
1 bulan telah berlalu sejak kejadian Keenan yeng terluka dan dirawat di rumah sakit. Sejak tanpa sengaja mendengar percakapan Keenan dan dokter Alona sebulan yang lalu, kini Zicka telah benar-benar mantap membuka hati untuk Keenan. Bahkan kini mereka sudah semakin dekat.
Mama Keenan pun begitu menyayangi Zicka. Zicka yang memang tidak memiliki siapa-siapa lagi karena kedua orang tuanya telah tiada dan tak memiliki saudara, serasa memiliki keluarga yang utuh, hanya minus sang ayah saja.
Bukan hanya hubungan Keenan dan Zicka saja yang makin membaik, Jenny dan Marvin pun sudah makin dekat. Marvin telah berusaha untuk move on dari Zicka ke Jenny. Begitu pun Jenny, sudah berhasil melupakan mantannya yang pernah menyakiti hatinya dan beralih ke Marvin.
Seperti saat ini, kedua pasangan itu tengah merencanakan akan mengadakan double date di sebuah resto yang ada di hotel XX tempat Zicka dulu bekerja.
"Hai sayang, kau sudah siap?" sapa Keenan yang sudah berdiri di lantai 2 toko, tepatnya di depan kamar Zicka yang terbuka membuat wanita yang sedang merapikan rambutnya itu tersentak.
"Oh, kau sudah datang rupanya," ucap Zicka sambil menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Seperti yang kau lihat." Keenan masuk ke kamar Zicka.
"Hei, ke-kenapa kamu masuk ke kamarku, heh? Ayo keluar!" Zicka mencoba mendorong tubuh Keenan keluar tapi percuma saja tubuh Keenan tak bergeser walau sesenti. "Ah tubuhmu ini, kalau sudah berdiri sudah seperti tembok," dengus Zicka dengan mata melotot.
Keenan hanya terkekeh, lalu menarik pinggang Zicka agar merapat padanya.
"Sayang, jangan berdandan terlalu cantik!" ucap Keenan sambil memandangi wajah cantik Zicka tanpa berkedip.
"Memang kenapa? Bukannya ini kencan kita? Walau bukan hanya berdua, bukankah aku harus tampil cantik dan menawan?" protes Zicka sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya, aku tahu. Tapi aku takut ..." potong Keenan.
"Takut? Takut apa?"
__ADS_1
"Aku takut akan banyak mata lelaki yang memandangimu lalu jatuh hati padamu dan kau akan berpaling pada salah satu dari mereka yang lebih segalanya dari aku," ucap Keenan lirih membuat Zicka membulatkan matanya. Konyol sekali pikirnya.
"Hei, bukankah aku yang seharusnya takut! Karena lelakiku ini bukan hanya tampan, tapi juga sangat gagah dan merupakan dokter hebat sekaligus pemilik rumah sakit ternama. Pasti banyak rekanmu yang menyukaimu, bahkan banyak para orang tua yang rela anak gadisnya dipersunting olehmu walau statusmu sekarang adalah seorang du---da." Zicka menjeda kata duda takut menyinggung perasaan Keenan sambil meletakkan kedua lengannya di pundak Keenan.
"Oh ya, bagaimana kau bisa tahu?" smirk Keenan.
"Huff, sudah ku duga. Kau pasti sangat senang bukan." Zicka menghela nafas kasar.
"Ya tentu saja, mana ada lelaki yang tidak senang digilai banyak perempuan kecuali lelaki itu seorang maho," ucap Keenan masih dengan sudut bibir yang ditarik ke atas sebelah.
"Maho? Ternyata kau pun tahu istilah seperti itu. Kalau begitu ya sudah, kau kencan saja dengan salah seorang gadis itu. Aku tak mau bersaing dengan para gadis apalagi memang mereka lebih segalanya dariku," ucap Zicka merajuk sambil mencoba melepaskan tangannya dari pundak Keenan dan ingin berbalik memunggungi Keenan.
Melihat wajah Zicka yang merajuk membuat Keenan segera menghentikan Zicka yang hendak menjauh dengan memeluknya dari belakang. Dagunya ia sandarkan di pundak Zicka, "Hei, apa aku mengatakan akan berkencan dengan mereka, hm? Kalau mau, sudah dari dulu aku melakukannya, tapi kau lihat sendiri, setelah kepergian Diva, aku tak pernah melakukannya. Hanya kau Sayang, hanya kau yang mampu menyentuh hatiku. Hanya kau yang mampu membuatku jatuh hati. Hanya kau yang mampu memorakporandakan hatiku yang belum pernah tersentuh kata cinta ini. Ya, hanya kau, Sayang," ucap Keenan tepat di dekat telinga Zicka menghantarkan gelenyar aneh pada tubuh Zicka.
