
Di rumah Marcel
"Hahahhha ... akhirnya hari ini tiba. Siang ini calon pembeli rumah ini akan serah terima kunci. Terserah dengan dirimu mas, aku sudah tak peduli lagi. Sebelum kau menceraikan ku, aku harus sudah lebih dahulu menghancurkan mu. Memangnya aku tak tahu apa yang kau lakukan di belakangku. Kau sibuk mengejar-ngejar jandamu sendiri hingga mengabaikan ku . Kau bodoh mas, wanita itu sudah tak ingin kembali lagi padamu, tapi kau masih saja mengejarnya. Sekarang aku akan membuatmu hancur, mas. Ditolak wanita yang kau cinta, ditinggal istri, kehilangan tempat tinggal. Aku bertahan padamu hanya karena kau menjamin semua kebutuhanku, tapi semenjak kau sibuk ingin kembali dengan jandamu itu, kau jadi jarang masuk kerja, gaji dipotong, jangan-jangan sebentar lagi kau dipecat. Ah, aku tak dapat membayangkannya bila aku harus kembali ke titik nol, jadi wanita yang tak memiliki apa-apa. Lebih baik aku segera pergi, sebelum rencanaku tercium olehmu," monolog Andin sembari mengemas barang-barangnya.
Ia akan pergi meninggalkan Marcel karena sudah tak tahan dengan sikap Marcel. Ia juga sudah menjual rumah yang mereka tempati dan siang ini ia akan serah terima kunci dengan uang hasil penjualan rumah Marcel.
Kemudian ia mengambil foto buah hatinya Mike, "Maafin mama ya, nak, mama terpaksa meninggalkan kamu. Semoga kamu baik-baik saja tinggal sama nenek. Maaf, mama nggak bisa ajak kamu karena mama masih ingin hidup bebas. Bila kamu ikut mama, pasti mama sulit untuk bergerak bebas belum lagi harus menanggung biaya hidup kamu. Selamat tinggal nak," ucap Andin saat melihat foto buah hatinya yang kini ia titipkan di rumah ibu Marcel. Setelah itu ia pun segera pergi menuju lokasi pertemuan ia dengan sang pembeli rumah.
*
*
*
Setelah mendapatkan pesan share location dari Marcel, Zicka bergegas menaiki taksi menuju lokasi tujuan. Ia berangkat dengan perasaan kalut dan panik. Hingga suara dering ponsel membuyarkan lamunannya.
"Ya ... Halo, siapa ini?" ucap Zicka dengan suara bergetar karena ia masih asing dengan nomor yang baru pertama kalinya menelponnya itu.
"Hai Zee, ini aku Keenan. Maaf karena menelfonmu tiba-tiba," ucap Keenan dari seberang telefon.
"Iya Keen, tak apa," jawab Zicka masih dengan nada bergetar karena panik.
Dahi Keenan mengernyit, ia dapat merasakan ada sesuatu yang berbeda dari suara Zicka di telepon, "Kamu kenapa Zee? Mengapa suaramu terdengar begitu gugup dan agak bergetar? Apa telah terjadi sesuatu ?" tanya Keenan penuh selidik. Seketika tangis Zicka pecah saat Keenan masih menelponnya hingga membuat Keenan begitu khawatir.
"Meyra Keen, Meyra ..." ucapan Zicka terputus karena tenggorokannya tercekat dan dadanya yang sesak akibat menangis.
"Meyra kenapa, Zee? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Keenan ikut panik.
"Meyra dibawa paksa mas Marcel, Keen. Dan kini ... kini ia ingin bertemu denganku. Ia tak mau menyerahkan Meyra bila aku tidak datang. Hiks hiks hiks ... "
"Sekarang kau dimana, Zee?"
__ADS_1
"Aku sedang di dalam taksi, sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi ia berada."
"Kau bisa kirimkan lokasinya ke nomorku ini?" pinta Keenan.
"Tapi Keen ..." ucap Zicka ragu.
"Tak usah tapi-tapi. Nanti kirimkan lokasinya padaku, oke! Kau tak perlu cemas, Marcel tak mungkin akan menyakiti Meyra, putrinya sendiri. Justru aku khawatir padamu, Zee. Aku takut ia memaksakan kehendaknya lagi padamu. Jadi aku mohon kamu tenang. Setelah aku menutup telfon, segera kirimkan lokasinya ya, aku akan langsung menyusul ke sana. Yang penting sekarang kau harus tenang, jangan terpancing dengan segala ancamannya. Oke."
"Iya ..." jawab Zicka singkat.
"Kau percaya padaku kan, Zee?"
"Aku percaya padamu Keen, aku mohon kau segera datang Keen. Aku ... aku takut sekali," ucapnya dengan bibir bergetar.
"Tak usah cemas, aku akan segera datang kesana dan membawamu beserta Meyra pulang. Aku tutup telfonnya ya. Jangan lupa kirimkan lokasinya!" titah Keenan lagi.
