
Sudah satu jam berlalu, tapi belum ada tanda-tanda operasi selesai. Keenan tidak henti-hentinya berdoa pada yang kuasa agar istri dan anaknya bisa selamat.
Keenan tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya. Seandainya ia kembali ke kamar lebih cepat, pasti semua kejadian ini bisa diminimalisir. Seandainya ia kembali lebih cepat, setidaknya Zicka bisa mendapatkan penanganan dengan lebih cepat. Meskipun semuanya sudah takdir, tapi Keenan menyadari kecerobohannya memiliki andil atas apa yang Zicka alami.
"Ma, Zicka, Ma, Zicka ... Ini salahku, Ma. Semua salahku. Aku memang suami yang tidak berguna. Aku suami yang ceroboh. Aku takut, Ma. Aku takut, aku tidak ingin ditinggal lagi, Ma. Aku ... "
Keenan pernah berada dalam posisi ini. Hanya saja situasinya yang berbeda. Dulu Diva mengalami kontraksi saat ia harus menjalankan operasi dadakan. Malam itu terjadi kecelakaan beruntun sehingga banyak korban jiwa yang berjatuhan. UGD penuh. Semua dokter hingga koas sibuk menyelamatkan korban yang bisa diselamatkan. Keenan pun dipanggil untuk ikut membantu menyelamatkan nyawa korban kecelakaan itu.
Namun satu yang tidak Keenan ketahui, sejak sore sebenarnya Diva sudah mengalami kontraksi. Namun ia diam sebab tidak ingin membuat Keenan panik. Apalagi hari persalinan masih beberapa minggu lagi. Ia pikir, itu pasti hanya kontraksi palsu.
Namun tak ia sangka, rasa sakit itu kian malam kian menjadi. Tubuh Diva sudah kadung lemas. Bahkan untuk berjalan saja kakinya sudah kesulitan untuk menapak. Untuk berteriak memanggil ibu mertua maupun adik iparnya pun suaranya terasa tercekat. Perutnya terasa diremas-remas dan diaduk-aduk. Nafasnya naik turun dengan denyut nyeri kian menjadi-jadi. Biar begitu, Diva tetap berusaha untuk turun dari tempat tidur. Karena sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit, perlahan kesadarannya mengabur. Ia pun terjatuh di lantai dengan darah mengalir deras dari sela-sela kakinya.
Satu jam kemudian, dengan tubuh remuk redam dan kepala pusing akibat rasa lelah yang luar biasa, Keenan pun masuk ke dalam kamar. Saat menyalakan lampu, nafas Keenan tiba-tiba tercekat saat melihat Diva yang sudah terkapar di lantai dengan darah yang membanjiri sekitar kakinya.
Nyawanya seakan direnggut paksa dari raganya. Keenan berteriak sambil melemparkan snelli dan tas kerjanya. Ia langsung memeriksa keadaan Diva yang sudah amat sangat lemah. Dengan bercucuran air mata, Keenan menggendong Diva keluar dari dalam kamar.
Jerit tangis Keenan meminta agar istrinya itu membuka mata membuat seisi rumah terbangun dan segera berlari melihat apa yang terjadi. Mata semua orang terbelalak saat mendapati Diva yang wajahnya sudah begitu pucat dalam gendongan Keenan. Jangan lupakan bagian bawah gaun tidur Diva yang basah oleh darah. Tak ada yang bisa tenang melihat keadaan Diva.
Bahkan kepanikan mereka kian menjadi setibanya di rumah sakit. Keadaan Diva ternyata sudah tidak memungkinkan. Bahkan denyut jantung calon bayi mereka pun sudah sangat lemah. Setelah segenap upaya yang dilakukan para dokter, akhirnya hanya sang bayi yang bisa diselamatkan. Sementara Diva pergi sebelum sempat melihat bayinya sama sekali.
Sungguh kejadian itu begitu membekas di benak Keenan. Rasa takut akan kehilangan membuatnya benar-benar frustasi. Keenan sampai membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Ingatan itu menjadi trauma tersendiri bagi Keenan. Dan kali ini kejadian serupa kembali terjadi. Ia takut. Benar-benar takut.
"Keen, hentikan! Kau bisa menyakiti dirimu sendiri. Jangan begini, Nak," sergah mama Keenan. Ia berusaha menghentikan perbuatan Keenan yang menyakiti dirinya sendiri dengan membenturkan kepalanya ke dinding.
__ADS_1
"Nggak, Ma, biar Keenan melakukan ini. Keenan bodoh, Ma. Lagi-lagi Keenan melakukan kesalahan. Lebih baik Keenan mati. Keenan nggak sanggup kalau lagi-lagi harus kehilangan. Biar nyawa Zicka Keenan tukar dengan nyawa Keenan sendiri. Asal Zicka selamat, Keenan rela mati untuknya. Keenan ... Keenan nggak sanggup bila harus kehilangan Zicka. Lebih baik Keenan pergi lebih dulu daripada ... "
Plakkk ...
Tiba-tiba mama Keenan menampar pipi sang putra yang terus menceracau. Ia tidak ingin sang putra mengatakan hal yang tidak-tidak. Air mata ibu Keenan sudah mengalir deras di kedua pipinya.
"Kau pikir dengan menyakiti diri sendiri seperti ini Zicka akan senang, hah?" bentak sang ibu membuat Keenan lantas menutup wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.
