
3 hari telah berlalu, Keenan sudah pulang ke rumahnya. Di rumahnya, Keenan selalu dibombardir dengan banyak pertanyaan oleh sang mama mengenai siapa Zicka. Keenan memang belum menceritakan kepada sang mama kalau ia tengah dekat dengan seorang wanita. Kalau bukan karena keusilan Jenny yang mulutnya terlalu ember, sang mama pasti tidak akan tahu.
"Keen, jadi kapan kamu akan ajak kekasihmu itu kesini? Mama pingin banget kenalan sama wanita yang berhasil luluhin hati kamu yang kayak es itu," desak mama Keenan.
"Huh, pasti si adik mulut ember ya Ma yang cerita? Kemana tu adik mulut ember? Awas aja ya!" omel Keenan yang sudah bersungut-sungut.
"Udah deh Keen, nggak usah ngalihin pembicaraan. Cepetan jawab pertanyaan mama tadi, susah amat sih! Emang kamu udah lama ya kenal sama yang namanya Zicka itu? Terus orangnya kayak gimana?" desak mama terus.
"Kenal sih udah lama, Ma, cuma ya sebatas kenal aja. Mama ingat kan manager di hotel XX tempat aku melamar Diva tempo hari, nah itu dia Ma orangnya," tukas Keenan mulai bercerita.
"Bentar-bentar, mama coba ingat-ingat dulu orangnya. Maklumlah Keen, mama udah mulai pikun, bawaan faktor U," ucap mama seraya terkekeh sambil berusaha mengingat-ingat.
"Faktor U?" tanya Keenan belum paham maksud mamanya.
"Faktor umur Keen, kamu nggak gaul ah, nggak ngerti istilah-istilah zaman sekarang," cibir mama Keenan.
"Ya wajar dong, Ma, Keenan kan dokter pahamnya masalah penyakit bukannya istilah kekinian. Mama sok gaul ah."
"Bentar ah Keen, kamu berisik aja. Mama lagi mengingat yang namanya Zicka itu. Udah rada-rada ingat, tapi masih burem wajahnya," seloroh sang mama yang memang sangat suka bersenda gurau dengan anak-anaknya.
"Yaelah, Ma, emang foto pake burem. Hahaha ... Ini nih dari pada mama sibuk mengingat-ingat tapi nggak ingat juga. Mending lihat langsung fotonya," tukas Keenan sambil menunjukkan fotonya bersama Zicka dan Meyra yang sempat di abadikannya saat jalan-jalan ke taman safari tempo hari.
"Ck ... bilang kek dari tadi kalau ada fotonya," omel sang mama sambil menerima ponsel Keenan. Keenan hanya terkekeh mendengar omelan sang ibu.
"Oalah, ini toh! Hhmmm ... Iya iya, sekarang mama ingat. Wanita yang cantik, ramah, pintar, lembut, tapi juga tegas. Mama ingat gimana cekatannya ia mengatur bawahannya saat mempersiapkan acara lamaran kamu dulu," ujar mama Keenan seraya tersenyum saat melihat foto Zicka dan Meyra di ponsel Keenan.
__ADS_1
"Iya, Ma. Anaknya juga pinter, Ma. Keenan kagum sama dia. Padahal masih muda, single parent, tapi masih bisa berusaha cari uang sekaligus mendidik anaknya dengan baik," puji Keenan.
"Cuma suami bodoh yang menyia-nyiakan orang seperti Zicka, Keen. Kalau kamu langsung menikahinya, mama setuju banget."
"Mantan suaminya emang bodoh, Ma. Sekarang giliran udah pisah aja baru nyesel. Andai tempo hari Keenan telat sedikit aja, pasti Zicka udah dinikahinya lagi secara paksa."
"Hmmm ... Bener-bener lelaki bodoh. Mama doakan kalian berjodoh ya, Keen. Pasti Deenan senang banget bisa punya mami lagi."
"Aamiin, Ma, semoga ya. Emang Deenan kayaknya udah jatuh cinta banget sama Zee, Ma, malah Dee maksa panggil Zee dengan sebutan mami, syukurnya Zee nggak mempermasalahkannya."
"Mungkin karena dia juga udah punya rasa sama kamu, Keen," goda sang mama membuat Keenan tersenyum lebar.
"Semoga aja, Ma," ucap Keenan sambil terus tersenyum mengenang saat-saat kebersamaannya dengan Zicka. Apalagi saat ia tertidur berdua di atas brankar rumah sakit.
'Aku harus buruan melamar kamu, Zee. Aku nggak tahu sampai kapan aku bisa menahan hasratku ini. Sungguh, setiap berdekatan denganmu, ingin sekali aku menyentuhmu. Tapi aku terlalu takut kamu marah. Aku benar-benar ingin menjadikanmu milikku seutuhnya agar aku bisa bebas memanjakan mu, menyentuhmu, membelaimu, dan hidup bersamamu sampai akhir akhir waktu,' batin Keenan .
