Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
40. Kekhawatiran Zicka


__ADS_3

Setelah dokter Alona meninggalkan mereka, Zicka dan Jenny ingin masuk ke dalam ruang rawat Keenan.


"Vin, titip Meyra sebentar ya! Aku mau lihat keadaan Keenan. Bagaimana pun ia jadi seperti itu karena berusaha menolongku dan Meyra," ucap Zicka lirih.


"Nggak masalah kok, Ka. Kamu masuk aja bareng Jenny." Yang dibalas anggukan oleh Zicka.


"Meyra disini dulu ya sama om Marvin, mama mau lihat Om Keenan dulu."


"Baik, Ma," sahut Meyra.


*


*


*


"Kak, bagaimana keadaanmu?" tanya Jenny.


"Aku baik-baik saja, Jen. Oh ya Zee, apa kau dan Meyra tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanya Keenan cemas.


"Kami tidak apa-apa kok. Tak perlu mencemaskan kami. Seharusnya kau cemaskan dirimu sendiri. Gara-gara kami, kamu jadi terluka. Maafkan kami," ucap Zicka penuh penyesalan.


Tiba-tiba Keenan mengangkat tangannya beralih menggenggam tangan Zicka, membuat  yang dipegang tangannya itu cukup tersentak. Semua adegan itu pun tak luput dari pandangan Jenny, sehingga menimbulkan tanda tanya dalam benak Jenny, ada hubungan apa kakaknya dan Zicka? Apakah mereka punya hubungan spesial? Diam-diam, Jenny tersenyum tipis, ia harus segera menanyakannya nanti pikirnya.


"Kamu nggak perlu menyalahkan diri kamu sendiri. Kan bukan kamu yang minta bantuan aku, tapi aku yang dengan senang hati membantumu. Mungkin kalau aku terlambat sedikit saja, semua akan menjadi penyesalanku seumur hidup," ucap Keenan sendu, mencoba menenangkan Zicka.


"Ehem ... cie ...  cie ... kayaknya aku ketinggalan berita nih. Ada apa nih, kok suasananya jadi kayak ekhem  romantis-romantis gitu? Apa ... Kakak sama mbak Zicka lagi jalin hubungan special?" goda Jenny seraya menaik-turunkan alisnya.


Zicka mendadak gugup, ia penasaran apa yang akan diucapkan oleh Keenan tentang hubungan mereka. Karena ia sendiri pun masih bingung. Sebab Keenan tempo hari hanya meminta izin untuk lebih mengenalnya, ia belum berani menyebutkan jenis hubungan antara mereka berdua.

__ADS_1


"Emangnya kenapa kamu bisa berfikir begitu, Jen?" tanya Keenan.


"Ya bisa lah, pertama kok kakak bisa bersama mbak Zicka saat peristiwa tadi. Kedua ada yang wajahnya tiba-tiba murung waktu dokter Alona bilang dia temen dekat kakak, dan ketiga masih keliatan tuh ampe sekarang." Jenny menggestur tangan Keenan yang menggenggam tangan Zicka menggunakan ujung dagunya.


Zicka langsung hendak menarik tangannya dari genggaman tangan Keenan, tapi Keenan justru mempererat genggamannya. Zicka pun hanya bisa pasrah hingga wajahnya memerah karena malu diperhatikan oleh Jenny.


"Kakak harap emang gitu Jen, kakak bisa jadi orang spesial bagi Zee. Lampu hijaunya belum benar-benar terang, masih redup. Kakak harap sesudah ini, ia mau menerima kehadiran kakak dengan tangan terbuka. Oh ya, emang bener yang kamu bilang tadi Jen, ada yang wajahnya tiba-tiba murung mendengar cerita dokter Alona yang ngaku-ngaku kalau dia itu temen dekat kakak?" tanya Keenan penuh selidik dengan sedikit menggoda, berharap itu adalah tanda-tanda Zicka sudah mulai ada rasa padanya.


"Bener kak. Aku nggak bohong kok. Kalo gitu, Jenny keluar dulu ya biar kakak bisa ngobrol berdua sama mbak Zicka. Oh ya mbak, Meyra Jenny ajak jalan-jalan dulu ya! Pasti dia masih trauma atas kejadian tadi," pamit Jenny sambil tersenyum menggoda yang disambut anggukan oleh Zicka dengan wajah tersipu.


"Zee ..." panggil Keenan setelah kepergian Jenny.


"Emmm ..."


"Liat aku, Zee! Jangan nunduk gitu terus, emang leher kamu nggak sakit apa?"


Zicka pun mendongakkan wajahnya menghadap Keenan.


Zicka hanya terdiam, bingung tak tau harus bicara apa. Dalam hati memang ia merasa sangat nyaman dengan Keenan, tapi ia merasa ragu dan takut. Setiap kejadian begitu melekat dalam hati dan pikirannya. Apalagi ia tahu, sosok Keenan pasti banyak yang suka. Ia kaya, tampan, baik, membuatnya merasa insecure sendiri.


