
Perjuangkan bila itu pantas untuk dipertahankan dan lepaskan bila itu terasa menyakitkan.
*
*
*
*
Seperti niatnya tadi, sorenya, Marcel datang kembali ke rumah Zicka. Ia membawa boneka hello kitty yang besar kesukaan Meyra. Ia berharap bisa membujuk Zicka dan Meyra karena ia tahu, kelemahan Zicka adalah Meyra. Ia ingin membujuk Zicka melalui Meyra. Tapi saat tiba di sana, kondisi rumah itu masih sama seperti pagi tadi, sepi, tanpa ada satu orang pun.
"Sebenarnya mereka kemana sih? Kenapa jam segini belum pulang juga?" gumam Marcel lirih sambil menghenyakkan bokongnya di kursi yang ada di teras rumah itu.
Tak lama kemudian sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar. Ia melihat Zicka dan Meyra turun dari taksi itu. Marcel pun menyambut mereka dengan tersenyum manis. Tapi reaksi Zicka dan Meyra berbeda dari harapannya.
Zicka dan Meyra terkejut melihat Marcel telah berdiri di depan rumahnya dengan membawa boneka hello kitty yang sangat besar.
"Papa?" ucap Meyra dengan alis bertaut.
"Kalian dari mana kok baru pulang sesore ini?" tanya Marcel penasaran sambil memandangi keduanya bergantian.
"Bukan urusanmu," jawab Zicka singkat lalu segera meraih kunci rumah di dalam tas dan membuka pintu rumah meninggalkan Marcel di luar. Meyra yang masih bengong, hanya diam menatap Marcel.
"Halo sayang, sini sayang! Peluk papa donk, kamu nggak kangen ya sama papa?" Marcel mencoba merayu Meyra.
"Nggak kok, Meyra nggak kangen," jawab Meyra polos membuat Marcel membeliakkan matanya.
Deg ...
Marcel kaget dengan jawaban Meyra.
"Tapi papa kangen, Sayang. Nih lihat, papa beliin kamu apa? Papa beliin Meyra boneka hello kitty yang super gede. Meyra suka kan hello kitty?"
__ADS_1
"Udah nggak suka lagi, Pa," jawab Meyra singkat lalu meninggalkan Marcel yang mematung karena terkejut dengan jawaban singkatnya.
Setelah mendengar jawaban acuh dari putrinya itu, Marcel menggeram kesal. Lalu ia masuk ke dalam kamar Zicka dan menarik paksa tangan Zicka agar menghadapnya.
"Awww, lepas, Mas! Sakit ... " Zicka merintih saat tangannya ditarik paksa oleh Marcel
"Kau bilang apa pada Meyra tentangku, hah? Pasti kau sudah mempengaruhinya agar membenciku kan?" teriak Marcel tepat di depan muka Zicka.
"Mas, aku memang sakit hati pada sikapmu dan aku benci mengingat semua kelakuanmu, tapi aku tidak sejahat itu untuk meracuni pikiran polos anakku. Apalagi untuk membencimu. Seharusnya kau introspeksi diri mengapa putrimu yang dulu selalu menanti kepulanganmu dan berharap kehadiranmu jadi tidak peduli lagi padamu? Semuanya tidak terjadi tiba-tiba, tapi ada penyebabnya dan penyebabnya itu ada pada dirimu sendiri, bukannya malah menyalahkan aku," balas Zicka dengan suara yang ikut meninggi.
Lalu Zicka keluar dari kamar itu meninggalkan Marcel dengan menahan emosi yang sudah meletup-letup.
Karena merasa diacuhkan oleh Zicka dan Meyra, Marcel pun pergi dari rumah itu dengan emosi yang berkecamuk.
"Aku tidak salah. Aku hanya meninggalkan mereka selama 3 bulan ini. Yah, aku memang memiliki wanita lain hampir 2 tahun ini, tapi tetap tak sepantasnya mereka bersikap seperti itu padaku," gumam Marcel seperti tiada penyesalan sama sekali.
Sementara itu, di rumah, Zicka tengah memegang surat panggilan dari pengadilan agama.
"Aku harus cepat mengesahkan perpisahan ini. Aku sudah tak tahan melihat sikap dan kelakuannya. Syukurnya saat ini untuk mengajukan gugatan perceraian tidak dipersulit asalkan ada bukti-bukti yang menguatkan, maka semua akan berjalan lancar. Semoga saja mas Marcel lupa dan tidak hadir di persidangan jadi keputusan perceraian akan lebih cepat selesai tanpa hambatan," gumam Zicka dengan dada yang bergemuruh.
