Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
50. Penyesalan


__ADS_3

Saat para tamu sedang menikmati hidangan demi hidangan yang disajikan di pesta pernikahan itu, perlahan Marcel mundur dan menyendiri di tempat yang sedikit jauh dari jangkauan orang-orang yang mengenalnya. Dadanya sesak, matanya memerah, di saat semua orang sedang menjemput bahagia mereka, dirinya justru sedang terpuruk dan nelangsa.


Marcel tidak menyalahkan siapapun. Ia sadar diri, dirinya lah yang salah di sini. Semua terjadi akibat kebodohan dan keserakahannya. Seandainya ia tidak serakah, bodoh, dan jumawa, merasa diri mampu dan memiliki segalanya, mungkin dirinya akan sama seperti orang-orang yang tengah berbahagia itu. Bahkan ia yakin, saat ini mantan istrinya itu masih berada dalam rengkuhannya.


Namun, semua telah terjadi. Tak mungkin lagi tuk disesali. Hanya bisa ia perbaiki agar ke depannya bisa jadi lebih baik lagi. Ia tak bisa kembali egois. Penyesalan hanya akan melukai putranya kelak. Kini hidupnya hanya akan ia fokuskan untuk kebahagiaan putranya.


Marcel memang kecewa dengan perbuatan Andin yang dengan teganya meninggalkan dia dan putranya. Andin juga menjual rumah yang ia beli untuk wanita itu dan putranya tanpa sepengetahuannya. Tapi menyesal pun tiada guna, ingin marah pun juga percuma, apalagi Andin kini telah tiada. Ia hanya bisa mengikhlaskan, berharap semoga rejekinya dilancarkan agar ia bisa membahagiakan putranya. Sekarang fokusnya hanya pada putra dan ibunya. Apalagi Marvin telah memiliki rumah yang memang telah ia persiapkan untuknya dan istrinya setelah menikah.


Memang Marvin sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Niatnya menikah bukan main. Ia tak menyangka, akhirnya usahanya untuk move on dari mantan istrinya benar-benar berhasil.


 Dan yang lebih mencengangkan, ia justru jatuh hati pada adik ipar mantan istrinya itu. Marcel pun turut berbahagia. Ia harap ia pun bisa melakukan hal yang sama. Berharap untuk kembali pada mantan istri pun sudah tak mungkin lagi. Melakukan hal itu sama saja berharap rumah tangga mantan istrinya itu hancur dan Marcel tak ingin itu terjadi. Ia justru berharap Zicka hidup bahagia dan tidak mengalami kegagalan serta kembali terluka seperti saat bersamanya dahulu.


Marcel masuk ke dalam mobilnya. Mobil murah yang ia beli dari sisa tabungannya. Tak apalah tua, yang penting dengan mobil itu ia bisa membawa putranya kemana pun tanpa takut kepanasan dan kehujanan.


Marcel mendudukkan Mike di car seat yang telah ia pasang sedemikian rupa demi keamanan dan kenyamanan Mike. Setelah dirasanya aman, Marcel pun segera berputar dan masuk ke dalam mobil. Ia pun duduk di kursi pengemudi dan mulai menyalakan mobilnya. Sebelum menjalankan mobilnya, Marcel memberikan biskuit bayi agar putranya itu bisa tenang selama dalam perjalanan. Setelah memastikan semuanya aman, barulah Marcel menjalankan mobilnya membelah jalanan yang cukup lengang karena ini merupakan akhir pekan.


Setibanya di rumah, Marcel segera membaringkan Mike yang sedang tertidur lelap di atas ranjang. Marcel yang berniat membersihkan diri lantas masuk ke kamar mandi. Saat masuk ke kamar mandi, matanya terpejam. Sekelebat senyum Zicka memenuhi benaknya. Namun ingatan akan tangis kekecewaan Zicka pun ikut hadir.


Tubuh Marcel merosot ke lantai. Dia menyandarkan dahinya di lipatan tangannya. Marcel tergugu. Penyesalan itu ternyata masih membelenggu jiwa dan hatinya. Entah sampai kapan perasaan bersalah ini akan terus bercokol dalam benaknya. Padahal sudah lebih dari setahun berlalu, tapi perasaan bersalahnya tetap saja membelenggunya. Membuat dadanya sesak. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan untuk mengurai penyesalannya, tapi semua seakan tak berarti. Sebab penyesalan itu benar-benar membelenggu hati dan jiwanya.

