
Di mobil
"Ra, mumpung masih pagi, gimana kalo kita renang aja dulu, kalo udah puas baru kita jalan-jalan ke mall terus main banyak permainan sepuasnya, gimana?" tawar Marvin pada sang keponakan, Meyra.
"Setuju Om, Meyra setuju banget malah. Mama juga setuju kan?" Tanya Meyra sembari mengerjap-ngerjapkan matanya yang polos membuat Zicka tersenyum, tak mampu menolak.
"Terserah Meyra sama Om Marvin aja deh! Mama sih ikut aja. Yang penting Meyra princessnya mama senang," tutur Zicka sembari tersenyum kemudian mengusap surai panjang Meyra yang dikepang dua.
"Asikkkk ... "pekik Meyra kesenangan. Bahkan ia sampai berjoged-joged karena kesenangan. Zicka dan Marvin pun terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan Meyra.
'Mas Marcel, seharusnya masa-masa seperti ini kau hadir di sini. Seharusnya kamu yang duduk di kursi kemudi mengantar kami. Seharusnya kamu bisa meluangkan waktu sedikit saja untuk anakmu. Tidakkah kau sedih tidak bisa melihat tumbuh kembang anakmu sendiri?' lirih Zicka dalam hati. Ia begitu sedih melihat anaknya justru mengandalkan orang lain meskipun itu pamannya sendiri.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Marvin pun tiba di arena permainan air Aman*i Water Park. Karena ini akhir pekan, arena permainan air itu pun dipenuhi banyak pengunjung, baik yang berasal dari dalam maupun luar kota, baik yang dengan keluarganya ataupun pasangan muda mudi.
"Om beli tiket dulu ya sayang. Kamu tunggu disini sama mama!" Tukas Marvin pada Meyra. Meyra pun mengangguk antusias. Meyra rasanya sudah tak sabar lagi ingin bermain air dan berenang di dalam sana.
"Oke Om," seru Meyra dengan mata berbinar cerah. Marvin pun segera berlalu menuju loket pembelian tiket untuk masuk ke area permainan air tersebut.
"Ma, nanti Meyra mau naik bebek-bebekan ya terus naik seluncuran itu tu, terus ... Meyra mau berdiri di bawah ember raksasa itu Ma, kayaknya enak diguyur pake ember raksasa itu." Jari Meyra menunjuk seluncuran yang nampak panjang dan berliku kemudian beberapa wahana yang ingin dicobanya.
"Emang Meyra berani?" tanya Zicka penuh selidik.
"Ya donk Ma, siapa takut. Meyra kan anak mama pasti pemberani," ujarnya penuh percaya diri membuat Zicka terkekeh geli.
__ADS_1
'Meyra nggak tau aja kalau sebenarnya mama agak penakut dengan ketinggian apa lagi berliku kayak gitu. Uh, baru memikirkannya aja udah merinding. Apalagi kalo udah naik,' batin Zicka bermonolog.
"Yuk Ka kita masuk! Aku udah beli tiketnya. Yuk, Sayang!" ajak Marvin sambil mengangkat tubuh Meyra ke atas pundaknya dan melangkah masuk ke area permainan.
"Makasih banget ya, Vin, kamu udah baik banget sama Meyra. Nggak kebayang deh kalau nggak ada kamu, pasti hari-hariku akan menjadi makin sulit. Pun Meyra akan terus-terusan sedih dan murung karena keinginannya tak bisa diwujudkan. Padahal jarang-jarang Meyra meminta sesuatu," gumam Zicka yang sudah berkaca-kaca memandangi kedekatan Meyra dan Marvin yang sedang melangkahkan kakinya masuk ke area permainan air. Zicka sungguh menyayangkan, mengapa bukan Marcel yang membahagiakan Meyra, tapi justru adiknya, Marvin. Mungkin bila orang lain melihat, pasti mereka mengira Marvin lah ayah dari Meyra karena kedekatan mereka selayaknya ayah dan anak.
"Yuk sayang, kita ganti baju dulu! Kita ganti bajunya di ruangan itu, kalo Om Marvin di ruangan khusus cowok," ujar Zicka sambil mengulurkan tangannya untuk menyambut Meyra ke dalam gendongannya.
"Oke, Ma," seru Meyra antusias.