Ting tong ...
Pintu pun dibuka.
"Mau cari siapa, Pak?" tanya Andin.
"Benar ini rumah pak Marcel?" tanya tukang pos
"Iya benar, ada apa ya?"
"Ini bu, ada surat panggilan dari pengadilan. Mohon diterima dan tanda tangani disini!" ujar pak pos itu sambil memberikan sebuah amplop berwarna coklat berlogo pengadilan agama. Setelah menerima surat itu, Andin pun segera menandatangani berkas tanda terima.
"Terima kasih, Bu. Kalau begitu, saya permisi," ujar pak pos itu kemudian segera berlalu dari hadapan Andin.
__ADS_1
Melihat logo yang tertera di depan amplop coklat itu, menimbulkan tanda tanya di benak Andin.
"Surat apa ini ya?" gumam Andin penasaran.
Kemudian ia pun segera merobek ujung amplop itu. Matanya seketika terbelalak saat melihat isinya yang ternyata itu merupakan surat panggilan dari pengadilan agama untuk Marcel yang berisi waktu dan tempat sidang gugatan perceraian akan dilaksanakan. Tertulis nama Zicka sebagai penggugat dan Marcel sebagai tergugat. Seketika mata Andi berbinar indah, senyumnya merekah, dadanya bergemuruh bahagia.
"Pantas saja mas Marcel akhir-akhir ini merasa uring-uringan, ternyata karena istri pertamanya mengajukan gugatan perceraian toh. Baguslah, jadi aku tak perlu bersusah payah memprovokasi mereka agar segera bercerai," gumam Andin bahagia. Entah darimana Zicka tahu alamat rumah mereka, Andin tidak begitu memusingkannya. Yang pasti, Andin merasa amat sangat senang sekarang sebab sebentar lagi ia akan menjadi satu-satunya istri dari seorang Marcel.
Sore hari
"Mas, tadi ada surat panggilan dari pengadilan agama," ujar Andin sumringah.
"Apa? Surat apa kau bilang? Surat panggilan dari pengadilan agama?" tanya Marcel meminta penjelasan.
Andin mengangguk cepat, "iya. Itu suratnya ada di atas meja kerjamu." Andin mengedikkan dagunya ke arah meja kerja Marcel.
Marcel pun bergegas meraih surat panggilan itu. Ia nampak shock, ternyata Zicka tidak main-main dengan ucapannya yang ingin mengajaknya berpisah. Ia tahu Zicka orang yang tegas dan cerdas karena itu saat mereka sama-sama masih menjadi karyawan hotel, karir Zicka lebih cepat menanjak dibanding dirinya. Seandainya Zicka masih bekerja di sana, mungkin posisinya takkan seperti ini. Karir Zicka pasti akan lebih cemerlang dibandingkan dirinya.
Marcel bergegas meraih kunci mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah Zicka. Ia akan berusaha agar Zicka mau membatalkan gugatan perceraiannya. Entah mengapa dalam lubuk hatinya ia masih berharap bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Zicka. Ia tahu Zicka sangat mencintainya jadi ia yakin ia akan mampu meluluhkan hati Zicka kembali sehingga mau membatalkan gugatan perceraiannya.
Sesampai di rumah Zicka, Marcel langsung mengambil kunci cadangan ingin masuk ke dalam rumah.
Ceklek ... ceklek ... ceklek ...
"****! Kenapa tidak bisa dibuka? Apa mungkin Zicka telah mengganti kuncinya? Ah, sial!!!"
"Zicka ... Ziii ... Zicka sayang, please, buka pintunya! Zickaaaaaa .... Cepat buka pintunya!" teriak Marcel ketika pintu tak kunjung bisa dibuka.
"Zickaaaa ... Aku tau kau ada di dalam, cepat buka pintunya!!!" teriak Marcel lagi tapi tetap tak ada respon dari dalam.
Karena tak kunjung mendapat respon dari Zicka, Marcel pun meninggalkan rumah itu dengan kesal.
"Maafkan aku, Mas, aku lelah bila harus terus berhadapan denganmu. Aku sudah membulatkan tekadku untuk berpisah denganmu. Untung saja Meyra tidur di rumah ibu jadi ia tak perlu mendengar teriakanmu itu," ucap Zicka yang ternyata memang ada di dalam kamar sengaja tak ingin keluar.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...