__ADS_1


Sementara Marcel tengah larut dalam penyesalannya, di hotel tempat Zicka dan keluarganya menginap, tampak Zicka sedang duduk sambil mengusap-usap perutnya sambil selonjoran di atas tempat tidur. Perutnya terasa kencang membuat sekujur pinggang hingga kakinya terasa nyeri berdenyut.


Pesta pernikahan memang telah selesai, tapi para tamu undangan masih banyak yang bercengkrama satu sama lain. Mungkin karena kesibukan membuat mereka jarang bertemu. Alhasil, para tamu memanfaatkan momen pesta pernikahan ini untuk saling bercengkrama termasuk Keenan.


Sudah 2 jam berlalu. Tapi Keenan tak kunjung naik ke atas untuk menemui Zicka. Di ballroom Keenan banyak berjumpa dengan rekan kerja dan teman-temannya mulai dari teman sekolah hingga kuliah. Perut Zicka kian terasa nyeri. Nafasnya pun sudah putus-putus. Zicka ingin menghubungi Keenan, tapi kakinya terasa berat untuk melangkah mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ingin rasanya ia berteriak, tapi percuma sebab ruangan ini kedap suara.


"Ya Allah, hamba mohon, kuatkan hamba," lirih Zicka dengan peluh sebesar biji jagung bercucuran di pelipisnya.


Dengan pelan, Zicka menggerakkan kakinya hingga menggantung di tepi ranjang. Dengan perlahan, ia menapakkan kakinya di lantai. Rasa dingin seketika menjalar saat telapak kakinya menempel di lantai. Tubuhnya kian lemas. Rasanya ia telah kehilangan sebagian tenaganya.


"Keen, kamu dimana?" Gumam Zicka dengan wajah yang sudah seputih kapas. "Aaargh ... " Rintih Zicka sambil mencengkeram baju yang menutup area perutnya.


"Zicka ... " Pekik Keenan panik saat melihat Zicka telah terkulai tak sadarkan diri.


Keenan panik. Apalagi saat melihat cairan keruh bercampur darah mulai membanjiri lantai.


"Zicka, bangun sayang. Sayang, aku mohon, bangunlah. Bertahanlah. Kita akan segera pergi ke rumah sakit. Aku mohon bertahanlah." Racau Keenan.


Dengan tangan bergetar, Keenan menggendong Zicka. Tentu saja tujuannya adalah segera pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Setibanya di lobby hotel, karyawan hotel yang mengenali Keenan sebagai tamu mereka pun segera memberikan bantuan sopir untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Hingga tak butuh waktu lama, Keenan akhirnya tiba di rumah sakit miliknya. Lalu ia segera meminta dokter untuk segera menangani Zicka.


"Dok, istri Anda sudah tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Jadi ia harus segera menjalani operasi Caesar. Bagaimana?" Ujar dokter yang menangani Zicka.


"Lakukan saja yang terbaik. Aku mohon, selamatkan istri dan anak-anakku."


Dokter itu mengangguk. Setelahnya ia segera kembali ke ruangan operasi untuk mempersiapkan segalanya.


"Kak, bagaimana keadaan mbak Zicka?" Tanya Jenny panik setibanya di depan Keenan yang sedang menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tadi mamanya mencari Keenan dan Zicka sebab Meyra tiba-tiba saja menangis dan terus mencari Zicka. Padahal malam ini rencananya Meyra dan Deenan akan tidur dengan neneknya, tapi saat tertidur tiba-tiba saja Meyra terbangun dan menangis kencang. Ibu Keenan panik, ia pun mencari Zicka dan Keenan sebab tak mampu mendiamkan Meyra.


Saat dicari, ternyata Zicka dan Keenan tak ada. Setelah bertanya pada karyawan hotel, barulah mereka tahu kalau Zicka dilarikan ke rumah sakit akibat pendarahan. Ibu Keenan pun segera mengabarkan hal tersebut pada Jenny dan Marvin.


Dan disini lah mereka kini berada. Malam pertama yang seharusnya mereka habiskan dengan percintaan panas, justru harus mereka lewatkan di rumah sakit. Mereka tak masalah sebab bagi mereka yang terpenting adalah memastikan keadaan Zicka dan calon keponakan mereka baik-baik saja.


"Zicka harus dioperasi. Dia ... pendarahan hebat. Ini salahku. Seharusnya aku tidak meninggalkannya lama-lama. Seharusnya aku segera kembali dan menemani Zicka. Tapi aku justru lebih mengutamakan bercengkrama dengan teman-temanku. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak ku inginkan pada Zicka dan anak-anak kami? Ini salahku. Bodoh, aku memang benar-benar bodoh." Racau Keenan menyalahkan dirinya sendiri.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2