Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
48. Kabar bahagia


__ADS_3

2 bulan kemudian


"Hoek ... hoek ... hoek ..."


"Mi ... mimi kenapa? Mimi cakit ya?" tanya Deenan khawatir melihat Zicka yang nampak pucat, lemas, dan muntah-muntah saat ia masuk ke kamar Zicka.


"Kak Meyla ... kakak ... kakak Meyla ..." teriak Deenan.


"Ada apa dek teriak-teriak?" Sahut Meyra sambil berjalan ke sumber suara dan mata Meyra tiba-tiba membulat melihat Zicka yang tampak lemas di kamarnya, "Dek, mimi kenapa?" tanya Meyra ikut panik.


"Dii ndak tau kak, tau-tau mimi hoek hoek," ujar Deenan mencoba menirukan bagaimana Zicka muntah tadi.


"Itu namanya muntah, dek. Kakak panggil pipi dulu ya, dek." Meyra pun segera berlarian menuruni tangga mencari Keenan yang sedang di ruang gym. "Pi, pipi, mimi pi, cepetan pi," teriak Meyra dengan nafas ngos-ngosan.


"Kenapa cantik, kok ngos-ngosan gitu? Mimi kenapa?" tanya Keenan yang langsung berhenti berolah raga setelah melihat Meyra memanggilnya dengan nafas ngos-ngosan.


"Mimi pi, mimi sakit, kata adek Dee tadi mimi muntah-muntah," jelas Meyra terlihat begitu panik.


"Apa? Mimi sakit. Ya sudah cepat kita liat mimi, Sayang." Keenan pun segera berlarian menuju kamar Zicka diikuti Meyra di belakangnya.


"Sayang, kamu kenapa? Wajah kamu kenapa pucat kayak gini?" tanya Keenan khawatir melihat wajah sang istri yang tampak pucat dan lemah tak berdaya.


"Aku nggak tau, Sayang, badan aku tiba-tiba aja lemas, kepala aku pusing, terus mual juga," jawab Zicka lemas.


Keenan menempelkan punggung tangannya di dahi Zicka, "tidak panas. Kita ke rumah sakit kita aja ya biar bisa diperiksa lebih detil. Alat-alat pipi di rumah nggak lengkap. Meyra sama Deenan tunggu di rumah aja ya sama mbak Jum," ucap Keenan pada kedua putra dan putrinya.


"Ya, pi," jawab Meyra dan Deenan kompak.


di rumah sakit


"Dokter Sinta, bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Keenan pada dokter yang memeriksa keadaan Zicka.


"Keadaan istri dokter sepertinya menunjukkan gejala kehamilan, Dok. Coba dokter Keenan periksa ke bagian obgyn untuk memastikannya," ucap dokter Sinta setelah memeriksa kondisi fisik Zicka.


Wajah panik Keenan kini berubah jadi berbinar. Memang kondisi Zicka sekarang menunjukkan tanda-tanda kehamilan, tapi tetap Keenan tidak bisa langsung menyimpulkan sebelum benar-benar memastikannya ke dokter spesialis kandungan sesuai saran dokter Sinta.


"Baiklah dok, saya akan langsung membawa Zicka ke obgyn. Terima kasih, dok," ucap Keenan ia pun segera berlalu dan membawa Zicka ke bagian obgyn untuk memastikan dugaannya.


Setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan hasil USG menunjukkan benar ternyata rahim Zicka sudah dihuni calon bayi Zicka dan Keenan. Diperkirakan usia kandungan Zicka memasuki minggu ke 8. Keenan dan Zicka sangat bahagia mendapat kabar itu.


Setelah kondisi Zicka sudah lebih baik, Keenan dan Zicka pun pulang ke rumah. Mereka pun segera mengabarkan kabar gembira tersebut ke keluarga besarnya. Keluarga besar mereka merasa sangat bahagia mendengar kabar tersebut.