Bukan hanya tubuhnya yang menegang, tapi hatinya terasa tergelitik, bagai ada ribuan kupu-kupu beterbangan di bongkahan merahnya tersebut.
Keenan membalik tubuh Zicka agar menghadapnya, "Ya, kamu telah memorakporandakan hatiku yang belum pernah tersentuh oleh cinta sebab aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta yang sebenarnya sebelumnya," ucapnya jujur sambil menarik helaian rambut Zicka ke belakang telinganya.
"Lalu dengan Diva?" Zicka masih belum percaya. Bagaimana dengan mendiang mantan istrinya dulu? Apakah mereka menikah tanpa cinta? Batin Zicka kini bertanya-tanya.
"Diva, seperti yang aku pernah katakan dulu, Diva itu adalah teman kecilku karena aku yang tak kunjung mengenalkan seorang wanita pun pada keluargaku, makanya mama dan papa menjodohkanku dengan Diva. Karena itu sewaktu aku melamarnya pun, semua atas instruksi mama sebab aku tidak memiliki perasaan padanya kecuali rasa sebagai teman dan sahabat."
"Dapatkah aku percaya dengan semua cerita mu?" selidik Zicka.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas aku jujur, aku sangat mencintaimu, Zee-ku sayang."
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata cinta tepat di hadapan Zicka, Keenan segera merengkuh tengkuk Zicka dan merapatkan tubuh mereka, dilu*matnya bibir Zicka dengan perlahan dan penuh perasaan, seolah ingin menyalurkan semua rasa cinta yang ia miliki pada Zicka agar Zicka percaya bahwa ia benar-benar mencintai Zee-nya setulus hatinya. Keenan segera melepas luma*tannya saat ia rasa Zicka sudah mulai terengah, kehabisan nafas.
Keenan kemudian mendekat ke cuping Zicka dan berbisik, "Aku berharap aku bisa segera menghalalkanmu sebab aku tak tahu akan sanggup bertahan berapa lama dengan hasrat ku ini."
Lalu ia menggigit kecil cuping Zicka membuat bulu kuduk Zicka meremang.
"Ayo, cepat! Aku takut bila lama-lama di sini aku tak bisa menahan hasrat ku lagi," goda Keenan membuat pipi Zicka bersemu merah.
"Ish ... dasar, dokter mesyum," cibir Zicka.
"Apa kau bilang?" Keenan melirik tajam.
"Oh tidak, bukan apa-apa." Zicka segera meraih tas kecilnya di atas nakas dan pergi dengan Keenan menuju resto tempat mereka akan mengadakan double date dengan Marvin dan Jenny.
Keenan hanya tersenyum simpul, walau dengan suara kecil, ia bisa mendengar apa yang diucapkan wanitanya tersebut. Ia tidak marah. Toh apa yang Zicka katakan tidak salah, hanya saja ia merasakan itu pada Zicka semata.
Kini Keenan dan Zicka serta Jenny dan Marvin telah duduk di hadapan sebuah meja bundar. Mereka sedang menyantap hidangan dengan penuh canda tawa. Mereka tampak begitu akrab. Walau kadang Keenan masih was-was, takut kalau sebenarnya Marvin masih memiliki perasaan dengan Zicka.
Namun pikiran itu ia tepis. Ia yakin, Marvin lelaki yang baik. Ia takkan mungkin akan jadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Zicka.
Ia hanya berharap, Marvin benar-benar mencintai adiknya, Jenny. Cukup sekali ia sedih melihat sang adik yang dulu pernah patah hati karena kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ia berharap Marvin takkan menyakiti adiknya. Sebab ia tahu, adiknya telah benar-benar jatuh hati pada sosok Marvin.
Menurut Jenny, Marvin adalah lelaki dengan paket lengkap, selain tampan, Marvin juga sangat baik, lembut, penyayang, mandiri, tegas, jujur dan pekerjaan keras. Ia juga yakin Marvin adalah tipe lelaki setia. Sebagaimana yang Jenny tahu, bagaimana Marvin bertahan hanya mencintai satu orang wanita sejak masih di SMA hingga beberapa waktu lalu. Perempuan yang tak lain adalah mantan kakak iparnya sendiri. Oleh karena itu, Jenny tidak meragu saat menerima pernyataan cinta Marvin padanya beberapa waktu lalu. Semoga Marvin benar-benar mencintainya, bukan hanya tempat pelarian semata, batin Jenny.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...