Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
33. Pertemuan Zicka, Marvin, dan Jenny


__ADS_3

"Bercanda mu nggak lucu dokter Keenan Yang terhormat." Zicka menarik satu sudut bibirnya dan melepaskan cekalan tangannya dari Keenan. Ia tidak begitu menganggap serius ucapan Keenan.


"Aku akan memanggil Meyra dan Deenan," ucap Zicka berlalu dengan senyum mengembang.


Sementara Zicka berlalu dari hadapan Keenan, Keenan masih saja terpaku dengan keanehannya hari ini. Ia tak pernah merasakan seberani ini dalam mendekati seorang wanita. Bahkan dulu saat bersama mendiang istrinya pun, semua tak luput dari campur tangan kedua orang tuanya yang telah menjodohkan mereka sejak usia belia.


Tak lama kemudian, Deenan yang ditemani Meyra pun kembali ke meja.


"Pii ... pii ... pii ... Tadi akak ajalin Dii gambal. Liat Pii liat, dagus kaaannn!" Deenan menunjukkan hasil karyanya kepada Keenan. Keenan mengambil gambar tersebut, matanya membulat melihat apa yang telah digambar sang putra. Sebuah gambar yang terdiri atas seorang anak laki-laki, anak perempuan, beserta ayah dan ibunya.


Meskipun gambar orang itu sangat-sangat menggelikan karena kepalanya hanya berbentuk lingkaran, lalu badan, kaki dan tangan seperti lidi, kalau kata Upin dan Ipin itu adalah orang lidi dengan beberapa helai rambut di atas kepala untuk yang perempuan, tapi ternyata cukup mengetuk pintu hati Keenan.


"Pii ... pii ... dagus kan, Pii? Ini Dii, ini akak Meyya, ini papi, dan ini ... emmm ..." Deenan menoleh ke arah Zicka, nampak berfikir.


"Ini mama Meyra, adek Dii juga boleh panggil mama, ya kan Ma!" pinta Meyra pada Zicka.


Zicka bingung, tapi dia tidak bisa menolak permintaan Meyra pun ia juga kasihan pada Deenan yang tidak pernah merasakan kasih sayang sosok seorang ibu, jadi ia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Yeay ... Dii punya mami, Dii punya mami," teriak Deenan kegirangan.


"Bukan mami, dek, tapi mama," protes Meyra sambil mencebikkan bibirnya.


"Nggak papa sayang, mami atau mama sama saja," sanggah Zicka lembut.


"Dee, kita pulang yuk! Udah hampir malam," ajak Keenan berupaya mengalihkan perhatian Deenan sebab ia sudah merasa tak enak dengan Zicka.


"Mami cama kakak ikut tita pulang nggak?"


Keenan memijit pelipisnya, bingung harus berkata apa.


"Mami nggak ikut Dee pulang, Sayang. Mami harus mengurus toko cake ini, kalau mami ikut pulang nanti Dee nggak bisa beli cake coklat kesukaan Dee lagi dong," jelas Zicka mencoba memberi pengertian pada Deenan.


"Oh iya, mami benal, okay kalau degitu, nanti Dii kecini lagi ya, Mii. Bye mami, bye akak."


Keenan mengangkat tubuh Deenan ke dalan gendongannya lalu berjalan keluar toko yang diantar oleh Zicka. Setelah meminta Deenan masuk ke dalan mobil, Keenan memutari mobil menuju ke sisi kemudi. Sebelum masuk, sejenak Keenan menatap Zicka.


"Apa yang aku ucapkan tadi bukan bercanda Zee, aku serius ingin lebih mengenal dirimu. Selamat malam," ucap Keenan.


Setelah mengucapkan itu, Keenan memasuki mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir toko kue Zicka.


...***...


Sementara itu, di rumah Keenan, Keenan sedang menyandarkan kepalanya di kepala ranjang. Ia tersenyum sendiri mengingat apa yang belum lama ia alami. Bagaimana tiba-tiba sang putra menggambar sebuah keluarga yang terdiri atas dirinya, Deenan, Meyra, dan Zicka.

__ADS_1


Apakah Deenan menemukan sosok seorang ibu pada diri Zicka? Bagaimana bisa Zicka mengizinkan putranya memanggil ia mami padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Hatinya menghangat. Kini Keenan makin menguatkan keinginannya untuk mengenal Zicka lebih dekat, berharap Zicka memang jodoh yang diberikan Tuhan untuk mendampingi dirinya dan menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak.


"Semoga saja," gumamnya dengan mata menerawang.


Sama seperti Keenan, di kamarnya, Zicka pun tampak memikirkan kata-kata Keenan tadi.


"Apakah yang diucapkan Keenan tadi sungguh-sungguh? Ah, aku yakin dia hanya bercanda bilang ingin lebih mengenalku. Tapi, tadi ia bilang serius. Aaargh ... Hati oh hati, aku mohon jangan mudah jatuh hati agar tidak berakhir dengan patah hati lagi.  Aku tak ingin terluka lagi. Cukup satu kali kegagalanku. Cukup fokus pada masa depan Meyra. Ya, fokus pada masa depan Meyra saja," gumam Zicka di kamarnya.


...***...


tring ...


Sebuah pesan masuk di ponsel Zicka.


Jenny : [Malam mbak.]


Zicka : [Malam juga.]


Jenny : [Maaf mbak, malam-malam ganggu. Mbak sudah tidur?]