...***...
Di saat Keenan sedang sibuk dengan khayalannya menjadikan Zicka sebagai pendamping hidupnya, di tempat lain ada sepasang manusia yang lagi PDKT.
"Hai Vin, maaf ni, aku telat ya?" ucap Jenny sambil tersenyum manis.
"Kalo sekali lagi kamu gini, aku tinggal balik. Liat tuh, udah habis 2 cangkir cappuccino, kamunya baru datang," sungut Marvin sambil mendelikan matanya.
"Iya ... Iya ... maaf, tadi beneran ada keperluan mendesak. Anak muridku ada yang keserempet motor, orang tuanya belum datang jemput jadi aku anterin anak muridku itu ke rumah sakit dulu. Aku takut terjadi apa-apa sama dia," ucap Jenny jujur dengan nada sedikit memelas.
__ADS_1
"Jadi gimana keadaan anak murid kamu itu?" tanya Marvin ikut khawatir.
"Alhamdulillah, udah nggak papa. Nggak ada masalah serius. Hanya ada beberapa luka aja. Tapi syukurnya nggak parah."
"Itu merah-merah di baju kamu itu darah anak itu ya?"
Jenny melirik ke bajunya, "astaga, aku nggak tahu darahnya kena baju aku. Aku tadi terlalu panik, Vin. Jadi gimana kita mau nonton kalau baju aku aja kayak gini." Jenny menghela nafasnya, merasa sedih takut rencana mereka nonton berdua batal.
Marvin tersenyum lalu bergerak mendekati Jenny. Kemudian ia memakaikan jaket yang ia kenakan ke tubuh Jenny lalu menarik resletingnya ke atas sehingga noda darah itu tertutup dengan sempurna. "Sekarang aman. Kita jadi kan nontonnya?" tanya Marvin sambil mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Jenny langsung berbinar. "Karena udah aman, jadi dong. Kamu udah beli tiketnya?" tanya Kenny antusias.
"Udah dong. Nih, tiket untuk kita berdua," ucap Marvin sambil mengangkat tangan kanannya yang memegang tiket, kemudian tangan kirinya merangkul Jenny, membuat Kenny jadi salah tingkah
Marvin memang sudah memantapkan hatinya untuk move on dari Zicka sebab ia sadar hati Zicka tak pernah akan berpaling padanya. Kedekatannya pada Jenny bukan semata karena ingin memanfaatkannya agar bisa segera move on, tapi memang karena ia mulai merasa nyaman saat bersama Jenny. Apalagi sifat Kenny yang kadang bisa kekanakan, bisa humoris, bisa juga dewasa dan bijaksana sesuai keadaan. Benar-benar membuat Marvin nyaman. Karena itu, ia memantapkan hati akan mengejar Jenny meskipun rasa cinta itu belum benar-benar tumbuh. Apalagi Jenny seperti sudah memberi lampu hijau membuatnya kian yakin akan berusaha mendapatkan hati Kenyny.
Di saat Zicka dan Marvin yang mulai mereguk kebahagiaan dengan penuh perjuangan dan kesabaran, Marcel justru sekarang sedang terpuruk. Setelah kematian Andin, kehilangan rumah yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri, kini di tempat kerjanya ia harus rela turun jabatan dari manager hotel menjadi karyawan biasa. Semua terjadi akibat kelalaiannya sendiri. Akibat terlalu fokus ingin mengejar Zicka dan mendapatkannya kembali, ia jadi sering telat bahkan beberapa kali tak datang ke kantor. Beruntung ia tidak dipecat secara sepihak, sebab ia tak punya pengalaman bekerja di tempat lain.
Apalagi dengan usianya sekarang, pasti akan sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya. Kini Marcel hanya bisa pasrah menjalani harinya sebagai staf hotel biasa. Yang penting gajinya masih cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan juga putranya. Kini Marcel juga sudah kembali tinggal di rumah sang mama. Dengan bantuan sang mama yang mengasuh Mike, ia jadi bisa bekerja dengan tenang.
Marcel kini juga sudah mengikhlaskan Zicka sepenuhnya. Apalagi setelah mendengarkan nasihat sang mama, ia menyadari semua kesalahannya selama ini. Ia sudah berniat untuk meminta maaf pada Zicka atas segala kesalahan dan kelalaiannya. Ia juga ingin meminta maaf pada sang adik, Marvin karena sering berlaku tak selayaknya seorang kakak pada adiknya. Kini ia benar-benar menyesal. Ia sadar, mungkin ini hukuman atas segala kesalahannya dan ia telah berjanji akan berubah menjadi seorang pria dan seorang ayah yang lebih baik lagi.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
__ADS_1