
"Mom ..." bisik Jenny di telinga sang ibu.
"Apaan sih Jen, pake bisik-bisik segala, geli tau!" rutuk mommy sambil menggosok-gosok telinganya yang geli.
"Mom, mau denger gosip nggak?"
"Hmmm ... gosip? Nggak ah, dosa gosipin orang."
"Ini bukan gosipin orang, Mom, tapi kak Keenan."
"Apa? Keenan? Emangnya kakak kamu bukan orang apa?" celetuk Mommy Jenny.
"Ish mommy, Jenny serius, Mom." Wajah Jenny tampak bersungut-sungut membuat Mommy terkekeh.
"Emangnya gosip apa sih kayaknya serius banget?" Mommy pun ikut penasaran.
"Tuh kan, jadi kepooo juga. Hahaha ..."
"Lha kan kamu yang dari tadi pancing-pancing mommy jadi wajar dong kalo mommy penasaran."
"Gini mom, kan ya di sekolah Jenny itu ada anak murid kesayangan Jenny yang cantik dan pinter banget, ternyata eh ternyata mama nya itu kenal sama kak Keenan."
"Emang apa hubungannya? Udah punya anak juga, berarti udah bersuami dong!"
"Nggak lagi, Mom, udah single parent. Ternyata suaminya itu selingkuh tanpa sepengetahuan dia."
"Terus ... terus ..."
"Terus terus aja, nabrak dong, Mom. Hehehe ... Nah, kemarin kan Jenny janjian sama Kak Keenan dan Deenan di mall, eh pas Jenny datang, taunya mereka lagi duduk and ngobrol bareng. Anaknya, Meyra sama Deenan juga nampaknya akrab banget. Meyra suapin Dee makan es krim juga. Terus muncul deh ide iseng Jenny."
"Ide iseng?"
"Yes, Mom, Jenny ajak Meyra dan Dee main di arena bermain, alih-alih supaya kak Keenan bisa ngobrol bareng sama mbak Zicka. Eh tau nya pas Jenny tinggal, si pelakor menghampiri mereka jadi langsung aja di skak matt sama kak Keenan. Tahu nggak Mom endingnya?" Mommy menggeleng, malas menebak-nebak tepatnya. "Endingnya mereka nggak sadar jalan bareng sambil gandengan tangan. Hahahaha ... kalau mommy liat, pasti makin salting tuh kak Keenan. Apalagi Jenny liat sendiri, Kak Keenan senyum-senyum liatin tangan mereka yang sedang bergandengan. Ah ... Jenny berharap mereka jodoh, Mom," tutur Jenny penuh harap.
"Emang yang namanya Zicka itu gimana orangnya Jen sampai kamu suka banget? Bukannya kenapa, Mommy cuma takut aja. Mommy juga berharap kakak kamu menemukan orang yang tepat dan memiliki keluarga yang bahagia, Jen," ucap mommy dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat tahu bagaimana terpuruknya Keenan saat mendiang istrinya meninggal selepas melahirkan.
"Mommy tenang aja, mbak Zicka itu perempuan yang baik, mandiri, dan tegar. Kemarin aja pas kak Keenan cerita gimana perlakuan si pelakor padanya, mbak Zicka tetap menghadapi dengan tenang. Dia nggak ngamuk ataupun marah-marah. Aku aja Mom yang denger cerita kak Keenan emosi jadi pingin jambak-jambak tuh si pelakor, tapi mbak Zicka nggak ngelakuin itu. Bahkan ia dulu dengan rela melepas suaminya setelah tau selingkuhan suaminya itu hamil."
"Hmmm ... Mommy jadi pingin tuh ketemu sama perempuan yang bernama Zicka itu."
"Nanti kapan-kapan Jenny juga pingin ajak Meyra jalan-jalan lagi Mom jadi Mommy bisa kenalan sama mamanya, mbak Zicka."
drrtt ... drrtt ...
Ponsel Jenny bergetar, notifikasi pesan masuk tampil.
"Malam Jen, maaf ganggu malam-malam."
"Malam juga. Maaf, ini siapa ya?"
__ADS_1
"Aku Marvin, Jen. Masih ingat aku kan?"
"Oh, Marvin pemilik toko pakaian tempat mbak Zicka kerja dulu toh! Iya iya, aku ingat."
"Apa aku ganggu?"
"Nggak ganggu kok. Aku juga lagi nyantai. Emang ada apa?"
"Besok ada waktu nggak?"
"Mau ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain. Cuma butuh temen ngobrol aja, itupun kalau kamu nggak keberatan."