Keenan pun menutup telfonnya. Ia bergegas dengan setengah berlari keluar dari ruang kerjanya di rumah sakit setelah terlebih dahulu membuka snelinya menuju tempat parkir. Semua karyawan rumah sakit tampak heran karena baru saja siang tadi mereka melihat wajah sumringah pemilik rumah sakit itu, tapi dalam hitungan jam saja raut wajahnya berubah menjadi tegang dan panik serta terkesan sedang tergesa-gesa seperti ada sesuatu yang begitu mengkhawatirkan, seolah ada sesuatu yang begitu mendesak.
"Tunggu aku, Zee! Tenanglah, aku akan segera menyusul dan menyelamatkanmu dan Meyra," batin Keenan.
30 menit kemudian,
Zicka kini telah tiba di lokasi tujuan sesuai dengan pesan yang dikirimkan oleh Marcel. Ia terkejut karena lokasinya merupakan sebuah rumah kecil. Yang lebih mengejutkan, rumah ia telah dihiasi sedemikian rupa. Bahkan ada sepasang janur kuning yang melengkung disana.
Zicka panik apalagi ia ingat beberapa hari yang lalu Marcel sempat memaksanya untuk ikut, ia ingin menikahi Zicka dengan paksa. Zicka mencoba menenangkan dirinya yang diliputi kecemasan. Dengan hati-hati, ia memasuki pekarangan rumah tersebut.
"Mas ... mas Marcel! Meyra ... kamu dimana nak, ini mama," teriak Zicka.
Namun ia tak kunjung melihat keberadaan Marcel maupun Meyra keluar dari rumah tersebut.
"Meyra sayang ... ini mama, Nak. Segera keluar sayang, mama datang untuk menjemputmu," teriak Zicka lagi.
__ADS_1
"Mama ..." teriak Meyra. Ia ingin berlari mendekati Zicka tapi tidak bisa karena Marcel memegangi erat kedua tangannya
"Meyra sayang, kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Zicka panik
Meyra menggelengkan kepalanya, "Meyra nggak papa, Ma. Pa, Meyra mau ikut mama." Meyra memelas pada Marcel.
"Zicka, kalau kau menginginkan Meyra, maka segera kemari, mendekatlah dan turuti semua perintahku," titah Marcel.
"Apa yang akan kau lakukan, Mas? Kau mau apa?" curiga Zicka.
"Aku sudah katakan tempo hari bukan, aku ingin kembali padamu. Aku ingin rujuk dan menikah ulang denganmu karena itu hari ini kau harus menuruti keinginanku. Bila tidak, maka kau harus dengan ikhlas melepaskan Meyra padaku."
Zicka menggelengkan kepalanya dengan cepat, "kau jangan gila, Mas!" hardik Zicka. "Kau tahu, aku sudah tak ingin bersamamu lagi. Sudah cukup kau menghancurkan hatiku dan aku tak ingin itu terjadi lagi."
"Baiklah kalau kau tak mau, artinya kau harus mengikhlaskan Meyra padaku," ucap Marcel sinis.
Marcel sadar, Meyra adalah kelemahan Zicka karena itu ia memanfaatkan Meyra supaya Zicka dapat kembali padanya. Awalnya ia tak ada pikiran seperti itu, namun ingatannya beberapa hari yang lalu setelah melihat kedekatan Zicka dan Meyra pada Keenan membuatnya meradang. Ia harus menemukan cara ampuh agar Zicka bisa tunduk padanya dan mengikuti keinginannya rujuk kembali. Seketika itu juga ia terpikir untuk memanfaatkan putrinya sendiri, yaitu Meyra.
Flashback on
Setelah bersusah payah Marcel mencoba bangkit dan menahan rasa sakitnya akibat menerima terjangan dari Keenan. Ia berjalan tertatih menuju mobilnya untuk keluar dari tempat parkir mall tempat ia berada sekarang.
Setelah berhasil masuk ke dalam mobil dan ingin segera melajukan mobilnya, ia melihat Zicka sedang berada di mobil lelaki yang telah menerjangnya. Ia pun mengikuti mobil itu, berharap ia tau dimana tempat tinggal Zicka sekarang. Tak lama kemudian tibalah dia di sebuah toko kue bernama Zee Cake and Brownie.
Dengan mengendap-endap, ia mengikuti Zicka. Ia terkejut melihat kedekatan antara pria misterius itu dengan Zicka dan Meyra membuatnya berpikir keras bagaimana caranya agar bisa mendapatkan Zicka kembali hingga terpikirlah satu ide, yaitu memanfaatkan Meyra. Ia tahu, Zicka sangat menyayangi Meyra dan ia akan melakukan apapun untuk keselamatan dan kebahagiaan Meyra.
Marcel pun menyusun rencana akan menculik Meyra, lalu memaksanya menyetujui rencananya untuk rujuk dan menikah ulang. Karena itu, setiap hari ia datang ke toko kue Zicka hanya demi mencari kesempatan Zicka lengah sehingga ia bisa menculik Meyra dan melancarkan rencana busuknya.
Flashback off
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...