
Karena sudah merasa baikan, Zicka diizinkan dokter untuk pulang ke kediamannya. Akibat masalah dengan Marcel, rencana Zicka untuk jalan-jalan ke mall bersama Meyra pun kandas. Untung sang putri sangat pengertian. Zicka berjanji hari ini, sepulang kerja, ia akan mengajak Meyra ke mall sesuai keinginan Meyra.
tok tok tok ...
"Ya sebentar," teriak Zicka dari dalam rumah.
"Oh, kamu, Vin," ucap Zicka setelah membuka pintu.
"Gimana kabarmu? Apa benar kamu sudah siap kerja lagi?"
"Iya, tenang aja. Aku udah baikan kok."
"Oh ya Ka, kamu mau pindah toko lain aja nggak? Soalnya kan kamu tahu sendiri, kak Marcel udah tahu kamu kerja di sana, aku takut dia buat ulah lagi," cemas Marvin
"Aku nggak papa kok. Sementara aku nggak masalah kerja di toko itu Semoga aja Mas Marcel nggak buat ulah lagi. Lain kalau sampai dia buat ulah sekali lagi, mungkin aku akan mempertimbangkan kerja di toko kamu yang lain."
"Ya udah kalau itu mau kamu. Oh ya, mana Meyra?"
"Tadi sih mandi, paling sekarang lagi siap-siap. Eh anak mama udah cantik aja. emuach ..." Zicka mencium pipi Meyra seperti biasa saat melihat Meyra keluar dari dalam kamarnya.
"Sini sayang, Om juga mau cium pipi embulnya. Emmuach ..."
"Om, nanti sore Meyra mau jalan-jalan lho sama mama."
"Ah yang bener? Kok nggak ajak Om sih?" protes Marvin pura-pura merajuk.
"Hihihi ... Om lucu kalo lagi ngambek. Meyra pingin jalan sama mama aja. Kapan-kapan kita jalan bareng bertiga lagi, tapi malam ini Meyra cuma mau sama mama aja."
"Ya udah, nggak apa. Tapi Meyra jangan nakal ya! Trus hati-hati di jalan."
"Siap Om.Yuk ma, kita pergi ke toko."
"Ayok ..."
"Naik mobil Om aja ya! "
"Boleh, mama juga naik mobil Om Marvin ya!"
"Iya sayang ..., masa' anak mama naik mobil sama om Marvin, mamanya naik taksi." Zicka terkekeh.
Setibanya di toko, Zicka melakukan pekerjaannya seperti biasa. Hari ini toko lumayan ramai pengunjung jadi Marvin ikutan turun tangan untuk membantu pekerjaan Zicka, sedangkan Meyra bermain bersama salah seorang karyawan toko yang memang dekat dengan Meyra yang bernama Nana.
"Ra, tante boleh nanya nggak?"
"Boleh Tan, Tante mau nanyain apa?"
"Cowok yang kemarin, yang datang terus marah-marah itu, papa nya Meyra ya?"
"Iya Tan, itu papanya Meyra. Namanya papa Marcel."
"Terus, emang papa Meyra sama Om Marvin itu sodaraan ya?"
"hmmm ... papa itu kakaknya Om Marvin, Tan."
"Emang papa nggak tinggal sama mama lagi ya, Ra?"
"Nggak Tan, papa udah nggak tinggal sama mama. Papa tinggal sama mama baru."
"Kok Meyra bisa tahu?"
"Tahu lah Tan, kan Meyra pernah liat kok pas lagi jalan-jalan. Kayaknya mama baru nya papa mau punya adek bayi juga."
__ADS_1
"Meyra nggak mau ikut papa?"
"Nggak ah, Tan, Meyra mau temenin mama. Kan kasian kalo mama ditinggal sendirian."
"Wah, Meyra baik banget deh! Sayang banget sama mama."
"Harus dong Tan, kan itu mama Meyra sendiri. Mama juga sayang banget sama Meyra. "
"Ehemmm ..." Marvin berdehem di belakang Nana. Tanpa mereka sadari, Marvin telah mendengarkan perbincangan mereka sejak tadi.
"Ma ... maaf bos, sa-saya hanya ..." Nana berbicara terbata
"Jangan ulangi lagi! Meyra masih terlalu kecil, belum pantas kamu berikan pertanyaan seperti itu," tegas Marvin.
"Iya, bos, maafkan saya."
"Cepat keluar!" titah Marvin tegas.
"Baik bos."
"Om, kenapa tante Nana dimarahin?"
"Om nggak marah sayang, cuma Om suruh tante Nana keluar sebab Om mau main sama Meyra boleh?"
"Boleh Om. Om Marvin pinter gambar kan? Ajarin Meyra gambar bunga dong!"
"Siap tuan puteri, laksanakan!" ucap Marvin seraya memberi penghormatan ala-ala tuan putri yang membuat Meyra terkekeh.
***
"Cel, kamu nggak kerja?" tanya mama heran melihat putra sulungnya datang ke rumah di hari kerja.
"Lagi nggak enak badan, Ma," jawab Marcel singkat.
"Di rumah suntuk, Ma."
"Suntuk? Kamu berantem sama istri muda kamu?"
"Hmmm ..."