"Besok aku pulang ngajar jam 11. Mau ketemuan dimana?"
"Aku jemput, boleh?"
"Tapi aku bawa mobil sendiri."
"Oh ya udah. Kalau kita langsung janjian ketemuan di coffee XX gimana?"
"Boleh juga, aku tunggu."
"Oke, bye. Selamat malam."
"Malam juga."
"Ah, mommy. Mau tau aja. Jenny ke kamar dulu ya, Mom! Udah ngantuk berat. Met malam mommy."
"Ihh ... tuh anak, kepoin orang bisa dikepoin nggak mau. Dasar..." rutuk mommy.
...***...
"Mas Marcel, kamu tau nggak tadi di mall aku ketemu sama siapa?"
"Emang aku cenayang bisa nebak kamu ketemu siapa aja," ketus Marcel.
"Ah mas Marcel, tebak-tebakan sedikit kenapa. Ayo dong mas, ditebak!"
"Emmm ... Mama?"
"Bukan."
"Marvin?"
"Bukan juga."
"Udah ah, Mas nyerah. Mas capek."
__ADS_1
"Ah kamu, Mas, capek mulu bilangnya."
"Ya namanya aku kerja Ndin, ya capek. Kamu malah enaknya aja menghambur-hamburkan hasil kerja keras aku."
"Ah ... mulai deh! Sedikit-sedikit nyindir. "
"Tapi emang faktanya kayak gitu kan!"
"Emangnya kamu nggak ikhlas?"
"Bukannya nggak ikhlas, Ndin, seharusnya kamu bisa atur pengeluaran kamu, jangan taunya ngabisin duit aja," ujar Marcel kesal.
"Au ah, kamu ini, Mas, aku mau kasi tau kamu kalau aku ketemu siapa malah jadi marah-marah nggak jelas gitu. Jadi males cerita kalau aku ketemu Zicka, mantan istri kamu di mall lagi PDKT sama cowok."
"Apa? Apa kamu bilang tadi, Ndin? Coba ulang lagi? Ketemu Zicka?"
"Iya, aku ketemu Zicka, mantan istri Mas di mall lagi jalan sama cowok," ucap Andin datar.
"Sama cowok? Kamu nggak mengada-ada kan?"
"Siapa juga mas yang mengada-ada. Emang apa untungnya buat aku. Emang beneran dia lagi jalan sama cowok kok."
'Aarghhh ... Sial. Siapa pria yang bersama Zicka? Apa dia sudah dapat penggantiku? Takkan aku biarkan. Kamu cuma milik aku Zick, milik aku. Aku pasti akan melakukan apa pun supaya kita bisa rujuk lagi dan kembali seperti dulu karena aku tau cuma aku yang kamu cintai.' batin Marcel.
"Mas ... Mas Marcel, ish kok malah melamun sih! Mas Marcel ..." teriak Andin.
"Apaan sih kamu, Ndin teriak-teriak?" kesal Marcel.
"Kamu itu yang apaan, diceritain kalau aku ketemu Zicka, kamu malah langsung melamun. Apa kamu lagi berfikir untuk balikan lagi sama dia, hah?"
"Kalau iya kenapa? Apa kamu nggak suka?"
"Mas, kamu nggak bisa dong kayak gitu. Kamu udah cerai dari dia."
"Kami emang sudah bercerai, tapi tepatnya Zicka yang menggugat cerai aku, bukan aku yang menggugat cerai dia jadi aku masih bisa untuk rujuk sama dia asal kamu tau itu," jawab Marcel santai.
"Mas, pokoknya aku nggak setuju," teriak Andin kesal.
"Terserah kamu mau setuju atau nggak, yang pasti tekad aku udah bulat untuk rujuk sama dia lagi, titik."
"Oke kalau itu mau kamu, Mas, tapi apa dia masih mau sama kamu? Kamu ingat kan, Mas, dia menggugat cerai kamu karena kamu sudah menduakan dia," ucap Andin sinis.
"Aku tau itu karena itu aku akan meyakinkan dia, kalaupun akhirnya ia memintaku menceraikan kamu terlebih dahulu, akan aku lakukan," ucap Marcel penuh penekanan membuat dada Andin bergemuruh.
"Mas Marcel, apa kamu sudah gila, hah?" teriak Andin.
Lalu Andin beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamar dengan menahan emosi yang hampir meledak.
"Apa kau pikir kau dapat semudah itu mencampakkanku, hah? Takkan ku biarkan. Akan aku hancurkan kau terlebih dahulu sebelum kau menghancurkan ku," gumam Andin penuh emosi.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...