"Kalau kamu, memang gimana perasaan kamu ke aku?" Zicka mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku tulus sayang sama kamu, Zee, dan sepertinya aku sudah benar-benar jatuh cinta sama kamu," ucap Keenan jujur membuat Zicka terperangah.


"Lalu bagaimana dengan dokter Alona?"


"Alona?? Hahahaha ... Ternyata benar kamu cemburu ya, Zee? Aku nggak ada hubungan apa-apa kok sama dia. Kami hanya sekedar teman, partner di tempat kerja, nggak lebih," ucap Keenan dengan tersenyum.


"Tapi aku takut, Keen. Saingan aku pasti banyak, sedangkan aku cuma orang biasa, aku ... aku punya masa lalu yang nggak bagus," ujar Zicka dengan tertunduk lesu. "Eh, kamu mau ngapain?" tanya Zicka melihat Keenan bergerak seperti ingin bangun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Aku mau duduk sambil sandaran." Lalu Zicka pun membantu Keenan agar bisa duduk dengan nyaman sambil meletakkan bantal ke kepala ranjang untuk sandaran. Tapi setelah Keenan dapat duduk dengan nyaman, tiba-tiba ia menarik Zicka agar duduk di ranjang bersamanya, membuat wajah Zicka memerah karena malu ditatap intens oleh Keenan.


"Kok kamu tarik aku sih, nanti yang lain masuk terus lihat kan nggak enak."


"Biarin, aku mau ngomong serius sama kamu soalnya."


"Mau ngomong apa?" tanya Zicka gelagapan.


"Yang tadi. Zee, Lihat mataku, please!" sambil menarik dagu Zicka agar menatap matanya.


"Zee, setiap orang memiliki masa lalu entah itu baik atau buruk. Tapi, ingat masa lalu kamu memang milik kamu, tapi aku berharap masa depan kamu bersama aku. Kamu nyaman nggak saat bersama aku?"


Zicka menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, "jujur, aku sangat nyaman saat sama kamu," ucap Zicka gugup.


"Begitu pun aku, Zee. Aku menemukan kehangatan dan kenyamanan saat bersama kamu karena itu aku bisa yakin kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu. Tak perlu pikirkan apa kata orang lain, toh yang jalani kan kita. Aku memang baik sama orang lain, tapi bukan berarti aku suka apalagi cinta, tapi hanya sebatas menjaga silaturahmi. Tapi untuk masalah hati, harus kamu tahu, walau aku sudah pernah menikah, namun kamu yang pertama mengisi hati ini. Aneh memang, masa' udah usia kayak gini baru pertama kali jatuh cinta, tapi begitulah adanya, Zee. Aku nggak pernah jatuh cinta seumur hidupku. Karena itu waktu aku menikahi Diva yang merupakan sahabatku dari kecil aja, aku butuh bantuan orang tuaku untuk melamarnya. Kamu ingat kan saat di hotel, ada ibu-ibu yang terus membantu dan membimbingku apa yang harus aku lakukan, itu adalah ibuku," jelas Keenan panjang lebar.


"Dulu kamu butuh bantuan, kok sekarang berani sendiri?"


"Karena hal itu berbeda. Dulu aku tidak memiliki rasa cinta, namun kali ini berbeda sebab aku memiliki rasa cinta. Jadi aku harus memperjuangkannya sendiri tanpa bantuan mama. Zee, kalau kamu masih ragu dan takut, mari kita jalani saja dulu. Aku yakin 100% kalau kamu pun sudah mulai mencintaiku," ucap Keenan dengan percaya diri.


"Ish, kepedean," jawab Zicka sambil tersenyum.


"Nah, gitu donk senyum. Aku suka lihat kamu tersenyum." Dengan sekali gerakan, Keenan menarik Zicka ke dalam pelukannya dan menempelkan kepalanya di dadanya, mencoba menyalurkan kehangatan dan kenyamanan pada Zicka untuk menstimulasi agar Zicka segera menyadari perasaannya pada Keenan.


Zicka tak menolak pelukan itu. Sedari tadi memang perasaannya masih terasa kacau dan ia butuh sebuah pelukan yang menenangkan. Ia tak punya sahabat atau sanak sodara di kota itu. Hal itulah yang membuatnya makin merasa sulit di setiap langkahnya karena tak adanya support atau dukungan dari orang yang terdekat saat ia mengalami permasalahan.


Walaupun Keenan sedang memakai pakaian khas rumah sakit, tapi itu tak menghalangi aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya. Zicka hirup aroma itu dalam-dalam, efeknya sungguh kentara. Bagaikan candu, ia ingin terus menghirup aroma itu, aroma yang begitu menenangkan. Bukan hanya Zicka yang seperti itu, ternyata Keenan pun melakukan hal demikian. Ia terus menerus menciumi pucuk kepala Zicka sambil menghidu aromanya dalam-dalam. Wanginya begitu menenangkan bagi Keenan.


Mereka terus berpelukan sambil bersandar di ranjang rumah sakit hingga tanpa sadar mata mereka perlahan mulai terpejam. Mungkin karena efek terlalu lelah setelah mengalami peristiwa yang begitu tak mengenakkan, mereka pun tertidur bersama sambil berpelukan satu sama lain.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2