"Salah kamu sendiri, udah dapat istri yang cantik, baik, pinter, malah diduain."
"Please, Ma, nggak usah bahas itu dulu. Marcel pusing."
"Pusing kamu itu kesalahan kamu sendiri. Giliran Zicka gugat cerai, baru kamu mikirin dia."
"Iya ... Iya ... emang Marcel yang salah, mama puas!"
"Kamu itu, Cel, dibilangin Mama malah ketus. Kamu kenapa jadi berubah gini sih, Cel? Dulu kamu nggak kayak gini. Nyesel mama dukung kamu nikah sama Andin kalau tahu akhirnya begini," gerutu mama Marcel lalu beranjak pergi meninggalkan Marcel sendirian yang berbaring di sofa ruang tamu.
"Gimana caranya supaya Zicka membatalkan perceraian ini? Aaarrrrgghhh ... Bodoh ... Bodoh ... Bodoh ... Aku nggak pernah berfikir Zicka bisa melangkah sejauh ini." Marcel mendengus kesal sambil mengusap kasar wajahnya.
***
"Meyra udah siap?"
"Udah, Ma."
"Pamit gih sama Om Marvin!"
"Om, Meyra pergi dulu ya! " pamit Meyra sambil mencium punggung telapak tangan Marvin.
__ADS_1
"Meyra hati-hati ya! Jangan jauh-jauh dari mama! oke!"
"Siap, Om."
"Kamu hati-hati ya, Ka! Kalau ada apa-apa, hubungi aku, oke! "
"Oke pak bos. Bye ..." Zicka menyunggingkan senyum manisnya membuat Marvin ikut tersenyum.
'Betapa bodohnya kamu kak menyia-nyiakan istrimu! Andai aku di posisimu, takkan pernah aku sia-siakan Zicka. Aku harap kau menemukan kebahagiaanmu, Ka. Entah bersamaku ataupun orang lain," batin Marvin.
"Ma ... Ma ... Ma ... lihat tuh, mall nya udah keliatan. Bentar lagi kita sampai ya, Ma?"
"Iya sayang. Kamu mau main dulu, beli boneka dulu, atau makan dulu sayang?"
"Meyra mau muter-muter aja dulu ma. Nggak mau main, beli boneka, baru makan ya ma!"
"Tumben kamu nggak mau main!"
"Nggak mau ah, Ma, entar kemaleman. Kapan-kapan aja mainnya."
"Ya udah, Mama ikut kata Meyra aja."
Meyra dan Zicka pun telah sampai di mall yang mereka tuju. Meyra tampak bahagia walau hanya berkeliling-keliling mall. Zicka hanya tersenyum melihat wajah ceria Meyra. Bagi Zicka kebahagiaan Meyra adalah yang utama. Seandainya Marcel bisa bersikap adil dan bijak pada Meyra, mungkin ia takkan melakukan tindakan sejauh itu, yaitu mengajukan gugatan cerai. Walaupun konsekuensinya ia harus mengorbankan perasaannya karena di duakan. Namun demi sang putri, ia rela menanggungnya. Tapi karena Marcel justru abai dengan Meyra, maka ia pun takkan segan mengambil keputusan untuk berpisah seperti yang ia lakukan saat ini.
"Ma, itu ada toko boneka. Kita masuk yuk!"
"Ayo! Meyra mau boneka hello kitty yang gede kan?"
"Iya, Ma. Ma, itu Ma itu, bonekanya lucu banget."
"Meyra mau yang itu?"
"Iya, Ma, boleh?"
"Iya sayang. Ayo ambil terus bawa ke kasir."
"Asiiiikkk ... makasih ya ma! Meyra sayaaang banget sama mama."
"Mama juga, sayaaaang banget sama Meyra. Habis ini kita makan dulu ya, mama udah laper. Nih perut mama dah keroncongan!"
"Iya, Ma, makan ramen ya, Ma!" bujuk Meyra.
"Ramen??? hmmm ... Ya udah. Suka-suka Meyra aja deh! Mama ngalah." senyum Zicka.
Setelah membeli boneka, Zicka mengajak Meyra makan dan pulang ke rumah.
"Ma, taksinya kok lama banget? Meyra udah ngantuk nih! "
"Iya nih, Mey! Kok belum ada yang lewat ya! Apa karena barusan hujan lebat ya jadi banyak supir taksinya mager," gumam Zicka.
Tiba-tiba ada mobil yang mengebut dari arah tak terduga, membuat genangan air di jalanan terpercik ke arah Zicka dan membuat bajunya basah karena percikan air tersebut.
"Aduh ... yah basah!" seru Zicka sambil menatap bajunya yang basah.
"Ma, Mama nggak apa-apa? Ma, baju mama basah, gimana ma?" ujar Meyra polos.
"Maaf, maafkan saya, tadi saya nggak liat lagi kalo jalanannya tergenang air! Kalian nggak papa?" ujar seseorang yang dengan nafas ngos-ngosan karena turun dari mobil tergesa-gesa.
"Ah, nggak papa kok. Hanya sedikit basah sih, tapi nggak eh ... kamu ... !!!" seru Zicka terpotong setelah menoleh ke arah sumber suara.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...