Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
29. Genggaman yang hangat


__ADS_3

Setelah menjauh dari Andin, Zicka terus menelusuri lorong-lorong mall sambil mencari keberadaan putri kecilnya. Namun, ia belum menyadari bahwa sedari tadi tangannya masih berada di dalam genggaman Keenan. Entah apa karena terlalu nyaman atau ada alasan lainnya, ia benar-benar tak menyadarinya.


Sedangkan Keenan yang sedari tadi mengikuti langkah Zicka, terus memandangi telapak tangan yang ia genggam. Keenan tersenyum penuh arti ke arah genggaman itu. Ia merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam genggaman itu. Sebenarnya ia ingin melepaskan genggaman itu karena perasaannya mulai tak menentu.


Memang ini bukan pertama kalinya ia mengenggam tangan seorang wanita, tapi tetap saja ia merasakan kenyamanan yang berbeda, membuat jantungnya berdetak kencang dan darahnya berdesir hebat. Sudah lebih dari satu tahun ia tidak merasakan menggenggam tangan seorang wanita. Yang terakhir adalah tangan almarhumah istrinya. Namun, tetap saja kehangatan ini sangat berbeda.


Ingin rasanya ia mengangkat tangan itu, mendekatkan ke wajahnya, lalu mengecupnya mesra. Tapi ...


"Huh, pikiran macam apa itu! Bisa-bisa Zicka jadi marah dan menjauhiku kalau aku melakukannya" gumam Keenan pelan nyaris berbisik hingga Zicka pun tidak menyadarinya.


"Cie ... cie ... Kayaknya udah deket banget nih sampai jalan aja pake gandengan tangan udah kayak truk gandeng aja," goda Jenny sontak membuat Zicka terkejut dan menyadari bahwa sedari tadi tangannya masih berada di dalam genggaman Keenan.  Zicka pun gegas melepaskan genggaman tangan itu dengan ekspresi salah tingkah.


Keenan pun ikut salah tingkah mendengar godaan dari adiknya tersebut. Keenan memelototkan matanya memberi kode supaya berhenti menggoda mereka, tapi sepertinya Jenny sudah mendapatkan hobi baru, yaitu menggoda kakaknya dan Zicka.


"Apa sih kak melotot-melotot? Liat tuh, udah hampir keluar biji matanya. Hahaha ..."


"Mmm ... Maaf, sepertinya kami harus segera pulang. Ayo, sayang!" Zicka mencoba menghindari godaan mantan guru anaknya tersebut dan mengajak Meyra pulang.


"Lho Mbak, kok cepet banget. Anak-anak masih asik main nih, iya kan Mey!"


"Iya, Ma, Mey masih mau main sama adek Dii. Sebentar lagi ya ma!" mohon Meyra dengan wajah memelas.


"Tapi mama masih banyak pekerjaan di toko, sayang. Mama juga mau cek persediaan bahan makanan, udah diantar supplier belum. Kita pulang ya, Sayang. Lain kali kita main lagi," bujuk Zicka sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Meyra.


"Ya udah, Mey, lain kali kita main lagi sama adek Dee ya! Meyra pulang aja dulu. Kayaknya mama emang sedang sibuk banget. Adek Dee juga udah mau pulang, ya kan Sayang!" tanya Jenny pada ponakannya tersayang, Deenan.


"Iya Onty, Dii uga udah antuk. Hoaaamm ..." Deenan tampak menguap dengan sorot mata meredup.


"Tuh kan adek Dee juga udah ngantuk. Onty janji bakal ajak Meyra jalan-jalan lagi. Oh ya, ini kartu nama Onty, nanti kalau Meyra pingin jalan-jalan, hubungi ke sini ya minta sama mama," ucap Jenny seraya menyerahkan selembar kartu nama.

__ADS_1


"Baik, Onty," jawab Meyra lugas.


"Oh ya Mbak, bisa minta nomor ponselnya?" mohon Jenny dengan wajah memelas. Akhirnya dengan terpaksa Zicka memberikan nomor ponselnya yang baru.


"Oh pantas saja nomor mbak Zicka nggak bisa dihubungi, ternyata udah ganti toh," gumam Jenny seraya mengetik nomor ponsel Zicka yang baru.


"Kalau gitu, kami duluan ya, Jen, Keenan." Pamit Zicka buru-buru. Keenan dan Jenny pun mengangguk sembari melambaikan tangan ke arah Meyra dan Zicka.


Setelah melihat bayangan Zicka dan Meyra yang makin menjauh, Jenny yang sambil menggendong Deenan pun mengikuti langkah Keenan beranjak menuju mobilnya untuk pulang.


