
Hari ini sidang pertama perceraian antara Zicka dan Marcel digelar. Tapi Marcel seakan belum rela melepaskan Zicka. Entah mengapa ia belum rela, yang pasti ia sangat enggan mendatangi persidangan itu. Tanpa ia sadari, ketidakhadirannya justru akan mempermudah dan memperlancar proses persidangan. Namun itulah yang Zicka harapkan. Ia tak perlu berepot-repot untuk segera mendapatkan akta cerainya lagi.
"Mas, kamu kok nyantai aja di rumah? Kamu kan seharusnya menghadiri sidang perceraian kamu dengan Zicka, mas!" ujar Andin. Ia pun tidak paham mengenai proses perceraian. Ia pikir, tidak hadir justru akan membuat proses persidangan berjalan lama dan alot.
"Ah, malas," sanggah Marcel. "Nggak usah ikut campur urusanku. Urus saja urusanmu sendiri," bentak Marcel dengan wajah masam.
"Mas, kamu kok gitu sih sama aku? Apa kamu masih cinta sama perempuan itu?" omel Andin kesal sambil melemparkan sapu di tangannya. Moodnya untuk bersih-bersih seketika buyar karena bentakan Marcel.
"Akh, berisik! Sana, sana! Masak gih, dari pada ngomel! Bikin kepalaku makin pusing aja," seru Marcel sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya membuat wajah Andin makin ditekuk masam.
"Mas Marcel, sebentar lagi aku akan melahirkan, aku nggak mau ya status aku masih istri siri kamu. Kamu tahu bukan, anak dari istri yang hanya dinikahi secara siri itu tidak diakui secara hukum. Nanti anak kita tidak bisa mendapatkan akta kelahirannya. Bagaimana ia nanti akan bersekolah kalau akta kelahirannya saja tidak ada. Pokoknya kamu harus datang ke persidangan supaya semua urusan cepat selesai dan kita bisa melegalkan pernikahan kita secara hukum, Mas," ujar Andin yang kini sudah duduk di sofa seberang Marcel. "Mas, kamu dengar nggak sih apa kataku? Pokoknya segera bersiap dan datang ke persidangan perceraian kamu sekarang juga," teriak Andin geram sebab Marcel justru mengabaikannya.
"Aaaarrgh .... Berisik! Kalau tidak sedang hamil saja, aku lakban mulut berisik mu itu," sembur Marcel kesal kemudian ia mengusap kasar wajahnya lalu berjalan keluar menuju mobilnya. Tanpa banyak kata, Marcel pun segera melajukan mobilnya entah pergi kemana.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Marcel menepikan mobilnya di sebuah taman bermain yang tak jauh dari rumah Zicka. Ia melihat banyak anak-anak yang sedang bermain dengan keluarganya. Ia tersenyum tipis melihat mereka. Ia terbayang saat-saat indah putri semata wayangnya, Meyra baru belajar berjalan. Dulu betapa semangatnya ia membimbing Meyra untuk berjalan selangkah demi selangkah di atas rumput nan hijau di taman itu. Mereka dulu adalah pasangan yang sangat bahagia. Namun kini semua berubah. Semua kebahagiaan yang pernah ada, perlahan menghilang karena perbuatan dan tingkah lakunya.
Seketika keegoisan menguasai Marcel lagi.
"Aku takkan pernah melepaskan apa yang telah aku genggam. Seperti itu juga kau Zicka, aku takkan pernah melepaskan mu. Kau akan selamanya jadi milikku. Hanya milikku," gumam Marcel dengan tangan terkepal.
Waktu persidangan telah usai, tapi Marcel tak kunjung menampakkan wajahnya. Sehingga persidangan ditunda dan akan dilanjutkan Minggu depan dengan agenda mediasi. Zicka telah mengatakan ia tak ingin melakukan mediasi lagi. Keputusannya sudah bulat, namun hakim tetap menundanya hingga Minggu depan. Bila Marcel tetap tidak hadir, maka akan diambil keputusan verstek. Dengan begitu, hakim yang akan langsung memberikan keputusan dan di saat itu juga, Zicka akan diumumkan resmi bercerai. Tentu saja itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Zicka. Ia harap, sampai ke persidangan selanjutnya, Marcel tetap tidak datang agar tidak mempersulit proses perceraian mereka.