Beberapa perawat dan koas serta dokter yang melihat bagaimana Keenan tampak frustasi karena ketakutan akan kehilangan sang istri pun ikut meneteskan air mata. Tidak pernah sekalipun mereka melihat sosok dokter idola mereka itu merasa sehancur ini. Bahkan dokter Alona yang melihat bagaimana Keenan begitu frustasi memikirkan keadaan sang istri ikut menangis.
Namun suara tangis bayi yang pecah membuat semua orang di sana terkesiap. Dengan perasaan was-was, mereka menanti kabar terbaru dari wanita yang sedang berjuang di dalam sana. Semua orang berdoa agar Zicka bisa selamat. Begitu pula dokter Alona. Meskipun sampai sekarang ia masih belum bisa melupakan Keenan, tapi melihat bagaimana hancurnya laki-laki itu karena keadaan sang istri yang tidak baik-baik saja ikut menggugah hatinya.
'Ya Allah, tolong selamatkan dia dan bayinya. Hamba mohon ya Allah. Hamba mohon,' doa dokter Alona. Hal yang sama pun diucapkan semua orang yang berada di sana. Apalagi Keenan merupakan pemimpin sekaligus pemilik rumah sakit itu. Sudah pasti mereka mengenal sosok Keenan sehingga mereka pun tak urung ikut mendoakan
Tak lama kemudian, pintu ruang operasi pun terbuka. Sesosok dokter tampan berjalan seraya tersenyum lembut pada Keenan.
Apa yang dokter itu katakan bagai hujan es yang turun di padang gurun yang tandus. Sejuk. Menyegarkan. Keenan menghela nafas lega. Masih dengan air mata yang bercucuran di pipinya. Ia bersyukur pada sang pencipta karena masih memberikannya kesempatan untuk meraup kebahagiaan bersama yang tercinta, Zicka dan anak-anaknya.
...***...
Ruang pemulihan VIP itu kini tampak riuh dipenuhi para pengunjung yang ingin melihat keadaan Zicka. Padahal sebenarnya pengunjung tidak boleh masuk dalam jumlah banyak seperti ini, tapi karena yang dirawat merupakan istri dari pemilik rumah sakit itu sendiri jadi semua sah-sah saja.
Zicka sudah sadarkan diri sejak beberapa jam yang lalu. Bahkan ia sudah sarapan dibantu Keenan yang menyuapi. Sungguh Zicka amat sangat bahagia. Sepertinya ia pun pernah mengalami hal serupa, namun dengan orang yang berbeda.
__ADS_1
Dulu Marcel pun seperti ini padanya. Ia begitu perhatian dan penyayang. Namun seperti kata orang, ujian seorang istri itu saat suami tidak memiliki apa-apa, sedangkan ujian seorang suami itu saat ia sudah memiliki segalanya. Saat mereka tidak memiliki apa-apa, Zicka lulus dengan nilai sempurna, tapi tidak dengan Marcel. Ia gagal. Kegagalan yang berakhir penyesalan.
"Kamu sedang mikirin apa, Sayang?" tanya Keenan yang sudah duduk di samping Zicka.
Zicka menggeleng sambil tersenyum, "aku nggak mikirin apa-apa kok, Sayang."
Mata Keenan memicing, membuat Zicka tersenyum melihatnya.
"Aku hanya memikirkan bagaimana kalau kita tidak pernah bertemu, Sayang. Mungkin aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Ini terlalu luar biasa untukku. Aku bahagia," ujar Zicka tulus.
"Aku pun merasa begitu. Kau tahu, aku hampir gila saat melihat keadaanmu tidak berdaya seperti itu. Aku takut ... aku takut kau pergi meninggalkanku. Rasanya aku takkan sanggup bertahan hidup bila kau tidak ada di sisi. Aku minta maaf ya, Sayang, atas kecerobohan ku. Aku benar-benar bodoh. Karena kecerobohan ku, kau hampir saja ... "
"Ssst ... " tiba-tiba Zicka meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Keenan. "Aku tahu, kau tidak sengaja melakukan itu. Yang penting sekarang aku dan anak-anak kita sehat semua. Mari kita berjuang bersama untuk membesarkan anak-anak kita dengan segenap cinta dan kasih sayang. Terima kasih atas cinta yang kau beri, Sayang. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih sudah kembali menyinari hidupku yang sempat meredup karena kehilangan cintanya."
Keenan pun memeluk Zicka dengan erat seraya berkata, "seharusnya aku yang berterima kasih. Tanpa hadirmu, hidupku pasti akan selalu dalam kehampaan. Tanpa cinta. Namun hadirmu mengubah semuanya. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
Sepasang suami dan istri itu terlalu terlarut dalam euforia cinta mereka yang indah. Sampai-sampai lupa kalau di ruangan itu mereka tidak sendiri. Tak ada yang ingin mengganggu momen pasangan suami istri yang baru saja dikaruniai sepasang bayi laki-laki dan perempuan itu. Semua paham kalau mereka membutuhkan waktu untuk mencurahkan kebahagiaan yang mereka rasa saat ini. Semua tersenyum bahagia. Termasuk Marcel yang juga hadir di sana. Meskipun hatinya harus hancur lebur tak bersisa, tapi setidaknya, ia bisa tersenyum tulus melihat seseorang yang ternyata masih ia cintai itu menemukan kebahagiaannya.
'Selamat berbahagia, Zicka. Kau memang pantas mendapatkannya.'
...***...
...❤️❤️❤️THE END ❤️❤️❤️...
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...