Di mobil


"Kamu sih Jen tadi pake godain Zicka, dia jadi nggak enak kan terus buru-buru pulang," omel Keenan membuat Jenny memiringkan wajahnya menatap sang kakak.


"Kenapa kak? Kakak menyesal ya Zicka ninggalin kakak gitu aja?" goda Jenny sembari menaik-turunkan alisnya.


"Ih dasar anak nakal, doyan bener godain kakak."


Lalu Keenan pun menceritakan kronologis pertemuan Zicka dan mantan madunya yang terkesan tak suka dengan Zicka. Bahkan ia terang-terangan menghina Zicka dan merendahkan Zicka. Wanita itu juga terang-terangan mencoba menggoda Keenan, untungnya Keenan bukan tipe pria yang mudah digoda.


"Ah, coba aku tadi ada di sana pasti udah aku jambak tuh rambut nenek sihir. Baru dengar ceritanya aja udah kesel apalagi liat secara langsung ya kak, pasti Zicka merasa terluka banget. Tapi aku salut, Zicka masih bisa sabar dan menghadapinya dengan tenang."


"Kamu benar, Jen. Tapi satu yang buat kakak penasaran, tadi saat ia mengira kakak kekasih Zicka, ia justru merasa bersyukur karena katanya artinya suaminya nggak akan mencari Zicka lagi. Bukankah artinya mantan suaminya itu masih mengharapkan Zicka?"


"Wah, bisa jadi Kak! Hanya lelaki bodoh yang mau melepaskan permata seperti mbak Zicka," ucap Jenny sambil melirik Keenan dengan senyuman penuh arti.


"Kok kamu malah melirik aku sih, Jen?"


"Iyalah, termasuk kakak akan aku cap sebagai pria bodoh bila tak mampu melihat permata seperti mbak Zicka."

__ADS_1


"Aku mengerti maksud kamu, tapi aku kan belum benar-benar mengenalnya, Jen. Ini saja pertemuan kami yang kedua setelah sekian lama."


"Tapi jujur aja kak, gimana perasaan kakak saat menggenggam tangannya tadi? Apakah ada rasa deg deg ser gitu atau biasa saja?"


"Udah ahhh, kakak kayak punya adik detektif aja, bukan guru, kerjaannya interograsi mulu," ucap Keenan mencoba menginterupsi pertanyaan adiknya.


"Oh ya, malam ini kakak dinas, ada jadwal operasi jadi mungkin pulang dini hari, kakak titip Deenan yah!"


"Oke bos. Tolong pikirin pertanyaan aku tadi ya kak! Aku harap kakak bisa bahagia dan menemukan cinta sejati kakak."


"Nasihatin orang aja bisanya, kamu tuh yang seharusnya kakak nasihatin. Masih belum bisa move on apa dari lelaki brengsek itu?"


"Hmmm ... Entahlah kak, mungkin belum 100%. Makanya, kakak bantuin aku move on dong, cariin kek dokter yang ganteng di rumah sakit kakak buat aku. Hehehe ..." kekeh Jenny.


"Ogah ah, entar mereka kamu PHP'in lagi. Mending cari sendiri aja biar lebih klop di hati."


"Ya dehhh! Bilang aja nggak mau, dasar pelit. Heheheh ...."


Tak terasa hari sudah malam, Meyra telah tertidur nyenyak tepat di samping Zicka hanya dengan berapa kali tepukan di bokongnya. Sebuah kebiasaan yang dapat membantu Meyra tidur nyenyak.


Kini Zicka sedang menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang. Matanya menerawang ke langit-langit sambil memikirkan apa yang ia alami hari ini. Mulai dari obrolan receh yang menyenangkan dengan Keenan hingga pertemuan tanpa disengaja dengan Andin yang melukai perasaannya hingga rasa percaya dirinya runtuh.


Zicka mendekati meja rias lalu memperhatikan pantulan wajah dan tubuhnya di cermin.


"Apakah aku seburuk itu di mata Mas Marcel dulu?Apakah itu alasannya dia berselingkuh dariku?" gumam Zicka lalu ia mengalihkan pandangannya pada lengan yang tadi digenggam Keenan, tanpa sadar tersungging satu senyuman dari bibir Zicka.


"Genggaman yang sangat hangat dan nyaman. Ah, apa yang aku pikirkan? Stop berpikir yang macam-macam Zicka, sekarang kau hanya perlu fokus pada Meyra. Ya fokus saja membesarkan Meyra dengan baik. Aku harus protect pada hatiku agar tidak mudah jatuh cinta sebab cinta itu hanya akan memberikan rasa sakit bila jatuh pada orang yang tidak tepat," monolog Zicka.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2