"Yeay, Meyra punya adek lagi. Mi, nanti adeknya cewek ya, Mi!" pinta Meyra dengan mata berbinar cerah.


"No no no, Dii maunya adek towok, Mi, Dii ndak mau adek tewek," sergah Deenan yang memang menginginkan seorang adik laki-laki.

__ADS_1


"Nggak, pokoknya Meyra mau adek cewek."


"Adek towok, towok, towok."


"Cewek."


"Towok," ucap Deenan tegas dengan tangan sudah terlipat di depan dada.


Jenny, Keenan, Zicka, mama Keenan sampai tergelak melihat tingkah dua bocah itu yang sedang sibuk berdebat. Meyra ingin adik perempuan, sedangkan Deenan ingin adik laki-laki. Tak ingin kedua bocah itu terus berdebat, akhirnya Zicka pun angkat bicara. Ia menasihati bahwa mau adik cewek ataupun cowok itu sama saja. Mereka tetap harus sayang, tidak boleh membedakan sebab mau adik cewek ataupun cowok, itu adalah anugerah dari yang Kuasa.


"Sudah ... sudah sayang, nggak boleh berantem. Sini Deenan sama Meyra duduk dekat mimi," sergah Zicka sambil memanggil kedua bocah yang sibuk berdebat itu.


Meyra dan Deenan pun duduk dekat Zicka.


"Dengar ya, Sayang, anak mimi dan pipi kan anak baik, jadi mau adiknya cewek atau cowok kalian harus terima sebab mau adik cewek atau cowok, itu adalah anugerah dari Allah, jadi kita harus terima dan syukuri, serta sayangi. Oke ...!" bujuk Zicka seraya menasihati.


"Baik, Mi," jawab Meyra dan Deenan kompak lalu mereka pun berbaikan dan saling berpelukan membuat semua orang bahagia melihat kedua bocah itu. Meskipun mereka bukan saudara kandung, tapi kasih sayang mereka tak bisa dipungkiri membuat siapapun yang melihat ikut meleleh karenanya.


...***...


"Hai sayang," sapa Marvin yang telah menunggu Jenny di resto dengan ruang privasi


"Hai juga, Sayang," sapa Jenny balik sambil tersenyum lebar.


"Kayaknya lagi happy banget nih, ada kabar apa nih?"


"Tentu donk, Marvin gitu lho," ucap Marvin membanggakan diri.


"Ish, sombong." Jenny mengerucutkan bibirnya.


"By the way, tadi ada kabar gembira apa sih? Jadi penasaran."


"Oh iya, hampir lupa. Mbak Zicka, Vin. Mbak Zicka hamil," ujar Kenny bahagia.


"Oh ya, kabar gembira banget tuh. Jen, kamu pingin nggak kayak Zicka?"


"Ya pingin lah, tapi sama siapa coba."


"Ya sama akulah, masa' sama orang lain."


"Nikah aja belum, udah mau punya baby aja."


"Ya udah, kita nikah aja jadi bisa buat baby juga," jawab Marvin santai membuat Jenny melongo.


"Nikah sama kamu?"

__ADS_1


"Iya, emang kamu nggak mau?"


"Tunggu tunggu, ini maksudnya kamu lamar aku atau cuma ngisengin aja alias ngeprank?" tanya Jenny bingung mendengar pernyataan Marvin yang masih terasa ambigu.


"Emmm ... Kamu makan dulu gih cakenya, baru kita lanjut ngomong," tutur Marvin.


Jenny pun menuruti perintah Marvin untuk memakan cake yang sudah tersedia di hadapannya, namun tiba-tiba ia merasa mengunyah sesuatu yang keras di dalam mulutnya. Lalu Jenny mengeluarkan benda itu dari mulutnya.


"Cincin?" Jenny tampak terkejut dengan apa yang ada di tangannya kini lalu Jenny menoleh ke arah Marvin dengan pandangan penuh tanya. Marvin pun mengerti apa yang dimaksud Jenny lalu ia meraih cincin itu dan menyematkan di jari manis Jenny. Jenny hanya terperangah dengan apa yang dilakukan Marvin saat ini.


