutnya yang membuncit membuatnya tak kuasa berdiri lama-lama. Apalagi ini sudah masuk trimester ketiga sehingga perutnya telah terlihat bulat sempurna dan terasa berat, membuatnya tidak bisa bergerak leluasa.


Zicka pun mengangguk seraya tersenyum, barulah Meyra mengangguk. Kemudian Keenan mengulurkan tangannya untuk mengajak Meyra naik ke atas panggung. Ia tidak memiliki foto-foto Meyra terbaru. Jadi di kesempatan ini, ia ingin mengajak putrinya berfoto agar bisa ia cetak dan pajang di rumah. Ia ingin menjadikan foto Meyra sebagai pelipur lara dan kerinduannya.

__ADS_1


"Aku ajak Mey ke atas dulu ya, Zick," ujar Marcel meminta izin. Zicka mengangguk dengan tersenyum tipis. Tak ada gurat kebencian maupun kekecewaan di wajah Zicka. Marcel merasa tenang sekarang, sepertinya Zicka sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Ia juga sudah benar-benar memaafkan kesalahannya di masa lalu. Bahkan Zicka terlihat lebih cantik saat ini. Wajahnya bersinar cerah. Sepertinya ia begitu bahagia dengan suami barunya. Benar kata orang, suami yang tepat bisa membuat istri terlihat lebih cantik, cerah, bersinar karena bahagia. Tidak seperti dirinya dulu.


Awalnya Zicka memang bahagia hidup dengannya. Tapi seiring kenaikan jabatan hingga godaan wanita idaman lain membuatnya mengabaikan bidadari surganya itu. Alhasil, cahaya di wajah istrinya meredup karena kebahagiaan yang perlahan-lahan menghilang. Sungguh, penyesalan itu hingga kapanpun takkan pernah sirna. Sebab itulah bukti kebodohannya selama ini. Bukannya meraih kebahagiaan, ia justru hidup menderita dan selalu berkubang dalam penyesalan tiada tara.


Marcel juga mengangguk sekilas pada Keenan, meminta izin dengan isyarat anggukan saja. Beruntung, suami Zicka tidak mempermasalahkan dirinya yang ingin dekat dengan Meyra. Keenan pun mengangguk ramah. Sungguh beruntung nasib mantan istrinya itu karena mendapatkan suami yang begitu pengertian dan perhatian. Dapat Marcel lihat, Keenan begitu memperhatikan Zicka. Bahkan ia tak sungkan-sungkan berjongkok melihat kaki Zicka yang kesakitan dan memijitnya karena sudah mulai membengkak.


Marcel tersenyum saat kamera mulai mengambil gambar dirinya, Mike, dan Meyra. Namun tidak ada yang tahu, senyum itu bukanlah senyum bahagia, tapi senyuman miris sebab mantan istrinya bukanlah berbahagia karena dirinya, tapi karena lelaki lain.


Menyesal pun tiada guna. Nasi telah menjadi bubur dan bubur itu tak mungkin bisa menjadi beras lagi.


"Papa, nama adeknya siapa?" Akhirnya setelah sekian lama Meyra enggan berbicara dengan Marcel karena merasa takut, ia kini mau memanggil papa lagi pada Marcel.


Marcel tersenyum penuh haru. Matanya berkaca-kaca. Dengan bibir bergetar, ia pun menjawab pertanyaan Meyra.


"Suala Om lutcu," seru Deenan sambil terkekeh.


"Halo juga adek Mike, kenalin, aku kak Meyra. Kalau ini kak Deenan. Salam kenal ya dek," ujar Meyra membuat Marcel tak mampu menyembunyikan air mata harunya.


"Om kok nanis?" Beo Deenan heran.

__ADS_1


"Eh, Om, Om nggak nangis kok. Cuma kelilipan tadi," kilah Marcel sambil menyeka air matanya.


"Mata papa kelilipan? Sini Mey tiup." Meyra lantas mendekatkan wajahnya dan mulai meniup mata Marcel yang mana justru makin membuat Marcel tergugu.


Ia lantas menarik Meyra ke dalam pelukannya dan terisak. Bahunya berguncang, membuat Deenan kian bingung dan menghampiri Zicka.


"Mi, mi, mi, napa Om itu nanis sambil peyuk kak Mey?" Tanya Deenan bingung dengan bibir merahnya yang mengerucut.


Zicka tersenyum lalu mengusap puncak kepala Deenan dengan sayang.


"Itu papanya kak Mey, Sayang. Kan papa kak Mey udah lama nggak ketemu kak Mey, jadinya kangen," ujar Zicka yang dijawab Deenan dengan ber'oh ria saja.


"Mey, maafin papa ya udah jahat sama Meyra! Papa ... Papa menyesal, Sayang. Papa ... Papa sayang banget sama Mey. Mey mau maafin papa kan?" Tanya Marcel setelah melepaskan pelukannya. Ditatapnya lekat mata bulat Meyra yang berkedip-kedip.


Meyra mengangguk, "iya, papa. Meyra udah maafin papa kok. Kata mimi, Meyra nggak boleh marah sama papa. Papa nggak sengaja kan waktu itu? Kata mimi, papa nggak sengaja. Papa kayak gitu karena kangen sama Mey. Sama, Mey juga kangen sama papa," ujar Meyra polos membuat Marcel kian terisak. Ternyata mantan istrinya masih sebaik itu. Ia bahkan menasihati putrinya agar tidak marah apalagi membenci dirinya. Memang mantan istrinya sebaik itu. Dirinya saja yang bodoh, mudah termakan bujuk rayu sehingga kehilangan berlian yang tak ternilai harganya itu.


"Makasih, Sayang. Papa sayaaang banget sama Mey. Oh ya, jagain mama terus ya, Sayang. Kalau butuh apa-apa, hubungin papa aja. Papa pasti akan datang," ujar Marcel membuat Meyra tersenyum lebar.


"Siap, papa. Meyra juga sayang banget sama papa," sahut Meyra yang kemudian mengecup pipi Marcel membuat mata yang binar bahagianya telah lama meredup itu kembali berbinar cerah.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2