Saat keluar dari ruang ganti, mata Marvin langsung terbelalak melihat penampilan Zicka. Zicka memang tidak memakai bikini, hanya baju renang yang agak tertutup namun lekukan tubuhnya masih dapat terlihat jelas, membuat kesan sexy di mata Marvin. Marvin segera mengalihkan pandangannya dari Zicka. Bagaimanapun status Zicka adalah istri kakaknya, jadi ia tak pantas memikirkan Zicka apalagi memandanginya secara berlebihan.
"Om Marviiiin ... " Meyra segera menghamburkan tubuhnya ke arah Marvin. Marvin pun merentangkan tangannya menyambut Meyra kemudian membawanya ke dalam gendongan menuju kolam yang dangkal khusus anak-anak.
"Meyra sudah siap? Yuk, kita berenang!" seru Marvin.
Meyra nampak sangat bahagia sekali. Walau hanya bermain di kolam yang dangkal, tapi pancaran kebahagiaan Meyra begitu terlihat jelas. Zicka tak henti-hentinya tersenyum melihat aktivitas putri kecilnya yang sedang bermain air. Saking asiknya memandangi Meyra, ia tak sadar kalau sedari tadi Marvin sudah berada di sisinya memandangnya dengan tatapan penuh arti.
"Ka, Icka ... Hei ... " Marvin menepuk bahu Zicka membuat ibu satu anak itu tersentak.
"Ikh, kamu apaan sih, Vin, ngagetin aja!" Protes Zicka sambil mendelikkan matanya.
"Kamu tuh, bengong aja dari tadi. Yuk, kita kesana temenin Meyra," ajak Marvin yang sudah menarik pergelangan Zicka menuju ke arah Meyra.
__ADS_1
Mereka pun mendekati Meyra sambil menyiram-nyiramkan air ke arah Meyra yang dibalas Meyra serupa. Meyra terus tertawa bahagia, Zicka pun tak henti-hentinya tersenyum melihat ekspresi bahagia Meyra, sedangkan Marvin, dia ikut bahagia bisa membuat 2 wanita di dekatnya itu bahagia.
Setelah itu, Marvin juga mengajak Meyra dan Zicka naik seluncuran air yang lebih seperti terowongan yang sangat besar dan panjang, serta berliku. Awalnya Zicka menolak karena takut, namun Marvin meyakinkannya kalau itu menyenangkan. Marvin mendudukkan Meyra di pangkuannya karena Meyra masih kecil dan merangkul Zicka agar nyaman dan tak takut lagi. Akhirnya mereka pun berseluncur ria dengan tawa bahagia.
Tak terasa mereka sudah bermain air di kolam hampir 4 jam. Mereka pun bersiap untuk jalan-jalan. Tapi Marvin mengajak Meyra dan Zicka makan siang dulu untuk memberikan energi supaya mereka gak kelaparan saat jalan-jalan nanti.
Kini mereka sudah menginjakkan kaki mereka di mall XXX. Marvin ngin mengajak Meyra bermain ice skating. Dengan senang hati Meyra menyetujui ajakan pamannya itu. Dengan sabar Marvin mengajari Meyra bermain Ice skating. Setelah ia rasa Meyra sudah cukup pandai, ia melepaskan Meyra bermain tanpa bantuannya. Kini giliran ia ingin mengajak Zicka bermain.
"Aku nggak bisa, Vin," tolak Zicka karena memang ia tak bisa bermain ice skating.
"Meyra tadi juga nggak bisa, tapi liat tuh ,dia udah pandai, masa' mamanya kalah sama putrinya yang masih kecil sih," ledek Marvin membuat Zicka mencebik.
"Tapi ... "
"Nggak usah tapi-tapi, sini!"
Marvin pun menarik tubuh Zicka, memegangi kedua tangannya, membimbing dengan perlahan agar Zicka dapat mengimbangi permainan ice skating nya. Setelah ia rasa Zicka sudah berani, perlahan Marvin melepas genggaman tangannya tanpa Zicka sadari.
"Tuh, bisa kan! Tadi aja takut bener." Zicka sontak sadar ternyata Marvin sudah tidak memeganginya lagi. Zicka sangat senang, dengan sekali hentakkan ia tanpa sadar berhambur ke pelukan Marvel karena kegirangan.
"Oops ... Maaf, Vin!" Zicka tersadar sudah memeluk Marvin membuatnya kikuk sendiri.
"Mama, Om Marvel, yuk main!" Meyra menarik lengan Zicka dan Marvin agar ikut bermain juga. Akhirnya mereka pun bermain kejar-kejaran di arena ice skating.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...