"Kamu mau kan jadi istriku, Jen?" Marvin meraih tangan Jenny yang baru disematkannya cincin lalu mengecupnya. Jenny hanya menahan nafas seraya mengangguk tanpa dapat berkata-kata. Matanya berkaca-kaca, tak percaya kalau ia telah dilamar hari itu.


"Terima kasih, Sayang. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu," ucap Marvin lalu mengecup dahi Jenny dan beralih ke bibirnya.


Awalnya hanya kecupan singkat, namun kini kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman hangat cenderung panas dan intense yang disertai sedikit ******* membuat nafas mereka terengah-engah. Setelah itu, mereka malah terbahak karena baru kali ini mereka berciuman selama mereka menjadi sepasang kekasih.


...***...


"Halo Mike sayang, papa pulang," sapa Marcel yang baru pulang kerja dan hendak mencium putranya, Mike.


"Stop, Cel. Kamu baru pulang kerja, bersihkan diri dulu baru mendekati Mike," sergah mama Marcel.


"Sorry, Ma, kelupaan. Hehehe ... udah kangen banget sama Mike soalnya," ucap Marcel.


Marcel pun segera membersihkan diri dan menggendong Mike setelahnya.


"Oh ya, Cel tadi Marvin cerita, katanya Zicka hamil." Cerita mama Marcel.


"Bagus donk," ucap Marcel menanggapi.


"Kamu nggak papa, Cel?" selidik mama.


"Kalo dibilang nggak papa itu bohong, Ma, tapi mau gimana lagi, Marcel sudah nggak punya kesempatan lagi buat rujuk sama Zicka. Sekarang Marcel cuma bisa mendoakan, semoga Zicka bahagia. Zicka wanita yang baik, Ma, ia pantas mendapatkan kebahagiaan. Marcel sudah ikhlas," jawab Marcel jujur.


"Kamu yang sabar ya, Cel. Mama yakin kamu bakal nemuin jodoh kamu yang baik seperti Zicka dan yang penting bisa nerima kamu apa adanya." Mama Marcel mencoba memberi semangat pada putra sulungnya. Ia pun sebenarnya merasa bersalah mengapa dulu mendukung begitu saja pernikahan Marcel dan Andin. Andai ia bisa tegas sedikit saja dan memikirkan perasaan Zicka, pasti semua takkan terjadi seperti ini. Namun menyesal pun sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Kini bubur itu tinggal ditambah topping agar tetap nikmat untuk disantap. Lagipula egois sekali kalau mereka terlalu terlarut dalam penyesalan sebab hal tersebut sama saja dengan menyesali keberadaan Mike, putra Marcel, cucunya sendiri.


"Oh ya, sepertinya kita bakal besanan lho sama keluarga suami Zicka yang baru. Kamu tau kan Marvin pacaran sama adik suami Zicka?"


"Iya, Ma, tau. Mau besanan? Apa Marvin serius mau nikah sama adik ipar Zicka?"


"Iya, tadi Marvin juga cerita, dia sudah melamar adik suami Zicka dan diterima. Nggak lama lagi mereka akan nikah."


"Hmmm ... baguslah kalau begitu. Akhirnya ia bisa move on juga dari Zicka setelah bertahan selama bertahun-tahun. Semoga Marvin bisa bahagia. Marcel cuma bisa mendukung, Ma," ucap Marcel dengan senyum tulusnya.


Jangan melihat perceraian sebagai suatu kegagalan. Tapi lihatlah perceraian sebagai akhir dari sebuah cerita dan awal dari sebuah lembaran baru. Awal baru, cerita baru, kebahagiaan baru. Dalam sebuah cerita, semuanya memiliki akhir dan permulaan. Begitu pula dengan pernikahan.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2