Ring ring ring ...
"Ya, hallo, Ma," ucap Zicka saat panggilan itu telah ia angkat.
"Zicka, apa benar Marcel tadi tidak datang ke sidang perceraian mu?" tanya mama Marcel.
__ADS_1
"Iya, Ma. Mas Marcel nggak datang," jawab Zicka santai.
"Kenapa tidak kau batalkan saja perceraian itu? Toh sepertinya Marcel belum bisa melepaskan mu. Lagian kasian sama Meyra, Zicka. Dia masih terlalu kecil untuk melihat perpisahan kedua orang tuanya," bujuk mama Marcel pada menantunya itu.
"Maaf, Ma, Zicka nggak bisa membatalkannya. Mas Marcel harus bisa memilih, kalau Mas Marcel ingin mempertahankan wanita itu, maka dia harus melepaskan Zicka. Tapi jika dia mau mempertahankan Zicka, maka Mas Marcel harus melepaskan wanita itu. Tapi itu nggak mungkin kan, Ma, sebab wanita itu sedang hamil besar. Zicka juga nggak tega membiarkan anak itu lahir tanpa ayahnya. Urusan Meyra biar jadi urusan Zicka, Ma. Mama tidak perlu khawatir. Meyra sudah terbiasa hidup tanpa ayahnya. Toh beberapa bulan ini saja Mas Marcel seolah telah lepas tangan dengan kami. Tidak pulang, tidak memberi nafkah, tidak menghubungi, seakan kami tidak berarti apa-apa baginya." Zicka pun mengeluarkan segala kecamuk yang sempat memenuhi rongga dadanya itu pada sang ibu mertua. Baiknya ia tahu, agar mereka paham bagaimana perasaan Zicka dan Meyra karena ulah anaknya itu.
"Ya sudah terserah kamu kalau kamu masih mau keras kepala. Yang jelas, bila ada apa-apa pada Meyra, Mama nggak mau tahu menahu. Itu sudah jadi keputusanmu artinya segalanya jadi tanggung jawabmu. Tidak mudah membesarkan anak seorang diri, Zicka. Mama hanya mengkhawatirkan Meyra kelak tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya. Itu saja. Kalau kau merasa sanggup, ya udah. Itu keputusanmu," tukas ibu Marcel acuh tak acuh. Selama ini memang begitulah sikap ibu mertuanya itu. Tidak begitu peduli dengan menantunya tersebut.
"Kalau memang Mas Marcel menyayangi putrinya, tentu ia takkan berselingkuh, Ma. Kalaupun ia memang menyayangi Meyra, tidak seharusnya ia menelantarkan kami hampir 2 tahun ini. Bahkan lebih dari 3 bulan ini mas Marcel tidak pulang sama sekali dan tidak mengirimkan uang untuk biaya kebutuhan Meyra. Jadi lebih baik kami berpisah sekalian, supaya status kami benar-benar jelas. Maaf Ma, bukan maksud Zicka untuk berkeras dengan mama, tapi ini bukan hanya melibatkan hidup Zicka, tapi Meyra. Meyra memiliki seorang ayah, tapi dia seperti seorang yatim karena tidak pernah diperhatikan oleh ayahnya. Hati Zicka sakit, Ma. Bayangkan mama di posisi Zicka, apa mama sanggup bertahan dan menerima begitu saja?" ucap Zicka sambil terisak, sedangkan di seberang sana, ibu mertuanya terdiam. Tidak menanggapi keluh kesah sang menantu atau lebih tepatnya calon mantan menantu.
"Maaf, Ma, Zicka tutup dulu telfonnya. Sampai jumpa, Ma." Zicka pun segera menutup sambungan telfonnya dengan emosi yang berkecamuk di dada.
Zicka paham, ibu mertuanya bermaksud baik. Tapi tidak semua perempuan sanggup dimadu. Tidak semua perempuan kuat dan sanggup bertahan sedangkan biduk rumah tangganya terancam karam. Sudah cukup ia bertahan. Hidupnya terlalu berharga untuk berakhir sia-sia dalam dekapan hubungan yang menyakitkan. Kini sudah saatnya ia membuka lembaran baru. Ia yakin, ia mampu dan sanggup menjalani hidup meskipun tanpa suaminya lagi.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...