Zicka : [Nggak papa. Kalau udah tidur, pasti pesannya nggak aku balas.]


Jenny : [Oh iya. hehehe.]


Jenny : [Mmm ... Mbak, mohon maaf, Jenny mau jujur sama mbak.]


Zicka : [Jujur soal apa?]


Jenny : [Sebenarnya yang pingin ketemu mbak besok itu Marvin. Ada yang mau disampein ke mbak Zicka katanya. Maaf ya Mbak, baru jujur! Jenny cuma mau bantuin Marvin. Jenny kasian, kayaknya dia sedih banget saat mbak hilang tanpa kabar.]


Zicka ingat, beberapa hari lalu Jenny sempat berbalas pesan dengannya dan isinya adalah ada yang ingin bicara dengannya. Tapi Jenny tidak menceritakan siapa itu. Tapi kali ini Jenny justru memberitahukan kalau orang yang ingin bertemu itu adalah Marvin, adik dari mantan suaminya.


Zicka : [Ya, sudah, mau gimana lagi.]


Jenny : [Terima kasih ya mbak.]


Zicka : [Nggak masalah.]


Keesokkan harinya sesuai kesepakatan, Zicka bertemu dengan Jenny yang ditemani Marvin di sebuah cafe di mall XX. Meyra sengaja Zicka tinggalkan di toko supaya mereka bisa bicara lebih nyaman.


"Hai mbak, apa udah lama nunggu?" sapa Jenny setibanya di cafe XX.


"Lumayan, aku sudah menghabiskan satu gelas jus mangga saat menunggu kalian,"ucap Zicka sarkas namun seraya tersenyum manis.

__ADS_1


"Mm ... maafkan kami, Ka, tadi kami terjebak macet," jelas Marvin.


Zicka terkekeh, "nggak masalah kok asal kalian baik-baik saja."


Lalu mereka pun segera duduk dan mengobrol. Kemudian Marvin pun mulai mengutarakan permohonan maafnya karena telah mengungkapkan sesuatu yang tidak semestinya. Ia menyesal telah mengatakan pada sang mama ingin menikahi Zicka. Seandainya itu tidak ia katakan, mungkin hubungan mereka takkan jadi rumit seperti ini jelasnya. Pada kesempatan itu juga Marvin menanyakan sesuatu yang sempat mengganjal di dalam hatinya.


"Zicka, maaf kalau aku lancang. Tapi aku ingin sekali menanyakan ini padamu. Apa ... apakah kau memiliki perasaan yang sama padaku?"


"Hmm ... maaf Vin, aku tahu kamu sangat baik. Terkadang perhatianmu memang membuatku sedikit bahagia. Sifatmu yang hangat, membuatku menyayangimu, tapi hanya sebatas kasih sayang sebagai seorang ipar sekaligus teman, tak lebih. Maaf karena aku tidak bisa membalas perasaanmu. Kamu pria yang baik, Vin, aku yakin kau akan mendapatkan seorang gadis yang jauh lebih baik dariku yang dapat mencintaimu dengan tulus," ucap Zicka tulus.


"Tidak masalah, Ka. Aku sadar, perasaan itu tak bisa dipaksakan. Tapi kita masih bisa tetap berteman kan!" mohon Marvin.


"Tentu, kita sudah berteman sejak lama, tak seharusnya rusak hanya karena masalah ini."


"Tapi kau sempat menghindari ku?"


"Maaf, aku hanya ingin menenangkan hatiku. Aku ingin memulai lembaran baru. Di sana terlalu banyak kenangan yang menyakitkan jadi aku pindah untuk mendapatkan suasana baru."


"Huh, kalian hanya sibuk bicara berdua, tak ada yang peduli padaku," cebik Jenny pura-pura kesal karena tak diacuhkan.


"Duh, maafkan kami bu guru Jenny, kami lupa," kekeh Zicka.


"Oh ya Jen, kau tidak mengajar hari ini?" tanya Zicka.


"Huh, kamu tahu mbak, aku rela bolos mengajar demi membantu pria patah hati ini, eh dia malah asik sama mbak Zicka aja."


"Oooh, ternyata bu guru Jenny juga masih suka mengambek ya! Hmmm ... Udah kayak Meyra aja. Hehehe ..." ejek Marvin sambil terkekeh.


"E ... e ... ee ... Sepertinya pria patah hati ini udah ceria lagi nih. Udah bisa ngejekin, awas ya kalau ada masalah lagi, sorry aja mau bantuin." Jenny menatap sinis sambil mencomot semua stick kentang yang ada di hadapan Marvin.


prok ... prok ... prokkk ...


Terdengar suara tepuk tangan mendekati meja tempat Zicka, Marvin, dan Jenny sedang asik bercanda.


"Ternyata dugaanku benar. Tak sia-sia aku mengikuti mu, Vin, ternyata kau bohong mengatakan tidak mengetahui keberadaan Zicka. Kau memang adik yang brengsekk. Tak tahu malu. Masih saja mengejar-ngejar Zicka. Kau pikir kau bisa mendapatkan Zicka, hah!" hardik laki-laki yang ternyata adalah Marcel itu. "Zicka hanya milikku. Kau ingat itu." tekan Marcel sinis ke arah Marvin membuat Zicka, Marvin, dan Jenny terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba.


deg ...


"Mas Marcel, kau ..."


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2